
Sejak kepalanya kejedot, Jenaka sudah bangun dan menyimak percakapan kedua orang di depannya. Ternyata nyali Melisa besar juga sampai berani menyatakan perasaannya langsung pada Juna.
Jenaka mulai gemas saat kembarannya hanya diam saja dan terlihat amat grogi setelah mendengar pengakuan cinta dari Melisa.
Melisa yang mengatakan ingin menikahi Juna jujur saja membuat Jenaka salut dengan keberanian yang dimiliki. Benar yang dikatakan, kalau Melisa mirip dengan Jenaka yang begitu agresif dalam mengejar cinta Mandala.
Merasa senasib sepenanggungan, rasanya tak pantas kalau tidak saling dukung. Menendang belakang kursi Juna adalah salah satu langkah membuat Juna tersadar dari sikapnya yang hanya diam tanpa mengambil keputusan apapun.
"Aku belum tau. Belum bisa mutusin apapun. Menikah itu bukan tentang suka lalu menikah. Banyak hal yang harus dipikirkan sebelumnya. Karena pernikahan itu sejatinya berlangsung seumur hidup." ujar Juna setelah berhasil menenangkan dirinya.
"Aku mau kok seumur hidup sama kamu." kata Melisa dengan cepat.
"Memang kamu tau sifat asliku kayak gimana? Atau kamu hanya menyukaiku saat melihatku menangkap copet saja? Percayalah, sifat asliku enggak sebaik yang kamu pikir." jawab Juna.
"Betul tuh, Mel. Kamu belum tau kan kalo Juna tuh pernah nebok duit celengan aku cuma buat main di rental PS?" Jenaka yang merasa bosan pun ikut dalam percakapan Juna dan Melisa.
"Jen! Kenapa kamu yang bongkar sih?" protes Juna.
"Enggak apa-apa, Jun. Biar Melisa jadi cepat tau sifat asli kamu kayak gimana!" jawab Jenaka. "Malah nih Mel, Juna itu pernah ngambek enggak mau ngomong sama Ayah gara-gara dimasukkin ke sekolah militer. Wuih ngambeknya lama! Pas Ayah beliin PS sebagai kompensasi karena mau masuk sekolah militer baru deh mau ngomong lagi sama Ayah!"
"Jen!"
Melisa tertawa melihat interaksi Jenaka dan Juna. "Tak masalah kalau main games. Nanti malah aku bilang sama Daddy aku kalau ada games baru dikirimin buat Juna."
"Memang Daddy kamu punya perusahaan games juga Mel?" mendengar games Juna langsung berbinar-binar.
"Tuh lihat kan Mel? Di otaknya cuma games melulu. Nanti kamu kalau nikah sama dia, malam pertama diajakin main games doang loh!" Jenaka ikut mengompori.
"Games apa tuh? Games The Sims aku boleh deh ikutan ha...ha...ha..." Melisa malah membercandai Jenaka.
"Yang adegan bikin anak ya Mel? Yang gambarnya di blur? Ha...ha...ha..." Jenaka kini bergabung menggoda Juna.
"Udah... Udah ah! Kalian berdua kalau sudah bersatu ngalahin Power Rangers tau enggak! Ngeledek aja bisanya!" omel Juna.
"Bagus dong! Daripada kita saling jambak, iya kan Mel?" tanya Jenaka.
__ADS_1
"Yoi!" jawab Melisa. "Jenaka kan calon kakak ipar yang bakalan aku manjain dengan segala keinginannya. Mau kan kakak iparku yang cantik?"
"Hmm... Gimana ya ha...ha...ha... Juna dulu tuh gimana? Mukanya masih lempeng gitu! Eh Mel, kalo pas nikah masih kaku aja, kamu goda! Kayak aku dulu menggoda Kak Mandala. Akhirnya sekarang Kak Mandala tuh kelepek- kelepek gak nahan kalau jauh dari aku!" pamer Jenaka.
"Nanti Juna juga akan seperti itu Jen sama aku! Bakalan posesif juga! Boleh ah! Tapi aku godanya nanti aja pas udah nikah. Iya kan Juna Sayang?"
Uhuk... Uhuk.... Uhuk....
Juna kembali tersedak. Setiap Melisa menggodanya selalu saja Ia tersedak.
"Ih! Kamu tuh grogian banget Jun! Baru digodain begitu aja udah keselek! Eh kita mau ke daerah mana nih? Kok lewatin Taman Lenteng Agung?" Jenaka baru menyadari kemana mereka akan pergi.
"Katanya sih dekat Taman Lenteng Agung, Jen. Tuh titik Mapnya berhenti di depan. Kita parkir di depan aja kali ya? Panca bilang rumahnya di dalam gang." ujar Melisa.
"Oke, ada tempat parkir tuh di depan." tunjuk Juna.
Mereka bertiga pun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Panca by phone. Sampailah di sebuah rumah yang lumayan besar dengan butik di sampingnya.
"Kayaknya ini deh tempatnya, Jen." ujar Melisa.
"Iya. Tuh namanya sama. Kita coba masuk aja." sahut Jenaka.
"Waalaikumsalam." seorang wanita cantik keluar.
"Pasti ini orangnya." Jenaka dan Melisa kompak berkata. Seakan tau isi pikiran masing-masing.
"Hmm... Kalian temannya Panca ya?" tanya Jelita.
"Iya. Saya Jenaka, mantan tunangannya Panca dan juga sahabatnya sejak SMA dulu." Jenaka mengulurkan tangannya dan disambut dengan senyum agak terpaksa dari Jelita.
"Aku Melisa, Panca itu mantan gebetan aku tapi diambil sama Jenaka. Tapi tenang saja, cowok ganteng di belakang sekarang udah jadi calon imamku!" Melisa kini mengulurkan tangannya dan lagi-lagi Jelita membalasnya dengan senyum agak terpaksa.
"Jangan didengerin dua cewek error ini, Mbak!" sahut Juna. "Jenaka itu kembaran saya, sahabat Panca. Udah nikah. Lalu Melisa juga sahabat Panca selama di Amrik!"
"Iya sekarang kan udah jadi calon istri kamu, Jun." goda Melisa.
__ADS_1
"Mel! Udah ah di rumah orang!" Juna menunduk malu karena terus digoda Melisa.
"Masuk dulu kalau begitu!" Jelita sudah bisa tersenyum setelah mendengar penjelasan Juna, memang cara perkenalan diri Jenaka dan Melisa lain dari yang lain.
Jenaka dan Melisa melihat-lihat butik milik Jelita. Aneka macam baju mulai dari tunik, gamis dan cardigan rajut tersusun dengan rapi meski butiknya terletak di dalam gang.
"Ini jilbabnya kamu buat sendiri? Kok motifnya beda dari yang lain?" tanya Jenaka.
"Iya. Ada juga yang aku lukis sendiri. Buat corak yang beda dari yang lain. Jadi semacam nilai plus dari produk di butik ini dibanding yang lain." jawab Jelita dengan lugasnya.
"Keren kan Jen? Makanya aku jadi suka banget pakai jilbab kalau buatan Jelita." ujar Melisa.
"Iya. Bagus. Aku jadi pengen borong semuanya!"
"Hush! Kita kesini mau bisnis. Masa kamu lupa sih?" Melisa mengingatkan Jenaka tujuan mereka datang ke rumah Jelita.
"Oh iya! Sampai lupa!"
"Mm... Jelita, mungkin Panca sudah cerita sedikit sama Jelita tentang maksud kedatangan kita kesini. Jujur aja, sejak pertama pakai produk buatan Jelita, aku suka banget. Berhijab yang awalnya terkesan begitu kuno di mataku jadi terlihat modis dengan produk buatan kamu. Aku suka banget dan pengen beli terus,"
"Lalu calon kakak iparku yang cantik ini punya ide untuk mengembangkan bisnis di bidang butik pakaian muslim. Aku langsung inget sama butik kamu dan pas aku ajuin Jena juga setuju. Apalagi setelah melihat langsung produk kamu, lihat saja dia makin jatuh hati." Melisa tersenyum ke arah Jenaka yang melihat baju gamis satu persatu.
"Betul itu! Aku suka banget!" ujar Jenaka.
"Jadi, kami mau menawarkan kerjasama dengan kamu Jelita. Bagaimana kalau kita mengembangkan lagi butik buatan kamu dengan membuat label sendiri dan kita akan perluas cabang sampai ke berbagai daerah." Melisa kini mengeluarkan kemampuannya sebagai seorang pengusaha sukses yang pandai negosiasi. Juna hanya melihat saja sambil dalam hati timbul rasa kagum terhadap Melisa.
"Aku... Kalau diperluas, siapa yang akan menjahit dan membuatnya? Jujur saja, aku dan Bunda saja keteteran mengerjakan semua pesanan ini. Apalagi kalau diperbesar usahanya." aku Jelita.
"Don't worry about that. Kita akan membuka lowongan pekerjaan baru dan makin banyak yang membantu kamu nantinya. Itu urusan aku. Aku terbiasa mengurusi hal kayak gitu. Yang penting gimana caranya perusahaan kita bisa maju, tentunya dengan pembagian keuntungan yang sudah kita sepakati bersama. Yang pasti, kita bisnis demi keuntungan semua pihak. Kamu mau?"
Jelita menatap Melisa dan Jenaka bergantian. Keputusan apa yang akan Ia ambil?
****
Hi Semua! Udah vote Jena belum? Like dan komen juga udah? Bagus! Pinter 🥰.
__ADS_1
Aku mau promosiin novel karya sesama author nih. Jangan lupa mampir ya.