Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Semesta Mendukung


__ADS_3

Acara jalan-jalan malam masih dilanjutkan. Kali ini Jenaka yang memutuskan. Jenaka ingin menikmati angin pantai di malam hari.


Jenaka melepaskan sepatu flat shoes miliknya dan ditenteng di tangan. Ia merasakan pasir pantai yang terasa lembut di kaki.


Bali, kota yang selalu ramai dan hidup. Malam hari pun suasana sekitar pantai masih ramai dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun turis asing. Suara petikan gitar dan nyanyian mengalun sepanjang menyusuri pantai.


Mandala merangkul istrinya seakan menunjukkan pada semua orang kalau Jenaka adalah miliknya seorang. Sampai Jenaka berhenti dan menatap cahaya dari menara mercusuar di kejauhan.


Mandala melingkarkan tangannya di perut Jenaka dan menaruh kepalanya di bahu istrinya. Ia suka sekali berada dalam posisi seperti ini. Suka menghirup aroma Jenaka yang begitu manis dan membuatnya ketagihan.


"Terima kasih kamu sudah mau menjadi istriku lagi, Jen. Kamu tahu, aku sudah menjadi manusia yang kufur nikmat. Aku memiliki kamu namun aku juga yang menyia-nyiakan kamu. Sampai akhirnya aku sadar kalau kamulah yang selama ini aku cari. Kinara awalnya kuanggap sebagai cinta pertamaku, karena tak bisa menemukan kamu lagi. Ternyata takdir malah mempertemukan kita dengan cara yang tak biasa,"


"Aku harus menorehkan banyak sekali luka di hati kamu sebelum akhirnya kamu membalas dengan membuat jejak cinta di hatiku untukmu. Aku mengerti arti cinta yang sebenarnya dari kamu,"


"Aku belajar kalau cinta itu harus ikhlas, seperti pengorbanan kamu terhadap Kinara. Semua kamu lakukan hanya untuk membahagiakan Kinara di sisa waktu terakhirnya. Cinta jika levelnya sudah ikhlas, adalah level cinta paling tinggi. Dan kamu membuktikan kalau kamu amat mencintaiku."


Jenaka menyela ucapan Mandala. "Juna bilang aku terlalu pengecut dan pergi begitu saja. Seharusnya aku bertahan, toh aku juga yang akan menang. Begitu yang Juna katakan."


"Juna salah, Sayang. Kamu bukan pengecut. Kamu saat itu menyelamatkan dua hati. Hati Kinara dan hati kamu. Kalau kamu tetap bertahan, maka tak akan ada lagi cinta terhadapku. Aku akan berlaku tak adil karena mementingkan keselamatan Kinara. Aku hanya meninggalkan luka yang semakin dalam saja. Jika kamu bertahan, aku yakin hanya ada benci yang tersisa. Aku memikirkannya selama aku menjaga Kinara di rumah sakit."


"Kenapa kamu tak langsung mencariku?" tanya Jenaka.


"Karena aku masih punya rasa malu. Malu menyakiti hati kamu terus. Malu telah menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu berikan. Malu akan kesalahan yang aku buat. Takdir terlalu kejam terhadap kita, namun berakhir begitu manis sampai aku tak sadar kalau aku semakin mencintaimu saja."


Senyum di wajah Jenaka mengembang. Senang rasanya mendengar gombalan tingkat dewa. Ya, tak dipungkiri kalau wanita suka digombalin laki-laki.


"Huh gombal. Orang bilang laki-laki yang suka berkata manis biasanya tak hanya mengatakan pada satu wanita saja. Karena semakin sering berlatih semakin jago. Apakah karena Kang Maman ini selalu jadi idola makanya pandai berkata gombal?" sindir Jenaka.


"Hmm... Tak bisa dipungkiri laki-laki memang dianugerahi kemampuan menggombal yang baik. Seperti kucing garong yang hendak memikat kucing betina. Ia akan mengeong dan mengeong seperti ini," Mandala mengelitiki pinggang Jenaka. "Meong... meong... meong...."


"Ha...ha...ha... Geli... ha... ha...." Jenaka kegelian dengan kelitikan Mandala.


"Kasih ikan dulu, baru deh kucingnya pergi!" goda Mandala.


"Ikan apa? Tuh ambil aja, di depan laut. Ambil yang banyak!"


Mandala mengerling jahil. "Hmm... Kamu memberiku ide!"

__ADS_1


"Ide? Ide apa?" Mandala tak menjawab pertanyaan Jenaka.


Mandala mengajak Jenaka pergi, mereka menuju mobil.


"Kita mau pulang?" tanya Jenaka dengan lugunya.


"Mau nyari ikan!" Mandala menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.


"Mau bakar ikan gitu? Memangnya kamu masih laper?" tanya Jenaka.


"Iya. Masih laper." jawab Mandala sambil tersenyum jahil.


"Baru jam 10 malam. Belum lama kita makan sudah laper lagi? Enggak salah? Apa porsi makanan di restoran tadi kurang ya? Kayaknya cukup banyak deh." Jenaka asyik ngomong sendiri sementara Mandala hanya tersenyum penuh arti.


Mandala pun memarkirkan mobilnya di pantai yang agak sepi. Ia mematikan mesin mobilnya lalu pindah duduk ke kursi belakang.


"Loh udah nyampe? Mana yang jual ikan?" tanya Jenaka bingung. Di sekelilingnya hanya ada pantai dan agak sepi. Tak ada tukang jualan sama sekali.


"Kamu ikannya. Aku mau makan ikan sekarang. Boleh kan?"


Mata Jenaka membulat tak percaya. "Serius? Disini? Di mobil ini maksudnya? Kak Mandala jangan aneh-aneh deh! Kalau kita digerebek gimana?"


Meski agak ragu namun Jenaka harus menuruti kemauan suaminya. Dilanggar takut dosa. Dengan patuh Jenaka pindah ke kursi belakang.


"Duduk di pangkuan aku!" pinta Mandala.


"Beneran? Aku berat loh!"


"Tenang aja. Kamu aja kuat kok ditibanin aku!" Mandala mengulum senyumnya.


Jenaka kembali menurut. Ia duduk di pangkuan Mandala. "Adik aku udah bangun nih. Boleh kan kita melakukannya disini?"


"Aku larang juga kamu tetap saja akan memaksa!" jawab Jenaka.


"Bagus. Itu kamu tau!" Mandala menarik Jenaka mendekat. Menciumnya dengan rakus.


Jenaka sampai sulit bernafas karena Mandala menciumnya dengan begitu bergairah. "Aku... nafas dulu!"

__ADS_1


Mandala tersenyum, diberinya jarak agar Jenaka bisa bernafas. Sementara itu, tangan Mandala sudah sangat lihai membuka kancing baju Jenaka.


"Jangan dibuka semua, aku malu!" protes Jenaka.


"Tak masalah. Asal aku bisa menikmati chocochip kamu!"


"Chocochip?" Jenaka mendapat jawabannya saat Mandala mulai menikmati chocochip miliknya. "Mm..."


Jangan salahkan Mandala yang semakin menggelora, salahkan desa han Jenaka yang membuatnya meremang. Seksi. Sensasional.


"Kak, kalau ketahuan gimana?" ujar Jenaka. Mandala mulai sibuk menurunkan celananya.


"Itu urusan nanti."


"Tapi-" Jenaka tak bersuara lagi. Rasa perih namun nikmat kembali Ia rasakan. Ia kembali mele nguh.


Mandala melakukan penyatuan tanpa sepengetahuan Jenaka. Benar-benar operasi senyap, tau-tau enak.


Langit malam dan deburan ombak di pantai jadi saksi, dua manusia sedang menikmati surganya dunia. Tak apalah toh mereka menikmatinya dalam ikatan cinta yang halal.


Alam pun seakan mendukung. Langit yang cerah dilanda hujan rintik-rintik. Membuat daerah sekitar pantai semakin sepi. Tak ada yang menyadari jika ada mobil yang sejak tadi bergoyang.


"Tuh kan katanya malam ini enggak! Tapi di mobil aja udah dua kali!" gerutu Jenaka sambil memakai pakaiannya. Tisu bertebaran di dalam mobil. Akan jadi PR saat mengembalikan mobil nanti.


Mandala nyengir puas. Tak ada tenaga lagi. "Kali ini beneran, nanti malam enggak lagi. Aku udah lemes, Jen. Besok pagi mungkin baru terkumpul tenaganya."


"Ternyata Kak Mandala liar juga ya! Aku sampai dibolak-balik kayak cucian lagi dijemur. Untung saja di luar hujan jadi enggak ada yang perhatiin kalau mobil ini goyang-goyang terus sejak tadi!"


Mandala tak kuasa menahan tawanya. Istrinya begitu menggemaskan, dan membuatnya selalu bergairah.


"Kalau nanti di rumah Ayah dan Bunda ganggu, kita kayak gini aja ya! Di mobil aku yang lebih nyaman! Gimana?"


"Enggak, Kak. Enggak! Di Jakarta kalo kayak gini bisa digrebek! Pokoknya jangan coba-coba ya!" ancam Jenaka.


"Yaudah aku bakalan coba yang lain lagi. Pokoknya aku harus mengeksplore semua gaya sama kamu. Ah aku jadi mau lagi."


Mata Jenaka terbelalak kaget. "Udah jangan dipikirin! Ayo kita balik ke hotel!"

__ADS_1


****


__ADS_2