
Mandala telah kehilangan semangat menghadapi sisa hari ini. Semangat hidupnya seakan berkurang. Masih terbayang penolakan dari Ayahnya Jenaka.
Mungkin di depan Jenaka Ia terlihat tegar dan kuat, namun percayalah Mandala menyimpan ketakutannya sendiri.
Bagaimana kalau Ia tak pernah mendapat restu untuk menikahi Jenaka selamanya?
Bagaimana kalau pada akhirnya Jenaka meninggalkannya dan memilih bersama Panca yang jelas-jelas mendapat dukungan dari semua pihak?
Mandala bahkan tak menyadari kalau sejak tadi Genta sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
"Muka lo kusut banget cuy! Habis ditolak calon mertua?" sindir Genta.
Mandala melihat dengan malas ke arah Genta. "Tau darimana lo?"
"Dari raut muka lo udah keliatan. Kusut dan demek kayak handuk basah." ledek Genta.
"Sialan lo! Bukannya bantuin malah ngeledek. Emangnya lo enggak mau gue balikan sama Jenaka?"
Genta duduk di depan Mandala setelah mengambil sekotak minuman dingin dari dalam lemari es di ruangan Mandala. "Itu bukan urusan gue. Lo mau balikan terserah, lo mau jadi duda terus juga terserah. Lo yang ngejalanin bukannya gue."
"Ih nyebelin banget lo jadi orang! Enggak ada empatinya sama sekali, sodara lo lagi kesusahan nih. Lo malah cuek aja!"
"Lo salah strategi kali!"
"Salah strategi gimana maksud lo?" Mandala membenarkan duduknya yang semula bersandar di kursi menjadi duduk lebih tegak. Biasanya kalau Genta sudah berkata seperti ini maka Ia akan memberikan masukan atau saran yang bagus untuknya.
"Lo langsung datang ke medan perang tanpa persiapan dulu lagi?"
"Ya sebagai laki-laki gentle mah langsung maju aja kali!"
"Pantesan aja lo kalah! Harusnya lo persiapan dulu. Bujuk pelan-pelan. Ambil hati orangtuanya dengan kegigihan lo." saran Genta.
"Caranya?"
"Mulai dari hal sepele. Bawakan kesukaan orangtuanya."
"Kan gue udah dilarang ke rumahnya. Gimana sih lo?"
"Terus kalo lo dilarang, lo bakalan nurut begitu aja gitu? Ah kayak anak kecil lo! Inget, peraturan ada buat dilanggar!"
"Maksud lo, gue tetap dateng ke rumah Jenaka gitu meskipun udah dilarang?"
__ADS_1
"Iyalah! Itu pun kalo lo punya nyali. Punya enggak?!" ledek Genta.
"Punya lah! Oke, gue bakalan datengin ke rumah Jenaka lagi. Terus lo bilang bawa senjata. Apa senjatanya?"
Genta pun memberitahu apa yang harus Mandala lakukan. Mandala kini mulai kembali bersemangat.
****
"Assalamualaikum, Yah!" sapa Mandala keesokan paginya. Ia sudah di depan rumah Jenaka sejak pagi. Menunggu pintu pagar terbuka dan menyapa Ayah yang membukakan pagar dengan salam dan senyum lebar.
"Waalaikumsalam. Ada apa kamu kesini pagi-pagi sekali? Bukankah saya sudah bilang untuk tidak datang kesini lagi? Kalau untuk menjemput Jenaka bekerja tidak perlu! Jenaka saya larang diantar sama kamu!" Ayah semakin tegas melarang Mandala.
"Bukan kok, Yah. Mau ketemu Bunda. Ada titipan dari Mami buat Bunda." Mandala melewati Ayah dan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum Bunda!"
Tak lama Bunda keluar rumah ketika mendengar namanya disebut. "Waalaikumsalam. Nak Mandala? Ada apa pagi-pagi kesini?"
Jenaka yang berdiri di belakang Bunda melambaikan tangan pada Mandala, membuat Ayah yang sejak tadi memperhatikan pun memelototinya.
"Mandala mau menitipkan sesuatu Bunda dari Mami. Kemarin Mami beliin buat Bunda, namun karena sudah harus pergi jadi lupa kasih ke Bunda langsung." Mandala membawakan aneka makanan yang Maminya belikan untuk Mandala. Bohong sedikit tak apalah.
Semalam Mandala menelepon Maminya meminta pendapat, Mami Nina menyuruhnya mengirim makanan yang Ia bawakan untuk Mandala dan bilang kalau Mami Nina yang belikan.
"Belum sempat sih, Bunda." ujar Mandala malu-malu.
"Pas banget berarti. Ayo kita sarapan. Nanti keburu kesiangan di jalan macet!" ajak Bunda.
Kini, Mandala kembali sarapan bareng dengan keluarga Jenaka. Sayang, Juna sedang ke luar kota dan baru akan kembali besok.
Meski sebal dengan Mandala, Ayah tak enak mengusir orang yang membawakan sesuatu dari orangtuanya. Ayah ikut sarapan bareng dengan wajah yang cemberut.
Usaha Mandala tidak itu saja, saat malam minggu Mandala berhenti di pos hansip tempat biasanya Ayah nongkrong. Ayah belum ke pos, namun sebentar lagi akan datang menurut informasi dari Jenaka.
Jenaka ikut bekerja sama dengan Mandala. Ia yang mengabarkan kondisi terkini di rumahnya pada Mandala sehingga Mandala dapat memperkirakan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya.
Ibaratnya, Jenaka yang menggiring bola dan Mandala yang menendangnya ke gawang. Duet maut demi keberhasilan rencana mereka.
Mandala datang dengan membawa beberapa bungkus rokok dan kopi hitam dari kedai kopi. Ia sok akrab dan ikut serta dalam permainan catur yang dilakukan oleh bapak-bapak.
"Wah pinter banget lo! Jago main caturnya. Pantes dah jadi menantunya Lukman!" puji Pak Juki.
"Iya dong. Menantunya Pak Lukman juga harus pinter kayak mertuanya." puji Mandala yang secara tidak sengaja melihat siluet Ayah yang berdiri di belakang pos hansip, tentunya setelah Jenaka memberitahu kalau Ayahnya sebentar lagi sampai pos.
__ADS_1
"Bisa aja lo Tong! Tapi bener sih, si Lukman jago main caturnya. Lo pasti sering main catur bareng kan?" tanya Pak Dodi.
"Ehem!" Ayah yang baru datang berdehem agar mereka tak membicarakannya lagii.
"Wah pas bener ada orangnya!" sahut Pak Juki. "Mantu lo pinter main caturnya. Kapan-kapan kita tanding dong! Pake taruhan biar enak!"
Ayah menatap Mandala sebal. Mandala seenaknya saja mengaku kalau Ia adalah menantunya, padahal selama ini sengaja Ayah menyembunyikan dari teman-temannya.
"Nanti aja. Kita main aja yang lain. Kartu aja. Bosen main catur terus!" protes Ayah.
"Boleh. Ayo kita main kartu, pake taruhan ya!" Ayah pun ikut bergabung dalam permainan. Dalam hati Mandala bersyukur, sedikit demi sedikit Ia yakin akan berhasil meluluhkan hati Ayah.
****
Mandala kembali menjalankan rencana untuk meluluhkan hati keluarga Jenaka. Setelah sebelumnya ikut bergabung dengan genk Ayah, kini Ia memikirkan gimana caranya bisa sering berada di dalam rumah Jenaka.
Saran yang Genta berikan rupanya cukup berhasil. Genta bilang, Ia harus mengambil hati orang sekeliling Jenaka dahulu baru Ia bisa mengambil hati Ayah.
Ibaratnya bola billiard, biarkan Ia menggelinding dan memutari area dahulu sebelum akhirnya masuk ke dalam tengah lubang. Itulah yang Mandala lakukan.
Hari sabtu siang, Mandala yang sangat merindukan Jenaka datang bertamu. Kali ini Ia berniat mendekati Juna yang sedang libur.
"Wah gila ini sih. Kak Mandala beliin games terbaru plus PS-nya juga lagi." puji Juna dengan mata berbinar-binar.
"Aku ikutan dong kalo kalian main!" ujar Jenaka yang beralasan ingin ikut main padahal mau berdekatan dengan Mandala.
"Kamu kalau ikutan agak jauhan Jen duduknya. Dekat Juna saja!" omel Ayah yang sejak tadi memperhatikan apa yang Mandala lakukan.
"Enggak kelihatan Yah kalo jauhan! Pokoknya aku ikutan. Aku sama Kak Mandala satu tim. Kamu sendirian aja, Jun. Kamu kan jago!" ujar Jenaka.
"Kita gantian aja Jen mainnya. Kita kalahin Juna!" ujar Mandala.
"Siap. Siapa takut! Ayo kita mulai." tantang balik Juna.
Mereka bermain di depan TV ruang keluarga. Sepanjang mereka bermain, Ayah tak lepasnya memperhatikan Mandala dan Jenaka. Ia melihat Jenaka banyak tersenyum dan sesekali menatap Mandala dengan pandangan mendamba.
Ayah bisa tahu kalau putrinya amat mencintai Mandala. Hatinya sedikit luluh. Apakah Ia sebaiknya membiarkan saja mereka bersatu?
****
Hi semua... Udah like, komen dan add favorit? vote udah juga belum? ayo kalo yg belum vote, vote Jenaka ya.... maacih 😍😍
__ADS_1