
Jenaka sudah naik duluan ke kamar hotel. Alasannya karena kebelet ingin pipis. Dua kali mereka melakukan percintaan panas di mobil, jika Jenaka tidak minta pulang maka Mandala akan meminta ronde ketiga.
Sebelum mengembalikan mobil pada pihak hotel, Mandala membersihkan mobil yang berantakan dengan bekas tisu yang bertebaran di dalam mobil. Mandala senyum-senyum saja saat membereskannya.
Entah mengapa sejak menikahi Jenaka, hasrat dalam dirinya selalu menuntut untuk dipuaskan. Dengan Kinara berbeda, apa karena dalam hatinya timbul kekecewaan karena Kinara pernah menjual keperawanannya demi uang?
Entahlah, yang jelas Mandala selalu ketagihan dengan Jenaka, Mendengar suara erangannya yang seksi, membuat segala fantasi bercampur hasrat yang menuntut disalurkan.
Mandala masuk ke dalam kamar dan mendapati Jenaka sudah mandi dan bersiap hendak sholat. Ah, Ia lupa kalau harus mandi besar dahulu baru sholat isya.
Mandala mengambil handuk mandinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya lelah karena sudah berolahraga yang menyenangkan sejak siang tadi, namun ada rasa yang menggebu ingin selalu menyatukan diri dengan Jenaka.
Mandala menuntaskan mandinya lalu sholat isya. Jenaka sudah di tempat tidur. Mandala melipat sejadah dan bergabung dengan Jenaka yang terlihat sedang tidur.
"Jangan berbohong, aku tahu kamu belum tidur." ujar Mandala seraya mematikan lampu. Ia memeluk tubuh harum Jenaka yang habis mandi. "Kalau kamu tidur tuh enggak anteng kayak gini. Ada aja guling dan selimut yang kamu tendang sampai jatuh."
Jenaka menghela nafas kencang. "Yah... Ketahuan dong!"
"Kenapa kamu sampai pura-pura tidur segala?" tanya Mandala sambil menyiumi rambut Jenaka yang harum shampoo.
"Aku takut kamu mau lagi. Aku kan dosa kalau nolak, untuk lanjut kok kayaknya aku masih perih. Ya walau tak bisa aku pungkiri aku juga merasakan kenikmatan. Tapi capek... Tenaga aku terkuras habis. Besok kan kita mau sepedahan. Nanti aku kecapekan gimana?" Jenaka merajuk manja pada Mandala.
Mandala memeluk Jenaka dan tersenyum. "Kamu imut sekali kalau kayak gini. Tenang saja, malam ini kamu aman. Tapi malam besok belum tentu. Siapa suruh kamu dulu selalu menggodaku? Ini tuh kayak aku lagi membalas sedikit demi sedikit godaan kamu."
"Memang sebelumnya belum pernah kayak gini? Kamu tuh kayak baru pertama malam pertama saja!" celetuk Jenaka.
Mandala memeluk Jenaka makin erat. "Percayalah, kamu yang paling beda. Pantas Kinara begitu cemburu sama kamu. Bisa-bisa aku bersikap tak adil sama kalian kalau waktu pernikahan kita sebelumnya aku udah nyobain kamu duluan."
"Huh! Kayak sebelumnya pernah adil saja!"
"Ih itu mulut menggemaskan banget. Mau aku cium sambil digigit?"Mandala mengelitiki Jenaka sampai menyerah karena kegelian.
"Iya... ampun....ampun... Bang Maman ampun..."
"Bang Maman aja nih! Dasar anak sama Ayahnya sama aja! Awas aja kamu juga manggil aku sontoloyo ya!"
"Ha...ha...ha.... Kalau itu aku nyerah ha...ha...ha.."
****
Jenaka begitu bersemangat dengan rencana sepedahan bersama. Sehabis sholat subuh Ia sudah berganti pakaian olahraga dan siap menggowes sepedanya.
"Aku masih ngantuk, Jen!" ujar Mandala yang tak juga terbangun. "Masih capek!"
__ADS_1
"Makanya jangan diforsir tenaganya. Ayo kita sepedahan! Kamu udah janji loh mau sepedahan di Bali! Ingat kan sama janji kita?" Jenaka mengguncang-guncang tubuh Mandala agar suaminya terbangun.
"Besok aja ya kita sepedahannya. Atau nanti siang saja sekalian makan siang?"
"Enggak! Ayo bangun! Kamu harus sholat subuh!" Jenaka masih memaksa suaminya bangun.
"Tapi cium dulu." Mandala memajukan bibirnya.
"Nanti ciumnya kalau udah mandi!"
"Yaudah mandiin deh!"
"Masya Allah Kang Maman! Mau bangun apa enggak? Atau aku sepedahannya bareng bule-bule yang adiknya lebih gede dari Kang Maman mau?"
Mandala kini terduduk tegak. "Mungkin mereka lebih gede, tapi aku tahan lama ha...ha...ha... !"
"Terserah! Ayo atuh cepetan sholat subuh. Keburu mataharinya terbit. Masa sih kalah sama ayam? Ayam aja udah berkokok tapi kamu masih aja ngumpet di dalam selimut!" omel Jenaka.
"Daripada aku ngumpet di balik daster kamu gimana ayo?"
"Nanti aku kurungin kamu kayak ayam. Mau?"
"Kurungin dalam daster? Ayo aja!" tantang balik Mandala.
"Siap Bu!" Mandala mengambil langkah seribu, langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah menunggu 15 menit akhirnya Kang Maman siap dengan dandanannya yang menggoda iman.
"Ampun deh Kang Maman ganteng banget. Kasep. Kece. Keren. Suaminya siapa sih?" goda Jenaka.
"Yaudah kita ngamar aja ya? Kamu pasti terpesona dengan kegantengan aku kan? Enggak perlu lagi teriak-teriak di pinggir lapangan teriakin namaku sampai buat aku malu."
"Loh Kak Mandala kenal aku toh? Kirain enggak kenal?"
"Aku baru ingat pas ngeliat foto kamu di kamar. Jadi ini anak yang dari dulu suka berteriak-teriak di pinggir lapangan? Tau enggak aku tuh sampai digodain sama yang lain tau!"
"Terus kenapa enggak bisa bedain saat aku pakai jilbab?"
"Beda dong! Kamu yang teriak-teriak dengan yang senyum manis sampai lesung pipinya kelihatan dengan memakai hijab beda jauh. Udah ayo kita pergi sekarang atau aku berubah pikiran nih!" ancam Mandala.
"Ayo! Jangan berubah pikiran lagi!"
Mandala mengeluarkan sepeda Bromptot baru yang dibelikan oleh Panca. Bagus dan series terbaru. Segitu sayangnya Panca terhadap Jenaka. Tak sayang membelikan sesuatu yang mahal hanya demi membahagiakan Jenaka.
__ADS_1
Mereka pun mulai menelusuri jalanan di pagi hari. Udara segar langsung memenuhi paru-paru Jenaka, membuatnya menghirup nafas dalam seakan tak mau rugi kehilangan udara segar ini.
Bersepeda sambil menikmati pemandangan laut yang bersih dan membentang luas. Sesekali Mandala dan Jenaka saling menggoda. Saling kejar-kejaran sambil tertawa bahagia.
Saat melalui tanjakan tinggi Jenaka mulai tersengal nafasnya. Mandala menyemangatinya. Mau menolong tak bisa. Kalau di jalan datar, Mandala bisa bantu mendorong dengan kakinya, tapi kalau di tanjakan?
"Berhenti dulu deh! Aku enggak kuat!" Jenaka akhirnya menyerah. Mereka berhenti dan duduk di trotoar jalan.
Mandala mengeluarkan tisu yang Ia bawa. Mengelapi kening Jenaka yang penuh dengan peluh.
"Nih minum dulu." kini Mandala menyodorkan air mineral untuk Jenaka. Selalu sigap memenuhi kebutuhan istrinya tercinta.
"Masih kuat enggak? Kalau udah enggak kuat, aku order taksi biar nanti kita naik taksi aja pulangnya."
"Kuat dong! Kita istirahat sebentar dulu. Kamu mau fotoin aku kan?"
Mandala tersenyum, "Kecapekan tapi kalau foto-foto tetap jalan terus ya?!" ledeknya. "Kita foto berdua juga ya. Pokoknya aku mau menuhin semua memori aku dengan foto kita berdua. Kamu setuju?"
"Setuju!"
Mandala menaruh hp miliknya setelah mencari angle yang tepat. Ia lalu mensetting timer dan mulai berswafoto bersama Jenaka. Berbagai macam gaya mereka ambil. Sampai rasanya sudah bosan foto-foto.
"Nanti aku mau jadiin ini wallpaper di Hp-ku. Kamu juga pasang yang sama ya." ujar Mandala.
"Ih kayak anak ABG aja! Enggak sekalian photobox?"
"Jadul banget!"
"Kata siapa jadul? Kadang romantis itu enggak tentang mengirimkan karangan bunga atau makan di restoran mewah. Hal kecil bisa jadi sesuatu yang romantis juga. Kayak menjadikan foto pasangan sebagai wallpaper. Kalau foto aja udah dijadiin wallpaper ya pasti orangnya udah selalu ada di hati dong?"
"Cie... Aku digombalin Kang Maman euy! Asyik!!"
"Ih Kang Maman terus. Kayak Ayah kamu lama-lama Jen!"
"Yaudah mau dipanggil apa?"
"Hmm... Aku pikir dulu. Aku suka kamu manggil aku Kak, apalagi saat kamu mende sah. Kak... aww... lagi... iya... Kak..." Mandala terus menggoda Jenaka.
"Ihhhh! Kang Maman ngeselin!!"
"Ha...Ha... Ha...Ha..."
*****
__ADS_1
Hayo yang cengar-cengir udah vote Jenaka belum? yuk vote Jenaka ya dan jangan lupa likenya juga maacih 🥰🥰🥰😘😘