Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Siapakah Dia?


__ADS_3

Hi Semua!


Kali ini cerita tentang Panca ya. Juna skip dulu. Jena dan Mandala skip dulu biar waktunya samaan dengan yang lagi honeymoon, oke? Nanti semuanya akan kumpul kok. Pokoknya jangan lupa like, komen, vote dan add favorit ya! Maacih 🥰🥰🥰


***


Panca sengaja tidak bersepeda pagi bersama teman-teman geng sosialitanya. Ia memilih jalan-jalan dengan mobil dan olahraga di taman yang Ia pilih secara acak. Ia membelokkan mobilnya ke sebuah taman di kawasan Lenteng Agung.


Panca turun dari mobilnya dan mencari tempat yang tenang dan paling banyak bermandikan sinar matahari pagi yang menyehatkan.


Ia duduk di bangku untuk pengunjung. Hanya terbuat dari adukan semen dan pasir yang diatasnya di cat warna warni agar memberi kesan taman lebih full color.


Udara pagi ini begitu segar. Masih ada sisa embun di daun yang menetes. Tatapannya menatap keadaan sekitar taman yang agak ramai pengunjung.


Wajar saja, sabtu pagi waktu orang berolahraga. Anak-anak berlarian di taman. Orangtuanya sibuk mengawasi dari kejauhan.


Panca bangun dan mulai melakukan gerakan pemanasan. Meregangkan tangan, kaki dan kepalanya.


Ia lalu berlari mengelilingi taman. Tak lupa jam digital miliknya di setting agar menunjukkan berapa jauh jarak berlari yang sudah Ia tempuh.


Lumayan juga keringat yang Ia hasilkan sehabis mengelilingi lingkungan taman. Saat dirasa haus mulai mendera, Ia pun kembali ke mobil lalu mengambil air mineral yang sudah Ia bawa dari rumah sebelumnya.


Panca sengaja duduk kembali di tempat duduk yang tadi Ia duduki saat pertama datang. Ia tertarik dengan kelompok Ibu-ibu yang sedang senam aerobic. Gerakannya lincah dan beberapa orang terlihat tidak kompak, membuat kekompakan berkurang sedikit.


Peluh membasahi ibu-ibu yang terlihat bersemangat dengan sesekali berteriak, "E...e.... a......e....e.... a...."


Seulas senyum berhasil lolos dari wajahnya. Lucu dan menghibur. Lumayan menghilangkan kebosanannya di rumah yang sepi.


Panca sudah mengatakan pada kedua orangtuanya untuk membatalkan rencana kepulangan mereka ke Indonesia. Kedua orangtuanya amat terkejut karena acara melamar batal dilaksanakan.


Mamanya beberapa kali bertanya pada Panca, "Are u okey?" Semua karena naluri seorang Mama yang tahu kalau anaknya tidak baik-baik saja.


Setelah meyakinkan kedua orangtuanya kalau Ia baik-baik saja, mereka pun tak menanyakan lagi keadaan Panca. Mereka hanya lebih sering saja melakukan video call untuk membuktikan anaknya benar baik-baik saja.


Panca tertawa saat gerakan seperti goyang dangdut ada dalam gerakan senam. Kekompakan ibu-ibu makin jauh berkurang. Kadang malah sibuk sendiri dengan goyangannya dan tidak mengikuti instruksi dari instruktur senam.


Seorang Ibu-ibu memperhatikannya dari jauh. Tak mengherankan kalau saat selesai senam ibu-ibu tersebut menghampirinya.


"Si Masnya ketawa melulu liat ibu-ibu senam. Kenapa? Lucu ya?" tanya ibu-ibu yang mengenakan kaos berwarna merah dengan celana cream.

__ADS_1


"Iya. Lucu. Kadang kompak, kadang acak-acakkan." jawab Panca dengan jujur.


"Ya sama toh dengan hidup Masnya. Kemarin bahagia, sekarang merana. Namanya juga hidup."


Senyum di wajah Panca menghilang. Ia menatap ibu-ibu di sebelahnya dengan tatapan bingung, seperti hendak mengatakan "Tau darimana?"


"Jangan terlalu kaget gitu ah! Namanya manusia hidup tuh enggak selamanya indah. Pasti ada saatnya hidup begitu kejam, jauh lebih kejam dari ibu tiri. Namun terkadang hidup begitu manis, jauh lebih manis dari kembang gula. Tapi tau enggak, kalau yang terlalu manis cuma jadi penyakit dan yang terlalu kejam malah membuat seseorang jadi kuat!"


Panca kali ini beneran melongo. Mulutnya sampai terbuka tak percaya kalau Ia mendengar kata-kata super dari seorang ibu-ibu aerobik!


Tanpa sadar Panca bertepuk tangan lalu mengacungkan jempolnya. "Ibu keren sih! Asli keren parah!"


"Biasa aja! Yang muji saya keren bahkan bukan kamu seorang. Kakak beradik Kusumadewa Group saja sudah mengakui kehebatan saya!" jawab ibu-ibu itu dengan santainya memamerkan kesombongannya.


"Ah bisa aja! Memang Ibu kenal sama mereka?" lagi-lagi Panca meremehkan perempuan disebelahnya.


"Sama Richard dan Leo? Tentu saja kenal!" Bu Sri mengeluarkan Hp miliknya dan menunjukkan foto selfi dirinya bersama keluarga Kusumadewa. Foto saat Richard Kusumadewa menikah.


"Wow! Ibu hebat!" kembali Panca memuji Bu Sri.


"Mas-nya lagi sedih ya? Dari tadi saya lihat pandangannya kosong gitu." tebak Bu Sri. "Oh iya, kenalan dulu dong. Saya Sri. Warga kampung sini."


"Panca? Kayak mantan pacarnya Jenaka." gumam Bu Sri pelan.


"Apa? Ibu kenal Jenaka juga?" kekagetan kesekian yang Panca alami saat ini.


"Loh? Beneran mantan pacarnya Jena toh? Oalah... Kenapa dunia begitu sempit ya?"


"Jenaka juga teman Ibu?" tanya Panca.


"Jena itu pasien saya, dari awal menikah sampai akhirnya rujuk lagi sama Kang Maman. Udah jarang ketemu saya dia sekarang tapi video call dan teleponan masih sering."


Panca kembali berdecak kagum. Siapakah ibu-ibu ini? Kenapa Ia begitu hebat sampai bisa mengenal orang penting dan juga bisa akrab dengan Jenaka?


"Jadi Mas-nya patah hati karena Jena rujuk sama Kang Maman?" tebak Bu Sri.


Panca mengangguk dengan malu-malu.


"Belum jodoh, Mas. Jangan dipaksakan. Banyak yang memaksakan untuk bersatu meski kedua orang tua sudah tak merestui. Mereka kawin lari dan akhirnya apa? Bukan kebahagiaan yang didapat malah berakhir dengan perceraian. Allah tuh sayang sama Mas, akan diganti dengan yang lebih baik lagi!" Bu Sri bangun dan menepuk bahu Panca.

__ADS_1


"Jadi laki-laki jangan cengeng. Harus punya pendirian dan sadar kalau jodoh ada yang mengaturnya. Saya pulang dulu, cucian kotor udah menunggu! Jangan kebanyakan bengong, enggak nyelesein masalah malah nanti bisa kesurupan!"


Panca tersenyum mendengar perkataan Bu Sri. Ia menatap Bu Sri pergi dan ikut pergi dari taman tersebut.


Baru saja Panca keluar dari taman, Ia tak sengaja menginjak pedal remnya mendadak.


Ciiiiiiittttt....


Mobil berhenti dan menyenggol perempuan di depannya. Perempuan tersebut pun terjatuh.


Panca keluar dari mobil dan memeriksa keadaan perempuan tersebut. Jika tidak keluar, bisa saja Ia menjadi bulan-bulanan warga kampung.


"Mbak baik-baik saja?" tanya Panca.


Perempuan yang mengenakan hijab itu mengangkat wajahnya. Cantik. Wajahnya seperti blasteran Indonesia Arab.


"Saya baik-baik saja. Maaf karena saya menyebrang tanpa melihat kiri kanan terlebih dahulu." ucap perempuan tersebut.


"Tak apa, yang penting Mbak-nya baik-baik saja. Mari saya bantu berdiri!" Panca mengulurkan tangannya hendak membantu perempuan tersebut.


Perempuan itu menolak uluran tangan Panca. "Maaf, bukan mahram!"


"Oh... Iya." Panca jadi salah tingkah dibuatnya. "Apa mau saya antar ke dokter?"


Perempuan itu berdiri sendiri, menepuk rok panjang motif rimpel yang sedikit kotor. "Tidak perlu. Saya baik-baik saja."


"Beneran? Saya jadi tak enak hati."


Perempuan itu tersenyum, lesung pipinya terlihat menghiasi senyum indahnya. Sejenak Panca terpukau, senyumannya seindah senyuman milik Jenaka.


"Tenang saja. Saya tak akan menuntut Mas kok." tolak perempuan itu.


Panca memutar otak. Tak mau interaksi mereka selesai begitu saja. "Begini saja, saya lihat Mbaknya mau pergi. Sebagai wujud tanggung jawab saya, ijinkan saya antar Mbak sampai tempat tujuan, gimana?"


Perempuan itu melihat jam di tangannya. Ia memang sudah telat, makanya Ia menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan lagi. Tadi dia hendak mengejar angkot, namun sayang angkot yang Ia kejar sudah jalan duluan.


"Hmm... Boleh, jika tidak merepotkan."


Panca bersorak dalam hati. "Yes! Akhirnya!"

__ADS_1


****


__ADS_2