
Setahun setelah Kinara meninggal, Mandala memutuskan untuk tetap tinggal di Singapore. Ia tak mau kembali teringat dengan kenangan manisnya saat di Indonesia. Terlalu manis, sampai rasanya begitu menyakitkan untuk diingat.
Mami Nina yang merubah keputusannya. Ia mau Mandala pulang, bahkan Mami Nina sampai jatuh sakit saking merindukan Mandala.
Papi Prabu meski awalnya marah karena Mandala menceraikan Jenaka pada akhirnya luluh setelah tau kalau Kinara sakit dan meninggal dunia. Ia sama seperti istrinya, menginginkan Mandala kembali pulang.
Mandala pun kembali ke Indonesia. Ia tak serta merta mencari keberadaan Jenaka. Bukan karena tak cinta lagi, namun begitu banyak rasa malu karena terlalu menyakiti Jenaka.
Sekuat mungkin Mandala menahan rasa rindunya terhadap Jenaka. Namun, semua pertahanannya runtuh dikala hari ini Ia melihat sekelebat bayangan seperti jenaka.
Mandala seakan tak putus asa terus-menerus mencari keberadaan Jenaka. Sampai akhirnya Ia melihat seorang gadis cantik dengan pashmina dan cardigan hitam yang berjalan menuju tempat parkir mobil.
Suasana Mall sabtu ini begitu padat. Bahkan, parkiran mobil yang biasanya selalu tersedia di dalam gedung, dialihkan ke gedung sebelah.
Ramainya suasana di dalam mall sampai di luar hujan pun tidak ada ada yang peduli. Hujan turun dengan lebatnya, membuat jenaka yang harus berjalan ke gedung sebelah mengurungkan niatnya. Ia berdiri sambil mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambil. Tetap berdiri menunggu hujan reda, atau masuk kembali ke dalam mall.
Berbeda dengan Jenaka, Mandala yang terbiasa berpikir kritis dan cepat mengambil keputusan untuk membeli payung di salah satu toko souvenir yang kebetulan tidak begitu ramai. Mandala mengambil sebuah payung dan membayarnya lalu mengejar jenaka.
Tak beda jauh dengan Jenaka, Mandala juga memarkirkan mobilnya di gedung sebelah dikarenakan parkir gedung Mall sedang penuh. Kalau dilihat dari gelagatnya, Jenaka sepertinya ragu untuk ke gedung sebelah karena hujan turun demikian derasnya.
Akhirnya, jenaka menyerah. Ia memutuskan untuk menerobos saja hujan yang turun agar bisa cepat pulang. Hujan di Jakarta adalah suatu hal yang dikhawatirkan. Bisa saja, hujan menyebabkan genangan dan berakhir dengan kemacetan parah. Jenaka tak mau itu.
"Bismillah!" Jenaka hendak menerobos hujan, Ia melangkahkan kakinya namun heran karena Ia tak terkena basahan.
Jenaka pun mendongakkan kepalanya. Ia sangat terkejut mendapati ada yang memayungkannya. Lebih terkejut lagi saat tau siapa yang memayunginya.
"Hi! Namaku Mandala. Boleh kita kenalan?"
Jenaka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang cowok tampan dengan tubuh tinggi dan tegap sedang memayunginya. Senyum memukau cowok tersebut berhasil menyihir Jenaka sampai Ia tidak bisa berbuat apapun.
Mandala Melambaikan tangan di depan wajah Jenaka, tujuannya agar jenaka segera tersadar dari kekagetannya.
"Bolehkan aku kenalan sama kamu wahai gadis cantik dengan lesung pipit paling menggemaskan di dunia ini?" kembali Mandala bertanya kepada Jenaka yang tak kunjung menjawabnya.
__ADS_1
Jenaka hanya bisa mengangguk tanpa suara. Tak ada yang keluar dari pita suaranya. Ia begitu terkejut, tak menyangka kalau Mandala berada di Mall ini dan bisa bertemu dengannya diantara sekian banyak pengunjung mal yang datang.
"Gimana kalau kenalannya sambil ngopi bareng?" ajak Mandala.
Kesadaran Jenaka pun mulai datang Ia melihat jaket Mandala yang basah karena memayunginya. "Jaketnya?"
Mandala menoleh, melihat jaketnya yang terkena tetesan air hujan dan terlihat tak peduli. Ia kembali bertanya pada Jenaka, "Kita masuk lagi ke Mall gimana?"
Tak mau Mandala terus kebasahan karena dirinya, Jenaka pun menurut. Ia pun kembali ke dalam Mall. Mandala melipat payung miliknya dan mengajak Jenaka masuk ke dalam salah satu cafe yang tak terlalu ramai pengunjung.
"Mau pesan apa?" tanya Mandala pada Jenaka saat mereka berada di depan kasir.
"Caramel frapuchino saja. Dengan whipped cream yang banyak!" jawab Jenaka tanpa sungkan.
"Pesan dua ya, Mbak. Sekalian cakenya juga dua!" ujar Mandala seraya membayar pesanan mereka.
"Kita duduk disana aja ya. Kayaknya nyaman banget." Mandala menunjuk dua buah sofa kosong di samping jendela besar. Jenaka menunduk dan berjalan menuju tempat yang Mandala tunjuk.
Jenaka menatap Mandala yang sedang menunggu pesanan mereka dan datang dengan membawa nampan berisi kopi dan cake. Jenaka membuang pandangannya, tak mau sampai mereka saling bertatapan. Bukan apa-apa, jantung Jenaka berdebar amat kencang. Hal yang sudah lama tak Ia rasakan lagi.
"Aku udah ngenalin diri aku, kamu siapa namanya?" tanya Mandala.
Jenaka tak kuasa untuk tidak tersenyum. "Kita sudah saling kenal." jawabnya.
Mandala membalas senyuman Jenaka. "Betul itu. Tapi cara kita berkenalan dulu itu salah. Aku akan memulainya dengan berkenalan yang benar. Aku Mandala. Nama kamu siapa?"
Senyum di wajah Jenaka menghilang, berganti ketegasan. "Jenaka. Namaku Jenaka. Berkenalan yang benar tidak akan merubah takdir buruk kita."
"Takdir buruk tercipta untuk menyempurnakan takdir baik. Lihatlah langit di luar." Mandala menunjuk langit yang kini sudah tidak menumpahkan hujan. "Sebelumnya gelap dan hujan lebat, perlahan awan hitam menghilang lalu hujan berhenti. Apa yang tersisa? Langit yang cerah. Sama seperti takdir buruk. Jika sudah menghilang awan buruknya, maka akan terlihat kalau ia menuju takdir yang baik."
Jenaka akhirnya kembali tersenyum. "Sok filosofis!"
"Bukan sok filosofis wahai Jenaka yang kalau tersenyum lesung pipimu sangat aduhai, meski perahu nelayan memiliki mesin kadang Ia harus mendayung dengan sampan hanya demi menikmati ombak tenang dan pemandangan bawah laut yang menakjubkan. Filosofis kadang diperlukan untuk menggantikan kata... lebay."
__ADS_1
Jenaka pun tertawa. Sudah bagus-bagus apa yang Mandala katakan eh ujung-ujungnya ngaku kalau dia lebay. "Bagus deh kalau ngaku kamu lebay!"
"Iyalah. Aku sih orangnya jujur. Saking jujurnya aku bahkan memuji kecantikan kamu yang sekarang berjilbab. Sama seperti saat kita pertama bertemu dulu."
"Kata siapa? Aku belum siap berjilbab. Aku hanya memakai pashmina ini untuk bersembunyi dari seseorang. Jangan bicara dalil tentang jilbab. Aku tahu dan aku paham. Aku akan pakai nanti, secepatnya." ujar Jenaka sebelum Mandala menyanggah ucapannya.
"Sama dong. Aku juga pakai jaket hodie ini untuk bersembunyi, tapi dari orang yang aku enggak kenal tapi sok kenal." Mandala teringat kalau jaketnya tadi basah. Ia pun membuka jaketnya dan menaruhnya di pinggiran sofa.
"Kenapa dibuka? Nanti orang yang kamu enggak kenal tapi sok kenal bisa menemukan kamu loh!"
"Enggak apa-apa. Toh aku juga sudah menemukan orang yang aku cari." Mandala mengambil es kopi miliknya dan meminumnya. "Diminum Jen!" tawarnya.
"Ah... Iya." Jenaka pun meminum minuman kesukaannya. Entah kenapa rasanya hari ini lebih enak. Apa karena yang memesannya beda?
"Kamu apa kabar?" Mandala pun mulai bersikap biasa. Berbasa-basi menanyakan kabar Jenaka.
"Baik. Aku... turut berduka atas meninggalnya Kinara." ujar Jenaka sungguh-sungguh.
Mandala mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam dompetnya. "Ini. Dari Kinara. Bacanya saat kamu di rumah saja."
Jenaka menerima amplop yang Mandala berikan. "Dari Kinara?"
Mandala kembali mengangguk. "Ia selalu ingat kamu di hari-hari terakhirnya. Ia memintaku memberikannya saat bertemu kamu nanti. Aku sengaja taruh di dompet, karena aku tak tahu kapan bisa bertemu kamu."
Jenaka memasukkan amplop pemberian Mandala ke dalam tas miliknya. "Akan kubaca nanti di rumah."
Lalu suasana pun berubah menjadi canggung. Mandala yang bingung mau bertanya apa dan Jenaka yang tak tau mau memulai percakapan dari apa.
****
Hi semua....
Udah vote Jenaka belum nih? Yuks vote yang banyak ya.
__ADS_1
Oh iya, aku mau ngenalin kalian sama karya salah satu author. Jangan lupa mampir ya.