Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Jenaka yang Bodoh


__ADS_3

Sally Cafe begitu ramai di jam pulang kantor. Suasana cafe yang kekinian dengan alunan musik live dari penyanyi perempuan bersuara merdu menambah ramai suasana cafe.


Jenaka bagai tersihir dengan dekorasi cafe yang unik dengan banyak spot foto yang instagramable banget. Cafe ini dibangun diatas lahan yang lumayan luas, beberapa mobil bahkan bisa parkir di depannya. Jadi meskipun agak penuh namun masih ada tempat duduk yang tersisa untuk Jenaka dan Panca.


Di belakang tempat duduk Jenaka terdapat mural bergambarkan matahari besar. Jika Jenaka duduk di tempatnya terlihat seperti seorang bidadari tanpa sayap.


Panca memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua. Tak lupa es kopi dengan banyak whipped cream untuk Jenaka.


Panca sebenarnya ingin menahan rasa ingin tahunya, namun Ia tak bisa. Semua terlalu mencurigakan. Maka jangan kaget saat tiba-tiba Panca bertanya pada Jenaka.


"Jawab jujur, Jen. Lo beneran istri Mandala atau Kinara yang jadi istrinya? Atau... Lo berdua istrinya Mandala?"


Jenaka yang sedang selfi dengan mural di belakangnya hampir saja menjatuhkan Hp yang Ia pegang. "Maksudnya, Ca?"


"Gue tau ada yang enggak beres dengan rumah tangga lo dan Mandala. Jujur deh sama gue, Jen. Gue kenal lo. Gue tau lo enggak bahagia sama Mandala. Kenapa masih lo paksain Jen?"


Senyum di wajah Jenaka menghilang. Dimasukkannya Hp ke dalam tas miliknya. "Pernikahan gue bahagia kok, Ca. Bisa menikahi idola yang gue cintai sudah merupakan keberuntungan buat gue, Ca. Itu impian yang enggak semua orang bisa dapetin!" nada suara Jenaka yang agak bergetar membuat Panca semakin yakin dengan kecurigaannya.


"Jujur aja, Jen. Gue kenal lo enggak sehari dua hari. Gue tau saat lo bohong dan saat lo jujur. Mungkin Lulu dan Lily bisa lo bohongin, tapi gue enggak bisa. Meski gue lama di luar, tapi gue tetap kenal bagaimana sifat lo."


"Gue bahagia, Ca. Kenapa sih lo enggak percaya?" Jenaka sekuat mungkin menahan air matanya.


"Lo mau jujur atau gue nyewa orang untuk mencari tahu kehidupan rumah tangga lo? Jujur Jen, gue berharap lo jujur sama gue. Enggak perlu gue tau beritanya dari orang lain." Panca terpaksa mengancam Jenaka. Jika tidak begini, Jenaka mana mau jujur?


"Gue jujur Ca saat bilang gue bahagia bisa menikahi Mandala."


"Tapi?"


"Tapi sebelum gue tau ternyata Kak Mandala udah nikah siri dengan Kinara. Kak Mandala mau menerima perjodohan agar bisa melegalkan pernikahannya dengan Kinara. Dan bodohnya gue... gue terjebak diantara cinta Mandala dan Kinara."


Brukk... Panca memukul meja di depannya agak kencang. Membuat beberapa pengunjung kini menatap ke arah Jenaka dan Panca.


"Bang sat! Udah gue duga! Sialan! Kenapa lo mau sih Jen? Argh... Andai gue kembali lebih cepat dan mencegah pernikahan lo!" Panca terlihat amat marah. Wajahnya pun ikut memerah.

__ADS_1


Jenaka menepuk tangan Panca yang dicengkeram kencang sampai jari-jarinya memutih. "Ca... Ini bukan salah lo. Ini salah gue, Ca. Gue yang terlalu terburu-buru menyetujui tanpa mengenal Kak Mandala lebih jauh. Gue yang masuk dalam jebakan Kak Mandala. Gue yang bodoh, Ca. Lo kan tau kalo gue rada-rada be go."


"Lo tuh enggak bodoh, Jen. Lo tuh cuma dimanfaatin sama Mandala! Seharusnya gue cekik tuh orang!"


"Ca... Please... Jangan emosional, oke? Lo lihat keadaan gue sekarang. Gue baik-baik aja, Ca. Semua baik-baik aja, Ca."


"Enggak ada yang baik-baik aja, Jen. Enggak ada! Gue tau lo enggak bahagia. Pasti lo nahan kesedihan setiap hari! Udah lo cerein aja Mandala! Gue urus semua berkasnya!"


Jenaka menggelengkan kepalanya. "Enggak bisa, Ca. Kak Mandala suami gue. Gue enggak mau bercerai karena hal ini. Mungkin ini cobaan yang Allah kasih dalam rumah tangga gue, Ca."


"Mau sampai kapan lo begini, Jen? Lo tuh... asli... Cinta lo tuh bikin lo buta segalanya! Cinta boleh, bodoh jangan Jen!"


Jenaka kini mulai meneteskan air mata yang sejak tadi Ia tahan, demi membuat dirinya terlihat tegar dan baik-baik saja di depan Panca. "Gue memang bodoh, Ca. Jena memang bodoh. Tapi gue cinta sama Kak Mandala, Ca." Jenaka kini menangis sesegukan.


Panca tak pernah tahan kalau Jenaka menangis. Jenaka anak yang ceria, jadi saat Ia menangis berarti hatinya amat terluka.


Panca pun pindah tempat duduk di samping Jenaka dan menarik Jenaka dalam pelukannya. "Maafin gue, Jen. Gue terlalu galak ya sama lo? Maaf Jen. Gue enggak mau lo disakitin, Jen."


Jenaka menumpahkan air matanya pada dada bidang Panca. Lelaki kurus kering dengan dandanan culun ini kini sudah menjadi cowok maskulin dengan tubuh berotot. Rasanya nyaman sekali menangis di pelukannya. Sampai Jenaka tak menyadari banyak yang memperhatikan mereka.


Jenaka melepaskan pelukan Panca. Mengambil tisu dan menghapus air matanya.


Lantunan lagu Bahaya milik Arsy Widianto dan Tiara Andini seakan menyindir Jenaka dan Panca saat ini


Andai engkau bisa mengerti


Betapa beratnya aku


Harus aku tetap tersenyum


Padahal hatiku terluka


"Gue bahagia, Ca. Meski gue harus berbagi cinta, tapi gue bisa tetap di sisi Kak Mandala."

__ADS_1


Panca kembali menahan emosinya. Jika Ia marah lagi, Jenaka akan sedih dan menangis. Ia tak mau menahan penderitaan Jenaka lagi.


"Boleh gue tanya, Mandala memperlakukan lo dengan baik?"


Jenaka mengangguk. "Kak Mandala baik kok sekarang sama gue. Tadi aja dia ngajak gue makan siang."


"Baru makan siang aja udah bangga lo, Jen. Gue bisa ngajak lo makan siang setiap hari kalo lo mau!" gerutu Panca dalam hati.


"Terus dia adil enggak sama lo?" pertanyaan yang Panca sudah tau jawabannya tapi tetap saja Ia tanyakan.


"Enggak ada manusia yang bisa adil, Ca. Namun Kak Mandala sekarang mulai membagi waktunya dengan adil antara gue dan Kinara." jawab Jenaka.


"Lo mau ya berbagi suami dengan wanita lain, Jen? Bagaimana perasaan lo? Apa enggak pernah lo membayangkan kalo dia habis berhubungan dengan cewek lain lalu dia berhubungan sama lo? Gue... gue enggak bisa membayangkan betapa sakitnya lo, Jen."


"Gue enggak..." Jenaka tak meneruskan perkataannya. Malah memancing rasa curiga Panca.


"Enggak apa? Jangan bilang Mandala enggak pernah nidurin lo?!"


Jenaka tak mau menjawabnya. Apapun yang Ia lakukan, tak bisa Ia menyembunyikannya dari Panca.


"Serius, Jen? Lo masih... virgin?" tebak Panca sambil menurunkan nada suaranya.


Jenaka mengangguk dengan ragu-ragu.


"Gila! Apa kurangnya lo dibanding Kinara coba? Udah gila tuh orang! Eh tapi bagus sih! Saat lo cerai sama dia, lo masih suci!"


"Gue enggak mau cerai, Ca. Dan... Gue yang menolak Kak Mandala. Gue... Enggak mau dia meniduri gue sebelum dia mencintai gue." jawab Jenaka malu-malu. Sebenarnya Jenaka malu harus curhat masalah kayak gini dengan Panca. Tapi mau bagaimana lagi, hanya Panca yang Ia percayai. Lily dan Lulu pasti bocor dan nanti bisa keceplosan di depan Bunda.


Panca kini tersenyum. "Pinter juga lo, Jen! Tapi lo tetap bodoh di mata gue karena mempertahankan rumah tangga lo dengan Mandala. Cinta tuh kayak tepuk tangan, Jen. Bukan lo yang terus bertepuk tapi sebelah tangannya tak mau ikut bertepuk,"


"Udah sejak SMA, Jen. Masa sih obsesi lo sama Mandala enggak hilang juga?"


"Gue enggak obsesi, Ca. Gue cinta sama Kak Mandala. Karena itu gue tetap bertahan disisinya. Gue yakin suatu hari nanti Kak Mandala akan mencintai gue, Ca."

__ADS_1


"Kapan Jen? Kenapa lo mengejar Mandala sementara gue yang selalu mencintai lo enggak pernah sekalipun lo pandang?"


*****


__ADS_2