
"Assalamualaikum, Ca!" sapa Melisa yang baru datang. Tak ada cipika-cipiki yang biasa Ia lakukan kala bertemu Panca atau teman-teman yang lain.
"Waalaikumsalam. Tumben ngucap salam!" sindir Panca.
Melisa duduk di depannya dan memesan segelas hot coffee tanpa gula.
"Kata Juna kalau ketemu orang harus ngucap salam. Dan... mulai sekarang, kalau gue ketemu lo dan yang lain enggak akan cipika-cipiki lagi. Bukan mahram katanya!" jawab Melisa.
"Huahahahahaha... Asli lo bener-bener berubah! Cinta banget lo sama Juna?" sindir Panca.
Melisa mengangguk, matanya membayangkan Juna yang pasti nampak gagah dengan seragam loreng-loreng miliknya. Ototnya pasti menyembul di lengannya yang kekar.
"Woy! Mikir apaan lo?!" Panca membuyarkan lamunan Melisa.
"Mikirin Arjunaku. Ca, please bantu gue dong! Gue suka pake banget sama Juna. Sampai mimpiin dia segala. Ya ampun, baru kali ini gue sesuka itu sama cowok. Lo tau enggak, gue tuh sampai mau makan di pinggir jalan hanya demi Juna seorang!" cerita Melisa penuh semangat.
"Serius? Bukannya kata lo enggak higienis? Enggak sehat? Minyaknya hitam dan penyajiannya enggak oke?" Panca menyebutkan segala keluh kesah Melisa kalau diajak makan di pinggir jalan.
"Ya... Itu sebelum gue tau, kalau rasa pecel ayam tuh enak banget. Pedes sambelnya. Ayamnya garing dan enak. Dimakan panas-panas bikin gue makan nasi tanpa sadar, tau-tau udah habis nasi di piring. Ah... Andai gue bisa ngajak Juna jalan lagi!"
Sejujurnya Melisa bingung mau pakai cara apa untuk membuat Juna mau diajak jalan ke luar lagi. Alasan membalas budi, sudah. Alasan traktir makan, juga sudah. Apalagi dong?
Panca menghela nafas panjang. "Nasib lo enggak beda jauh sama gue. Gue juga bingung gimana cara ngajak Jelita jalan lagi."
"Jelita? Siapanya Jenaka?" tanya Melisa penasaran.
Panca lalu menceritakan tentang Jelita dan bagaimana perkenalan mereka pada Melisa. Mendengar kisah Panca, Melisa tersenyum-senyum saja.
"Cinta datang sama kita tanpa terduga ya Ca! Tenang, gue akan bantu lo! Tapi lo bantu gue juga!"
"Bantu apaan? Kalo Juna ya bisa lah gue atur pertemuan lo. Tapi lo beneran bisa bantuin gue?" Panca tak yakin bisa bekerja sama dengan Melisa.
"Apapun. Apapun demi Juna. Gue bakal bantu lo! Kasih gue nama pengantin yang kemarin lo datengin dan acara jam berapa. Itu gedung punya bokap gue. Akan gue cari tau cara ngedeketin lo sama Jelita!"
"Wow! Ini lah the power of orang kaya!" Panca menyebutkan nama teman Jelita yang kemarin Ia datangi resepsinya.
Melisa pun beraksi, Ia menelepon beberapa orang dan akhirnya setelah menunggu selama setengah jam Ia pun tersenyum.
__ADS_1
"Nomor Hp Jelita udah gue dapetin. Lo tunggu sebentar. Gue baal bikin lo ketemuan sama Jelita sore ini di Taman Lenteng Agung jam 5 sore. Lo juga harus bikin gue ketemuan sama Juna sore ini. Dia lagi shift pagi, tadi gue tanya sama satpam kompleknya kalau dia berangkat subuh."
Panca mengernyitkan keningnya, menatap Melisa dari atas ke bawah. "Gila lo ya! Lo beneran sampai punya nomor Hp satpamnya Juna? Anjiiirr! Serem banget!"
"Udah ah jangan berisik! Udah sana hubungin Juna, pokoknya lo harus bisa membuat Juna ketemuan sama gue di Mall!" ancam Melisa.
"Ya gimana caranya?" tanya Panca bingung.
"Lo mau ketemuan sama Jelita enggak?" ancam balik Melisa.
"Ya mau dong!"
"Ya udah lo pikirin caranya! Masa gitu aja mesti gue ajarin!"
Melisa dan Panca pun sibuk mengatur strategi bagaimana membuat janji nanti sore.
"Done!" Melisa mengirimkan sebuah foto pada Panca. "Bilang aja itu punya sahabat lo yang lagi pergi. Udah gue payment tinggal lo ketemuan aja sama Jelita."
"Tunggu, maksud lo apa sih?" tanya Panca tak mengerti.
Melisa menghela nafasnya, menjelaskan ke Panca kadang harus pelan-pelan, meski ganteng dan pengusaha sukses kadang ada hal-hal tertentu dimana Panca agak lola.
"Wah... Ide lo emang brilian banget. Oke, gue kesana!" Juna begitu bersemangat hendak langsung pergi tapi Melisa menahan langkahnya.
"Nanti dulu! Enak aja lo mau pergi! Urusan Juna gimana?"
Panca menepuk keningnya, lupa dengan tugasnya sendiri. Mendengar ingin ketemu Jelita, Ia jadi lupa segalanya.
"Lo sekarang ke Mall aja di samping. Lo beli CD games yang nanti gue tulis namanya. Nanti sore lo ketemuan sama Juna di Mall Margocity Depok. Dia pulang kerja lewat sana katanya. Bilang aja gue ada urusan bisnis. Gimana?"
"Setuju! Tapi gue bareng sama lo ya!" ujar Melisa.
"Ngapain bareng sama gue? Mobil lo rusak?"
"Alibi. You know alibi? Nanti berhenti sebentar di tukang helm. Gue mau pulang diantar Juna." Melisa senyum-senyum sendiri dengan rencananya.
"Ih licik banget lo! Yaudah ayo! Gue kan mesti anterin lo dulu baru puter balik ke Lenteng Agung!"
__ADS_1
****
Melisa masuk ke dalam sebuah butik. Ia mengganti baju minimnya dengan blouse lengan panjang dan celana panjang. Tak lupa sebuah scarf Ia lilitkan di lehernya. Menambah cantik penampilannya.
"Hmm... Jadi Juna suka games. Oke, aku akan minta sama Papi mengirim games terbaru untuk Juna." batin Melisa.
Senyumnya mengembang kala melihat seorang cowok dengan celana loreng dan jaket hitam yang menutupi seragam lorengnya datang mendekat. Cowok tersebut mengernyitkan keningnya melihat Melisa.
"Assalamualaikum, Juna!" sapa Melisa dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Waalaikumsalam. Kok lo yang datang? Panca mana?" Juna celingukan mencari keberadaan Panca.
"Panca nitipin ke aku. Tadi kebetulan aku mau kesini pas ketemu sama Panca. Dia bilang mau ketemu kamu tapi sudah terlanjur janji sama cewek incarannya."
"Panca punya cewek yang diincar? Udah move on dia dari Jena? Cepat sekali!"
"Ya namanya juga cinta. Datang tiba-tiba. Bisa saja cinta pada pandangan pertama." sindir Melisa.
"Yaudah mana titipannya?" tanya Juna tanpa basa-basi.
"Ya kamu traktir aku dulu dong, aku kan udah meluangkan waktu untuk bertemu kamu!"
"Traktir? Ogah ah! Lo kan makanannya yang mahal! Mana sanggup gue!" tolak Juna.
"Yang murah juga enggak masalah kok! Kemarin aja aku ikutan pas kamu makan pecel ayam! Ternyata pecel ayamnya enak! Aku suka."
"Yaudah gue trakir! Jangan nyesel ya!" ancam Juna. "Eh tapi gue enggak bawa helm! Lo bawa mobil kan? Ketemuan di tempatnya aja!"
"Aku enggak bawa mobil. Tadi nebeng sama Panca sampai disini. Tapi aku punya helm kok!" Melisa mengangkat paper bag besar di tangannya. Isinya adalah helm baru bergambar Hillo Kitti.
"Kok bisa? Lo sengaja beli ya?"
"Jangan salah paham dulu. Tadi pas di jalan aku lihat helm ini dan berhenti. Aku suka motifnya. Kayaknya aku sama Jena ditakdirkan bersahabat deh!"
Kening Juna makin bekerut. "Bukannya gara-gara dia Jena dan Panca akhirnya putus?" batin Juna.
"Yaudah ayo! Motor gue di parkiran!" ajak Juna.
__ADS_1
"Yess!" Melisa berseru dalam hati. Akhirnya berhasil jalan berdua sama Juna. Untung saja Ia sudah membeli baju baru yang cocok untuk naik motor. Baju lamanya sudah Ia minta pihak toko mengirimkan ke rumahnya. Enaknya punya anak Papi, bisnisnya banyak termasuk toko baju yang tadi Ia pilih.
****