Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sang Figuran


__ADS_3

Dalam hidup selalu ada dua sisi. Baik-buruk, hitam-putih, sedih-senang, malang-beruntung dan masih banyak hal lainnya. Sama halnya dengan dua sisi mata uang, hidup tak selalu penuh dengan senyum bahagia. Ada sedih dan air mata juga diantara kebahagiaan.


Hari minggu pagi yang tenang dapat berubah dalam sekejap. Jenaka yang sedang asyik berenang tak tahu kalau awan hitam sedang menghinggapinya. Tak tahu kalau takdir buruk akan menerpanya. Seperti mata uang koin yang sedang dilempar, sisi mana yang akan diatas tidak ada yang tahu.


Suasana rumah Mandala yang awalnya riang berubah menjadi tak enak. Seorang perempuan muda berpenampilan bak superstar dan memakai high heels datang tanpa diduga. Dibelakangnya sudah ada Mala yang dengan setia membawakan koper miliknya.


Ya, Kinara pulang! Ia sengaja pulang lebih awal karena sudah sangat merindukan suaminya.


"Mal, Bapak dimana?" tanya Kinara.


"Diatas, Bu. Masih tidur sepertinya." jawab Mala.


"Si 'itu' kemana?" rasanya malas Kinara menyebut nama Jenaka.


Mala tak menjawab, pandangannya melirik ke arah kolam renang dimana Jenaka sedang berenang bolak balik. Niat Kinara menghampiri Mandala di kamar malah berubah menjadi menghampiri Jenaka.


Kinara sudah mendengar banyak pengaduan dari Mala. Ternyata Mala tak pernah kapok melaporkan setiap hal kecil yang Jenaka lakukan.


Bagi Mala, Kinara tetap majikannya meski Jenaka sudah menghukumnya dengan berat sekalipun Ia tak takut. Ia tetap melaporkan setiap detil hal yang Ia ketahui, termasuk saat Mandala mencium Jenaka dengan mesra didepannya tanpa sungkan.


Kinara yang sudah di kolam renang pun bertepuk tangan. "Wah... Enak ya gadis kampung? Pagi-pagi sudah berenang layaknya seorang nyonya besar?!"


Jenaka yang sedang duduk di tepi kolam pun menengok dan melihat ke arah Kinara. "Udah pulang?" sapa Jenaka.


"Sok akrab banget lo? Kenapa kalo gue pulang? Udah enggak bisa ngegodain laki gue lagi?" ujar Kinara pedas.


"Ya... Laki lo kan laki gue juga. Ngapain gue godain? Lagi juga gue bukan sok akrab, kan lo duluan yang udah nyindir gue pagi-pagi. Kalo gue cuekkin nanti lo ngambek lagi!" Jenaka tak gentar menghadapi Kinara.


Bu Sri bilang, status Jenaka disini bukan pelakor melainkan korban. Mandala dan Kinara yang menjebaknya dalam pernikahan konyol ini. Kalau Jenaka mau speak up, terserah. Mau diam saja juga enggak masalah, tapi kalau disudutkan dan nyari ribut Jenaka harus bisa melawannya.


"Oh... Mulai berani lo ya? Mulai merasa diri lo tuh nyonya? Heh asal lo tau, lo tuh cuma pemeran figuran disini! Gue bakalan minta sama Mandala untuk menceraikan lo secepatnya dan mengusir lo dari rumah ini!"


Jenaka lalu berdiri dan berjalan mendekati Kinara. Ditatap madunya dengan tatapan menantang tanpa ragu dan takut.


"Apa hak lo menyuruh Kak Mandala cerein gue? Dia suami sah gue! Gue istri pertama dalam hukum. Gue malah lebih berhak dibanding lo! Gue peringatin ya, kalo lo berani nyuruh Kak Mandala nyerein gue, maka gue akan lapor sama Papi dan Mami!" ancam balik Jenaka, tak gentar Ia menghadapi madunya.


"Dasar cewek kampung sialan!" Kinara maju dan menjambak rambut basah Jenaka. Tak mau kalah, Jenaka pun menjambah Kinara.

__ADS_1


"Lo yang udah ngejebak gue!" balas Jenaka.


"Jangan harap lo rebut suami gue!" teriak Kinara.


Mala yang melihat keributan tersebut pun berlari ke kamar Mandala. Meminta bos besarnya untuk turun tangan.


"Pak! Pak Mandala! Ibu Kinara dan Jenaka berantem Pak di kolam renang! Jambak-jambakkan Pak!" ujar Mala seraya mengetok pintu kamar Mandala dengan kencang.


Mandala membukakan pintu kamarnya. "Kinara udah pulang? Dimana mereka?"


"Di kolam renang, Pak!" ujar Mala.


Mandala pun berlari ke arah kolam renang. Ia melihat Jenaka dan Kinara sedang bergelut di lantai. Posisi Kinara di bawah dan Jenaka diatas. Sudah bisa dipastikan siapa yang menang.


"BERHENTI KALIAN!" teriak Mandala.


Jenaka dan Kinara pun berhenti saling jambak. Mandala datang dan menarik tangan Jenaka, menjauh dari Kinara.


"APA-APAAAN KALIAN INI?!" teriak Mandala dengan murkanya.


Wajah Jenaka sudah kusut dengan rambut basah yang acak-acakan, ada bekas cakaran Kinara di lehernya. Wajah Kinara tak beda jauh dengan Jenaka. Make up di wajahnya berantakan, rambut panjang yang semula lurus kini kusut. Ada bekas cakaran Jenaka di sudut bibirnya.


"Sayang, dia yang jahatin aku!" ujar Kinara sambil memasang wajah penuh memelas.


"Bukan, Kak! Kinara duluan yang memancing aku! Aku lagi berenang dan dia nyari ribut duluan!" Jenaka tak mau kalah dengan Kinara. Bolak balik Mandala melihat dari Kinara dan Jenaka.


"Sayang aku-" Kinara tak melanjutkan ucapannya ketika Ia merasakan sesuatu turun dari hidungnya. Terasa hangat.


"Pak, Ibu mimisan!" ujar Mala yang sejak tadi hanya diam saja terlihat panik melihat majikannya mengeluarkan darah segar dari hidungnya.


"Nara!"


Kinara lalu melihat sekelilingnya dengan pandangan berkunang-kunang sebelum segalanya berubah gelap. Kinara pun pingsan di pelukan Mandala.


"Nara!" Mandala mengangkat Kinara ke dalam, melewati Jenaka yang berdiri dengan perasaan bersalah yang mendera.


Jenaka menyusul Mandala dan Mala ke dalam. Mala langsung mengambilkan air hangat untuk Kinara.

__ADS_1


Mandala menaruh Kinara di sofa panjang. Tubuh Kinara basah karena bertengkar dengan Jenaka yang habis berenang. Mandala mengambil baju bersih dari dalam koper Kinara dan menggantikan baju Kinara yang basah.


Jenaka mengganti bajunya yang basah dan bergegas turun untuk membantu. Nampak Mandala sudah menggantikan baju Kinara dan kini Ia beserta Mala sedang menyadarkan Kinara. Mala memijat kaki majikan tersayangnya.


"Nara! Nar, bangun!"


Jenaka mendekat dan memberikan minyak kayu putih pada Mandala. "Coba kasih ini, Kak!"


Mandala yang terlihat begitu mengkhawatirkan Kinara mengambil minyak kayu putih dari tangan Jenaka tanpa melihatnya sama sekali. Terlihat sekali kalau Mandala lebih mencintai siapa.


Jenaka berdiri diam tanpa berbuat apapun. Ia bagaikan sebuah figuran, persis yang Kinara katakan tadi.


"Kita bawa saja Kinara ke rumah sakit!" putus Mandala. "Mal, bilang Sahrul suruh siapkan mobil!"


"Baik, Pak!"


Jenaka berinisiatif pergi ke kamar atas dan mengambilkan jaket serta dompet milik Mandala. "Kak, ini!"


Lagi-lagi tanpa kata Mandala mengambil apa yang Jenaka berikan. Ia memakai jaketnya lalu menggendong Kinara ke dalam mobil.


Di dalam mobil sudah ada Mala yang duduk di kursi depan karena disuruh Mandala. Sementara Mandala di kursi belakang dengan Kinara.


Tak ada tempat untuk Jenaka. Tak ada yang menganggap Jenaka ada. Jenaka hanyalah figuran, yang kehadirannya hanya dianggap pelengkap saja. Yang kehadirannya hanya dianggap sebelah mata.


Jenaka menunggu ada yang mengabarinya tentang Kinara. Satu jam, dua jam, bahkan sudah 6 jam berlalu. Tak ada yang mengingatnya. Mandala tak membawa Hp miliknya. Mau nanya sama siapa?


Jenaka mengetahui semuanya dari portal berita online yang mengabarkan kalau model terkenal dilarikan ke rumah sakit Jakarta Hospital.


Model terkenal yang booming karena majalah dewasa, Kinara dilarikan ke rumah sakit pada pagi hari ini. CEO Prabu Group, Mandala nampak bersamanya dan terlihat sangat khawatir dengan keadaan Kinara. Apakah yang terjadi dengan Kinara? Raut wajah khawatir Mandala apakah pertanda akan kebenaran gosip yang beredar selama ini kalau memang mereka berdua memang sepasang suami istri?


Tes... Jenaka menangis sesegukan... Apakah Jenaka akan merasakan sakit yang lebih menyakitkan lagi nantinya?


****


Jeng....Jeng... Rollercoaster dinyalakan.... Aku langsung Up dua bab biar enggak kepotong ya. Jadi, langsung like bab ini yang banyak ya 🥰🥰🥰


Aku mau promosikan novel bagus di NT juga nih. Jangan lupa mampir ya.

__ADS_1



__ADS_2