
Jika ada perumpamaan dijatuhkan dari langit ke tujuh, mungkin itulah pribahasa yang cocok untuk diberikan kepada Mandala. Hasrat sudah diujung, sudah menggunung dan siap disalurkan namun harus dihempaskan dalam jurang kegagalan yang dalam.
"Maaf Kak. Aku enggak bisa melanjutkannya lagi!" ujar Jenaka seraya menjauhkan tubuhnya dari Mandala.
Bukan Mandala namanya kalau semudah itu menyerah. Pantang Ia menyerah sebelum usahanya berhasil.
Mandala menyumpal mulut Jenaka dengan ciumannya yang panas menggelora. Sama seperti Mandala, Jenaka juga tidak mau menyerah. Ia tetap mau menyudahinya sekarang.
Jenaka menahan dada Mandala dan melepaskan pagutannya. Masih tak mau mengalah, Mandala memainkan tangannya. Memancing gairah dalam diri Jenaka. Menangkup buah sintal Jenaka yang kencang dan berisi tersebut.
Jenaka kembali menahan Mandala. Membuat Mandala melepaskan Jenaka dengan kesal.
"Kenapa lagi sih Jen? Mau bilang kamu lagi dapet kayak waktu itu? Aku tahu itu hanya alasan kamu aja! Aku denger kok waktu tadi subuh kamu lagi ngaji di kamar!" ucap Mandala penuh kekesalan.
Hasratnya sudah diubun-ubun, sedikit lagi bisa disalurkan eh malah ditolak sama Jenaka. "Kamu tau kan, dosa menolak suami!" Mandala akhirnya membawa nilai agama untuk memuluskan rencananya.
Jenaka mengangguk. "Aku tahu kalau aku akan berdosa, Kak. Dan aku siap menanggungnya." jawab Jenaka dengan mantap.
"Iya tapi kenapa kamu nolak aku? Kamu kan istri aku, Jen! Apa salah kalau aku meminta hak aku?" Mandala mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Hasrat tak tersalurkan membuatnya gampang tersulut emosi.
"Aku akan melakukan kewajibanku sebagai istri, Kak. Aku tahu apa kewajibanku. Aku akan menunaikannya." jawab Jenaka dengan tenang sambil membenarkan pakaiannya. Menaikkan kembali tali baju tidurnya yang tadi diturunkan Mandala.
"Kapan? Kenapa enggak sekarang aja. Saat aku... kita berdua menginginkannya! Aku tahu Jen kamu juga menginginkannya! Aku tahu kamu ingin berada dalam pelukanku. Aku tahu kamu ingin menyerahkan diri kamu! Tapi kenapa kamu mempersulitnya?"
"Tentunya tidak sekarang, Kak." Jenaka turun dari kitchen set.
"Kapan?" Mandala masih menunggu jawaban Jenaka.
Jenaka mengangkat wajahnya dan menatap Mandala. Pandangannya lurus ke dalam mata Mandala yang terlihat amat emosional.
__ADS_1
"Nanti, setelah Kak Mandala mencintaiku!" Jenaka serius dengan perkataannya. Ia mengatakannya tanpa gentar sedikitpun. "Apa Kakak sekarang sudah mencintaiku?"
"Aku-" Jenaka memotong perkataan Mandala, seperti yang biasa Mandala lakukan padanya.
"Belum kan? Kapan Kakak akan mencintaiku? Kapan Kakak akan membuka hati Kakak untuk aku? Kapan Kakak mau membagi hati Kakak, bukan hanya milik Kinara seorang?"
Mandala terdiam. Jenaka sungguh menyudurkan posisinya kali ini. Semudah itu membalikkan posisi, dari semula Mandala yang diatas angin menjadi Jenaka yang memegang kendali.
"Saat Kakak mencintaiku, lebih mencintaiku daripada Kinara maka kupastikan akan kuserahkan diriku sepenuhnya pada Kak Mandala. Hanya Kakak yang bisa menjawabnya kapan!" Jenaka mengambil Hp miliknya dan meninggalkan Mandala. Ia kembali ke dalam kamarnya sambil mengangkat wajahnya.
Ia menang. Ia berhasil mengalahkan Mandala satu skor. Melihat Mandala yang tak berkutik membuat rasa bangga menelusup dalam diri Jenaka.
Jenaka menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia duduk di lantai dengan lemas. Jantungnya bertalu amat kencang. Tangannya terasa amat dingin dan sedikit bergetar.
Ia kembali terbayang sentuhan demi sentuhan yang Mandala berikan pada tubuhnya. Tak pernah menyangka akan merasakan perasaan sebahagia ini.
Mandala menginginkannya! Mandala menciumnya! Mandala menyentuhnya dan membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Sampai....
Jenaka men-dial nomor panggilan tak terjawab dan dengan cepat dibalas dari ujung sana.
"Gimana, Jen? Berhasil enggak? Kamu bisa jaga gawang enggak, Jen?" tanya Bu Sri penuh semangat.
"Berhasil, Bu. Hampir aja Jena terbuai dan mengacaukan semuanya! Untung aja Ibu telepon!"
"Alhamdulillah kalo berhasil. Saya senang mendengarnya. Sengaja saya tunggu beberapa saat sebelum telepon kamu. Untung aja kamu tadi kasih tau saya saat Mandala mengetuk pintu kamar kamu. Jadi enggak terlambat saya."
"Huft... Hampir saja ya Bu. Jujur aja, telepon Ibu yang pertama aku tuh merasa bodo amat. Aku rela menyerahkan semuanya sama Kak Mandala. Tapi telepon Ibu yang kedua membuat Jena sadar. Jena akan kalah kalau Jena menyerah sekarang. Makasih banget, Bu. Makasih udah ingetin Jena!"
Dari ujung telepon sana Bu Sri tersenyum. "Iya, Jen. Saya akan pikirin rencana selanjutnya. Seharusnya kita masuk fase cemburu, tapi yang kamu ceritakan adalah teman-teman Genta yang hanya dianggap sebelah mata oleh Mandala. Andai ada cowok yang segalanya diatas Mandala. Kamu pasti akan memenangkan pertandingan ini, Jen!"
__ADS_1
Jenaka terlihat murung. "Memangnya Jena siapa, Bu?" Jenaka menatap tumpukkan pekerjaan yang sempat terhenti karena menjalankan rencananya, "Bu, Jena mau lanjut kerja lagi ya. Makasih semuanya ya, Bu!"
Jena menutup teleponnya. Ia bersyukur sempat mempersiapkan semuanya. Jena mengambil baju tidur Hello Kitty dan bra yang tadi Ia masukkan cepat-cepat ke dalam lemari.
Saat Mandala mengetuk pintu kamar, Jena bergerak cepat. Mencopot bra miliknya dan mengganti baju tidurnya dengan baju tidur satin bertali satu. Jena juga mengambil body butter dan mengoleskannya ke seluruh tubuhnya dengan cepat. Jena lalu mengirim pesan pada Bu Sri, mengabarkan kalau Ia akan menjalankan rencana mereka.
Jena duduk lemas di tempat tidur. Hatinya berkecamuk saat ini. Bayangan adegan panas antara dirinya dan Mandala kembali berkelebat dalam pikirannya. Saat Mandala kembali menyentuh aset miliknya. Saat Mandala begitu berhasrat ingin menidurinya.
Lalu saat Mandala tak bisa mengucap kata 'aku mencintaimu', Jenaka mulai dihinggapi kekecewaan. Apakah semua pengorbanannya sepadan?
Jika mengikuti egois dirinya, sudah sejak pertama Jenaka pergi meninggalkan rumah tangga penuh air mata ini. Jika Jena pergi dalam keadaan baru saja menikah, pasti Ia akan meninggalkan malu pada kedua orang tuanya. Setidaknya Ia pernah berstatus istri orang meski dalam waktu singkat, tidak membuat orang tuanya terlalu mengemban malu bukan?
Jika memang nanti Jena sudah tak tahan, Ia akan pergi. Namun Jena ingin Mandala mencintainya. Ingin ada namanya di hati Mandala. Agar semua pengorbanan dan air matanya selama ini tidak sia-sia.
"Sabar Jen... Sabar.... Akan ada akhir yang indah nantinya.... Sabar...." Jenaka mengusap dadanya, menguatkan dirinya sendiri dari cobaan berat hidupnya saat ini.
****
Jenaka sudah siap dengan presentasi yang ditugaskan padanya. Hari ini klien yang Mandala dapatkan dari Papa Prabu akan datang dan mendengarkan presentasi dari perusahaannya.
Jenaka melirik ke arah Mandala yang terlihat sangat jutek tanpa senyum sedikitpun. Mandala masih menjaga jarak dengannya setelah kejadian waktu itu.
Huft.... Beberapa hari lagi Kinara akan kembali. Jenaka merasa dirinya gagal, namun Bu Sri selalu meyakinkan kalau Ia berhasil.
"Inget ya Jen, nanti kamu harus presentasi dengan tenang dan meyakinkan!" pesan Genta untuk yang kesekiankalinya. Terlihat sekali Genta amat gugup sampai menasehatinya berulang kali.
"Iya, Kak."
Jam 9 pagi, mereka menanti klien dari salah satu perusahaan yang kantor pusatnya di Amerika. Klien potensial yang jika Mandala berhasil mendapatkan kontrak kerjasama, maka perusahaan Mandala akan sangat maju dan stabil dalam beberapa waktu ke depan.
__ADS_1
Jenaka menahan nafasnya menanti kedatangan tamu kehormatan perusahaannya. Akankah Ia mampu presentasi? Akankah Ia mampu mewakili perusahaannya?
****