
Jenaka sedang duduk di jendela sehabis mandi. Panca langsung pulang setelah mengantarkannya sampai depan rumah.
"Kebiasaan banget sih Jen duduk di jendela? Nyungsep aja nanti! Masa sih udah janda kembang eh nyusruk ke pot kembang Bunda?" sindir Juna yang lagi-lagi masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.
Jenaka membalasnya dengan senyum malas.
"Kenapa lagi sih? Tadi bukannya habis sepedahan sama Panca? Bukannya senang jalan sama calon suami eh malah muka ditekuk gitu?" Juna berjalan mendekat. Ia memeluk saudara kembarnya. Ikatan batin membuat keduanya tau perasaan saudaranya tanpa harus melalui kata-kata.
"Jangan dijalanin kalau hanya bikin sakit hati, Jen." nasehat Juna seraya mengusap lembut rambut Jenaka.
Jenaka mulai terisak di pelukan Juna. Tak ada yang bisa Ia sembunyikan dari saudara kembarnya. Isi hatinya bagai gambar transparan yang bisa Juna lihat dengan jelas.
"Tadi berantem sama Panca?" tanya Juna setelah Jenaka melepas pelukannya.
Jenaka mengangguk.
"Karena apa? Selama kalian sahabatan enggak pernah berantem. Kenapa malah sekarang pas pacaran kalian sering berantem?"
Jenaka lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini.
"Tunggu! Dari cerita kamu, sepertinya kamu pernah ketemu Mandala deh sebelumnya. Kalian jalan bareng lagi?" tebak Juna.
Jenaka pun mengaku, tak bisa membohongi Juna.
"Jadi selain nonton bareng, kalian juga pernah jalan? Jena sekarang nackal ya? Beraninya bohongin Ayah dan Bunda!" Juna menyentil kening Jenaka.
"Aww! Sakit! Bukan bohong, Jun. Antara aku dan Kak Mandala masih ada beberapa urusan yang belum selesai. Memangnya kamu pikir aku jalan kemana? Aku ke makam Kinara!"
"Dih mau aja diajak ke makam? Ngajak ke Mall atau restoran mewah!"
Jenaka pun beranjak ke lemari bajunya dan mengambil kotak perhiasan milik Kinara beserta surat yang Kinara tulis untuknya.
"Ini perhiasan milik Kinara yang diwariskan untukku. Kinara ingin menemuiku di hari-hari terakhirnya, makanya Kak Mandala membawaku ke makamnya. Untuk memenuhi permintaan terakhir Kinara."
Juna melihat perhiasan yang Kinara wariskan. "Lalu?"
__ADS_1
Jenaka memberikan surat peninggalan Kinara pada Juna. Membiarkan Juna membacanya sampai selesai.
"Mandala menggunakan surat ini dan warisan Kinara untuk ngajak kamu rujuk?" tanya Juna.
Jenaka menggelengkan kepalanya. "Enggak. Kak Mandala malah meminta maaf dan melepasku pergi."
"Gila ini sih! Rumit banget sih kisah cinta kalian?! Kenapa enggak balikan aja? Ini tuh udah bahan yang lumayan kuat untuk menyatukan kalian lagi!" ujar Juna sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu lupa aku kini calonnya siapa?"
"Siapa suruh kamu terima lamaran Panca tanpa dipikirin lagi!"
"Ya terus menurut kamu aku salah lagi gitu? Salah terus kayaknya aku!" keluh Jenaka.
"Jen, kamu tuh bukan nyelesein masalah satu per satu. Tapi malah menambah masalah di dalam masalah."
"Katanya aku bebas memutuskan sesuatu!"
"Tapi dipikirin dulu, Jen."
"Ya aku mesti gimana? Udah terlanjur juga! Yaudah aku jalanin aja!"
Juna mengembalikan surat dan perhiasan Kinara pada Jenaka. Saat Juna hendak keluar kamar, Jenaka menghentikan langkahnya.
"Bukannya lebih baik hidup dengan orang yang mencintai kita dibanding hidup dengan orang yang lebih kita cintai?" tanya Jenaka.
Juna menghela nafasnya. "Ini beda kasus, Jen. Benar memang Panca mencintai kamu. Tapi kamunya gimana? Kalau kamu sama Mandala kan saling mencintai, bukan kamu yang mencintai dia seorang diri. Kalian saling mencintai." Juna menatap Jenaka dengan lekat. "Tanya balik sama orang yang bilang kayak gitu, lebih baik hidup dengan orang yang mencintai atau hidup dengan pasangan yang mencintai dan kita cintai balik?"
"Karena suatu teori bisa dipatahkan dengan teori lain. Beda kasus beda pula teorinya. Kalau kasus kamu tuh, kalian saling mencintai Jen tapi terlalu beralasan banyak aral melintang. Nyoba aja belum udah pada takut. Lagi-lagi aku kembalikan semua keputusan sama kamu. Apapun... apapun itu, pilihlah yang paling membuat kamu bahagia, Jen." Juna menepuk bahu kembarannya lalu keluar dari kamar Jenaka.
****
"Jen, weekend besok kita mau gowes lagi. Rencananya mau ke Sentul. Pasti seru deh. Kamu ikut kan?" tanya Panca saat mereka sedang makan siang bersama.
"Sentul? Jauh dong?"
__ADS_1
"Ya kan tracknya kita beda-beda. Kita coba yang lebih menantang. Habis makan siang temani aku ke toko sepeda ya. Aku mau modif sepedanya biar enak dipakenya." Panca menganggap Jenaka setuju saja. Padahal Jenaka merasa tak yakin ikut serta. Kakinya sakit saat terakhir sepedahan. Apalagi kalau tracknya jauh?
Jenaka mengikuti Panca ke toko sepeda. Panca terlihat semangat mencari onderdil sepeda dan membelinya langsung tanpa pikir panjang.
"Kamu mau sepeda yang mana, Jen? Yang pink mau?" Panca menunjuk sebuah sepeda yang sangat bagus. Jangan nanya harga, mahal pastinya.
"Enggak usah, Ca. Toh aku jarang sepedahan." tolak Jenaka dengan halus.
"Tapi mulai sekarang kamu bakalan sering sepedahan, Jen. Udah kamu pilih ya mau sepeda yang mana!" kali ini Panca agak sedikit maksa.
"Yaudah aku pilih, tapi aku bayar sendiri ya." entah mengapa Jenaka tak mau menerima pemberian Panca. Ia mau membeli dengan uangnya sendiri. Lebih tepatnya mencicil. Jenaka tak rela menggelontorkan uang puluhan juta cash hanya untuk membeli sepeda saja. Lebih baik pakai kartu kredit nanti bisa dicicil selama setahun.
"Aku yang bayarin, Jen. Kamu enggak usah nyicil. Ada yang cash kok mikirin cicilan!"
"Kalau kamu yang bayar, aku lebih baik enggak jadi deh, Ca." tolak Jenaka dengan tegas.
"Mulai deh, Jen. Kenapa sih kamu selalu menolak pemberianku? Enggak ada salahnya kan kalau aku mau beliin kamu sesuatu? Aku tanya sama kamu, kalau Mandala yang belikan apa kamu akan terima? Pasti kamu terima kan? Kalau pemberianku, pasti kamu tolak!"
"Kenapa kamu jadi membandingkan dengan Kak Mandala, Ca? Aku hanya sekali dibelikan sesuatu oleh Kak Mandala. Hanya sekali, Ca. Dan menurutku wajar, saat itu aku statusnya sudah istri sahnya. Sisanya aku enggak pernah menerima pemberian dari Kak Mandala sama sekali!"
"Yaudah kamu juga terima dong pemberianku sekali ini!" Panca kembali memaksakan kehendaknya.
"Oke aku akan terima. Tapi lain kali aku enggak akan menerima pemberian kamu lagi! Gimana?" Jenaka mulai berani mengancam balik Panca.
Panca terdiam. Ia menatap lekat Jenaka. Darimana keberanian itu Jenaka dapatkan?
"Terserah kamu lah, Jen!" Panca tak memaksa Jenaka lagi. Ia membayar sparepart yang Ia beli lalu berjalan mendahului Jenaka ke mobil. Lagi-lagi mereka bertengkar dalam diam.
Kenapa sekarang mereka jadi lebih sering bertengkar? Benar kata Juna, saat mereka bersahabat dulu mereka begitu kompak dan jarang bertengkar. Tapi kini?
Jenaka pun mulai mempertanyakan apakah keputusannya untuk menerima Panca sebagai calon suaminya sudah tepat?
Apakah memang Jenaka sebaiknya tidak mulai berumah tangga lagi?
"Hari jumat malam, aku ada pesta bersama para pengusaha besar. Aku mau kamu ikut mendampingi aku. Oh iya, disana nanti aku yakin ada Mandala dan Pak Prabu yang hadir. Aku minta kamu lebih menjaga sikap kamu. Usahakan jangan melakukan kontak sedikitpun. Aku mau kamu menjauhi Mandala mulai sekarang. Nanti setelah kita menikah, aku akan mengajak kamu ke Amrik. Kita tinggal disana. Kamu setuju kan?"
__ADS_1
Ke Amrik? Meninggalkan Indonesia, negara ternyaman untuk ditinggali? Apakah Jenaka siap?
****