Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Rasain!


__ADS_3

Juna baru kali ini diajak ke restoran kalangan atas kayak gini. Masuk ke dalam restoran saja sudah disambut dengan pelayan yang tersenyum lebar dengan sikap ramah.


Juna jadi membandingkan saat masuk ke dalam warteg. Tak ada yang menyambut, tak ada yang membawakan menu. Hanya cukup pilih dan bayar.


"Kita duduk disana aja ya!" Melisa menunjuk sebuah meja yang menghadap jalanan.


Juna mengangguk dan mengikuti langkah Melisa.


Pelayan lalu membukakan kursi untuk Melisa dan Juna duduk. Pelayan juga memberikan buku menu untuk Juna dan Melisa lihat.


"Kamu mau apa?" tanya Melisa.


"Yang enak yang mana?" tanya balik Juna.


Melisa membolak-balik buku menu dan menunjuk sebuah menu. "Kalau ini gimana?"


Karena tak tahu mana yang enak, Juna ikut saja. "Ya udah itu saja!" Juna menutup buku menu dan meletakkannya di atas meja. Tak lagi dilihatnya, tidak mengerti dan juga tak berniat memesan lagi. Pasti harganya mahal. Uang dari Mandala hanya tersisa 2 juta saja, 3 juta sudah Ia belikan CD games kemarin.


Melisa memesankan dua buah menu yang sama untuk dirinya dan Juna. Sambil menunggu pesanan datang, Melisa mengajak ngobrol Juna.


"Gue masih enggak nyangka loh kalau lo tuh kembarannya Jenaka. Kulit kalian berbeda. Wajah kalian agak mirip sih, bukan kembar identik ya?" tebak Melisa.


"Sok tau! Kita berdua kembar identik. Bedanya, Jena tuh terawat karena anak perempuan yang Bunda jaga sepenuh hati. Kalau gue, ya lo tau sendirilah bagaimana pendidikan sebagai militer?! Siang dijemur, merangkak dalam kubangan lumpur, belum lagi harus lari sambil bawa tas berat. Gimana enggak makin gosong gue? Jena sih enak kerjaannya di dalam AC terus!"


"Eh tapi wajar sih kalau laki-laki kulitnya agak gelap. Eksotis. Kalau mau lebih bersih aku punya cream yang membuat kulit jadi lebih bersih dan ber-" belum selesai Melisa bicara, Juna sudah memotong ucapannya.


"Enggak usah, makasih. Lo mau jualan sama gue? Salah orang, Non. Duit gue mah enggak banyak." potong Juna.


"Oh... Lo jangan salah paham. Gue enggak bermaksud jualan. Gue bakalan kasih buat lo, free alias gratis-" lagi-lagi Juna memotong perkataan Melisa.


"Makasih banget, tapi kayaknya enggak usah deh. Nanti kalau gue pake bukannya putih mulus malah jadi belang. Terik matahari itu udah jadi kawan gue. Sehat malah, jadi daripadi lo buang-buang uang untuk kasih gue free, lebih baik buat yang lain aja!"


Melisa terdiam. Baru kali ini Ia merasakan rasanya ditolak berkali-kali dalam hidupnya. Apapun yang Ia tawarkan tak pernah diterima sekalipun. Benar-benar laki-laki yang memiliki prinsip!


Melisa bisa melupakan Panca dan membersihkan nama Panca dari dalam hatinya secara bersih hanya karena mengenal Arjuna. Panca selalu mengikuti apa yang Ia katakan, karena itu Melisa menyukainya.


Kalau Juna...


Melisa merasa tertantang, ini baru dinamakan cowok keren. Punya prinsip. Iya bilang iya, tidak juga bilang tidak. Bukan cowok yang mencla-mencle mengikuti kemauan perempuan tanpa sanggup menolak.


Tak mau suasana semakin cangguh, Melisa mengajak Juna kembali mengobrol. "Kamu tugas dimana?"

__ADS_1


"Rahasia! Enggak boleh tau."


"Memangnya kenapa?" Melisa semakin ingin tahu.


"Ya karena rahasia."


"Masa sih masih main rahasia-rahasiaan? Kita kan teman!"


"Teman? Kayaknya kita enggak sedekat itu untuk menjadi seorang teman?!" Juna menyadari perkataan pedasnya, kalau Bunda tau anaknya ada yang berkata pedas maka Ia pasti akan kena pukul atau cubit. "Maksudnya, kita masih dalam kategori orang asing. Belum sedekat teman."


"Tapi bukan berarti kita enggak mungkin jadi teman kan?" Melisa masih saja usaha, pantang menyerah mendapatkan keinginannya.


"Hmm... Maybe."


Melisa tersenyum. Masih banyak waktu baginya untuk mencoba lebih dekat lagi dengan Juna.


Makanan yang mereka pesan pun datang. Juna tersenyum kecut saat melihatnya.


"Jadi begini steak restoran kelas atas? Kayaknya lebih ngiler kalau Bunda masak rendang deh dibanding steak ini." batin Juna.


"Kok diem aja? Ayo dong dimakan. Enak loh. Rasanya juicy banget. Dagingnya lembut dan empuk. Kamu coba deh." Melisa membuyarkan lamunan Juna.


"Juna, kalau kamu kembarannya Jena berarti dulu kamu satu sekolah dong dengan Panca?" Melisa memulai percakapan tak mau ketegangan menguasai mereka kembali. Melisa mengganti kata panggilan menjadi aku kamu, Ia mau lebih dekat lagi dengan Juna dengan beraku-kamu.


"Enggak. Gue beda sekolah sama Jena. Panca yang satu SMA dengan Jena." jawab Juna. Makanan di piringnya sudah habis tandas dalam sekejap.


"Kok bisa akrab sama Panca sih?"


"Iyalah akrab. Panca tuh selalu ngintilin kemanapun Jena pergi. Panca sering main ke rumah, makanya kita cukup akrab."


"Oh... Begitu. Gimana? Enak kan?"


Juna hanya menyunggingkan senyum, tak menjawab pertanyaan Melisa. Juna lebih memilih melihat pemandangan di luar yang menampilkan kemacetan Jakarta.


Alunan lagu mengiringi restoran ini. Musik yang lembut sesuai dengan suasana restoran yang cocok untuk orang berkencan. Juna tidak berkencan tentunya, Ia hanya menerima balas budi seseorang agar kelak tak ada lagi hutang budi diantara mereka.


"Udah makannya? Kalau udah, ayo pulang!" ajak Juna. Ia tak mau berlama-lama di tempat yang membuatnya tak nyaman.


Restoran ini bukan tempatnya, bukan kelasnya. Ia hanya anak dari keluarga sederhana yang diajak makan di restoran hotel saja jarang-jarang.


"Udah. Aku bayar dulu ya!" Melisa lalu membayar bill pesanan mereka.

__ADS_1


Selesai membayar Ia mencari keberadaan Juna yang ternyata sedang mengobrol dengan tukang parkir. "Apa yang Juna bicarakan sambil tertawa ngakak begitu? Akrab sekali?" batin Melisa.


"Udah?" tanya Juna.


Melisa mengangguk. "Udah."


Juna menyerahkan helm pada Melisa lalu pamit pada tukang parkir.


"Siapa mereka? Akrab sekali kamu!" tanya Melisa.


"Ya tukang parkir." jawab Juna santai.


"Jangan terlalu akrab sama orang yang baru dikenal! Apalagi sama orang kayak gitu!" cibir Melisa.


Juna terdiam sesaat, Ia lalu membalas perkataan Melisa. "Benar juga sih kata lo. Jangan terlalu akrab sama orang yang baru dikenal. Kayak kita berdua gini. Apalagi sama orang kaya macam lo, yang melihat seseorang dari kastanya."


Melisa panik. Bukan itu yang Ia mau. "Bukan. Maksud aku bukan itu. Aku mau temenan kok sama kamu, enggak mandang kasta atau apapun."


"Yaudah berarti sama dong! Gue juga mau ngobrol sama tukang parkir tadi. Enggak mandang apa pekerjaannya!" sindir Juna.


"Maaf! Aku enggak bermaksud merendahkan. Kamu mau maafin aku kan? Masih mau temenan sama aku kan?" pinta Melisa.


"Huft...." Juna menghela nafasnya. "Iya!" tak tega juga Ia akhirnya.


Melisa tersenyum sesaat, sebelum senyumnya hilang saat Juna memberhentikan motornya di salah satu warung pecel ayam pinggir jalan.


"Kita mau kemana?" tanya Melisa.


"Makan." jawab Juna yang melepas helm miliknya dan menyangkutkannya di kaca spion.


"Bukannya tadi kita habis makan?"


"Tadi tuh ngemil. Ini baru namanya makan!"


Dengan terpaksa Melisa mengikuti Juna. Dia hanya menatap Juna yang asyik makan sambil kepedesan. Juna tak menawarinya sama sekali. Juna tau pasti akan ditolak.


Melihat Juna makan Melisa menelan salivanya. "Sepertinya enak!" batin Melisa.


"Bu! Aku mau juga deh kayak dia! Nasinya sedikit aja ya!"


Juna menahan tawanya melihat Melisa. "Rasain! Makanya jangan kebanyakan jaim! Ngiler juga kan akhirnya!" batin Juna.

__ADS_1


__ADS_2