
"Kamu kok ngomongnya begitu sih Jun? Maksudnya apa? Kamu mau membatalkan pernikahan kamu dengan Melisa?" nada suara Jenaka naik setelah mendengar pengakuan Juna.
Juna tidak menjawab. Ia masih menatap kosong langi-langit kamarnya.
"Jun! Jawab! Apa yang kamu rencanain?" tanya Jenaka yang tak sabaran karena tak juga mendapatkan jawabannya.
"Jen, apa impian kamu dalam hidup ini?" Juna tak menjawab pertanyaan Jenaka, malah bertanya yang lain.
"Impian aku? Ya menikahi Kak Mandala lah!" jawab Jenaka tanpa pikir panjang.
"Dan impian kamu sudah tercapai kan? Kamu beruntung, Jen!" ujar Juna dengan mata yang mulai mengantuk.
"Ya karena aku usaha! Enggak tau aja bagaimana usaha aku! Jawab dulu dong, kamu rencanain apa?"
Juna menghela nafas berat. "Melisa mungkin yang akan membatalkan pernikahan, bukan aku."
"Loh kok bisa?" tanya Jenaka.
Juna tak lagi menjawab pertanyaan Jenaka, Ia sudah jatuh tertidur.
Jenaka sebenarnya mau mengorek keterangan lebih jauh lagi, namun rasa kasihan karena melihat Juna yang tidur lelap membuatnya menahan diri.
"Apa maksud Juna mengatakan seperti itu?" batin Jenaka.
Jenaka pun meninggalkan kamarnya dan masuk ke kamarnya sendiri. Ia merenungi perkataan Juna yang mengatakan kalau Melisa yang akan membatalkan pernikahan mereka. Tapi kenapa Melisa bisa sampai membatalkan pernikahan mereka, itu yang Jenaka tidak ketahui.
"Apakah Juna selingkuh? Atau Juna sudah menikah dengan wanita lain selama Ia berada di luar kota? Atau sebenarnya Juna bukan bertugas melainkan bulan madu?" Jenaka jadi terpengaruh dengan cerita di novel yang Ia baca.
"Kenapa sih kamu? Kayak orang lagi banyak pikiran gitu?!" tanya Mandala yang sejak tadi asyik membaca laporan di tab miliknya.
Jenaka yang datang dengan lesu dan pandangan kosong seperti sedang berpikir keras membuat Mandala penasaran. Apa yang sedang istrinya pikirkan?
"Aku habis dari kamar Juna, tapi aneh deh. Masa sih kata Juna, Melisa yang akan membatalkan pernikahan mereka? Aneh banget kan? Kayak lagi menyembunyikan sesuatu gitu. Kira-kira apa ya yang Juna lakuin di luar kota kemarin?!"
"Memangnya menurut kamu apa yang dia lakuin? Jangan berburuk sangka dulu sama kembaran kamu! Juna tuh tipikal laki-laki yang bertanggung-jawab. Kalau dia sudah berkata seperti itu, kemungkinan Ia punya pemikiran sendiri yang membutuhkan pengorbanan. Nah disini mungkin Melisa yang paling besar pengorbanannya." kata Mandala dengan bijak.
"Pengorbanan? Apa Juna mau melakukan poligami ya?"
"Hush! Jangan aneh-aneh pikiran kamu! Nikah aja belum masa dia mau poligami? Ini sih kamu nyindir aku yang mantan pelaku poligami!" cibir Mandala.
"Ih siapa yang nyindir kamu? Udah ah aku ngantuk! Jangan colek-colek aku nanti malam ya! Kata dokter aku enggak boleh kecapean! Good night! Have a nice dream!" Jenaka mencium pipi Mandala lalu masuk ke dalam selimutnya.
__ADS_1
"Yah... Aku puasa dong malam ini?"
****
"Pagi, saya bisa ketemu dengan Ibu Melisa?" tanya Juna pada resepsionis yang bertugas di lantai bawah.
"Ibu Melisa? Bapak sudah buat janji sebelumnya?" tanya resepsionis tersebut.
Juna menggelengkan kepalanya. "Belum. Tapi tolong katakan saja kalau Arjuna datang."
Resepsionis di sebelah yang berbicara dengan Juna terlihat menahan tawanya. Mungkin banyak yang sudah seperti Juna, meminta bertemu dengan Melisa tapi ujung-ujungnya hanya orang iseng atau punya tujuan pribadi.
"Maaf Pak. Kalau Bapak belum membuat janji, maka kami tidak bisa mengijinkan Bapak bertemu Ibu Melisa." ujar resepsionis yang sejak tadi bicara dengan Juna.
"Kalau begitu saya telepon Melisa dulu!" Juna kesal, niatnya mau kasih surprise eh malah terbentur dengan birokrasi yang rumit.
"Assalamualaikum. Kamu udah pulang Jun?" Melisa mengangkat telepon dari Juna pada dering pertama. Suaranya terdengar antusias saat Juna meneleponnya.
"Waalaikumsalam. Aku di kantor kamu nih. Di resepsionis bawah-"
"Aku kesana sekarang!" jawab Melisa sebelum Juna selesai bicara.
Juna menatap layar Hp miliknya yang sudah diputus oleh Melisa. Juna sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
Tak sampai lima menit kemudian Melisa sudah datang dengan tergesa-gesa. Senyum di wajahnya mengembang melihat Juna berdiri dengan gagah di dekat resepsionis.
"Hi Jun!" Melisa berjalan mendekati Juna sambil tersenyum. Nafasnya terlihat tersengal-sengal karena terburu-buru untuk turun ke bawah.
"Cepat sekali! Kamu lari ya?" tebak Juna.
"Enggak! Kebetulan aku ada lift khusus jadi lebih cepat ke bawah. Kenapa kamu enggak langsung naik ke atas?" tanya Melisa yang kini sudah bisa mengendalikan dirinya lebih tenang.
Juna melirik ke arah resepsionis yang kompak menunduk. Mereka tau kesalahan mereka dan siap dengan omelan dari Melisa.
"Tunggu disini sebentar!"
"Mel, aku enggak apa-apa kok."
Melisa berjalan ke arah resepsionis dan dengan tegas menegur bawahannya. "Kalian, mulai besok kalau ada tamu yang mencari saya, telepon dulu! Pasti kalian menolak dengan alasan belum punya janji kan? Kalian harus konfirmasi dulu. Dan tolong kalian ingat, kalau Bapak Juna ini mau bertemu dengan saya, kapanpun kalian harus ijinkan! Ingat itu!"
Kedua resepsionis itu hanya menunduk takut. Melisa terkenal tegas. Ia tak segan-segan memberi peringatan baik lisan maupun tulisan pada anak buahnya yang melanggar peraturan.
__ADS_1
"Baik, Bu!"
"Kita mau ke ruanganku atau mau di kedai kopi saja?" tanya Melisa yang wajahnya kini berseri bahagia. Lelaki pujaan hatinya yang sejak kemarin Ia tunggu akhirnya pulang.
"Di ruangan kamu aja. Boleh kan? Sekalian aku mau lihat-lihat." tanya Juna.
"Boleh dong! Tentu aja boleh." Melisa mengulurkan tangannya hendak menggandeng Juna, namun Juna menolak.
"Oh iya, lupa! Bukan mahram ya! Aku segitu kangennya sama kamu sampai mau langsung gandeng aja." Melisa tersenyum malu. "Yaudah ayo ikut aku!"
Juna tersenyum membalas Melisa. Kali ini Ia merasa kalau Melisa sangat lucu dan menggemaskan dengan kepolosan yang Ia miliki. "Ayo!"
Juna mengikuti langkah Melisa yang berjalan menuju lift khusus yang biasa Ia gunakan. Nampak karyawan di belakang mereka berbisik membicarakan siapa yang berjalan bersama Melisa.
Lain di belakang, lain juga di depan. Yang berpapasan dengan Melisa justru mengangguk penuh hormat pada pemimpin perusahaan yang sangat cerdas tersebut.
Juna memperhatikan Melisa mengenakan setelan blazer dan celana panjang dengan jilbab yang menutupi bagian depan tubuhnya. Terlihat rapi dan elegan, khas Melisa tentunya.
Melisa mempersilahkan Juna masuk ke dalam lift dan menekan lantai tempatnya bekerja. Jantung Melisa berdetak kencang tak karuan. Ia begitu grogi, Juna sampai datang ke kantornya. Itu suatu kemajuan besar.
Melisa mengajak Juna ke sebuah ruangan besar dan terlihat mewah. Pemandangan khas gedung bertingkat dengan sebuah meja besar di tengah ruangan.
"Silahkan duduk! Atau kalau kamu mau lihat-lihat, boleh saja kok." ujar Melisa. "Kamu mau minum apa? Kopi mungkin?"
"Jangan kopi! Selama tugas aku mengkonsumsi kopi dan bermasalah dengan pola tidurku. Yang lain saja!" tolak Juna.
"Ice chocolate?" usul Melisa.
"Boleh." Juna berjalan menuju kaca besar dan melihat pemandangan di luar sana. Keren sekali rasanya berdiri di sini. Juna semakin sadar akan perbedaan dirinya dan Melisa yang terbentang luas.
Melisa memesankan minuman pada sekretarisnya lalu berjalan mendekati Juna.
"Kamu terlihat kurusan!" ujar Melisa.
Juna tersenyum. "Jena bilang aku makin item juga!"
"Ah masa sih? Bagi aku kamu terlihat bersinar kok!"
Juna kembali tersenyum, lalu Ia ingat sesuatu dan senyum di wajahnya pun pudar. "Sudah coba mengurus pernikahan?"
Senyum di wajah Melisa pun menghilang. "Ternyata tak semudah yang aku pikir. Kenapa kamu memberi waktu satu bulan padahal kamu tahu itu tak mungkin?"
__ADS_1
****
Kenapa ada yang belum vote ya? 🤔🤔