
Dulu, dulu... sekali Jenaka pernah berharap kalau Mandala akan menghargai setiap waktu kebersamaan mereka. Dulu... sekali Jenaka pernah bermimpi kalau Mandala lebih meluangkan waktu untuk bersamanya.
Namun kini?
Jika Ia memberikan waktu untuk tetap bersama Mandala, maka Ia akan membuka kembali kotak pandora yang sudah lama Ia tutup. Ia akan terjebak kembali dengan lingkup masa lalu kelam yang begitu membelenggunya.
Saat Ia melihat sebuah mata air di tengah gurun panas dan gersang. Akankah Ia sanggup menolaknya? Ya, Ia harus sanggup. Demi kepingan hati yang berhasil Ia satukan.
"Maaf, Kak. Aku mau pulang. Bukan karena aku tak mau meluangkan waktuku untuk Kak Mandala. Aku hanya menjaga diriku sendiri. Menjaga diri yang sudah banyak merepotkan orang di sekitarnya hanya agar bisa menegakkan kepala. Aku pulang dulu, Kak. Assalamualaikum." Jenaka pun pamit meninggalkan Mandala.
Apakah Mandala akan semudah itu menyerah? Tentu saja tidak.
"Ayo bareng! Aku juga mau ke parkiran di gedung sebelah. Boleh kan?" Mandala mensejajari langkah Jenaka.
Tak mungkin menolak Mandala lagi, Jenaka pun mengangguk. "Boleh, Kak."
"Jen, kamu mau enggak kalau di lain waktu aku ngajak kamu jalan?" tanya Mandala.
"Jalan kemana?"
"Kemana aja. Maunya sih langsung ke pelaminan. Tapi aku tau kamu enggak mau langsung, mau diajak muter-muter dulu deh pastinya." tebak Mandala.
"Ih garing banget!"
"Biarin! Kerupuk aja enakkan pas garing daripada melempem? Iya enggak? Gimana, mau enggak?"
Jenaka berjalan ke mobil sedan miliknya. "Kita lihat saja nanti ya, Kak. Aku pulang dulu. Assalamualaikum!" Jenaka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Mandala yang hanya bisa diam saja melihat Jenaka pergi.
"Dulu, kamu selalu salim padaku Jen sebelum pergi. Tapi kini? Aku merasa sangat kehilangan kamu Jen. Andai waktu bisa kuulang lagi. Tak akan aku mau melepas kamu pergi Jen. Tak akan pernah." batin Mandala.
***
"Kemarin kamu kemana Jen?" tanya Panca saat main ke rumah Jenaka di minggu pagi. Mereka sedang olahraga bersama, lari pagi memutari komplek dekat rumah Jenaka.
"Ke Mall. Kamu juga sama kan?" tanya Jenaka balik.
"Sama gimana maksudnya?"
"Aku lihat kamu, Ca. Kamu ngikutin aku kan?" Jenaka duduk diatas trotoar sambil meluruskan kakinya. Dihapusnya keringat yang menetes dengan handuk kecil yang di taruh di lehernya.
"Aku... Iya, aku ikutin kamu. Kenapa kamu kabur sih Jen? Makin mencurigakan tau enggak!" keluh Panca.
"Aku bukan kabur, Ca. Aku hanya butuh me time aja. Aku harus menepati janji yang kubuat di masa lalu."
"Dengan Mandala?" tebak Panca.
Jenaka mengangguk tanpa ragu.
"Beneran? Kamu kemarin pergi sama Mandala?" tanya Panca tak percaya.
__ADS_1
Jenaka kembali mengangguk. "Sebenarnya enggak pergi secara langsung sih. Tidak sengaja bertemu, lebih tepatnya seperti itu."
"Lalu kalian ngapain?"
"Enggak ngapa-ngapain, Ca. Kamu pikir aku bakal ngapain? Aku juga enggak nyangka kalau aku bakalan ketemu sama Kak Mandala disana. Aku hanya nepatin janji aja. Dulu kita pernah buat janji akan ketemu saat film kesukaan Kak Mandala tayang session 2. Enggak nyangka kita malah ketemu saat aku mau pulang."
"Lalu? Dia ngajak kamu balikkan?" tebak Panca.
"Ngajak aku ngopi aja." Jenaka tiba-tiba menepuk keningnya. "Ya ampun surat! Aku dititipin surat sama Mandala!"
"Surat apa?"
"Surat dari Kinara. Aku mau langsung pulang, Ca! Ayo pulang!" Jenaka kembali berlari pulang. Dalam hati berharap surat dari Kinara masih ada.
Jenaka langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia mencari tas tempat Ia menaruh surat pemberian Mandala semalam.
Panca hanya menunggu Jenaka di luar. Ayah yang menemaninya. Mereka asyik mengobrol.
Jenaka menghela nafas lega saat surat pemberian Kinara Ia temukan. Kalau sampai hilang entah bagaimana Ia tak tahu.
Surat tersebut sangat sederhana. Hanya amplop putih polos dengan tulisan di depannya. Teruntuk Jenaka.
Jenaka membuka surat yang dituliskan dengan tulisan tangan Kinara yang rapi. Entah kapan Kinara menulisnya.
****
Dear Jenaka,
Saat aku menuliskan surat ini, aku terus menatap laki-laki yang kucintai sedang tertidur lelap di sofa. Ia selalu menjagaku, siang dan malam.
Ya, kamu pasti tahu kalau laki-laki tersebut adalah Mandala. Laki-laki yang sama-sama kita cintai.
Timbul rasa sedih dalam hatiku saat melihat Ia begitu setia dalam lelah mendampingiku. Seiris rasa sedih melingkupiku.
Ya, aku memang egois. Aku sadar kalau hatinya tak lagi milikku. Kamu menang, Jenaka. Kamu sudah berhasil merebut hatinya.
Aku memang egois sudah memisahkan kalian. Aku memang manusia paling egois yang menginginkan terus Ia dampingi di saat terakhir hidupku.
Aku memang pantas mendapatkan hukuman selama sisa hidupku, namun Ia meyakinkanku bahwa selalu ada pintu taubat yang terbuka bagi orang-orang yang benar-benar mau bertaubat. Ia bilang kalau kamulah Jenaka yang mengajaknya untuk kembali sholat.
Aku mulai mengikuti apa yang Ia ajarkan. Sholat walau dengan duduk tak lagi mampu berdiri, mengaji walau hanya mengikuti dalam hati apa yang Mandala ucapkan. Aku melakukan semua yang kamu ajarkan padanya.
Terima kasih Jenaka. Aku menemukan kedamaian di sisa hidupku karena kamu. Meski aku sadar kalau aku sudah menyakitimu, namun kamu tetap meninggalkan jejak kebaikan di setiap memoriku.
Jenaka, andai kamu tahu kalau kamu adalah cinta pertama Mandala. Ya, kamu. Kamu adalah wanita berjilbab dengan lesung pipi tercantik yang selama ini Mandala cari.
Aku yang sudah merebut Mandala dari kamu. Aku sudah mencurinya juga dari kamu dan meminta kamu meningalkannya untukku. Tolong maafkan aku Jenaka. Agar aku bisa pergi dengan tenang.
Jenaka, aku titip Mandala. Kutitipkan laki-laki yang paling aku cintai padamu. Tolong jaga dia. Bahagiakan dia. Seperti ku menyayanginya.
__ADS_1
Aku mohon Jenaka, kembalilah pada Mandala. Maafkan segala kesalahanku. Hiduplah bahagia dengannya.
Dari aku yang berdoa agar kalian selalu dirahmati kebahagiaan. Kinara.
****
Jenaka menutup surat yang diberikan Kinara. Ia memeluknya dengan erat sambil menangis tersedu.
Takdir apakah yang menyakitkan seperti ini?
Takdir apakah yang tega memporak-porandakan hati manusia seperti ini?
"Apakah aku harus menyerah pada takdir atau haruskah aku memperjuangkan takdirku?" batin Jenaka.
Tok...tok...tok...
Suara pintu kamar Jenaka diketuk.
"Jen... Ini Bunda!"
Jenaka menghapus cepat-cepat air matanya. Ia lalu membukakan pintu untuk Bunda tersayang.
Bunda masuk ke dalam kamar Jenaka. Ditatapnya anak gadisnya yang menyembunyikan air mata di balik senyum manisnya.
"Ada apa?" tanya Bunda.
Jenaka menggelengkan kepalanya tanpa mampu menjawab satu kata pun.
"Kenapa? Cerita sama Bunda." bujuk Bunda dengan lembut.
Jenaka memeluk Bundanya dengan erat. "Bunda....hu...hu...hu...."
Bunda memeluk dan mengusap lembut punggung Jenaka. "Nangislah, Nak. Keluarkan segala kesedihan kamu. Jangan kamu pendam semuanya seorang diri."
"Hu...hu....hu....Bunda...."
Cukup lama Jenaka menangis. Menumpahkan semua air matanya. Kini Ia terlihat lebih tenang.
"Ini dari Kinara, Bun."
"Kinara?" Bunda begitu terkejut mendengarnya. Ia pun membaca surat yang Kinara tujukan untuk putrinya.
"Jenaka harus apa Bun?" tanya Jenaka dengan putus asa.
Bunda terdiam. Bunda memikirkan jawabannya sebelum akhirnya berkata. "Kamu sholat istikharahlah, Nak. Biar Allah yang akan menuntun apa yang menjadi jawaban terbaik untukmu."
****
Maaf aku mau promo karya sesama author. jangan lupa mampir ya
__ADS_1