Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Turun Ke Pasar


__ADS_3

Jenaka tak menuruti kemauan Mandala. Ia bangun dan mengambil bekal yang Ia bawakan. Membuka tutupnya dan menyiapkan untuk Mandala makan.


"Kenapa, Jen? Biasanya kamu rajin menggoda aku seperti itu?!" sindir Mandala. Ia meraih sendok yang Jenaka sediakan lalu mulai memakan nasi goreng buatan Jenaka.


"Ah masa sih aku suka menggoda Kak Mandala? Aku mah anak lugu dan polos, masa sih menggoda Kak Mandala?" elak Jenaka.


Mandala mencebikkan bibirnya. "Lugu apaan? Biasanya juga nyosor melulu!"


"Yaudah deh enggak lagi kalo Kak Mandala enggak suka!" Jenaka pura-pura tersinggung mendengarnya.


"Aku enggak bilang kalo aku enggak suka." Mandala menikmati sarapan buatan Jenaka. Enak. Nasi goreng khas rumahan. Mandala sangat suka itu.


Masakkan Mala lumayan enak dibanding asisten rumah tangga di rumah Kinara, karena itu Kinara suka makan di rumah Mandala. Mencicipi masakan Jenaka malah membuat masakan Mala terasa biasa saja.


"Kenapa kamu enggak sering masak sih Jen? Masakkan kamu enak. Aku suka. Pas banget di lidah aku!" puji Mandala yang sudah menghabiskan setengah nasi goreng buatan Jenaka.


"Masa sih? Biasa aja ah, Kak. Cuma berani bumbu aja resepnya. Bunda selalu ngajarin kalau masak tuh jangan pelit bumbu, makanya masakannya lebih terasa rempah-rempahnya."


"Pokoknya selama aku di rumah, aku maunya makan masakkan kamu ya!" Mandala begitu menikmati masakan Jenaka, tanpa sadar sudah habis tanpa sisa.


"Siap! Nanti aku buatin! Kak Mandala suka makan apa? Ayam, ikan, sayur atau ada request khusus enggak? Kalo aku bisa, nanti aku masakkin!"


"Hmm... Apa ya? Kamu yang pilihin aja deh. Aku suka apa aja. Enggak pilih-pilih. Aku kan pernah ngerasain enggak punya uang untuk makan enak, jadi sekarang apapun yang dimasakkin akan aku makan!"


Jenaka merapihkan bekas makan Mandala lalu memasukkannya dalam tas. Jenaka tertegun dengan perkataan Mandala. "Kapan Kakak pernah ngerasain enggak punya uang? Kayaknya Papi Prabu banyak uang deh, enggak pernah kekurangan uang!"


"Saat Papi ngusir aku dulu." pandangan Mandala terlihat sedang mengenang kisah masa lalunya. "Aku hanya punya uang yang Kinara kasih dari hasil pemotretannya."


"Kak Mandala pernah diusir?" Jenaka duduk lagi, tak jadi pergi. Ia tertarik dengan kisah Mandala.


"Akan aku ceritakan lain waktu. Kembalilah ke ruangan kamu. Aku enggak mau ada gosip miring tentang kita." rupanya Mandala tak mau menceritakan kisahnya sekarang. "Kita pulang bareng. Nanti aku tunggu di basement!"


"Iya, Kak." meski agak kecewa tak jadi diceritakan kisah oleh Mandala, Jenaka menurut saja. Membawa Tupperware yang Ia bawa dan kembali ke tempatnya.


****

__ADS_1


"Jen, mau beli makan malam apa?" tanya Mandala saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Beli makan malam? Bukannya Kak Mandala maunya dimasakkin sama aku?" tanya balik Jenaka.


"Masakkinnya besok pagi aja! Sekarang udah malam, kamu juga pasti capek habis kerja seharian."


"Hmm... Apa ya? Gimana kalau kita makan sekalian belanja buat masak besok, Kak?"


"Mau belanja dimana? Supermarket apa?"


Jenaka menggelengkan kepalanya. "Aku mau belanja di pasar tradisional aja, Kak. Lebih murah dan lengkap."


"Jen, ini tuh udah mau maghrib. Kamu yakin mau belanja di pasar? Kenapa enggak di supermarket aja sih?! Lebih bersih dan fresh. Enggak usah kotor-kotoran masuk pasar segala!" protes Mandala.


"Aku maunya di pasar, Kak. Aku terbiasa diajak Bunda belanja di pasar. Tuh di depan sana udah pasar. Ayo kita ke pasar aja ya, Kak!" Jenaka berusaha membujuk Mandala.


"Jen, meski waktu itu aku enggak punya uang tapi enggak pernah masuk pasar tradisional. Masih bisa belanja di warteg." Mandala terdengar enggan masuk ke dalam pasar. Tak suka dengan bau disana pastinya.


"Itu namanya belum susah, Kak. Makan aja maunya terima jadi. Udah dimasakkin orang. Banyak orang yang berumah-tangga menghemat pengeluaran mereka dengan masak sendiri, beli di pasar tentunya. Ah cerita kalau Kak Mandala pernah susah jadi aku ragukan. Ayo, kalo Kak Mandala mau merasakan susahnya kehidupan. Kita survey lapangan!" Jenaka menyuruh Pak Sahrul berhenti di pasar.


"Masa sih aku ke pasar pake jas kayak gini Jen?" protes Mandala.


Jenaka mencopot jaket yang Ia kenakan lalu memberikannya pada Mandala. "Kakak ganti jas yang Kak Mandala pakai dengan jaket ini. Lalu..." Jenaka mengambil sandal yang ada di dalam mobil. Sandal jepit merk Havaianas milik Mandala. "Ganti sepatu Kakak pakai sandal ini."


Meski Mandala terlihat agak ragu namun Ia menuruti setiap perkataan Jenaka. Melepas jas dan menggantinya dengan jaket. Lalu melepas sepatu dan mengganti dengan sandal.


Jenaka menilai penampilan Mandala. Meski sudah diubah tetap saja masih terlihat muka orang kaya dalam dirinya. "Kakak kesini sebentar deh!" Jenaka meminta Mandala agak mendekat dengannya.


"Mau ngapain kamu nyuruh aku deket-deket? Jangan berbuat aneh-aneh, Jen!"


"Ish! Kakak tuh mikir apaan sih? Aku mau ngacak-ngacak rambut Kakak. Terlalu klimis makanya kelihatan kayak orang kaya! Sini majuan sedikit!" Mandala jadi malu dengan pemikirannya sendiri.


Pak Sahrul yang menyetir juga sempat melirik lewat kaca spion. Melihat kelakukan kedua majikannya yang sejak tadi begitu heboh di kursi belakang. Bukan heboh karena berbuat mesum, melainkan heboh mikirin penampilan. Pak Sahrul menyunggingkan seulas senyum. Majikannya bagaikan teman, bukan sepasang suami istri. Teman akrab tepatnya.


Mandala mendekat ke arah Jenaka, sesuai perkataan Jenaka tadi Ia mengacak-acak rambut Mandala. Hasilnya berhasil, Mandala sudah tidak terlihat seperti orang kaya dan bos besar tapi malah terlihat ganteng seperti boy band.

__ADS_1


"Loh kok malah makin ganteng ya Kak Mandala diginihin?" gerutu Jenaka.


"Baru tau kamu Jen kalau aku ganteng?" ujar Mandala setengah jumawa.


"Udah tau dong. Makanya aku cinta sama Kak Mandala!" balas Jenaka yang membuat Mandala semakin besar kepala dibuatnya.


"Ayo kita turun!" Pak Sahrul sudah memarkirkan mobil di tempat parkir. Jenaka meminta Pak Sahrul menunggu di parkiran saja.


"Jangan lupa, Kak. Dompet Kakak harus dijaga. Banyak copet yang berkeliaran!"


"Iya, Jen! Udah ayo jangan lama-lama! Bau, Jen!" omel Mandala membuat Jenaka geleng-geleng kepala dibuatnya.


Jenaka menggandeng tangan Mandala masuk ke dalam pasar. Membeli sayuran, ikan, ayam dan bumbu dapur.


"Kak, kita makan bakso dulu yuk!" ajak Jenaka.


"Enggak ah, Jen! Bau begini mana bisa aku makan sih?" tolak Mandala.


"Ih Kakak mah, jangan terlalu dirasain baunya. Nikmatin aja!"


"Ngaco kamu, Jen. Ngapain juga bau dinikmatin!" Mandala tersenyum mendengar perkataan Jenaka.


"Kakak lihat deh, tukang baksonya rame banget. Pasti enak, Kak. Ayo kita makan bakso dulu. Aku traktir deh!" rengek Jenaka.


"Rame karena pake penglaris kali! Enggak ah, bau Jen. Aku enggak bisa makan nanti!" tolak Mandala lagi.


"Yaudah Kakak balik duluan ke mobil aja! Aku mau makan bakso dulu!" Jenaka pun berjalan meninggalkan Mandala menuju kios bakso yang ramai pembeli tersebut.


Mandala pun mengalah. Lagi-lagi istri nakalnya menang. Mau tak mau Ia harus mengikuti istrinya. Kalau sampai terjadi apa-apa, Mandala juga yang tanggung jawab. Keadaan pasar seperti ini sangat tidak aman untuk gadis seseksi Jenaka.


"Pak! Bakso pakai mie kuning-"


"Dua!"


Jenaka menoleh. Suami gantengnya ternyata mengikuti ke kios bakso demi dirinya. Senyum lebar Jenaka berikan.

__ADS_1


"Iya Pak, dua porsi ya!"


****


__ADS_2