
Panca yang sedang menikmati hari liburnya terlihat kaget saat melihat berita di portal berita online. Berita tentang Kinara begitu ramai.
Hal yang membuat ramai adalah Mandala yang mengantar Kinara seakan membuktikan kalau gosip mengenai hubungan pernikahan Kinara dan Mandala yang selama ini dirahasiakan memang benar adanya.
Panca lalu teringat Jenaka. Bagaimana keadaan Jenaka? Tanpa pikir panjang, Panca mengambil kunci mobilnya dan melaju kencang ke rumah Mandala.
Rumah Mandala terlihat sepi. Panca memarkirkan mobilnya di depan rumah Mandala. Ia melongok ke dalam dan melihat pintu rumah dalam keadaan terbuka.
Panca pun masuk ke dalam rumah dengan halaman luas tersebut. Ia mendengar suara tangis sesegukan yang berasal dari dalam rumah. Ia kenal suara itu.
Panca pun berlari dan masuk ke dalam rumah. Di dalam, nampak Jenaka sedang memeluk tubuhnya sambil menangis sesegukan.
"Jen!" Panca berlari dan memeluk Jenaka. "Apa yang terjadi?"
"Panca... Huaa... " tangis Jenaka makin pecah dalam pelukan Panca. "Huaaaaa...."
Tangis Jenaka semakin pilu saja. Panca menahan rasa amarah dalam dirinya. Rasanya sakit melihat wanita yang dicintainya terlihat begitu sakit hati seperti ini. Melihat Jenaka yang ceria menjadi serapuh ini.
"Ceritakan apa yang sudah terjadi!" pinta Panca setelah Jenaka sudah tenang dan melepaskan pelukannya. "Tapi beritahu dulu dimana kotak P3K??"
Jenaka lalu menceritakan semuanya. Panca mendengarkan cerita Jenaka sambil mengobati luka bekas cakaran Kinara di leher Jenaka. Sekuat hati Ia menahan rasa amarah dalam dirinya.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit!" ajak Panca.
"Tapi disana pasti penjaganya ketat! Wartawannya banyak. Kita enggak bisa semudah itu masuk kesana." ujar Jenaka.
"Tenang saja, rumah sakit itu punya kerjasama dengan perusahaanku. Bersiap-siaplah!"
Jenaka dan Panca pun pergi ke rumah sakit. Benar yang Jenaka bilang, sudah banyak wartawan yang berkumpul di depan rumah sakit demi menunggu Kinara dan Mandala keluar untuk memberikan statement pada mereka.
Jenaka datang membawakan Mandala pakaian dan Hp milik Mandala tentunya. Siapa tahu Mandala butuh untuk baju ganti, tadi Mandala baru bangun tidur soalnya.
Dengan kekuasaan Panca sekarang, bukan hal sulit bagi Jenaka untuk bisa masuk ke dalam ruang VVIP tempat Kinara dirawat. Pintu ruangan Kinara terbuka sedikit, membuat Jenaka bisa mendengar apa yang dibicarakan di dalam.
Jenaka mengurungkan langkahnya untuk masuk ke dalam. Ada dokter dan perawat yang sedang memeriksa. Tak lama perawat terlihat keluar kamar, menyisakan Mandala dan Kinara yang masih belum tersadar. Mala dan Pak Sahrul sepertinya sedang pergi disuruh Mandala mengambil pakaian Kinara.
Jenaka mendengar percakapan Mandala dan dokter yang memeriksanya. "Apa Dok? Kanker Nasofaring* Stadium 4?"
__ADS_1
Deg....
Sama seperti Mandala yang kaget mendengar berita yang didengarnya. Jenaka juga sangat terkejut.
"Apakah istri saya bisa sembuh, Dok?" tanya Mandala setelah mampu mengendalikan dirinya.
Terdengar dokter menjelaskan tentang beberapa pengobatan yang akan dilakukan. Salah satunya adalah Kemoterapi.
"Aku enggak mau dikemo! Aku enggak mau! Aku enggak mau jadi jelek!" ujar Kinara yang ternyata sudah sadar dan mendengar penjelasan yang dokter berikan.
"Sayang, kita coba dulu ya. Semua demi keselamatan kamu!" ujar Mandala menenangkan Kinara.
Dokter lalu kembali memberi penjelasan pada Mandala dan Kinara sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Kinara.
Nampak Kinara menangisi nasibnya. Tangisannya begitu memilukan. Divonis menderita kanker stadium 4 merupakan berita buruk baginya. Apalagi salah satu pengobatannya adalah kemoterapi. Sementara bagi seorang model, tubuh adalah aset paling berharga.
"Jen, mau tetap disini atau mau pulang saja?" tanya Panca. Ia mendengar semua percakapan di dalam dan sejak tadi hanya melihat Jenaka berdiri diam di luar. Takut untuk masuk ke dalam.
"Aku..."
Mandala membukakan pintu. "Masuklah!" ternyata Mandala melihat Jenaka sejak tadi berada di luar bersama Panca. Ia terlalu fokus mendengarkan penjelasan dari dokter dan menenangkan Kinara sampai lupa pada Jenaka.
Jenaka diam saja tanpa suara. Ia melihat Kinara yang sedang menangis pilu meratapi penyakit yang diidapnya.
Kinara memang sering mimisan. Ia merasa karena kelelahan, makanya Ia mimisan. Ia tak menyangka kalau mimisannya selama ini karena perkembangan sel kanker dalam tubuhnya. Kini saat Ia menyadari, sel kanker dalam tubuhnya sudah stadium lanjut.
"Ini, Kak!" Jenaka menyerahkan baju ganti Mandala dan Hp miliknya.
"Makasih, Jen." ujar Mandala, Ia merasa tak enak sempat berpikir kalau Jenaka yang membuat Kinara terluka sampai mimisan. Ternyata mimisannya Kinara bukan karena Jenaka.
"Sayang, boleh tinggalkan aku dengan Jenaka?" pinta Kinara dengan suaranya yang lemah dan serak sehabis menangis.
Mandala agak ragu meninggalkan dua wanita yang habis berseteru berduaan dalam satu ruangan. Panca pun demikian, meski terjadi keributan pun Jenaka tetap pemenangnya. Ia hanya tak mau Kinara menyakiti hati Jenaka lagi.
"Please..."
Mandala tak kuasa menolak keinginan Kinara. "Baiklah." Mandala pun mengajak Panca keluar dari ruangan.
__ADS_1
Setelah pintu kamar ditutup, Jenaka pun berjalan mendekat dan duduk di kursi yang disediakan. "Maaf." ujar Jenaka tulus dari dalam hati.
Kinara tak menjawab ucapan maaf Jenaka. Ia diam. Entah apa yang sedang Ia pikirkan.
Sampai akhirnya Kinara pun mulai berbicara. "Gue tau, Mandala dan gue yang merencakan pernikahan lo. Gue sadar itu. Gue sama Mandala pernah mengalami masa sulit berdua karena hubungan kami berdua tidak direstui keluarga Mandala. Mandala pernah kabur dari rumah demi menentang keputusan orangtuanya,"
"Enggak seperti lo dan Mandala yang mendapat banyak restu. Gue dan Mandala malah dapat banyak rintangan. Susah payah gue gapai tangga karir gue bahkan sampai merelakan keperawanan gue demi karir. Mandala bahkan tetap menerima gue apa adanya. Dia tetap mencintai gue. Tak ada seorang wanita pun yang Ia cintai selain gue! Karena itu gue merencanakan pernikahan lo dan dia karena yakin Ia tak akan berpaling dari gue,"
"Gue masih harus menutup mulut bokap tiri gue yang mengancam akan menyebarkan pernikahan poligami Mandala ke publik. Gue butuh banyak uang untuk menutup mulutnya. Mandala tak bisa hidup susah, apalagi setelah tau temannya meninggal saat Ia sedang kabur dari rumah. Untuk melegalkan pernikahan, Mandala harus nikah sama lo. Kita berdua sepakat, Mandala akan menikahi lo dan nantinya lo akan Ia ceraikan. Gue harus menjadi satu-satunya istri Mandala, agar bokap tiri gue berhenti memeras dan mengancam gue lagi."
Kinara menghapus air matanya. "Mandala enggak tau kalau gue selama ini diancam. Gue sembunyiin semuanya dengan rapat. Gue pikir, Mandala hanya melihat gue seorang. Gue pikir Mandala hanya mencintai gue seorang. Namun Mandala mulai mengulur waktu untuk menceraikan lo dengan berbagai alasan. Lalu saat Mala mengirimkan foto kalian yang terlihat begitu mesra, disitu gue sadar kalau Mandala suka sama lo. Gue enggak mau itu!"
"Gue amat mencintai Mandala. Gue terpaksa tidur sama sutradara itu agar bisa tetap bersama Mandala di saat keadaan gue dan dia berada di titik paling bawah. Kita berdua dulu hanya hidup mengandalkan honor gue yang enggak seberapa. Hanya dengan jalan itu karir gue bisa melesat dan jadi terkenal. Kini, saat semuanya gue dan Mandala miliki termasuk pernikahan yang sah di mata hukum, gue.... umur gue... enggak akan lama lagi." Kinara kembali menangis dengan lirih.
Jenaka tak kuasa mendengarnya. Ia pun ikut meneteskan air matanya namun cepat-cepat menghapusnya.
"Boleh gue minta sesuatu sama lo?" tanya Kinara.
Jenaka mengangguk tanpa ragu, meski Ia tahu apapun permintaan Kinara pasti akan menyakiti hatinya nanti.
"Boleh gue minta lo kembaliin Mandala sama gue? Boleh gue minta lo kembaliin cinta Mandala yang udah dia kasih ke lo? Boleh gue egois sekali saja? Boleh... gue meninggal dalam pelukan Mandala?"
Tes...
Jenaka tak kuasa menahan tangisnya. Ia tahu kini saatnya untuk menyerah. Ia tahu kini saatnya Ia harus melepas mimpinya. Ia tahu ini saatnya Ia melepas cintanya.
Jenaka mengangguk dengan lemah. "Gue akan pergi dan melepaskan apa yang bukan milik gue. Maafkan keegoisan gue selama ini."
Jenaka pun pergi keluar dari kamar Kinara sambil menangis. Membuat Panca menebak, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Jen. Kenapa?" Panca mengejar Jenaka. Ia sudah tau, pasti Jenaka tersakiti lagi.
****
Note:
*) Kanker nasofaring adalah kanker yang menyerang jaringan di nasofaring. Kanker ini umumnya tumbuh sebagai kanker ganas. Di antara jenis kanker yang menyerang kepala dan leher, kanker nasofaring merupakan salah satu yang paling sering terjadi.
__ADS_1
Nasofaring merupakan salah satu bagian dari tenggorokan. Posisinya terletak di belakang rongga hidung dan di balik langit-langit mulut. Ketika terkena kanker nasofaring, seseorang dapat mengalami gejala berupa gangguan dalam berbicara, mendengar, atau bernapas. (Source: Alodokter).
Ayo yang bab ini di like juga ya? Kemarin yang minta Jenaka pergi siapa? Ayo vote ya sekarang 🥰