Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Mandala Yang Menyeramkan


__ADS_3

"Apa yang kamu pakai itu Jen?!"


Jenaka melihat baju yang Ia kenakan tanpa merasa berdosa sama sekali. "Pakai kemeja, Kak. Memang kenapa?"


"Pakai kemeja kamu bilang?" Mandala menaikkan sedikit intonasi suaranya.


"Iya."


"Kamu bukan pakai kemeja, Jen! Kamu pakai baju transparan! Kamu mau ngapain kerja pakai baju kayak gitu? Mau pamer bra kamu yang bermotif leopard? Mau nunjukkin aset kamu sama setiap laki-laki di kantor?" Mandala tak bisa menguasai emosinya kini.


Pagi-pagi Jenaka sudah berulah. Tidak membuatkan sarapan, eh malah memakai kemeja putih transparan yang memamerkan bra motif leopard yang Ia kenakan. Bagaimana Mandala tidak tambah murka dibuatnya?


"Oh... Ini? Tenang aja, Kak. Aku pakai blazer kok!" Jenaka mengangkat blazer hitam yang Ia pegang di tangan satu lagi. "Belum Jena pake, Kak. Gerah. Nanti pas ke kantor Jenaka pakai kok."


Tanpa dosa, Jenaka duduk di kursi makan samping Mandala. Ia cuek saja mengambil roti dan mengoleskan Nutella diatasnya.


"Ganti!" Mandala terdengar menahan kesabarannya. Menahan intonasi suaranya yang bergetar karena emosi yang Ia tahan sekuat mungkin.


"Kenapa sih, Kak? Enggak kelihatan kok!" Jenaka menahan diri. Bu Sri berpesan, Ia harus tetap tenang. Misi kali ini lebih sulit, bukan hanya menggoda tapi memancing emosi Mandala juga.


"Aku bilang, GANTI!" Mandala mulai mengeraskan suaranya.


Jenaka menaruh roti yang Ia pegang dan malah menantang tatapan tajam pada dirinya.


"Kenapa harus ganti sih Kak?" Jenaka memberanikan diri bertanya. Ia menyembunyikan ketakutan dalam suaranya. Mandala terlihat begitu menyeramkan dimatanya.


Benar saja, Mandala mulai lepas kendali. Ia bangkit dan menarik Jenaka. Ia menyeret Jenaka ke atas lalu masuk ke dalam kamar Jenaka.


Dengan kesal, Mandala menutup pintu kamar Jenaka dengan kencang. Jenaka mulai ketakutan dibuatnya. Mandala sungguh menyeramkan kalau marah. Berbagai pikiran buruk melintas di benak Jenaka. Apakah rencana ini akan berhasil?


Jenaka mundur selangkah, Mandala membuatnya tersudutkan. Kini tubuh Jenaka menempel di dinding. Dihadapannya Mandala menatapnya dengan emosi yang menyala-nyala.


"Kamu berani ngelawan aku sekarang, Jen?" Mandala mengatakannya dengan lambat-lambat. Menekankan di setiap kata dengan penuh ancaman seakan Ia yang berkuasa disini.


"Aku eng...enggak melawan, Kak. Aku cuma-" Jenaka tak meneruskan kata-katanya.


Sreeekkkk....

__ADS_1


Mata Jenaka membulat saat kemeja putih miliknya dirobek oleh Mandala. Kini terlihat bra leopard di kulit putih Jenaka. Terlihat begitu menantang. Terlihat begitu menggoda iman Mandala.


"K-Kak?"


"Kamu mau menggoda siapa?" tanya Mandala tajam.


"A-aku enggak mau menggoda siapapun." jawab Jenaka dengan suara yang mendecit karena ketakutan. Mandala yang dihadapannya kini amat menyeramkan.


"Oh ya? Apa kamu mau menggoda mereka dengan menunjukkan ini?" Mandala membelai dada Jenaka dengan telunjuknya. Membuat Jenaka merinding dibuatnya.


"A-aku ganti aja bajunya, Kak! Aku ganti sekarang, oke?" Jenaka mengalah. Takut juga dia dengan kemarahan Mandala.


Sayangnya, tangan Mandala masih mengukung Jenaka. Membuat Jenaka tak bisa pergi menghindar.


"Ingat, Jen. Kamu istri aku! Kamu cuma punya aku! Jangan sekali-kali kamu berniat memamerkan apa yang menjadi hakku atau...."


Mandala menatap dua buah sintal di depannya yang terlihat amat menantang untuk disentuh. Ternyata motif leopard malah membuatnya semakin tertantang.


Mandala teringat tentang hari ini Ia akan meeting dengan bagian terkait mengenai tender yang Papinya berikan. Jika Ia tidak masuk kantor, maka Ia akan mengacaukan meeting dengan para bawahannya. Tender besar yang Papinya berikan butuh persiapan matang tentunya.


Tangan Mandala yang sudah terangkat hendak merengkuh benda sintal menggoda itu akhirnya malah Ia gunakan untuk meninju tembok di samping Jenaka.


Mandala melepaskan Jenaka dan berjalan ke pintu. Langkahnya berhenti, "Cepatlah! Sudah siang! Aku tunggu dibawah!"


"I...Iya." Jenaka baru bisa bernafas lega setelah Mandala keluar dari kamarnya.


Ya Allah... Bu Sri!!!!!


****


"Jen, kamu ngapain sih ke ruangannya Pak Mandala terus?" tanya Stella yang baru saja pulang ngegosip dari ruangan sebelah.


"Aku disuruh, Kak." jawab Jenaka dengan tenang. Ada yang lebih menyeramkan dari pertanyaan seperti ini, yakni kemarahan Mandala tadi pagi. Kalau mengingatnya Jenaka masih suka gemetar ketakutan.


"Masa sih? Disuruh ngapain? Beredar gosip katanya kamu suka berangkat bareng sama Pak Mandala loh! Apa kamu ada hubungan sama Pak Mandala? Inget Jen, Pak Mandala tuh udah nikah loh! Ya meski kita enggak ada yang tahu siapa istrinya sih. Tapi dari foto yang ada di ruangannya kayaknya istrinya Kinara si model yang pernah ada di majalah dewasa itu." Stella masih saja mengorek keterangan dari Jenaka. Ia harus mengkonfirmasi sendiri gosip yang Ia dengar.


Hati Jenaka seakan ingin teriak, ingin memberitahu seisi kantor kalau Ia adalah istri sah Mandala. Sayang, Mandala melarangnya dan kemarahan Mandala tadi pagi sudah membuatnya berpikir dua kali jika ingin membuat Mandala marah dalam waktu berdekatan.

__ADS_1


"Aku...." Jenaka bingung mau berbohong apa. "Aku bareng sama Pak Mandala karena-"


"Karena Jenaka lagi disuruh ngerjain tender baru sama Mandala." Genta datang bak malaikat penolong Jenaka. "Ini Bu Yuli, sudah di acc sama Mandala." Genta memberikan map berisi tanda tangan Mandala pada Bu Yuli.


"Tender, Pak? Tender besar itu?" tanya Bu Yuli.


Kepalang tanggung sudah berbohong, Genta nyebur saja sekalian. "Iya, Bu."


"Genta!" suara Mandala membuat suasana tiba-tiba hening. Semua terdiam. Bagaimana tidak, orang yang digosipin malah datang ke ruangan Jenaka.


"Mam pus gue, Jen. Orangnya dateng! Mana gosipnya seharian lagi badmood parah lagi!" bisik Stella pelan pada Jenaka.


Jenaka diam saja sambil memperhatikan wajah tak bersahabat Mandala. Peristiwa tadi pagi pasti membuat Mandala sangat emosi dan terbawa sampai ke kantor.


"Tuh ada Pak Mandala." Genta menghampiri Mandala dan membisikkan sesuatu di telinga Mandala. "Gosip lo dan Jenaka sudah menyebar. Lo iyain aja alasan gue!"


"Kenapa?" tanya Mandala dingin.


"Pak, Jenaka ditanya sama Bu Yuli kenapa sering ke ruangan Bapak. Saya bilang aja karena Jenaka ikut serta dalam tender besar yang masih di rahasiakan. Benar kan Pak?" Genta memainkan mata memberi kode pada Mandala agar mengiyakan perkataannya.


Bu Yuli kebingungan. Bukan Bu Yuli yang bertanya tentang kedekatan Jenaka dan Mandala, melainkan Stella. Kenapa Bu Yuli yang dijadikan tumbal oleh Genta?


Mandala kembali dipojokkan. Genta kalau buat alasan enggak dipikirin dulu matang-matang, makanya belum diijinkan memimpin perusahaan oleh orangtuanya.


Mandala menghela nafas, Ia tahu Jenaka yang suka bolak-balik membawakan dia makanan memang akan menimbulkan gosip dan kecurigaan di kantor. Apa boleh buat, terpaksa Jenaka diikutsertakan dalam tender kali ini. Toh Mandala juga dapet tender ini karena Jenaka juga.


"Jenaka memang saya suruh untuk presentasi nanti bersama klien kita yang baru. Makanya Jenaka sering bersama saya. Sedang dilatih agar bisa presentasi dengan baik. Sengaja dirahasiakan, karena tendernya bernilai besar. Takut bocor ke publik." ujar Mandala dengan penuh wibawa di depan anak buahnya. "Ada lagi yang mau bertanya?"


Semua menggeleng kompak. Wajah Mandala terlihat tak bersahabat. Jangan sampai kena semprot nantinya.


"Baiklah kalo enggak ada yang mau bertanya. Genta! Ikut saya!" Mandala meninggalkan ruangan Jenaka, sebelumnya Ia melemparkan tatapan tajamnya pada Jenaka.


"Wuih gila, Jen. Selamat ya!" ujar Bu Yuli dan teman-teman yang lain.


"Selamat? Kok malah apes ya daripada beruntung? Dasar Kak Genta! Bukannya mengeluarkan aku dari masalah malah nambah masalah! Terus aku gimana dong?" rutuk Jenaka sambil tetap memasang senyum di depan teman-temannya.


***

__ADS_1


Hi semua!


Udah senin nih, yuk vote Jejak Cinta Jenaka. Yang gemes sama Jenaka, sabar ya. Hidupkan butuh proses, enggak langsung instan. Tetap dukung Jenala ya... Maacih 😍😍😍🥰🥰🥰


__ADS_2