Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sepedahan dengan Circle Pertemanan Baru


__ADS_3

Tanpa terasa sudah weekend saja. Seminggu berlalu tanpa ada sesuatu yang membuat Jenaka khawatir, seperti kejahilan Mandala yang mengirimkan berbagai paket.


Mandala memegang perkataannya untuk tidak mengganggu Jenaka. Karena itu hari-hari Jenaka berlalu dengan tenang dan damai, namun terasa sepi.


Jenaka sudah bangun sholat subuh. Ia lalu ke dapur dan membuat telor ceplok yang akan Ia makan dengan kecap. Menu simple namun rasa the best.


"Tumben pagi-pagi anak Bunda udah berkutat di dapur? Laper banget memangnya sampai sarapan sepagi ini?" tanya Bunda.


"Eh Bunda. Aku mau pergi sepedahan sama Panca, Bun. Bunda mau?" Jenaka menawari makanan yang sedang Ia makan dengan lahap.


"Enggak usah. Buat kamu aja, Jen. Bunda heran aja kamu sampai sarapan segala. Biasanya juga langsung pergi sepedahan."


Jenaka hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Bunda. Masih teringat dalam benak Jenaka minggu lalu setelah Panca mengantarnya pulang Ia langsung membuat Indomie goreng plus telor yang dimakan pakai nasi. Laper berat. Untung saja tidak tremor karena nahan lapar.


Panca bukannya pelit, hanya kalau sudah bertemu dengan circle pergaulan kelas atasnya suka lupa kalau Jenaka tipikal habis makan harus ditambah ngemil agar nendang. Whipped cream aja udah dapet ceramahan panjang lebar apalagi kalau teman-temannya tau Jenaka biasa sehabis makan nasi suka ngemil bakso, huh panjang ceramah untuknya deh.


Jenaka sengaja sarapan dulu sebagai prepare. Takut kejadian minggu kemarin terulang lagi. Enggak lucu kan kalo ketahuan tremor karena belum sarapan?


"Udah siap, Jen?" tanya Panca yang datang dengan mobilnya yang lain. Sepeda Bromptot sudah Ia masukkan dalam koper khusus dan di taro di bagasi. Tentunya beserta sepeda untuk Jenaka naiki juga.


"Siap!" jawab Jenaka. Untungnya beberapa hari lalu Jenaka sempat membeli baju khusus sepedahan. Panca bilang, helm sudah Ia sediakan. Jadi Jenaka hanya membeli sarung tangan dan kacamata sebagai tambahan baju sepedanya.


Setelah berpamitan pada Bunda dan Ayah, Jenaka dan Panca pun berangkat. Mereka menuju pusat kota. Memarkirkan mobil Panca di kedai kopi tempat tongkrongan mereka.


"Yo! Panca udah datang!" sambut salah seorang teman Panca.


"Iya dong! Udah siap nih buat nyari keringet!" jawab Panca.


"Hi, Ca!" sapa Melisa yang datang dengan pakaian sepedanya. Terlihat cantik dan segar meski di pagi hari dengan make upnya yang menempel di wajah.


Jenaka menyesal hanya memakai cream muka dan lipstik mate miliknya. Ia pikir mau olahraga ngapain make up tebal? Ternyata Ia salah. Sebelum bersepeda, ada sesi foto-foto dulu dong.


Jadilah Jenaka terlihat semakin berbeda dibanding cewek-cewek glowing dengan dandanan yang cetar membahenol. Tanpa Jenaka sadari rasa percaya dirinya mulai terkikis. Mulai merasa makin tak bisa sebanding dengan mereka semua.


Acara foto-foto pun berakhir kala ada beberapa mobil yang terlihat memasuki parkiran kedai kopi yang memang luas tersebut.


"Wah mereka juga ikutan. Seru nih. Makin ramai." celetuk teman Panca.

__ADS_1


"Semoga aja ada si ganteng ya!" bisik salah satu teman cewek Melisa. Jenaka yang mendengarnya jadi bertanya-tanya siapa si ganteng yang di maksud.


Suasana pun mulai ramai. Sepertinya yang datang masih satu geng dengan teman-temannya Panca.


"Gosipnya si ganteng udah mulai gabung lagi loh! Padahal udah lama banget dia vakum." bisik cewek di samping Jenaka. Rasa penasaran kembali menguasai Jenaka.


Teman-teman Panca dan geng yang baru datang pun saling menyapa dengan akrab. Jenaka mencari si ganteng yang dimaksud namun tak menemukannya.


"Eh tuh si ganteng! Asyik ada dia! Semangat deh gue sepedahannya!"


"Iya. Nanti gue deket dia ah. Biar kalo gue pegel bisa manja-manja sama dia."


Jenaka tersenyum mendengar bisik-bisik dua orang di sampingnya. Namun senyum di wajah Jenaka menghilang saat Jenaka tau siapa si ganteng yang dimaksud.


Si ganteng tak lain adalah Mandala yang baru saja turun dari mobil Range Rover miliknya. Bak seorang selebritis yang amat dielu-elukan para fansnya. Cara turun Mandala pun seperti menonton akting aktor drakor.


Mandala mengenakan baju sepeda serba putih dengan sepatu warna senada. Kaca mata hitam tak ketinggalan menghiasi wajahnya.


Jenaka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mandala adalah si ganteng? Kenapa juga Jenaka harus bertemu Mandala disaat dirinya sedang bersama Panca?


Lalu Mandala melihat Jenaka. Mereka saling bertatapan dan Mandala tersenyum. Layaknya dejavu...


Dulu Mandala saat Jenaka bersorak menyemangatinya tak ada senyum sama sekali. Namun saat melihat Kinara senyumnya langsung tersungging. Kini Jenaka merasakan rasanya menjadi Kinara.


Jenaka membalas senyum Mandala sebelum senyumnya menghilang kala Panca mengajaknya bicara. Panca memberitahu rute yang mereka lalui. Ternyata rute yang diambil agak memutar karena jumlah peserta semakin banyak agar semakin seru konvoinya.


Jenaka mendengarkan pengarahan yang diberikan ketua timnya. Ia tahu lewat mana saja karena terbiasa menyetir sendiri.


Jenaka melirik ke arah Mandala. Benar-benar seperti artis, Mandala dikerubuti oleh para cewek. Saat Mandala melihat ke arahnya, Jenaka membuang pandangannya agar jangan ketahuan melirik.


Setelah berdoa, mereka pun mulai bersepeda. Jenaka di depan bersama Panca dan teman-teman kelas atasnya. Sementara di bagian belakang Mandala dikelilingi para cewek yang memilih bersepeda di sampingnya.


Track yang mereka lalui tak berat. Jalanannya pun mulus. Tak terlalu capek. Lebih capek saat dulu naik sepeda dari rumah Mandala ke rumah Bunda.


Lalu sesuatu pun terjadi. Jenaka yang tidak terbiasa sarapan terlalu pagi mulai merasa perutnya agak melilit. Ia harus ke toilet secepatnya. Namun tak ada tanda-tanda teamnya akan berhenti.


Jenaka mulai melambatkan kecepatan sepedanya. Panca sedang sibuk mengobrol dengan ketua tim konvoi sepeda tak tahu apa yang terjadi dengan Jenaka.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Mandala yang ternyata mempercepat laju sepedanya dan mensejajari Jenaka. Ia melihat ada yang aneh dengan Jenaka.


Jenaka malu untuk mengatakannya. Mandala sampai bertanya lagi. "Sakit? Mau berhenti dulu?"


Jenaka mengangguk. Jenaka bicara dalam bahasa mulut tanpa sepatah kata pun yang keluar. "Sakit perut."


Mandala memutar otak. Kalo enggak salah, di depan ada cafe yang sudah buka dan toiletnya bersih.


"Tahan sebentar ya. Aku bilang ketuanya dulu!" Mandala pun mempercepat gowesan sepedanya lalu bicara dengan ketua konvoi sepeda.


"Di cafe depan berhenti sebentar ya. Kebelet pipis!" Mandala beralasan kalau dirinya yang kebelet pipis agar Jenaka tak merasa malu.


Ketua konvoi pun mengkomandokan semuanya berhenti di cafe. Mandala memberi tanda ok pada Jenaka yang membalasnya dengan senyum penuh terima kasih.


Rombongan pesepeda pun berhenti di cafe yang direkomendasikan Mandala. Berpura-pura kebelet pipis, Manda pun pergi ke toilet.


"Aku juga mau ke toilet." ujar Jenaka dan diiyakan Panca.


Jenaka secepat kilat ke toilet dan menuntaskan hajatnya. Wajahnya terlihat lega saat sakit perut yang Ia rasakan sudah hilang.


Di pintu keluar toilet Ia berpapasan dengan Mandala yang juga habis dari toilet. Kalau berakting jangan setengah-setengah bukan?


"Udah?" tanya Mandala.


Jenaka mengangguk. "Udah. Legaaa banget." Senyum di wajahnya pun menampilkan kedua lesung pipinya.


"Yaudah ayo kita gowes lagi!"


"Kak!" panggilan Jenaka menghentikan langkah Mandala. "Makasih ya."


Mandala balas tersenyum. "Santai aja, Jen!"


****


Hi semua...


Udah hari senin nih. Yuk vote Jenaka ya... Maacih Luv u all 🥰🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2