Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Nelangsa


__ADS_3

Rasa kecewa kembali hinggap di wajah Mandala. Ia sudah on fire namun Jenaka begitu ketakutan dengannya.


"Memang salah kalau adikku tumbuh besar? Wajar aja dong! Malah justru jadi nilai plus buat sebagian orang yang sampai berobat kemana-mana hanya untuk membesarkan alat vitalnya!" gerutu Mandala dalam hati.


Meski dongkol, Mandala tetap membukakan pintu pagar untuk adik iparnya yang baru pulang kerja.


"Loh beneran Kak Mandala yang bukain? Kemana si Jena? Aku minta dia yang bukain malah Kak Mandala yang datang!" sambut Juna begitu melihat Mandala datang.


Mandala membuka kunci pagar dan membiarkan Juna dan motor miliknya masuk ke dalam lalu menguncinya kembali.


"Jena tadi mau pipis. Makanya nyuruh aku bukain. Kebetulan tadi aku lagi kerja, belum tidur. " Mandala tersenyum sendiri dengan alasan yang Ia buat.


Ya, Ia sedang kerja keras dan Jenaka ketakutan melihat adiknya yang membesar. Huft... Nasib... nasib...


"Kak, aku bawa martabak nih. Kita makan bareng! Sekalian nonton pertandingan bola!" Juna mengangkat plastik putih transparan berisi kardus bertuliskan selamat menikmati.


"Mau dong martabaknya!" ternyata Jenaka ikut keluar kamar dan mengetahui Juna membawa martabak, matanya membulat.


"Nih! Taro piring! Aku sama Kak Mandala mau nonton bola!" Juna pun mengajak Mandala. "Ayo, Kak!"


Mandala tak bisa menolak. Gagal sudah rencana mengeksekusi Jenaka malam ini. Tapi semangatnya tak pudar, sehabis menonton bola bisa eksekusi lagi.


Jenaka datang membawa minum dan martabak yang sudah ditaruh di piring. Jenaka tak begitu suka pertandingan bola, setelah makan dua potong martabak Ia lalu ijin ke kamar untuk tidur.


Mandala sebenarnya ingin ikut menyusul, namun tak enak dengan Juna yang mengajaknya nonton bola bareng. Mandala baru kembali ke kamar setelah pertandingan bola selesai. Ia kembali masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Kekecewaan kembali harus Ia dapatkan, Jenaka sudah tertidur pulas dengan selimut dan guling yang berjatuhan di lantai. Kebiasaan jenaka kalau tidur memang selalu rusuh sejak dulu. Mandala memunguti guling dan selimut yang jatuh lalu menyelimuti istrinya dengan penuh cinta.


Mandala memeluk istrinya agar Ia tidak ditendang, karena saat Istrinya tidur segala hal bisa saja terjadi. Termasuk Ia bisa ditendang sampai jatuh dari tempat tidur.


Rasa kantuk kembali menguasai Mandala, capek dan kaki pegal karena diajak muter-muter di Tanah Abang membuatnya tertidur lelap dan lupa dengan rencananya mengeksekusi jenaka lagi.


Mandala terbangun ketika mendengar suara ketukan di pintu. Ia sudah menduga, pasti ayah mertuanya akan membangunkan Ia kembali untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid.


Mandala lalu menyiapkan dirinya untuk pergi ke masjid. Ia mungkin harus membiasakan diri dengan kebiasaan orang-orang di rumah.


Ayah yang terbiasa ke masjid untuk shalat berjamaah, Bunda yang agak rempong dengan hobinya shopping, namun selalu memasak untuk anak-anaknya makanan yang penuh cinta. Juna, yang jarang sekali berada di rumah namun sekalinya pulang selalu membawa kehangatan di rumah.

__ADS_1


Mandala belajar menerima semuanya. Bahkan, Ia harus menahan diri lebih lama. Penyebabnya karena Jenaka yang mulai menjaga jarak. Jenaka agak takut dan Ia mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri. Karena itu, malam ini Mandala berniat untuk mendekati jenaka.


Rencana hanya tinggal rencana. Semua akan gagal pada waktunya. Mandala sudah mengunci pintu kamar malam ini. Ia pun naik ke atas tempat tidur mendekati Jenaka.


Jenaka yang masih ketakutan, malam ini berpura-pura tidur. Mandala menggodanya dari segala sudut. Menciuminya, membelai lembut tubuhnya dan tak lupa memainkan chocochip Jenaka tentunya.


Jenaka tak tergoda, rasa takutnya lebih kuat daripada hasratnya saat ini. Berpura-pura tidur menjadi pilihannya saat ini.


Mandala tahu kalau Jenaka berpura-pura tidur. Ia akhirnya menyerah. Semua tak bisa dipaksakan. Wajar jika Jenaka ketakutan, ini adalah pengalaman pertama baginya.


Mandala memutuskan akan perlahan mendekati Jenaka. Agar rasa takut Jenaka akan hilang. Besok Ia harus kerja, biarlah Ia memberi Jenaka waktu sampai mereka honeymoon nanti.


****


Perbedaan menikah dengan Jenaka dengan tidak adalah selalu ada bekal makan siang yang sudah Ia siapkan untuk Mandala. Meskipun Mandala bilang akan meeting sampai siang tetap saja Jenaka membawakannya bekal.


Bekal yang Jenaka siapkan memang membuat Mandala senang, namun kegagalan malam pertama mereka membuat Mandala menekuk wajahnya. Moodnya berantakan. Ada hasrat besar yang menuntut untuk disalurkan.


"Bengong aja! Udah jadi pengantin baru masih aja tuh muka ditekuk!" celetuk Genta yang datang ke ruangan Mandala sambil membawakan dokumen yang Mandala butuhkan untuk meeting dengan perwakilan Kusumadewa Group nanti.


"Kenapa? Gagal malam pertamanya?" tebak Genta.


Jago juga Genta menebaknya, tau darimana dia?


"Kenapa? Tebakan gue bener?" tanya Genta yang tersenyum puas karena apa yang Ia tebak benar adanya.


"Banyak gangguannya. Maklum tinggal sama mertua dan ada adik ipar juga, enggak boleh banget ngeliat gue sama Jenaka seneng dikit." keluh Mandala.


"Wajar aja sih. Apalagi sejarah lo yang dulu nyakitin Jenaka. Mereka kayak enggak rela melepas Jenaka dengan mudahnya sama lo. Udah lo pergi honeymoon aja. Gue yang handle perusahaan, siapa tau kalo liat gue handle perusahaan lo dengan bener bokap gue bakal luluh."


"Rencananya sih memang besok gue cuti lagi, mau honeymoon ke Bali."


"Nah itu mau honeymoon. Seharusnya lo tuh semangat dong! Kenapa masih aja lesu kayak sekarang?"


"Cobaan gue enggak seringan itu, Sob. Emak bapaknya Jenaka mau ikut juga." keluh Mandala lagi.


"Huahahahaha..." Genta tertawa puas menertawai Mandala. Suaranya bahkan terdengar sampai keluar ruangan.

__ADS_1


"Ketawa terus lo! Ntar gue potong gaji lo nanti!" ancam Mandala.


Dari luar ruangan nampak Richard Kusumadewa yang sudah datang. Ia mendengar tawa Genta yang begitu membahana. Membuatnya tertarik ingin tahu apa yang sudah terjadi.


"Wah seru sekali sepertinya kalian, menertawakan apa sih sampai terdengar ke luar?" tanya Richard.


"Eh ada Pak Richard. Maaf Pak, sepupu saya memang begini orangnya. Kalo ketawa enggak lihat tempat!" Mandala menghampiri Richard dan menyambut kedatangannya.


"Silahkan duduk, Pak."


Richard melihat Genta yang wajahnya memerah habis menertawai sesuatu yang lucu. "Tau enggak Pak, masa bos saya ini mau honeymoon eh malah diikutin sama mertuanya."


Richard ikut tersenyum mendengarnya. "Oh iya sampai lupa, selamat ya Pak Mandala atas rujuknya. Biarkan saja orangtuanya ikut. Anggap seperti orang tua sendiri."


"Tuh denger, Ta. Anggap orang tua sendiri!" Mandala merasa ada yang membela.


"Iya. Lo udah berhasil belum menjebol gawang Jenaka?" sindir Genta.


"Udah ah, Ca. Ada Pak Richard! Enggak enak ngomongin masalah pribadi disini."


"Gue sih santai saja. Sudah berhasil juga kan Pak?" Richard malah ikutan bertanya.


Mandala tak mau menjawab. Ia membuang pandangannya dan memilih tidak menjawab pertanyaan Richard.


"Beneran belum berhasil?" Genta memekik kaget. "Terus lo ngapain aja dari kemarin?"


"Hampir berhasil sih tapi...."


"Tapi kenapa?" tanya Richard dan Genta bersamaan.


"Jena keburu ketakutan, dia takut ngeliat adik kecil gue yang enggak kecil lagi."


"Huahahahahaha...." kini bertambah satu orang yang menertawai Mandala. Richard dan Genta menertawai Mandala dengan puas. Mandala makin nelangsa saja, sudah tidak dapat jatah eh malah jadi bulan-bulanan dua orang di depannya. Huft....


***


Yuk biar Mandala enggak makin nelangsa kalian vote buat Mandala. Likenya juga ya jangan lupa! Maacih all 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2