
Jelita sudah biasa hidup susah. Jelita sudah biasa berjuang menghadapi kejamnya dunia.
Disaat kekasih tercintanya berselingkuh dan meninggalkannya saat dirinya sedang berjuang, Ia bahkan tak menangis. Namun kini...
Kebahagiaan rasanya datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Lamaran Panca yang mengajaknya ta'aruf tanpa melewati proses pacaran lagi, lalu kini ada dua orang wanita cantik yang menawarinya kerjasama.
Panca sudah memberitahunya by phone kalau ada teman-temannya yang akan mengajaknya kerja sama, salah satunya adalah Jenaka. Wanita yang menjadi cinta pertama dan mampu membuat Panca begitu patah hati.
Jelita sejak tadi memperhatikan Jenaka yang sibuk melihat-lihat barang yang Ia jual. Mencoba berbagai aksesoris dan terlihat ingin membeli semua barang di butiknya.
Jenaka itu wanita yang cantik dan senyumannya yang dihiasi dengan lesung pipi membuat Jelita teringat dirinya sendiri. Apa mungkin Panca mengajaknya ta'aruf karena melihat kemiripan dirinya dengan Jenaka?
"Ini bagus banget." puji Jenaka. "Aku suka ini. Boleh beli juga enggak sih yang ini? Aku telepon Kak Mandala dulu ah mau minta pilihin yang mana."
Jenaka lalu melakukan video call. Jelita sempat melihat laki-laki tampan yang menatap Jenaka dengan penuh cinta, memilihkan yang cocok dengan istri kesayangannya tersebut.
Tanpa sadar Jelita ikut tersenyum melihat kebahagiaan Jenaka. Ya, Jenaka memang tak lagi menjadi saingan cintanya, tapi apakah Panca sudah benar-benar melupakan Jenaka? Hal itulah yang membuat Jelita meragu.
Tawaran bisnis yang menggiurkan mulai diajukan oleh Melisa, sahabat Panca di Amrik. Panca pernah cerita sekilas tentang Melisa. Ada jasa Melisa dalam hubungan mereka saat ini.
"Jelita! Kok malah bengong sih?" Melisa menyadarkan Jelita yang asyik dengan pikirannya sendiri.
"Oh maaf. Aku begitu memikirkan tentang bisnis yang kalian tawarkan." kata Jelita berkilah. "Menurutku sih rencana yang bagus sekali. Kalian mau bekerja sama dengan produk rumahan kayak yang aku jalani ini sudah merupakan kebanggaan buatku. Eh kita duduk dulu yuk sambil aku buatin minum buat kalian."
Jelita pamit ke belakang dan tak lama keluar dengan membawa es teh manis dan cemilan berupa bakwan goreng. Rupanya Ibunya sudah menyiapkan dan mengunggu Jelita datang untuk membawa minuman dan cemilan ke depan.
"Maaf ya aku sampai lupa nyediain kalian minum saking fokusnya mendengarkan rencana bisnis yang akan kita buat." Jelita menghidangkan minuman dan cemilan di meja. "Ayo di makan. Maaf ya cemilannya seadanya."
"Wow ada bakwan. Pasti enak deh makan bakwan. Aku mau ya!" Jenaka tanpa sungkan mengambil bakwan yang disajikan.
"Ambil aja, silahkan. Memang ibuku udah buatkan untuk kallian." ujar Jelita.
"Hmm... Enak. Wah Panca suka banget nih makan bakwan. Kalau lagi main ke rumah dan Bunda masak bakwan pasti Panca doyan dan bisa bolak-balik makan." Jenaka mengambil cabe rawit dan memakannya bersama bakwan.
Entah mengapa saat mendengar cerita kedekatan Jenaka dan Panca membuat ada secubit hati Jelita yang terasa agak sakit. Bagaimana kalau Jenaka tetap menjadi pemilik hati Panca?
"Eh ada Panca!" ujar Jenaka tiba-tiba. Semuanya kini menatap ke arah Panca yang berdiri di pintu.
"Assalamualaikum!" ucap Panca. Ia membawa plastik berisi makanan dan memberikannya pada Jelita. "Sorry lama, tadi aku meeting dulu sebentar. Maklum, enggak ada sekretaris sekarang makanya belum rapi jadwal meetingnya. Sekretaris lama enggak ngajarin sekretaris baru dulu udah keburu resign sih!" sindir Juna.
__ADS_1
"Nyindir nih ceritanya? Maklumin ajalah, sekretarisnya langsung diajakin nikah dan diboyong honeymoon, enggak sempat deh pamit lagi ha...ha...ha..." Jenaka membalas sindiran Panca sambil tertawa-tawa. Terlihat sekali kedekatan diantara keduanya.
"Aku taruh ini di dalam dulu ya. Panca silahkan dicoba bakwannya. Aku ambilkan minum dulu ya." ujar Jelita.
"Nanti minumnya jangan manis-manis ya, Cinta." pesan Panca.
"Loh kenapa?" tanya Jelita bingung.
"Soalnya manisnya udah ada sama kamu. Takut kemanisan jadinya." gombal Panca.
"Nuaaajiiieesss! Garing lo Ca!" umpat Juna.
"Iyuuuhhh! Kenapa lo jadi rada alay gitu sih?" sahut Jenaka.
"Gelay, Ca! Gelay!" sahut Melisa.
Jelita tak kuasa tersenyum, kedua lesung pipinya terlihat begitu menghiasi wajahnya. "Aku ke dalam dulu."
Kini semua pasang mata menatap Panca. "Alay lo! Sejak kapan lo jadi alay kayak gitu?" tanya Melisa yang pertama kali.
"Loh? Namanya juga lagi jatuh cinta. Lo juga karena terlalu cinta sama Juna, bahkan satpam kompleknya lo deketin buat nanya jadwal Juna!" Panca membuka kedok Melisa di depan semuanya.
"Tunggu, maksudnya apa nih?" tanya Juna. Melisa melepaskan tangannya dari Panca yang mulai menahan tawanya.
"Jadi gini loh Jun... Aku... Aku kan harus tau jadwal kamu supaya bisa... bisa tau kapan waktunya tepat kalo mau ke rumah kamu gitu." Melisa menjelaskan dengan terbata-bata. Takut menatap Juna, Ia pun menundukkan kepalanya.
"Terus lo deketin satpam komplek cuma buat tau jadwal Juna doang? Huahahahaha...." Jenaka tertawa puas bersama Panca yang akhirnya tak kuat menahan tawa.
"Pejuang cinta sejati dia Jen!" Panca ikut menambahkan, membuat tawa Jenaka makin tak berhenti.
"Tuh satpam kan temannya Ayah. Pantas saja Ayah tadi interogasi lo panjang lebar, dia udh tau ternyata ha...ha...ha..."
Juna membuang pandangannya. Wajahnya memerah. Melisa kini menutupi wajahnya dengan tangan. Malu sekali rasanya.
Jelita yang mendengar obrolan mereka dari dalam datang sambil menahan senyum. Ia membawakan minuman untuk Panca.
"Sudah jangan digodain terus. Itu kan usahanya Melisa. Seharusnya diacungi jempol loh! Dia pemberani. Selama cara pendekatannya masih normal sih enggak masalah kayaknya. Eh maaf aku jadi ikut campur."
"Enggak apa-apa, Ta. Mereka memang kalau becanda suka kayak begini. Seru tau melihat yang satu malu-malu dan yang satu enggak tau malu ha...ha...ha..." Jenaka kembali meledek Juna dan Melisa.
__ADS_1
"Jen, kalo kamu ledekkin terus, aku tinggal pulang nih!" ancam Juna.
"Iya, aku juga! Juna naik mobil aku kan? Makanya aku ikut pulang!" Melisa ikut-ikutan mengancam Jenaka.
"No problemo! My honey bunny sweaty akan menjemput aku. Ah basi! Bilang aja kalian mau jalan! Pake pura-pura ngambek segala!" balas Jenaka.
"Kita-" Melisa tak membiarkan Juna menyelesaikan perkataannya.
"Memang mau jalan. Mau membahas rencana masa depan kita." Melisa menjawab dengan cepat.
"Cie... Gercep banget nih ceweknya. Kamu gimana Jun? Masih aja malu-malu!" ledek Panca.
"Tau ah! Ini rencana bisnisnya gimana?" Juna mengalihkan pembicaraan kembali membahas bisnis.
"Ya tinggal persetujuan Jelita aja. Aku sih setuju." ujar Melisa.
Kini semua menatap ke arah Jelita. "Aku... Setuju aja."
"Nah gitu dong!" jawab semuanya kompak.
"Kita lanjut eksekusi Juna dan Melisa. Kalian gimana jadinya?" kembali Panca mengincar juna.
"Gimana apanya sih Ca?" tanya Juna.
"Lo gimana sama Melisa? Suka juga kan?" sebelum Juna menjawab, Jenaka yang menyahut.
"Ca, tadi di mobil Melisa ngelamar Juna!"
"Jen! Ih pake dikasih tau sama Panca segala lagi!" omel Juna sambil menutup mulut kembarannya.
"Wah kemajuan nih! Terus diterima enggak sama Juna?" Panca kini bertanya pada Melisa.
Sorot mata Melisa menunjukkan kesedihan. "Belum dijawab."
"Ah gimana sih lo Jun?! Jarang-jarang loh ada cewek mau ngelamar cowok! Kurang apa sih Melisa, Jun?"
Kini semua mata menatap Juna.
"Justru bukan kurang tapi banyak. Banyak perbedaan diantara kita berdua yang sulit disatukan." jawab Juna, membuat Melisa semakin sedih saja. Suasana penuh tawa kini berubah jadi sunyi....
__ADS_1