
"Kak Genta mau makan apa? Ikan bakar, ayam bakar atau soto ayam?" tanya Jenaka.
"Ayam bakar saja!" jawab Genta.
"Oke. Aku pesenin dulu ya, Kak!"
Sesuai janji, Jenaka mengajak Genta makan siang di tempat favoritnya. Bukan di restoran mahal melainkan rumah makan pinggir jalan favoritnya.
"Selalu ya Jen. Khas lo banget. Makannya di rumah makan pinggir jalan. Bukan restoran mahal. Padahal niatnya gue mau traktir lo tau!" goda Genta.
"Udah bosen, Kak. Kalau Panca meeting di restoran dan hotel bintang 5, makanannya yang seuprit. Plattingnya rapi tapi enggak nampol. Enakkan juga di restoran kayak gini. Ya meskipun enggak seenak rumah makan yang aku datangi waktu itu." Jenaka teringat warung ayam bakar langganan Mandala. Benar kata Mandala, ayam bakar disana adalah salah satu ayam bakar terenak yang pernah Jenaka makan.
"Huh sombong lo Jen! Anak-anak nyariin lo tuh! Mereka kangen suasana kantor saat ada lo dulu."
"Ah... aku juga kangen sama teman-temannya Kak Genta yang suka godain aku. Lucu-lucu mereka. Salamin ya Kak dari aku!" ujar Jenaka.
"Enggak ah! Nanti diomelin sama Pak Panca! Lo main dong ke Prabu Group. Sombong banget lo sekarang enggak pernah mau main lagi!" ledek Genta. Genta ingin mencari tahu apa hubungan Jenaka dengan Panca. Benarkah mereka akan menikah?
"Santai aja, Kak. Panca mah asyik anaknya. Walau rasa khawatirnya tinggi sih. Kalau masalah main ke Prabu Group, kayaknya enggak deh Kak. Terlalu banyak kenangan disana." jawab Jenaka jujur.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang, mereka pun makan sambil mengobrol.
"Kabar lo gimana Jen? Norak ya gue, baru nanya kabar setelah kita ngobrol dari tadi. Maaf gue enggak bisa bantu lo banyak saat itu."
Jenaka menyunggingkan seulas senyum di wajahnya. Genta memang sangat baik padanya sejak dulu. "Baik, Kak. Seperti yang Kak Genta lihat. Aku baik-baik saja. Makasih atas perhatian Kak Genta selama ini. Kak Genta baik banget sama Jena. The best deh Kak Genta mah!"
"Bisa aja lo, Jen. Lo sama Panca mau... Eh sorry Jen! Gue bukan mau mencampuri urusan lo. Gue ganti pertanyaan aja, lo betah kerja di Reel Group? Kalo enggak betah, nanti gue tarik ke perusahaan gue. Mau?"
"Perusahaan mana, Kak? Bukannya Kak Genta masih belum dikasih kepercayaan buat mimpin perusahaan Papinya Kak Genta?" ledek Jenaka. "Tenang, Kak. Aku betah kok kerja sama Panca. Bebas sama dia mah, aku baca novel juga enggak diomelin selama kerjaan beres!"
__ADS_1
"Baguslah kalau lo betah. Mm... lo enggak mau tau keadaan Mandala, Jen?" tanya Genta lagi.
Jenaka menggelengkan kepalanya. "Aku dan Kak Mandala udah selesai, Kak. Udah tutup buku. Tau keadaannya juga untuk apa?"
"He...he...he... Iya juga sih. Sorry ya Jen. Ayo makannya yang banyak, Jen! Kalo perlu kita nambah!"
****
"Mau kemana Man?" tanya Genta selepas kembali dari Reel Group.
"Mau ke makam Kinara. Hari ini Kinara ulang tahun." ujar Mandala sambil membawa bunga yang sudah dipesankan oleh Mina.
"Tadi gue... Meetingnya lancar sama Pak Panca. Katanya buat aja seperti yang kita meeting kemarin. Dia setuju dan budgetnya juga masuk!" Genta mengurungkan niatnya memberitahu kalau Ia tadi bertemu dan makan siang bareng Jenaka.
"Oh baguslah. Lo kerjain aja sama team yang terkait. Gue pergi dulu ya! Nanti takut kemalaman!"
"Oke, Bro!"
Ya, Kinara adalah anak yatim piatu. Ayahnya meninggal saat Ia berusia 5 tahun. Ibunya lalu menikah lagi dengan ayah tirinya yang gila judi.
Mandala teringat saat kadaan Kinara yang semakin hari semakin drop saja. Tubuhnya semakin kurus dan lemah. Mandala yang setia menemaninya. Meski rasa cinta Mandala sudah dilabuhkan pada Jenaka, Ia tetap merawat istrinya penuh kasih sayang.
Mandala bekerja di samping Kinara. Menuntunnya untuk sholat dan rajin melantunkan ayat suci Al-Quran sehabis sholat. Semua demi membuat Kinara lebih tenang dan berharap dapat mengurangi rasa sakitnya.
Hampir setahun pengobatan dilakukan. Tubuh Kinara sudah bak tulang yang hanya diselimuti kulit. Kurus kering dengan rambut yang rontok sehabis kemo.
"Aku udah enggak mau berobat lagi. Aku udah enggak kuat!" begitu yang selalu Kinara katakan.
Mandala berusaha tegar di depan Kinara. Membujuknya agar mau minum obat dan agar semangat hidupnya kembali lagi. Namun keadaan Kinara semakin menurun.
__ADS_1
Sampai pada suatu hari, Kinara drop. Dalam keadaannya yang lemah, Kinara berkata:
"Tolong... sampaikan pada... Jenaka. Aku... minta... maaf. Kamu... mau kan?"
Mandala mengangguk, air mata mulai membasahi kedua kelopak matanya. Apakah saat perpisahan ini akhirnya tiba?
"Kembalilah... pada... Jenaka... Kamu... sangat mencintainya... Maafkan... aku... sudah memisahkan... kalian..."
Lalu Kinara koma. Selama dua hari Ia hidup dengan bantuan alat kedokteran, sampai akhirnya Kinara pergi untuk selamanya setelah sempat pulih dan menyerahkan sebuah surat untuk Jenaka.
Mandala mengusap batu nisan Kinara. Setelah membaca doa, Mandala menaruh buket bunga di atas makamnya.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Papa tiri kamu kemarin dipenjara atas dugaan penipuan. Oh iya, kamu mendapat piala penghargaan atas hasil kerja keras kamu yang mengagumkan. Sesuai pesan kamu, semua harta yang kamu peroleh dari hasil kerja kerasmu sudah aku jual dan hasil penjualannya aku berikan untuk rumah yatim dan pembangunan masjid. Semoga pahalanya selalu mengalir untuk kamu ya, Sayang. Kamu yang bahagia ya disana. Enggak sakit lagi. Terima kasih sudah menemani hari-hariku selama ini."
Mandala membacakan lagi doa sebelum akhirnya meninggalkan makam Kinara sambil menghapus air mata di pelupuk matanya.
****
Mandala menatap rumah miliknya yang sudah dua tahun tak lagi Ia tempati. Semenjak pergi ke Singapore, Mandala tak menginjakkan lagi ke rumahnya.
Terlalu banyak jejak cinta Jenaka dalam rumah ini. Hal itu yang membuat Mandala memutuskan tinggal di apartemen saja sekembalinya ke Indonesia.
Mala membukakan pintu untuk Mandala masuk. Di teras rumah, Mandala teringat saat Ia akhirnya mau mencium pipi Jenaka di depan umum. Ciuman terakhirnya untuk Jenaka. Ciuman yang tulus Ia berikan atas dasar rasa cinta yang mulai tumbuh pada Jenaka.
Ternyata rasa sedih kehilangan Kinara, tidak sesakit saat mengembalikan Jenaka pada keluarganya. Jika bukan karena harus fokus pada pengobatan Kinara, sudah dipastikan Mandala akan tenggelam dalam lubang kesedihan yang dalam. Bahkan Mandala tak sanggup hadir di sidang perceraiannya sekalipun. Tak sanggup mengucapkan kata pisah lagi.
Mandala pun melangkahkan kakinya memasuki rumah. Memorinya merekam adegan saat Jenaka menyambut kepulangannya dari kantor.
Saat di ruang makan, Mandala teringat saat Ia tersedak tak kunjung henti saat chocochip Jenaka tanpa sadar menyentuh kulitnya. Tanpa sadar seulas senyum terukir di wajah Mandala. Jenaka...Jenaka...
__ADS_1
"Aku kangen kamu, Jen!" batin Mandala.
****