Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Pesan Terakhir


__ADS_3

Kinara


Hari-hariku di Singapore terasa begitu membosankan. Biasanya aku kalau ke negara ini kuhabiskan dengan berbelanja mengelilingi toko, keluar masuk sambil menjinjing paper bag sambil tersenyum puas.


Namun kini?


Hanya ruangan putih dengan pemandangan pria yang kucintai sedang bekerja di sofa. Sibuk dengan dunianya sambil sesekali mengecek keadaanku. 11 bulan lebih aku berada disini. Dokter bilang keadaanku bukan membaik malah tambah memburuk.


Jangan ditanya bagaimana penampilanku saat ini. Wajah bak mayat hidup yang pucat pasi. Rambut rontok, malah sekarang sudah aku habiskan semua. Ya, aku sudah kehilangan rambutku.


Kulitku pun hanya tinggal menutupi tubuh kurusku. Wajar kalau aku semakin tak menarik di mata Mandala.


Aku menatap cahaya matahari yang masuk dari jendela kamarku. Begitu cerah rasanya. Hangat, menjalari kulitku yang bermandikan cahaya matahari. Aku sengaja tidak menutup tirai jendela. Hanya ingin melihat sinar matahari yang aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa melihatnya.


Pikiranku melayang. Aku kembali teringat kisah cintaku dengan Mandala. Kami berkenalan di SMA. Saat itu, Mandala hanya menganggapku sebagai teman saja meski kami kerap dikatakan pasangan serasi.


Aku selalu berada di samping Mandala. Berharap Mandala akan melihatku dan mulai mencintaiku. Mandala bilang, Ia akan berusaha mencintaiku jika tak lagi menemukan gadis berjilbab dengan lesung pipi paling cantik menurutnya.


Aku merasa diriku dinomorduakan olehnya. Aku tak patah semangat. Aku cantik, itu kelebihanku.


Aku pun mulai mengikuti ajang pencarian bakat sebagai seorang model. Memulai sesuatu dari nol bukan hal yang mudah. Mereka yang berasal dari keluarga yang berada memandangku dengan sebelah mata.


Aku sering bolos sekolah hanya demi mengikuti audisi demi audisi. Saat itu, Om Ben masih kaya raya. Mama masih hidup dengan bergelimang harta. Namun aku tak mau selamanya bergantung pada Om Ben.


Menjadi model hanyalah pekerjaan sampinganku. Aku tetap fokus sekolah. Asyik menikmati masa muda, apalagi Mandala menyerah menemukan gadis impiannya yang tak pernah lagi Ia temui.


Kami pun memutuskan untuk berpacaran. Aku sangat mencintai Mandala. Dia adalah laki-laki yang tulus menyayangiku, bahkan sampai pergi dari rumah karena orang tuanya tak menyetujuinya berpacaran denganku.


Aku akhirnya memutuskan untuk menyewa kamar kost. Disana mandala tinggal seorang diri. Kadang aku kesana sepulang dari bekerja.


Lama kelamaan uangku mulai habis. Om Ben mulai bangkrut. Aku juga harus membiayai Mandala.


Aku akhirnya menerima tawaran seorang sutradara film yang akan memberikanku pekerjaan sebagai model majalah dewasa asal aku mau tidur dengannya. Aku awalnya tak mau, namun tuntutan hidup kembali menderaku.


Mama meninggal saat Om Ben dinyatakan pailit. Tak punya siapapun, hanya Mandala satu-satunya yang kumiliki. Mandala saat itu sedang shock karena temannya kecelakaan dan butuh uang.


Kuputuskan untuk menukar keperawananku, demi membantu Mandala dan demi karir masa depanku. Sayangnya, Mandala memutuskan kembali pulang ke rumah Papinya.


Sudah kadung dengan keputusan yang kubuat ya sudah lanjut terus. Toh keperawanan di jaman sekarang sudah tak lagi berharga, begitu menurutku.


Karirku berkembang semakin pesat. Aku sudah punya rumah dan mobil sendiri. Aku sudah mandiri. Mandala pun menerima kekuranganku sebagai wanita yang tak lagi bermahkota. Ia amat mencintaiku.


Sayangnya, tidak dengan orang tua Mandala. Imageku sebagai mantan model majalah dewasa dianggap bukan wanita baik-baik. Aku terpukul saat itu. Mandala tidak pernah meninggalkanku. Ia bahkan menikahiku secara siri.

__ADS_1


Mandala tetap pulang ke rumah orang tuanya. Aku tetap tinggal di rumahku. Mandala akhirnya diberi kepercayaan menjalankan perusahaan Papinya. Ia bahkan membeli rumah sendiri dari uang hasil bekerjanya.


Merasa sudah menjadi anak yang berbakti, Mandala mengajukan kembali pernikahan kami agar direstui. Papi Prabu bersedia mengabulkan permintaannya asal Mandala mau menikahi Jenaka.


Disinilah segalanya bermula. Pernikahan Mandala dan Jenaka diketahui Om Ben. Ia juga tau perihal aku sudah nikah siri. Om Ben mulai mengancamku.


Dari pernikahan ini pula aku kehilangan Mandalaku. Laki-laki yang kini fokus dengan laptopnya tak lagi menatapku penuh cinta. Bukan karena aku sekarang jelek, tapi setelah Ia tahu kalau gadis berjilbab dengan lesung pipi tercantik yang Ia cari adalah Jenaka.


Ya, aku memang sangat jahat sudah meminta Jenaka pergi dari Mandala. Berada di dekat pria yang kucintai namun hatinya milik wanita lain adalah hal yang menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan dari menahan sakit kanker stadium 4 ku.


Mandala memang perhatian. Merawatku dengan penuh kasih. Membacakanku lantunan ayat suci Al-Quran. Menyelimutiku dan menyuapiku dengan lembut. Namun aku sadar, aku tak lagi berada di hatinya.


Tes... tes...


Kembali air mata tak kuasa aku bendung.


"Kamu kenapa Nara? Ada yang sakit?" lihatlah betapa perhatiannya Mandala padaku. Hatiku semakin sakit saja melihatnya. Mandala menaruh laptop miliknya dan berjalan mendekatiku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku baik-baik saja." Aku lalu mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Mandala.


"Tolong berikan surat ini jika kamu bertemu dengan Jenaka."


Mandala terlihat ragu menerimanya. "Bagaimana aku akan bertemu? Aku kan disini sama kamu?"


"Kamu akan bertemu lagi dengannya saat aku pergi." kembali air mata menetes di pelupuk mataku.


Aku memaksa Mandala menerima suratku dengan tenagaku yang lemah ini. "Titipkan maafku untuknya."


"Nar... Kamu jangan patah semangat. Kamu pasti sembuh!" mata Mandala mulai berkaca-kaca.


"Maafkan keegoisanku. Aku hanya ingin di sisa hidupku kuhabiskan bersamamu." kataku dengan penuh kesedihan.


🎶T'lah kucoba t'rus bertahan


Tentang cinta yang kurasa


Ku mencinta, kau tak cinta


Tak sanggup ku terus bertahan


Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu


Memaksamu mencintaiku sepenuh hati

__ADS_1


Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu


Tapi terimalah permintaan terakhirku🎶


"Nar...."


🎶Genggam tanganku, sayang


Dekat denganku, peluk diriku


Berdiri tegak di depan aku


Cium keningku 'tuk yang terakhir


Ku 'kan menghilang jauh darimu


Tak terlihat sehelai rambut pun


Tapi di mana nanti kau terluka


Cari aku, ku ada untukmu🎶


Aku merasa dadaku semakin sesak. Sayup-sayup kudengar suara Mandala yang berteriak memanggil namaku. Sebelum semuanya berubah menjadi kepekatan abadi...


"NARAAAAAAA!!!!"


🎶Ku tak membencimu


Kuharap kau pun begitu


Tak ingin kau jauh


Tapi takdir menginginkan kita 'tuk berpisah🎶


(Pesan terakhir, Lyodra Ginting)


****


Mandala memeluk tubuh Kinara dengan erat. Mengguncang-guncangnya berharap apa yang dokter katakan tidak benar.


"NARAAAAA!!!!" tangisnya pecah memenuhi ruangan kamar rumah sakit.


Mandala mencium kening wanita yang sangat mencintainya. Wanita tersebut meninggal dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


Keinginan terakhir Kinara sudah terkabul. Ia hanya ingin bersama Mandala diakhir hidupnya. Bisa berada di pelukan Mandala sudah membuatnya bahagia.


Mandala terus menangisi kepergian Kinara. Surat titipan Kinara untuk Jenaka digenggamnya erat. Entah kapan akan Ia berikan pada si pemilik surat ini. Nanti, jika takdir mempertemukan mereka kembali...


__ADS_2