Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Pemuda Berselimut Dusta


__ADS_3

"Loh mau kemana kamu?" tanya Mami Nina saat melihat Mandala membawa bantal dan guling favoritnya keluar dari kamar.


"Ya mau tidur, Mi."


"Dimana? Bukannya kamar kamu disana? Jangan bilang kamu enggak tidur sekamar sama Jenaka?!" Mami mulai menaruh curiga akan pernikahan Mandala dan Jenaka.


"Justru Mandala mau tidur di kamar Jena, Mi. Jena enggak mau tidur di kamar Mandala. Jena bilang enggak suka dan susah tidur kalau disana. Kamar Mandala lebih sering kosong, Mi. Kita berdua tidurnya di kamar Jena." Mami Nina tak menyadari maksudnya sering kosong ya karena Mandala menginap di rumah Kinara.


"Oh... Mami pikir selama menikah kalian tidak satu kamar!"


"Ya enggaklah, Mi. Mana mungkin Mandala mau menyia-nyiakan kesempatan sekamar sama Jena. Mandala tidur duluan ya, Mi!" Mandala mencium pipi Mami Nina lalu masuk ke dalam kamar Jenaka.


Di dalam kamar Jenaka sedang memakai skicare sebelum tidur. Jenaka melihat guling dan bantal yang Mandala bawa.


"Kayak habis diusir, pake bawa bantal guling segala!" ledek Jenaka.


"Biarin!" Mandala menaruh bantal dan gulingnya di atas tempat tidur, membuka selimut lalu ketika hendak menaruh tubuhnya cepat-cepat Jenaka mencegahnya.


"Tunggu dulu, Kak!"


"Kenapa?" Mandala menghentikan perbuatannya.


"Kakak enggak sholat isya dulu?" Jenaka berjalan menghampiri Mandala.


"Males!"


"Ih kok gitu! Masa sih imamku enggak sholat? Ayo dong sholat dulu!" bujuk Jenaka sambil menggoyang-goyangkan lengan Mandala.


Mandala memutar bola matanya. "Iya. Aku sholat!"


Mandala kembali keluar dari kamar Jenaka hendak mengambil sarung di kamarnya. Ia berpapasan kembali dengan Mami Nina yang baru mengambil air minum.


"Loh kok keluar lagi? Hayo mau pindah ke kamar kamu ya? Ketahuan ya kalau enggak satu kamar?!" Mami Nina merasa kecurigaannya semakin berujung pada kebenaran.


"Apa sih Mam? Curigaan aja! Aku tuh mau ngambil sarung buat sholat. Disuruh sholat isya dulu sama Jena sebelum tidur!" Mandala membuka pintu kamarnya. Mencari sarung di lemari pakaian paling bawah. Sudah lama sekali Ia tidak pakai.

__ADS_1


Mami Nina mengikuti Mandala ke dalam kamarnya dan melihat Mandala sedang mengambil wudhu di kamar mandi. Ternyata Mandala tidak bohong.


Seulas senyum mengembang di wajah Mami Nina. Ternyata menikahkan Mandala dengan Jenaka adalah keputusan yang tepat. Jenaka bisa menuntun Mandala ke jalan yang benar.


Mandala membawa sarung yang tadi Ia ambil dan masuk ke dalam kamar Jenaka. Mami Nina menutup pintu kamar Mandala dan kini yakin kalau Mandala memang sekamar dengan Jenaka.


"Andai aku belum sholat, pasti aku mau deh ikut sholat berjamaah sama Kak Mandala!" ujar Jenaka saat melihat Mandala menggelar sejadah.


Mandala mengacuhkan perkataan Jenaka dan mulai sholat. Sejak dekat dengan Mandala, Ia mulai melaksanakan sholat yang sudah lama Ia tinggalkan. Mandala mengakui, dekat dengan Jenaka membawa pengaruh baik untuknya.


Jenaka menatap penuh cinta pada laki-laki tampan di depannya. Terlihat amat khusyuk dalam menunaikan sholat. Ketampanannya semakin bertambah kalau lagi sholat begini.


"Jangan dilihatin terus! Aku tuh udah ganteng! Baru sadar ya kalau aku tuh seganteng itu?!" sindir Mandala sambil melipat sajadah bekas sholatnya.


Mandala lalu ikut bergabung bersama Jenaka yang sedang membaca buku di tempat tidur. "Baca apa sih?" Mandala mengangkat sedikit buku Jenaka untuk melihat judulnya. "Novel?"


"Iya."


"Novel dewasa atau remaja?"


"Hmm... Kalau yang aku baca sekarang, novel dewasa. Aku apa aja sih aku suka baca. Mau yang remaja atau dewasa aku suka." Jenaka mulai tidak konsentrasi membaca sejak diajak ngobrol dengan Mandala.


Jenaka kini menutup buku miliknya. Percuma. Sudah hilang daya tarik dan daya khayalnya.


"Aku kalau baca buku kuliah atau yang penuh pengetahuan juga ngantuk, Kak. Kalau baca bukunya menarik lalu ceritanya masih masuk akal bakalan aku baca sampai habis. Buku anak-anak juga aku suka."


"Oh ya? Coba ceritain sama aku buku anak-anak yang kamu suka!"


"Aku jadi kayak dongengin Kakak dong?!"


"Iyalah! Ayo cepetan! Daripada kamu baca untuk diri kamu sendiri lebih baik kamu ceritain ke aku! Dapet pahala lagi!"


Kalau sudah beradu pendapat dengan Mandala, Jenaka suka kalah. Akhirnya sudah bisa diduga. Ia pun mulai mendongeng untuk Mandala.


"Judulnya, Pemuda Berselimut Dusta."

__ADS_1


Mandala yang baru saja memejamkan matanya langsung protes pada Jenaka.


"Judul apaan kayak gitu? Pasti nih isinya sindiran! Kamu mau nyindir aku ya?" tebak Mandala.


"Ih enggak ada kerjaan banget nyindir Kak Mandala. Yaudah kalo enggak mau aku ceritain!"


"Iya... iya... Awas ya nyindir aku!"


"Iya bawel! Aku lanjutin lagi ya ceritanya,"


"Di suatu desa, hiduplah seorang pemuda tampan yang hidup dengan bergelimpangan harta dan sangat terkenal di kalangan para gadis."


"Tuh kan nyindir aku!" Mandala kembali memotong cerita Jenaka.


"Aku tinggal tidur ya Kak! Aku enggak mau ceritain Kakak lagi!" ancam Jenaka yang membuat Mandala mengalah.


"Iya... iya... Aku diem. Udah lanjutin lagi!"


Jenaka lalu melanjutkan ceritanya. "Pemuda tersebut memiliki satu selendang sakti. Selendang yang bisa mendatangkan rejeki dan kesaktian pada pemiliknya. Selendang yang akan menuntunnya menemukan jodoh yang terbaik. Pada suatu hari, sang pemuda bertemu dengan seorang gadis yang hendak jatuh ke dalam jurang. Gadis itu menjerit minta tolong,"


"Tolong.... Siapa saja tolong aku!" Jenaka mempraktekkan adegan minta tolong dengan akting yang meyakinkan.


"Pemuda itu mendengar suara jeritan minta tolong lalu menghampiri tepi jurang. Pemuda itu melihat seorang gadis yang sedang berpegangan pada sebuah dahan pohon. Pemuda itu ingin menolongnya, tapi dengan apa? Tak ada tali atau ranting panjang, sementara gadis itu semakin tak kuat bertahan menahan beban tubuhnya,"


"Hanya selendang sakti miliknya yang mampu menolong gadis tersebut. Pemuda itu ragu, sekali memberikan selendangnya maka mungkin saja gadis itu adalah jodohnya. Hal yang membuat pemuda itu tambah ragu adalah wajah sang gadis yang tidak terlalu cantik. Bukan tipikal pemuda itu deh pokoknya."


"Terus enggak ditolongin gitu cuma karena masalah wajah aja?" Mandala ikut berkomentar. Rupanya Ia mendengarkan cerita Jenaka dan ikut menjiwai.


"Sabar dong, Kak!" omel Jenaka, Ia pun melanjutkan lagi ceritanya. "Hati pemuda itu bimbang, namun sisi kemanusiaannya membuat Ia menolong gadis itu dengan melemparkan selendang sakti miliknya. Gadis itu selamat dan jatuh cinta pada pemuda itu pada pandangan pertama. Entah karena pengaruh selendang sakti atau karena merasa berhutang budi, yang jelas cinta gadis itu sangat mendalam,"


"Waktu pun berlalu, pemuda itu kini sudah punya kekasih. Suatu hari pemuda itu pulang dari merantau dan bertemu gadis yang pernah Ia tolong. Pemuda itu berdusta dan berpura-pura tidak mengenali gadis tersebut. Ia mengacuhkan gadis itu dan lebih memilih kekasihnya yang cantik, menyakiti jati gadis itu teramat dalam sampai akhirnya selendang sakti miliknya perlahan pudar dan menghilang di tangannya. Kehidupannya pun berubah 180⁰. Ia kehilangan pekerjaan dan ditinggal oleh kekasihnya tersebut. Saat terpuruk, Ia teringat gadis yang pernah Ia tolong dan ingin meminta bantuannya,"


"Ia mencari keberadaan gadis tersebut. Ternyata gadis tersebut adalah seorang putri kerajaan yang amat kaya raya. Sayangnya, putri tersebut sudah tak mau mengakui pemuda itu lagi. Ia sudah terlalu sering mendengar kata penuh dusta dan tatapan merendahkan dari pemuda tersebut. Kini, pemuda yang tampan tersebut hanyalah seorang pengemis yang sudah kehilangan ketampanannya. Sampai akhir hidupnya Ia terus menyesali setiap perkataan dusta yang Ia ucapkan. Selesai deh ceritanya!"


"Hoam! Aku ngantuk, Jen! Makasih ceritanya. Aku tidur dulu ya!" Mandala pun tertidur pulas.

__ADS_1


"Huh! Padahal aku lagi nyindir eh Kak Mandala enggak peka! Dasar laki-laki penuh dusta!" gerutu Jenaka. "Udah ah ikutan tidur aja!"


****


__ADS_2