Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Tok... tok... tok....


"Bunda boleh masuk Jun?" tanya Bunda.


"Masuk aja Bun, enggak Juna kunci kok pintunya!" sahut Juna.


Bunda pun masuk ke dalam kamar Juna. Anak lelakinya itu sedang asyik bermain PS di TV kamarnya.


"Main gamesnya nanti jangan sampai terlalu malam, Jun. Besok kamu masuk pagi, nanti ngantuk!" pesan Bunda.


"Iya, Bun. Nanti jam 10 juga Juna udahan. Bunda kenapa nyari Juna?" games yang Juna mainkan Ia pause, menghargai Bunda yang terlihat ingin berbicara.


Bunda duduk di samping tempat tidur Juna. Ia bingung memulainya dari mana. Bunda malah memainkan jari tangannya, ciri khas kalau Bunda sedang bingung.


"Kenapa Bun? Ngomong aja sama Juna." Juna menggeggam tangan Bunda dan menatap wanita yang paling Ia sayangi dengan penuh kasih.


"Bunda.... Bunda tadi dengar dari Jena. Katanya Juna dilamar Melisa ya?" tanya Bunda.


"Enggak kaget sih. Jena memang bocor banget jadi orang. Tadi bocor di depan Panca, pasti Kak Mandala juga udah dikasih tau dan sekarang Bunda juga tau." gerutu Juna.


"Jangan begitu. Jena tuh ngasih tau Bunda ya karena ini hal yang penting. Melisa tuh sudah mengalahkan ego dan harga dirinya loh. Jarang ada perempuan seperti itu. Apalagi Melisa yang bisa mendapatkan apa yang dia mau. Tak mudah bagi dia tentunya. Kamu beruntung, Nak." Bunda menepuk bahu bidang Juna.


Juna tersenyum. "Masa sih Juna beruntung, Bun? Kalau Juna jadi sama Melisa apa bukannya malah kasihan sama Melisa? Punya suami yang gajinya saja tak mampu membayar gaya hidupnya yang tinggi."


"Kamu jangan begitu, Nak. Jangan pesimis seperti itu. Bunda tau apa mimpi kamu. Maaf kalau Bunda tak bisa memperjuangkan mimpi Juna dulu. Jujur saja, saat itu Bunda lebih mengkhawatirkan pergaulan dan lingkungan Juna makanya Bunda setuju dengan keputusan Ayah agar kamu sekolah di asrama. Sekarang dengan bersama Melisa, mungkin saja mimpi kamu bisa terwujud tanpa kamu harus melepas pekerjaanmu saat ini, iya kan?"


"Maksud Bunda?"


"Melisa itu pebisnis handal. Kamu bisa kan bekerja sama membuat perusahaan games seperti yang kamu impikan? Kalau mengandalkan kemampuan Ayah untuk membiayai perusahaan seperti yang kamu impikan, mana mungkin? Ini tuh kayak Allah menjawab doa kamu tapi dengan jalan yang lain." ujar Bunda.


Juna menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bun. Masa sih Juna memanfaatkan Melisa seperti itu?"


"Yang bilang memanfaatkan siapa? Kamu mau menjadi suami yang bisa membiayai gaya hidup Melisa kelak kan? Ya ini caranya. Kamu bisa tetap bersama Melisa. Tak ada yang dirugikan. Melisa juga tak masalah kalau ada yang menjalankan perusahaannya, iya toh?"


"Entahlah, Bun. Juna belum pikirin."


"Tapi kamu menyukai Melisa kan?" tanya Bunda.


"Enggak kok. Siapa bilang Juna...."


Bunda terus menatap ke dalam mata Juna. Tak dibiarkannya Juna berbohong lebih lama lagi.


"Juna... Melisa... baik. Melisa... pintar. Melisa pemberani. Juna... mungkin sedikit menyukainya."


Senyum di wajah Bunda menggambarkan kelegaan hatinya saat ini.


"Sedikit saja sudah cukup, Jun. Bunda percaya, sedikit itu akan menjadi besar nantinya." Bunda berdiri dan menepuk bahu Juna. "Jangan malam-malam tidurnya!"


"Iya, Bun!"

__ADS_1


****


Juna hari ini masuk shift pagi. Hari ini seharian tugas dibawah terik matahari membuatnya bertekad saat pulang kerja nanti mau mandi air dingin dan tidur cepat setelah sholat di masjid.


Jam setengah 6 sore Juna sudah sampai rumah. Jenaka dan Bunda sudah selesai memasak di dapur.


Juna masuk ke kamar setelah salim dengan Bunda. Ia menaruh tas miliknya di lantai lalu langsung mandi. Menuntaskan keinginannya mandi air dingin yang terasa segar saat menyentuh kulitnya.


Juna mengenakan kaos oblong yang berwarna hitam dan celana pendek diatas lutut. Digantungkannya handuk bekas pakai di gantungan handuk dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Juna mengambil remote TV dan menonton siaran berita. Terjadi musibah banjir dan lahar panas akibat gunung meletus.


"Tinggal tunggu perintah aja nih ke daerah sana." gumam Juna.


Juna sudah biasa ditugaskan ke daerah yang terjadi musibah atau dikirim ke daerah konflik. Alhamdulillah Ia selalu kembali dengan selamat, semua berkat doa Bunda yang selalu mellindunginya dari segala mara bahaya.


Jam 6 adzan maghrib berkumandang. Juna mengambil sarung dan baju koko lalu berangkat ke masjid dekat rumah setelah sebelumnya mengambil air wudhu.


"Kak Mandala belum siap Yah?" tanya Juna pada Ayah yang sudah siap di depan rumah. Kalau Juna shift pagi biasanya Ia dan Ayah ke masjid bareng, kini ada tambahan personil yang ikut serta sholat berjamaah di rumahnya.


"Kayaknya belum lama pulang deh. Coba kamu tanya mau bareng apa enggak?" suruh Ayah.


Juna pergi ke depan kamar Jenaka dan mengetuk pintu kamarnya. "Kak Mandala, mau ke masjid bareng enggak?" teriak Juna.


Jenaka yang menjawab karena Mandala masih berada di kamar mandi. Jenaka menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Duluan aja, Kak Mandala masih mandi. Nanti nyusul ke masjid katanya."


Jenaka kembali menutup pintu kamarnya. Mempersiapkan baju koko dan peci untuk dipakai suaminya ke masjid.


"Cepetan pakai bajunya. Nanti sudah iqomat!"


"Iya, Sayang! Aku pergi dulu! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Selepas Mandala pergi, Jenaka juga menunaikan sholat maghrib. Ia baru saja melipat mukena dan menaruhnya di lemari saat mendengar suara orang di depan rumah yang menekan bel dan mengucap salam.


Jenaka berpapasan dengan Bunda yang juga hendak melihat siapa yang datang.


"Siapa ya Bun?" tanya Jenaka.


"Kamu lihat saja dulu, Jen! Bunda mau lepas mukena dulu!"


"Iya, Bun."


Jenaka mengambil jilbab instan miliknya dan berjalan menuju depan rumah.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam. Melisa?" Jenaka membukakan pintu untuk Melisa. "Tumben malam-malam datang kesini."

__ADS_1


Jenaka baru menyadari kalau Melisa tidak datang sendirian. Ada kedua orangtuanya yang baru saja keluar dari mobil yang lebih mewah lagi dari milik Melisa.


Jenaka mengerutkan keningnya. "Kenapa Melisa datang bersama kedua orangtuanya?" batin Jenaka.


"Dad... Mom... Ini Jenaka, kembarannya Juna." Melisa memperkenalkan Jenaka pada kedua orangtuanya.


Dengan sopan Jenaka mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan kedua orang tua Melisa. "Jenaka."


Bergantian Mommy dan Daddynya menyalami Jenaka. "Cantik sekali!" puji Mommynya Melisa.


"Makasih, Tante. Eh sampai lupa. Silahkan masuk Om, Tante... Mel!" Jenaka membukakan gerbang lebih lebar.


Mommy Melisa membawa paperbag besar berisi cake. "Jena, ini buat keluarga kamu!" diberikannya paperbag tersebut kepada Jenaka.


"Oh... Makasih, Tante."


Jenaka masuk dahulu ke dalam rumah dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. "Silahkan duduk dulu Om, Tante... Mel! Aku panggil Bunda dulu ya!"


Jenaka bergegas masuk ke dalam kamar Bunda. "Bunda! Bunda!"


"Astaghfirullah Jena! Masuk kamar ketuk pintu dulu! Bunda lagi pakai rok dalam nih!" omel Bunda.


"Sst! Bunda jangan kenceng-kenceng! Di depan ada tamu!" omel Jenaka.


"Ya tapi jangan ngagetin Bunda dong, Jen! Siapa sih tamunya?" Bunda kini memakai jilbab instan panjangnya.


"Bunda tebak aja siapa?!"


"Jen, jangan main-main deh! Siapa yang datang?" tanya Bunda.


"Melisa." jawab Jenaka.


"Oh... Kirain siapa. Memang biasanya Melisa suka main kan? Tapi tumben sih Melisa main malam-malam. Biasanya pagi atau sore."


"Bun."


"Hm."


"Melisa sama kedua orang tuanya yang datang." ujar Jenaka.


"Jangan becanda kamu, Jen!"


"Jena serius, Bun. Di depan ada Melisa, Daddy dan Mommynya! Makanya Jenaka kaget!"


"Loh mereka mau apa?" kini Bunda ketularan panik.


Jenaka mengangkat kedua bahunya. "Entahlah."


****

__ADS_1


__ADS_2