
"Jen, aku mau bicara sama kamu!" ujar Panca setelah beberapa hari Ia memendam kekesalannya sendiri.
"Yaudah bicara aja." Jenaka menarik kursi di depan Panca dan duduk. Menatap Panca lekat. Entah apa yang akan Ia bicarakan.
"Aku tahu kalau bucket dan makanan yang sebelumnya dikirim untuk kamu, bukan karena menang lomba. Dari Mandala bukan?"
"Bukan, Ca. Itu-"
"Aku tahu, Jen. Kamu enggak bisa berbohong sama aku. Aku bisa tahu kapan kamu bohong, kapan kamu bicara jujur. Kita sudah berteman lama, Jen. Percuma kamu bohong."
Jenaka terdiam. Mengakui kesalahannya karena telah berbohong pada Panca.
"See? Aku tahu kamu bohong kan? Kenapa kamu enggak jujur sama aku? Apa Mandala mengancam kamu?"
Jenaka terkejut. Tau darimana Panca kalau Mandala mengancamnya?
"Beneran ngancem kamu? Ngancem apa? Cerita sama aku! Biar aku yang hadepin dia!"
Panca terlihat sudah emosi. Kalau Jenaka jujur, bukan selesai masalah. Malah justru akan timbul masalah lain yang jauh lebih besar.
"Enggak ngancem, Ca. Kamu tenang aja. Kalau aku diancem, pasti hidup aku enggak tenang kan? Aku santai aja kayak di pantai. Biasa, Kak Mandala iseng aja. Kirim bunga dan hadiah. Tapi udah enggak bakalan kirim macem-macem lagi kok. Kamu tenang aja." Jenaka menenangkan Panca.
"Kenapa? Apa keinginannya sudah terwujud?" Jenaka sampai susah menelan salivanya. Lagi-lagi Panca bisa menebak isi hatinya. Bagaimana mungkin?
"Itu-"
"Apa keinginan Mandala?" Panca tak membiarkan Jenaka beralasan. "Kalau kamu memberikan Mandala kesempatan, kenapa kamu tidak memberikan aku juga kesempatan, Jen."
"Aku-"
"Jen, kamu tau kalau sejak dulu aku selalu mencintaimu. Aku sayang sama kamu, Jen. Satu penyesalan dalam hidupku adalah membiarkan kamu menikah dengan Mandala. Kini, kamu sudah berpisah dengannya. Apa adil kalau kamu masih membuka hati kamu sama Mandala namun menutup hati kamu sama aku?"
Jenaka menunduk, tak sanggup menatap mata Panca. Rasa bersalah menguasainya. Jenaka berpikir apakah keputusan yang akan Ia ambil sudah benar atau belum.
"Baiklah. Aku akan beri kamu kesempatan. Tapi jika aku tetap tidak bisa membuka hatiku sama kamu, aku enggak mau hubungan kita menjauh dan merenggang. Aku mau kita tetap bersahabat." kini Jenaka berani mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam mata Panca. "Maaf kalau aku jahat dan egois, tapi satu hal yang paling aku takutkan dalam hidup ini adalah kehilangan kamu sebagai sahabatku."
Benar yang Jenaka katakan. Akan sangat sulit bersikap biasa-biasa saja jika perjuangan Panca gagal. "Aku terima syarat kamu, Jen. Aku juga enggak bisa bayangin hidup tanpa kamu. Aku pernah melihat kamu bersama orang lain dan aku masih bisa menjalani hidupku meski dengan rasa sakit yang mendera. Tapi kehilangan kamu? Aku belum pernah dan tak akan pernah, Jen."
Jenaka tersenyum. "Aku juga, Ca. Kamu laki-laki yang baik. Satu lagi, Ca. Aku hanya bersikap baik pada Kak Mandala. Bukan memberi kesempatan. Mungkin di mata kamu, aku memberi kesempatan. Kamu tahu, hati aku masih menyimpan banyak luka. Meski takdir yang membuat aku dan Kak Mandala berpisah, tapi masih ada jejak sakit hati disini." Jenaka menunjuk dadanya.
"Maaf Jen atas prasangkaku. Aku melihat kamu begitu dekat dengan Mandala. Aku pikir-"
__ADS_1
Jenaka memotong perkataan Panca. "Kadang apa yang kita lihat, belum tentu itu kebenarannya. Sama seperti melihat kucing dalam karung, belum pasti dan belum tentu di dalamnya adalah kucing. Aku kembali ke tempatku lagi, Ca."
Panca tersenyum mendengar penuturan Jenaka. Kalau memang Jenaka belum memberikan kesempatan pada Mandala, maka Ia masih punya kesempatan. "Kalau Mandala mulai dari kemarin, maka aku akan mulai sekarang dan melompati kesuksesannya. Lihat saja!" batin Panca.
****
Malam ini bulan bersinar dengan amat terang. Bintang yang mengelilinginya membuat langit malam begitu bercahaya.
Jenaka sedang duduk di jendela, hal yang kalau Bunda dan Ayah tau maka omelan yang akan Jenaka dapati. Jenaka tak peduli. Ia butuh udara segar.
Melihat pemandangan malam yang indah dan udara malam yang sejuk, membuat Jenaka bisa berpikir jernih.
"Mikirin apa, Jen?" tanya Juna yang datang tanpa mengetuk pintu dan sudah duduk di atas tempat tidur Jenaka.
"Mikirin hati, Jun."
"Mikirin hati? Hati kamu atau hati cowok yang suka sama kamu, Jen?"
"Semuanya. Kenapa ya Jun kisah cinta aku begitu menyedihkan? Kenapa ya pernikahan aku harus berakhir dengan perceraian?" Jenaka lebih seperti bertanya pada diri sendiri daripada bertanya pada Juna.
"Ya... Karena kamu yang menginginkan perceraian. Lupa? Pertanyaannya adalah, kenapa kamu dulu enggak memilih bertahan? Kamu tau sendiri kan, Kinara sedang sakit. Kamu bisa bersabar namun kenapa kamu menyerah?"
"Aku-"
"Ibaratnya begini, kamu udah tau di depan bakalan melewati semak belukar dengan banyak duri tajam. Kamu bukannya usaha pakai sepatu boots dan jas hujan tapi kamu malah memilih jalan lain agar tidak menyakiti hati kamu. Kamu memilih pergi meninggalkan permasalahan hanya demi menjaga perasaan kamu sendiri. Kamu beralasan kalau itu semua permintaan Kinara. Padahal sebenarnya kamu bercerai karena kamu takut semakin terluka karena Mandala akan lebih memperhatikan Kinara dibanding kamu. Benar begitu bukan?"
Jenaka menghapus air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Kamu benar, Jun. Aku terlalu pengecut saat itu."
"Aku tak akan mempermasalahkan keputusan kamu Jen. Itu hak kamu. Boleh saja kamu meninggalkan medan perang demi menyelamatkan kepingan hati yang terluka. Tapi apa kamu pernah berpikir bagaimana kalau ada di posisi Mandala?"
Jenaka terkejut dengan perkataan Juna. "Loh bukannya kamu enggak setuju kalau aku sama Kak Mandala. Kenapa kamu malah seperti membela Kak Mandala dan menyudutkanku?"
"Aku cuma berpikir dari dua sisi aja, Jen. Aku enggak suka saat tau Mandala melakukan poligami. Tapi aku lebih enggak suka saat dia mengembalikan kamu ke Ayah. Aku saudara kembar kamu, Jen. Aku tahu kalau kamu sangat mencintai Mandala. Aku juga tau kalau Mandala sangat mencintai kamu karena...."
"Karena apa?"
"Karena aku selalu melihat dia menunggu kamu di halte dekat rumah Tante Di."
"Serius?"
Juna mengangguk. "Dia enggak mengenaliku karena waktu itu aku pakai helm full face. Aku lagi nunggu temanku di halte dan mendengar percakapan Mandala dengan temannya yang bernama Di... Didi. Iya, Didi."
__ADS_1
"Iya, itu sahabatnya Kak Mandala. Terus gimana Jun?" Jenaka penasaran dan mendekati Juna duduk di tempat tidurnya.
"Mandala bilang sama temannya kalo dia lagi nungguin cewek berjilbab dengan lesung pipi paling menggemaskan. Prett menggemaskan! Tukang ngomel-ngomel menggemaskan dari mana?" ledek Juna.
Pletak!
"Kalo cerita jangan setengah-setengah. Yang bener!" ujar Jenaka yang menjitak kepala Juna sampai Juna mengaduh kesakitan.
"Iya... iya... Sakit tau! Ya pokoknya gitu. Beberapa kali aku kesana dia masih suka nongkrong. Kalo aja dia tau kamu udah jadi istrinya pasti ending cerita kalian enggak setragis sekarang."
Jenaka mengernyitkan keningnya. "Jadi kamu tim Mandala atau tim Panca?"
"Aku? Aku mah siapa aja yang bisa bahagiain kamu, Jen. Satu lagi...."
"Satu lagi apa?"
"Siapapun jodoh kamu, dia harus baik dan loyal sama aku. Awas aja kalo pelit ha...ha...ha... "
"Dasar adik matre!!!"
Jenaka dan Juna saling melempar bantal sampai mereka lelah. "Udah ah Jen. Ampun!"
"Makanya jangan rese!"
"Eh tapi Jen, kalo kamu disuruh pilih bakalan pilih siapa?" tanya Juna.
Jenaka mengangkat kedua bahunya. "Entah. Kalo Panca, aku sama dia sahabatan udah lama. Kalo Mandala, rintangan kami pasti berat ke depannya. Aku bingung pilih yang mana."
"Aku tahu Jen kamu pilih siapa?!"
"Siapa?" tanya Jena penasaran. Siapa tau ide Juna lebih brilian.
"Pilih Kang Maman aja yang jualan pecel ayam di depan komplek, duda juga Jen. Macho lagi ha...ha...ha..."
"Junaaaaaaa!!!!"
*****
Hi Semua....
Aku mau meluruskan sedikit nih. Jenaka bersikap centil dan terkesan agak murahan hanya saat menikah dengan Mandala saja. Saat mereka bercerai, Jenaka hanya berusaha menjaga tali silahturahmi saja. Apakah silaturahmi sama dengan murahan? Big no ya! Cerita ini belum usai, so ikutin terus ya 😁.
__ADS_1
Oh iya, aku mau promosiin karya author keren nih. Mampir juga ya..