Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Tagihan Oh Tagihan


__ADS_3

Panca sudah datang pagi-pagi sekali ke kantor. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Jenaka. Bukannya Ia tidak berusaha untuk menemui Jenaka, Ia datang ke rumah Jenaka namun keluarganya bilang kalau Jenaka sedang tak enak badan dan tak mau bertemu siapapun.


Panca juga sudah menghubungi Juna, meminta bantuan orang yang sekiranya 1 kubu dengannya. Sayangnya, kini Juna lebih memihak kepada Mandala dibanding dengan Panca. Juna bahkan mengacuhkan pesan yang dikirimkan oleh Panca dan tidak mengangkat telepon yang masuk dari Panca.


Jangan tanyakan berapa banyak Panca menghubungi Jenaka, sudah tak terhitung berapa banyak misscall dan pesan masuk di handphone Jenaka dari Panca. Jenaka mengacuhkannya dan tidak membalas satu pun pesan yang masuk.


Sayangnya, kedatangan Panca yang sangat pagi ke kantor sia-sia belaka. Juna datang membawa surat dokter yang menyatakan kalau Jenaka sedang sakit dan tidak bisa masuk kerja.


"Maaf, Ca. Jenaka juga menitipkan surat pengunduran dirinya dari perusahaan." Juna menaruh amplop berisi surat pengunduran diri Jenaka di meja Panca. "Tenang aja, Jenaka nggak langsung keluar kok. Ia tetap menunaikan kewajibannya untuk menghabiskan 1 bulan bekerja sebelum akhirnya dia resign." perkataan Juna tentu saja mengagetkan Panca.


"Loh? Kenapa Jena resign? Memangnya, Jena segitu marahnya sama gue? Jun, Tolong bilang sama Jena. Gue mau bicara sama dia. Gue mau meluruskan kesalahpahaman diantara kita berdua. Gue sangat mencintai Jena, Jun. Gue nggak mau Jena sampai resign dari perusahaan ini. Gue tahu aku salah. Tapi semuanya bisa dibicarakan baik-baik kan?!" ujar Panca. Terlihat sekali emosi dalam dirinya yang tak lagi Ia tahan.


"Tenang aja, Ca. Jena bakal ngomong kok sama lo, tapi nggak sekarang. Jena butuh istirahat. Kemarin, dia hampir pingsan kalau nggak langsung ditolong dan dibawa ke dokter. Mungkin, bagi lo ini hal yang sepele, tapi nggak menurut Jena."


"Memang permasalahannya tuh sebenarnya sepele. Jena yang membuat semuanya makin rumit. Jena yang masih berhubungan dengan Mandala. Apa salah kalau gue pengen memiliki Jena seutuhnya tanpa ada lagi bayang-bayang Mandala?"


Juna berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya. Pantas saja Jenaka begitu marah dengan kelakuan Panca. Jika Ia berada di posisi Jenaka, maka Ia akan melakukan hal yang sama. Sayangnya, saudara kembarnya terlalu baik dan terlalu menahan perasaan. Terlalu mudah merasa kasihan. Makanya semuanya jadi ngerugiin Jenaka sendiri.


"Ca, gue ngomong sebagai seorang teman bukan sebagai saudaranya Jena. Mau dengan Jena atau dengan siapapun, kalau pola pikir lo terus seperti itu, maka lo akan terus gagal dalam setiap hubungan yang terjalin. Pacaran, menikah itu bukan tentang lo dan dia aja. Ada orang di sekeliling pasangan lo yang juga berperan untuk membentuk karakternya dia,"


"Ya... mungkin dalam hidupnya jenaka memang Mandala yang berperan. Mandala yang ngancurin hidupnya. Mandala juga yang membuat dia merasa jatuh cinta. Lo nggak seharusnya menyalahkan Mandala. Saat kesempatan ada sama lo, lo tuh seharusnya memanfaatkan kesempatan yang ada,"


"Jena udah adil dan ngasih kesempatan lo untuk mencoba membuka hatinya. Sayangnya, yang lo lakuin bukan berusaha menarik hati Jena. Lo malah membuat dia semakin tertekan. Lo malah membuktikan ke semua orang kalau lo tuh udah menang. Padahal pemenang sebenarnya tuh belum kelihatan." ceramah Juna panjang lebar.

__ADS_1


"Gue harus ngomong sama Jena. Gue enggak mau kehilangan Jena lagi! Jena dimana sekarang? Di rumah kan? Gue kesana sekarang!" Panca meninggalkan Juna dan pergi menemui Jenaka.


Juna yang sudah harus kembali tugas hanya bisa memberitahu Jenaka kalau Panca sedang menuju rumah mereka. Jenaka bilang Ia yang akan menghadapinya.


Jenaka menutup telepon dari Juna dan menunggu kedatangan Panca. Jenaka memang sudah enakkan, namun Ia malas ke kantor. Juna yang mewakilkannya mengirim surat dokter. Sebenarnya bisa saja Ia mengirim surat dokter by email. Namun karena ada surat pengunduran diri maka sebaiknya diberikan langsung. Untuk HRD , dia mengirimkan surat pengunduran diri by email, tapi nanti. Lihat situasi dulu.


Jenaka tak punya cukup nyali untuk langsung memberikan surat pengunduran diri ke Panca. Ia merasa seperti tak tahu diri karena selama ini Panca telah banyak membantunya.


Jenaka sendiri belum tahu apa rencananya ke depan. Ia pengangguran dan seorang janda kembang. Lengkap sudah penderitaannya. Kalau ada yang nanya siapa Jenaka? Oh si Janda kembang yang pengangguran itu ya? Aduh sedihnya....


"Oh gaji lima puluh jutaku akan pergi.... Tapi gimana cara bayar cicilan mobil nanti ya? Aduh mati aku! Bisa didatengin debt collector nih!" Jenaka baru menyadari kebodohannya. Tanpa pikir panjang membuat surat resign. Enggak mikirin tagihannya nanti siapa yang bayar?


Jenaka mengecek saldo tabungannya lewat mobile banking. Aman sih. Jenaka memang jarang shopping, uang gajinya banyak Ia tabung. Niatnya buat nanti berangkatin Ayah dan Bunda pergi haji.


"Dasar Jena bodoh! Sok banget ngikutin kayak di novel-novel, resign tinggal resign. Nggak mikirin kalo tagihan membludak. Aduh... gimana bayarnya ini?" gerutu Jena.


Suara Bunda yang menyadarkan Jenaka yang sejak tadi ngomong sendiri. "Jen, ada Panca tuh di depan!"


"Hah? Panca? Cepet banget datengnya! Bilang aja Jena lagi tidur, Bun?" Jena malah menyuruh Bunda berbohong untuknya.


"Udah! Tapi Panca bersikukuh kalo kamu tidur, dia akan tetap nunggu sampai kamu bangun. Makanya Bunda bilang mau bangunin kamu!" ternyata Bunda sudah bohong duluan tanpa diminta.


"Bilang Jenaka lagi pusing, Bun!"

__ADS_1


"Udah. Katanya malah mau nganterin kamu ke dokter lagi! Ah udah sana ke depan! Jangan kebanyakan bohong! Hadepin, Jen. Hadepin! Dosa kamu gantungin hidup orang lama-lama!" omel Bunda.


"Iya, Bun. Iya... Jena udah jelek kan?"


"Kok nanya udah jelek? Nanya tuh kamu keliatan rapi apa enggak? Aneh kamu mah!"


"Biar Panca ilfeel sama aku, Bun. Ah rambutnya aku acak-acak aja! Biar aku kayak janda kampung sebelah. Janda yang enggak keurus karena sebentar lagi bakalan jadi janda pengangguran hiks..."


Bunda tak jadi meninggalkan kamar Jenaka saat mendengar perkataan terakhir Jenaka. "Tunggu, kamu bilang kalau kamu janda pengangguran? Kamu mau resign?"


Jenaka mengangguk. "Iya, Bun. Say goodbye sama jalan-jalan di Mall beli skincare. Saya goodbye sama spa dan pijat yang biasa kita datengin. Uang tabungan Jena cuma bisa paling lama membayar cicilan mobil 3 bulan. 6 bulan udah enggak mampu buat isi bensinnya."


"Ya jangan resign lah! Memangnya kenapa kamu tetap bekerja di kantornya Panca? Minta aja pindah bagian!" usul Bunda.


Mata Jenaka seketika berbinar. "Ih Bunda pinter banget! Ide bagus itu! Enggak jadi bikin penampilan acak-acakan ah! Harus rapi kalo masih mau kerja di perusahaan!"


"Ih kamu mah gelo, Jen! Udah sana ke depan! Kasihan Panca nungguin!"


"Iya Bun. Ini mau ke depan!" Jenaka pun berjalan ke depan dan memasang wajah lemas karena sakit. Padahal sejak kemarin Ia sudah petakilan adu games bareng Juna. Ternyata Mandala adalah obat segala sakitnya.


Panca terlihat mengkhawatirkan keadaan Jenaka. Ia langsung memberondong Jenaka dengan banyak pertanyaan. "Gimana keadaan kamu, Jen? Masih sakit?"


****

__ADS_1


__ADS_2