
Kalau boleh jujur, sebenarnya Jenaka tadi ingin langsung diantar pulang oleh Panca ke rumah, Ia lelah. Presentasi hari ini membuat Ia sudah begadang selama beberapa hari.
Satu lagi yang membuat Jenaka malas kembali ke kantor adalah menghadapi Mandala. Ia tahu kalau Ia berhutang banyak penjelasan pada Mandala tentang Panca.
Kini, penyesalannya bertambah. Andai tadi tidak menyembunyikan alamat rumah Mandala dari Panca pasti Ia akan memilih diantarkan pulang. Bukan apa-apa, memberitahu alamatnya pada lelaki lain tanpa seijin suaminya bisa saja menjadi masalah di kemudian hari.
Jenaka masih menghargai dan menghormati Mandala sebagai suaminya. Tidak sembarangan memberitahu alamat rumahnya pada pria lain.
Jenaka mau putar balik saja rasanya. Melihat Mandala melipat kedua tangannya di dada sudah menjadi pertanda kalau Mandala marah terhadapnya.
"Dari mana saja kamu Jen?!" tatapan Mandala seakan sedang menguliti Jenaka.
"Aku... Habis sholat dzuhur dulu, Kak. Tadi waktu Bu Yuli nyuruh aku kesini, aku belum sholat. Makanya aku sholat dulu." jawab Jenaka tanpa merasa bersalah sama sekali.
Mandala terlihat menahan kemarahannya. Terbukti dari buku jarinya yang memerah, sekuat diri menahan emosi menghadapi istri nakalnya yang terlihat tanpa dosa.
"Siapa Panca? Kenapa kamu kenal dia?"
Bukannya duduk di depan Mandala, Jenaka malah membuka kulkas kecil di ruangan Mandala dan mengambil minuman dingin dari dalamnya. Mengambil dua buah dan memberikannya pada Mandala satu.
"Minum dulu. Biar tenang dan jangan kebanyakan ngegass!" Jenaka malah sengaja menyindir Mandala, membuat Mandala semakin kesal saja.
Mandala mengambil minuman yang Jenaka berikan, meminumnya sampai habis lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.
"Panca itu sahabat aku, Lily dan Lulu. Bukannya Kak Mandala pernah melihat fotonya di kamarku waktu itu? Aku pernah cerita sama Kak Mandala kalau Panca menghilang tanpa kabar. Ternyata Panca pindah ke Amerika. Jujur aja Kak, tadi aku enggak ngenalin Panca. Ganteng bingits soalnya. Kayak artis he...he...he..." Jenaka malah memuji laki-laki lain di depan Mandala yang sedang menahan emosi.
"Lalu diajak kemana aja kamu sama dia? Ngomongin apa aja?"
Jenaka membuang bekas minumnya ke tempat sampah, tidak melemparnya seperti yang Mandala lakukan. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Mandala. Tanpa takut.
__ADS_1
"Cuma nongkrong di cafe. Temu kangen gitu. Cerita kenapa Panca bisa pindah ke Amerika." Jenaka makin mendekatkan tubuhnya pada Mandala, Ia bahkan bisa mencium parfum mahal yang Mandala kenakan. Jenaka membenarkan dasi Mandala yang agak miring. "Lalu Panca menawariku sesuatu."
Jenaka sengaja memancing reaksi Mandala. Jika berhasil syukur, jika gagal Ia akan memancing dengan cara lain. Sudah lama Ia tidak bergenit ria pada suaminya.
"Menawari apa? Jadi pacarnya?" tebak Mandala dengan nada sinis.
"Ih itu mah udah dari dulu kali, Kak!" jawaban Jenaka membuat Mandala terperangah. "Tapi bukan itu yang Panca tawarkan."
"Lalu? Ia menawarkan apa?" Mandala semakin penasaran dibuatnya. Jenaka terus memainkan emosinya. Dibuat kesal, emosi dan penasaran dalam satu waktu bersamaan.
Dasi yang Mandala kenakan sudah Jenaka rapihkan. Kini Ia membenarkan jas yang Mandala kenakan. "Panca nawarin aku, untuk pindah ke perusahaannya."
"Terus kamu mau?"
Jenaka tersenyum, "Kalau Kak Mandala ada di posisiku, ada orang yang nawarin gaji aku naik lima kali lipat. Kak Mandala bakalan nolak atau terima?"
"Aku tolak!" jawab Mandala setengah emosi tanpa dipikir dulu.
"Ya aku lihat situasinya dulu lah! Kalo sama Papi aku yakin makanya aku berani minta tender besar. Kalau teman kamu Panca itu sih enggak meyakinkan! Hati-hati aja kamu bisa kena tipu!"
Senyum di wajah Jenaka semakin lebar. Tak menyangka Mandala akan dilanda emosi sampai tidak bisa berpikir jernih dulu sebelum berbicara. "Lalu kenapa Kak Mandala mau kerjasama dengan Panca? Hati-hati kena tipu loh!"
"Kamu mau balikkin setiap kata-kata aku Jen?" Mandala mulai kesal karena perkataan Jenaka benar adanya.
"Enggak, Kak. Ih begitu aja marah. Masih ada yang mau ditanyain enggak? Udah kelamaan nih aku disini. Enggak enak sama Bu Yuli!"
"Kenapa kamu tadi enggak ngenalin kalau itu Panca? Lalu kenapa kamu diam saja saat dia peluk?" rupanya Mandala masih penasaran. Masih ada yang mau Ia tanyakan.
"Karena Panca tuh berubah drastis, Kak. Dia habis operasi lasik. Lalu rambutnya juga dicat warna dark brown dengan potongan rambut klimis gitu layaknya CEO di drama Korea. Gimana aku bisa ngenalin coba? Lalu, kenapa aku enggak nolak? Ih siapa sih yang nolak dipeluk cowok ganteng Kak? Aku aja suka kalau Kakak peluk aku!" Jenaka malah sengaja memancing emosi Mandala lagi.
__ADS_1
"Heh! Awas ya kamu kecentilan kayak gitu! Inget, kamu tuh istri aku! Jangan sembarangan peluk-peluk cowok lain! Dosa tau!"
"Peluknya kan enggak sengaja, Kak. Kalau sengaja kayaknya masih dikasih 3x kesempatan sama malaikat deh baru dihitung dosa!" Jenaka malah tambah ngeyel saja, Ia suka sekali melihat Mandala emosi seperti ini. Emosi bercampur cemburu.
"Kamu nih kalo dibilangin sama suami kamu bukannya nurut malah ngeyel terus! Yang nanggung dosa kamu tuh aku tau!"
"Iya... iya... Aku enggak mau buat Kak Mandala nanggung dosa aku. Aku kasihan sama Kak Mandala. Soalnya udah nanggung dosa Kinara banyak, iya enggak Kak?" Jlebb.... Jenaka mengeluarkan senjata saktinya. Membuat Mandala tak membantahnya lagi.
"Sudahlah! Kembali ke ruangan kamu! Nanti pulang kerja pokoknya bareng sama aku! Lalu kalau mau pergi sama Panca harus sepengetahuan aku. Kalau perlu aku ikut!"
Jenaka melingkarkan tangannya di leher Mandala. "Kamu cemburu ya Kak?" goda Jenaka.
"Cemburu? Enggaklah. Aku tuh cuma mau menjaga harga diri kamu sebagai seorang istri. Aku mah enggak cemburuan orangnya!" elak Mandala.
"Berarti aku boleh dong resign dan pindah ke perusahaannya Panca?" tantang Jenaka.
Mandala menatap Jenaka tajam. Tatapannya sangat menyeramkan. Jenaka berhasil membuatnya sangat emosi. "Kembali ke ruangan kamu, Jen! Jangan pernah berpikir kamu bisa resign! Kamu enggak akan pergi sejengkalpun dari aku!"
"Oke. Aku kembali. Cium dulu dong!" goda Jenaka lagi.
"Enggak mau! Kamu tuh kayak ikan yang sengaja mancing kucing! Cuma bikin kucing mupeng doang, dikasih enggak! Giliran udah di ubun-ubun banyak banget alasannya! Lagi dapet lah, mesti bilang cinta dulu lah. Enggak deh. Aku lebih baik jaga jarak dari kamu!" kini Mandala malah mengungkapkan isi hati dan unek-uneknya.
Mandala lalu membuang pandangannya dari Jenaka. Menjauhkan diri dari godaan Jenaka yang memabukkan. "Yaudah kalo enggak mau. Aku yang cium ya!"
Jenaka memajukan bibirnya dan mencium lembut bibir Mandala. Hanya sebentar namun bisa memercik api dalam diri Mandala. Membuat pertahanannya luruh dalam sekejap.
Mandala pun membalas ciuman Jenaka dengan rakusnya. Mencium bibir nakal yang sejak tadi terus menjawab dan ngeyel semua yang Ia katakan.
Sampai pagutan mereka harus dipisahkan karena telepon Mandala berbunyi. Dengan terpaksa Mandala melepaskan diri dari Jenaka dan mengangkat teleponnya. Setelah membersihkan bekas lipstik dari bibir Mandala, Jenaka pun melenggang pergi dengan senyum puas di wajah.
__ADS_1
****