Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Kegagalan Adalah Keberhasilan yang Tertunda


__ADS_3

Pesta memang sudah usai, namun jika ada tamu yang datang bukankah masih harus diterima dengan baik?


Mandala menaruh sapu lidi yang Ia pegang dan mempersilahkan Panca untuk duduk dahulu. Ia pun masuk ke dalam kamar Jenaka dan berdiri di belakang Jenaka yang sedang menatap dirinya di depan cermin.


Mandala memeluk Jenaka dari belakang. "Sayang, ada Panca di depan."


"Panca? Panca datang?" Jenaka terlihat terkejut, sebelumnya Panca bilang tidak bisa datang karena ada meeting di luar kota. Jika Panca datang berarti Ia jauh-jauh datang dari luar kota hanya untuk menemui Jenaka seorang?


"Tunggu dulu!" larang Mandala.


"Kenapa?" Jenaka menunggu suaminya berbicara dulu padahal sebelumnya Ia sudah hendak pergi keluar saja.


"Jangan lama-lama ya!" pesan Mandala. "Ingat, kamu istri aku sekarang! Tundukkan pandangan kamu dari laki-laki lain dan hanya melihat aku seorang!"


Jenaka menyunggingkan seulas senyum. Suaminya begitu posesif dengannya. Dalam hati Jenaka amat bersyukur, dulu Ia hanya dipandang sebelah mata namun kini Ia menjadi pusat dunia suaminya.


Betapa Allah maha membolak-balikkan hati dan nasib manusia. Dulu dia begitu tak berharga namun kini Ia begitu diperhatikan dan takut dilepaskan.


"Iya Sayang. Aku ke depan dulu ya. Kamu mandi dulu sana. Pakaian kamu udah aku siapin diatas tempat tidur." Jenaka menunjuk tumpukan baju di atas tempat tidur. Khusus Ia sediakan untuk suaminya tercinta.


Mandala melepaskan pelukan Jenaka dengan malas. Rasanya tak rela melepaskan Jenaka untuk pergi menemui laki-laki lain.


Jenaka pergi keluar kamar meninggalkan Mandala yang mengelus dadanya. "Sabar, Man... Sabar... Nanti akan ada waktunya."


****


"Kamu telat sih Ca datangnya! Kuenya tinggal sedikit. Udah dibawa pulang sama Tante dan Om aku tadi." Jenaka menaruh piring berisi kue dan air mineral gelas. "Diminum, Ca."


Jenaka duduk di kursi halaman depan. Panca nampak sedang terdiam sambil memandang Jenaka dengan lekat.


"Kamu menikah hari ini? Dadakan sekali. Aku sampai kaget saat melihat status Juna."


"Ya mau gimana lagi, Ca. Sebelum Ayah berubah pikiran, makanya disegerakan. Memang permintaan Ayah maunya sederhana saja, karena ini bukan pernikahan pertama kami. Semua serba kilat. Kemarin lusa dibicarakan tau-tau hari ini menikah. Niatnya malah kemarin tapi keadaan tak memungkinkan, penghulunya sudah full booked."


Panca kembali menunduk. "Akhirnya kamu rujuk lagi dengan Mandala. Apakah kamu nantinya akan tetap resign dan meninggalkan aku?" terdengar Panca begitu sedih saat mengatakannya.


Jenaka tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak. Tak dapat dipungkiri kalau Panca saat ini sangat terluka. Kehilangan dirinya dan sekretaris pribadinya dalam waktu bersamaan.


"Maaf, Ca..." akhirnya kata maaf yang berani Jenaka ucapkan.

__ADS_1


"Aku kesini bukan untuk menagih kata maaf dari kamu. Aku hanya sedih aja kehilangan calon istri dan sekretaris handal kayak kamu!" Panca mengacak-acak rambut Jenaka sambil tersenyum. "Jaga rumah tangga kamu. Kalau sampai berantakan lagi, maka aku akan membawa kamu pergi dan tak akan melepasnya lagi."


"Iya aku jaga. Jangan berharap hal itu akan terjadi. Aku dan Kak Mandala sudah merasakan pedihnya perpisahan. Tak akan lagi mau mengulanginya."


Panca mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah amplop.


"Wah pasti cek yang isinya gede ya buat aku?" tebak Jenaka.


"Kalo uang mah minta sama suami kamu sekarang. Dia udah makin kaya sekarang! Tapi kalau kamu mau jadi istri aku, maka aku bakalan kasih yang lebih dari yang Mandala kasih!" goda Panca.


"Enggak deh, makasih."


Panca tersenyum. "Aku kasih hadiah ini aja buat kamu. Selamat Jen. Semoga kamu makin bahagia. Ingat, kapanpun kamu membutuhkanku aku akan selalu setia mendengarkan segala keluh kesah kamu."


Panca memberikan amplop di tangannya pada Jenaka. "Makasih, Ca. Aku juga berharap kamu akan menemukan jodoh yang mencintaimu sepenuh hati. Menyayangi kamu dan yang terpenting kamu sangat mencintainya."


"Aamiin." Panca melirik jam di tangannya. "Sudah malam. Aku tak mau mengganggu malam pertama kalian. Aku pulang dulu ya, Jen! Have fun ya!"


****


Jenaka masuk ke dalam kamarnya setelah mengunci pintu depan. Mandala yang kelelahan sudah tertidur pulas di tempat tidur. Suara dengkuran halus pun terdengar bersamaan dengan nafasnya yang teratur.


Dua buah tiket pesawat kelas VIP, paket honeymoon ke Bali dan sebuah resi pengiriman. Tertulis disana isinya dua buah sepeda merk Bromptot untuk Jenaka dan Mandala.


"Wow!" Jenaka tak menyangka Panca akan memberinya hadiah yang dulu Mandala dan dirinya cita-citakan. Hampir saja Jenaka melupakan janji yang dulu pernah Ia dan Mandala buat untuk sepedahan di Bali.


"Aku harus berterima-kasih pada Panca yang telah mengingatkanku akan janji yang hampir saja aku lupakan." batin Jenaka.


Jenaka lalu mengirimkan pesan pada Panca. "Makasih, Ca. Hadiah kamu sangat spesial dan membuatku teringat akan janji yang harus aku tunaikan. You're my best friend forever. Aku percaya, Allah akan menyayangi orang baik seperti kamu. Maaf untuk semua luka yang aku berikan, semoga secepatnya kamu menemukan bidadari baik yang menggantikanku menyembuhkan luka hati kamu."


Malam semakin larut. Jenaka pun beranjak tidur. Ia memeluk Mandala yang kini sudah menjadi suaminya.


Mandala sangat lelah sampai tertidur lelap dan tidak merasakan pelukan Jenaka. Ia bahkan memeluk balik Jenaka karena dikiranya Jenaka adalah guling. Ya, guling yang bisa kentut.


Suara speaker dari masjid yang menyenandungkan shalawat nabi membangunkan Mandala. Ia merasakan tubuhnya dipeluk dengan hangat.


Mandala melihat Jenaka yang kini berada dalam pelukannya. Senyum bahagia tersungging di wajahnya.


Ah... Ia melupakan malam pertama mereka. Tak boleh sampai terlewat, Ia sudah menantikannya sejak lama.

__ADS_1


Mandala mengangkat dagu Jenaka dan mulai mencium bibirnya. Aksinya membuat Jenaka terbangun.


Mandala terus mencium Jenaka, bermain-main dengan lidahnya. Tangannya pun mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Jenaka.


Akhirnya Ia bisa menyentuh Jenaka lagi. Jari jemari Mandala mulai membuka kancing baju Jenaka satu persatu.


Hasratnya mulai menggelora, seiring dengan pagutannya yang semakin dalam. Ciumannya semakin panas.


Jenaka mulai megeluarkan suara akibat terlalu nikmatnya sentuhan demi sentuhan yang Mandala lakukan. Hal itu membuat Mandala semakin terbakar hasrat lelakinya.


Mandala memasukkan tangannya ke dalam bra dan merengkuh dada Jenaka. Ia akhirnya menyentuh chocochip Jenaka yang selalu membuatnya penasaran dan ingin mencobanya terus.


Ciuman panas semakin panas. Mandala mengangkat tubuhnya dan kini berada diatas tubuh Jenaka.


Ciuman Mandala pun turun dari dan mulai menyelusuri leher jenjang milik Jenaka yang sering menggoda imannya.


Tangannya kini menyingkirkan bra yang menutupi gundukan indah nan sintal milik Jenaka. Membuatnya tak sabar untuk menyicipinya langsung.


Ya, inilah saatnya....


Mandala melepaskan diri dari leher Jenaka dan hendak menikmati chocochip namun suara ketukan di pintu mengganggunya.


Tok...tok....tok....


"Maman! Bangun! Ayo sholat subuh berjamaah di masjid!" Ayah mengetuk pintu kamar Jenaka. Mengajak menantunya untuk sholat di masjid.


Mandala sengaja tak menjawab, berharap mertuanya akan menyerah dan membiarkan Ia melakukan aktifitas mengasikkannya.


Namun Ayah adalah Jenaka versi tak mau kalah. Akan tetap berusaha meski tak mendapat respon.


Kembali diketuknya pintu kamar Jenaka. "Ayah tunggu di ruang tamu! Cepetan bangun! Nanti keburu qomat!"


"Iya, Yah!" akhirnya Mandala menyahut meski dalam hatinya kesal.


Jenaka menahan tawanya melihat ekspresi kentang milik Mandala. "Pokoknya hari ini harus berhasil. Aku sholat dulu!" Mandala mengecup kening Jenaka dan pergi ke kamar mandi.


****


Kasihan ya Bang Maman sampai kentang.... Jangan lupa like yang banyak ya gaes 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2