Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Memupuk Cinta dari Hal yang Kecil


__ADS_3

"Kak! Kak Mandala! Bangun, Kak! Kita kesiangan!" Jenaka yang panik sudah buat kegaduhan di pagi hari.


Semalaman Jenaka tak bisa tidur. Apa yang Mandala lakukan pada Jenaka semalam sungguh membuatnya baper.


Jenaka jadi teringat lagi kejadian semalam.


"Aku bukan melarang kamu melihatnya, Jen. Aku cuma enggak mau hati kamu semakin terluka."


"Apakah sekarang Kak Mandala memperdulikan bagaimana perasaanku? Bukankah selama ini Kak Mandala begitu acuh dan tak peduli?" batin Jenaka.


"Aku baik-baik aja kok, Kak. Aku juga udah biasa melihat kemesraan Kak Mandala dan Kinara. Santai aja lagi!" Jenaka kembali memakai topeng seperti biasanya. Menyembunyikan bagaimana perasaan yang sebenarnya.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Jen. Seharusnya semua figura ini aku simpan di rumah Kinara. Meski tak banyak, setidaknya aku bisa mengurangi rasa sakit hati kamu. Meski tak bisa menghapus seluruh luka yang aku tinggalkan, setidaknya aku berusaha tidak menambah lagi rasa sakit yang kamu rasakan."


Deg...


Jenaka tak suka digombali, meski Ia suka menggombali Mandala. Kini, perkataan jujur Mandala membuatnya serasa digombali. Kata tulus yang terdengar lebih membuat dirinya terbang di awan-awan bahagia. Membuatnya serasa dituntun ribuan peri hingga mampu terbang menembus langit malam yang diterangi lautan sinar sang bintang yang terang benderang.


Ya, Jenaka sebahagia itu. Jenaka yang dulunya hanya sebagai penonton yang hanya bersorak dari pinggir lapangan. Jenaka yang hanya dimanfaatkan untuk dinikahi agar pernikahan siri Mandala dan Kinara dilegalkan. Jenaka yang dipandang sebelah mata. Jenaka yang bak remahan rengginang di toples Khong Guan.


Kini, Mandala bahkan memikirkan perasaan Jenaka. Memperdulikan Jenaka, agar tidak lagi terus merasa sakit. Jenaka rasanya ingin serakah. Ingin lebih dan lebih lagi.


"Tidurlah! Sudah malam! Besok kalau aku pulang malam, kamu tidur aja. Aku enggak mau kamu menungguku. Aku takut mengecewakan kamu, Jen. Bisa saja aku tidak pulang ke rumah ini." Mandala mengusap lembut rambut Jenaka.


Jenaka bisa melihat ketulusan dari laki-laki didepannya yang hanya mengenakan boxer saja ini. "Boleh peluk, Kak?"


"Cuma peluk? Lebih juga boleh!" goda Mandala.


Jenaka pun menghamburkan ke pelukan Mandala. Harum tubuh Mandala sehabis mandi membuat Jenaka terbuai. Apalagi Mandala mengusap lembut rambut Jenaka.


"Udah ya. Nanti adik aku terbangun dan kamu mematahkan hasratku, seperti belalang sembah betina yang mematahkan kepala belalang sembah jantan."


Jenaka melepaskan pelukannya. Ia tersenyum, ternyata Mandala sudah mencari tahu tentang belalang sembah yang Ia katakan tadi. "Aku bobo dulu. Met malam, Kak eh belalang sembah aku eh kucing garongku!"


Mandala tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Istri nakalnya itu memang bisa membuat suasana hatinya membaik dan memburuk dalam waktu singkat.


****


"Bangun, Kak! Udah siang!" Jenaka menggoyang-goyangkan tubuh Mandala yang sengaja ditutupi selimut.

__ADS_1


"Udah bangun, Jen!"


"Bangun apaan? Kak Mandala masih ngumpet di bawah selimut begitu!"


"Adik kecil aku yang bangun, Jen!" Mandala senyum-senyum sendiri di dalam selimut. Lucu juga menggoda Jenaka yang sedang panik begitu.


"Rese! Udah ah aku mau siap-siap! Kak Mandala bangun loh! Jangan tidur lagi!"


Dua puluh menit kemudian Mandala turun dari lantai atas. Di bawah Jenaka sudah menunggu dengan cemas. Kalau telat bagaimana? Kalau di jalan macet gimana? Apakah sampai kantor bisa tanpa telat?


Jenaka makin panik manakala Mandala tak kunjung turun. "Lama banget sih Kak! Udah siang nih! Kalo aku kesiangan gimana gara-gara Kak Mandala?"


Jenaka mendorong Mandala yang hendak sarapan ke parkiran. "Enggak sempet sarapan! Aku udah bawain roti bakar buat Kak Mandala sarapan di jalan!"


Jenaka bahkan membukakan pintu mobil untuk Mandala yang sejak tadi senyum-senyum melihat istrinya panik namun begitu menggemaskan baginya.


Jenaka berlari ke pintu satu lagi dan masuk ke dalam. "Ngebut ya Pak!" pesan Jenaka pada Pak Sahrul.


"Iya, Bu."


Jenaka lalu mengeluarkan kotak makan yang Ia bawa. Isinya roti bakar untuk dirinya dan Mandala.


Mandala menahan tawa melihat kegaduhan istrinya sejak tadi, kini malah mau menyuapinya layaknya anak kecil. Tak mau mengecewakan Jenaka, Mandala pun membuka mulutnya.


"Minum juga susunya! Aku tadi angetin di microwafe. Enggak sempet buatin susu hangat jadi yang kemasan UHT aja ya!" Jenaka bahkan membukakan sedotan dan menusukkannya di susu UHT sebelum memberikannya pada Mandala. Membuat senyum di wajah Mandala mengembang.


Baru kali ini Ia diperhatikan sampai sebegitunya oleh seorang wanita. Kinara saja tidak memperlakukannya seistimewa itu, malah lebih sering menyuruh Mala yang melakukannya.


"Kenapa dihangatkan dulu?" Mandala menerima susu yang Jenaka berikan dan meminumnya. Ternyata lebih enak makan roti bakar dan susu hangat.


"Bunda bilang, meski tidak perlu dihangatkan tapi kalau kita minum susu hangat di pagi hari rasanya lebih enak. Gimana? Enak kan?" Jenaka menyuapi Mandala roti bakar lagi.


"Iya. Enak. Kamu juga makan dong, Jen. Jangan aku terus!" ujar Mandala.


"Aku makannya habis nyuapin Kak Mandala aja." Jenaka kembali menyuapi Mandala sampai roti bakar milik Mandala habis.


"Hmm... Untuk membalas jasa kamu yang udah bangunin aku dan udah nyiapin sarapan, nanti siang aku traktir kamu! Kita makan siang di luar!"


"Beneran Kak?" mata Jenaka berbinar-binar. Tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

__ADS_1


Mandala mengangguk. "Bener dong! Kita makan siang agak jauhan ya. Nanti aku yang bilang sama Bu Yuli."


"Makan siang dimana?"


"Ada deh! Pokoknya kamu ikut aja!"


Jenaka tak sabar menunggu waktu makan siang tiba. Ini pertama kalinya Mandala mengajak keluar makan siang semenjak mereka menikah. Hal kecil namun sebuah kemajuan kalau kata Bu Sri.


Bu Sri bilang, semua berawal dari hal kecil yang jika ditumpuk akan semakin banyak. Sama kayak cinta, berawal dari hal kecil dan makin lama nantinya akan menguasai hati yang bersangkutan. Sabar dan ulet adalah kuncinya.


Jam 12 kurang 10 menit Jenaka sudah turun ke basement dan masuk ke dalam mobil yang didalamnya sudah ada Pak Sahrul. Pak Sahrul lalu menjalankan mobilnya ke lobby dan menjemput Mandala disana.


"Pak, ke alamat yang saya bilang tadi ya!" pesan Mandala pada Pak Sahrul.


"Kemana sih Kak?" Jenaka yang penasaran tak kuasa untuk bertanya.


"Rahasia!"


Jenaka menahan rasa penasarannya sampai mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah Indodesember. "Makan siang disini?"


"Udah ikut aja, jangan bawel!"


Mandala menggandeng tangan Jenaka. Membawanya masuk ke dalam gang di samping Indodesember. Mereka jalan sejauh 200 meter sampai akhirnya berhenti di sebuah rumah makan yang menjual ayam bakar.


"Kita makan disini!" ujar Mandala.


"Disini?" tanya Jenaka heran. Bagaimana mungkin Mandala mau makan di rumah makan sederhana seperti ini? Tau darimana dia?


"Kenapa? Enggak mau?"


"Mau dong! Kenapa enggak? Ayo kita makan!" Jenaka masuk terlebih dahulu. Mandala mengikutinya kemudian.


"Wah ada Nak Mandala! Tumben berdua aja? Ini siapa Nak? Cantik banget!" sambut Ibu penjual ayam bakar.


"Ini istri Dala, Bu. Jenaka namanya!" Mandala mengucapkannya tanpa ragu.


"Kenapa Kak Mandala mengenalkanku sebagai istrinya? Apa Kinara tak pernah datang kesini dan tak pernah dikenalkan sebelumnya?" tanya Jenaka dalam hati.


****

__ADS_1


Ayo semuanya senyum-senyum dulu ya sebelum roller coaster dinyalakan lagi 😁. Likenya jangan lupa dong 😁


__ADS_2