
Juna merasa sepi seorang diri di rumah. Tak ada suara Jenaka yang suka bermanja ria pada Ayah. Tak ada harum masakan Bunda yang menyambutnya saat buka pintu. Tak ada juga Ayah yang suka ngedumel kalau kalah bermain catur.
Ya, Ayah dan Bunda ikut Jenaka dan Mandala berbulan madu ke Bali. Juna sebenarnya ingin ikut, namun rasa gengsi menahannya.
Juna membuka seragam loreng-loreng yang Ia kenakan lalu menaruhnya di mesin cuci. Ia berniat mandi lalu main PS untuk mengusir rasa sepinya.
Saat sedang memakai baju, sebuah notif masuk ke Hp miliknya. Dibacanya pesan yang Mandala kirimkan untuknya.
"Jun, aku udah transfer ke rekening kamu buat beli games terbaru dan jajan di mall. Have fun ya!"
Juna tersenyum, kakak iparnya itu memang baik dan tidak pelit kalau masalah uang. Tak salah Ia merestui hubungan Jenaka dan Mandala.
Juna membuka mobile banking miliknya dan terkejut. "Lima juta? Wah ini sih bukan buat beli games aja! Ke Mall ah!"
Juna mengambil jaket miliknya dan menuju salah satu mall di daerah pusat Jakarta. Niatnya adalah langsung ke lantai atas tempat biasa menjual CD games.
Pandangan Juna menyisir keadaan di dalam Mall. Banyak anak ABG dengan celana gemes yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Kelihatan sekali kalau anak kelas atas yang tidak perlu memikirkan token listrik yang berbunyi kalau belum diisi pulsa.
Juna memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ia lalu naik eskalator menuju lantai atas.
Matanya melihat seorang perempuan cantik dengan banyak tas belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Apa saja yang Ia beli sampai sebanyak itu?
Juna awalnya tak mau peduli, namun Ia melihat sesuatu. Ada seorang cowok yang berjalan di belakang cewek tersebut. Tingkah lakunya mencurigakan, nalurinya mengatakan itu.
Juna berhenti sesaat untuk memperhatikan gerak gerik cowok tersebut. Benar saja, perempuan dengan banyak tas belanjaan itu lengah dan menaruh Hp di tasnya yang tidak diresleting.
Cowok mencurigakan itu diam-diam mengambil Hp milik perempuan itu dan berjalan pergi. Juna menghampiri cowok yang merasa berhasil tersebut.
"Balikin tuh Hp!" perintah Juna.
"Hp? Hp apaan?" cowok itu pura-pura tidak tau apa yang Juna maksud.
Perempuan dengan banyak tas belanja mendengar keributan di belakangnya dan berhenti.
"Balikin Hp perempuan itu!" Juna menunjuk perempuan yang kini kebingungan.
"Hp?" perempuan itu memeriksa tas miliknya dan benar saja Hp miliknya sudah raib. "Copet!"
Cowok mencurigakan itu pun kabur. Dengan sigap Juna mengejarnya. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Juna dan cowok pencopet itu.
Juna yang terbiasa dengan latihan militer mengejar pencopet yang kabur lewat eskalator. Beberapa orang ditabraknya. Juna menarik orang tersebut agar tidak jatuh.
Pencopet itu berlari makin kencang. Juna tak mau kalah, Ia mengeluarkan kemampuan larinya saat di lapangan lalu melompat dan bruuukkk ....
__ADS_1
Juna menendang punggung orang itu sampai jatuh terjerembab. Security yang mendengar keributan mulai berdatangan. Mereka langsung mengamankan pencopet tersebut, sementara Juna memungut Hp yang dijatuhkan.
"Tolong diproses, Pak! Dia sudah mencopet Hp milik perempuan di atas!"
Pencopet itu berusaha melawan namun cengkraman polisi begitu kuat.
"Mana pencopetnya? Tangkap pencopet itu, Pak!" ujar perempuan dengan banyak tas belanjaan di tangannya. "Mana Hp saya?"
"Nih!" Juna memberikan Hp yang Ia ambil dari pencopet tersebut dan memberikannya pada perempuan tersebut. "Periksa dulu, bener punya lo apa bukan?!"
Perempuan tersebut mengambil Hp yang Juna berikan lalu memeriksanya. "Benar ini punya gue. Makasih."
"Maaf Mas dan Mbak, tolong ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan!" pinta kepala security yang sudah turun tangan langsung menangani masalah ini.
Dengan malas Juna dan perempuan itu mengikuti security. Terlihat perempuan itu menelepon seseorang yang tak lama datang untuk membawakan barang belanjaannya.
"Dasar orang kaya!" batin Juna.
"Baiklah, bisa saya tanya nama mas dan mbaknya?" ujar kepala security sambil membuat catatan berita acara hari ini sebelum melimpahkannya pada pihak berwajib.
"Nama saya Arjuna." jawab Juna.
"Nama saya Melisa." jawab perempuan itu.
Kini bahkan dari pihak kepolisian datang. Kebetulan polisi tersebut mengenal Juna karena sering bertemu dalam bertugas.
"Wah ada siapa ini? Bro Juna! Ngapain Bro disini? Pasti habis membela kebenaran dan keadilan deh!" sapa polisi yang mengenal Juna.
"Biasa, kayak film Conan dimanapun gue berada selalu ada kasus ha...ha...ha..." Juna dan polisi tersebut berjabat tangan.
Melisa memperhatikan keakraban kedua orang di depannya. Melisa sudah bisa menebak kalau Arjuna yang menolongnya adalah aparat negara. Kemampuannya mengejar pencopet, menolong orang yang ditabrak di eskalator dan melompat sambil menendang punggung pencopet dilakukan dengan profesional.
Melisa merasa kagum melihat kehebatan Juna. Punggungnya yang bidang dan wajahnya yang terasa pernah Ia kenal namun dimana Ia lupa, menambah daya tarik tersendiri.
"Permisi!" semua orang kini menoleh ke asal suara.
Panca datang dengan tergesa setelah menerima telepon dari Melisa.
"Juna?"
"Panca?"
Melisa kini tambah terkejut. Siapakah Juna ini? Kenapa Ia begitu terkenal? Tadi dikenal oleh Pak Polisi, dan kini dikenal oleh Panca?
__ADS_1
"Loh lo ngapain Jun disini?" tanya Panca.
"Lo sendiri ngapain disini, Ca?" tanya balik Juna.
Panca menghampiri Melisa. "Gue dateng disuruh dia."
"Oh... Pacar lo? Cepet banget move on!" sindir Juna.
"Move on? Enggaklah! Melisa ini sahabat gue! Dia di Indonesia lagi enggak ada keluarganya makanya minta gue dateng. Lo sendiri ngapain disini?" tanya Panca.
"Juna yang nolong gue Ca dari kecopetan." jawab Melisa.
"Ah yang bener? Wah sempit sekali dunia ini!" ujar Panca sambil tersenyum.
"Kamu kenal dia, Ca?" akhirnya Melisa memberanikan diri bertanya pada Panca.
"Ya jelas kenal. Juna ini saudara kembarnya Jena. Kamu kenal kan Jena, mantan tunangan aku yang kini udah menikah dengan Mandala?" sindir Panca.
"Jena? Jenaka? Serius? Pantas mukanya enggak asing. Kamu tuh Jenaka versi laki-laki ya?" Melisa sangat terkejut mendengarnya.
"Iya. Gue saudaranya Jena, masih lama enggak sih Ca? Niat gue kesini cuma mau beli CD games eh malah berurusan sama polisi!" keluh Juna.
"Udah, tadi gue baru aja tanya. Proses selanjutnya biar diurus sama kepolisian." jawab Panca.
"Yaudah kalo gitu gue cabut dulu!" Juna lalu pamit pada polisi yang Ia kenal, saat hendak pergi Melisa memanggilnya.
"Juna, boleh gue traktir lo? Itung-itung buat ngucapin terima kasih sama lo?" tanya Melisa penuh harap.
"Terima kasih lo udah gue terima. Enggak perlu traktir segala. Gue duluan!" Juna menolak ajakan Melisa dan pergi ke toko games.
Melisa tersenyum, kini Ia melihat Panca penuh arti.
"Kenapa lo liat gue kayak gitu? Gue ninggalin meeting demi ngurus lo doang nih!" gerutu Panca.
"Boleh minta nomor Hp Juna? Boleh minta alamatnya juga sekalian?" tanya Melisa dengan pandangan penuh harap.
"Tunggu, jangan bilang kalo lo naksir sama Juna? Lo baru kenal dia, Mel!"
Melisa tersenyum malu-malu. "Dia keren banget, Ca. Gue mau deketin dia ah! Lo mau bantuin gue kan?"
Panca mengerutkan kedua alisnya. "Dia kembarannya Jenaka. Lo mau jadi saudara iparnya Jena gitu?"
"Enggak masalah. Kayaknya gue jatuh cinta deh sama Juna dalam pandangan pertama. Please bantu gue ya Jun!"
__ADS_1
****