Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Usaha Terus


__ADS_3

Mandala mengakhiri sambungan teleponnya dengan Jenaka. Papi Prabu yang sejak tadi tak sabar menunggu selesainya percakapan di antara mereka akhirnya langsung memberondong Mandala dengan beberapa pertanyaan.


"Kamu sama jenaka kok bisa akrab lagi? Kalian pernah ketemu? Kalian pernah jalan bareng? Atau kalian berencana untuk rujuk?" tanya Papi Prabu.


"Jujur aja Pi, aku memang sama Jenaka sudah berencana untuk rujuk. Tapi ada beberapa masalah yang harus kami selesaikan dahulu. Nggak bisa langsung rujuk begitu saja." jawab Mandala.


"Masalah apa? Mungkin Papi bisa membantu kalian?!"


"Tentu saja Papi bisa membantu kami. Untuk sementara, aku akan menghandle masalah dengan Real Group. Nanti aku butuh bantuan Papi untuk meyakinkan Ayahnya Jena untuk menerimaku kembali sebagai menantunya."


"Ayahnya Jena? Waduh berat banget ini urusannya! Tunggu dulu, Reel Group? Apa hubungannya semua ini dengan Reel Grup?"


Genta yang sejak tadi ada di ruangan dan mendengar percakapan Mandala dengan Papinya, hanya berdiam diri sambil mendengarkan.


"Sekarang, Jena itu statusnya adalah calon istri dari Panca, CEO dari Real Group. Papi tenang aja, Jena sudah memutuskan hubungannya dengan Panca namun Panca menolak. Aku nggak bisa langsung maju untuk mendeklarasikan hubungan aku dengan Jena, karena seperti yang Papi diketahui kita masih ada hubungan kerja sama. Sebulan lagi, Pi. Setelah kontrak ini berakhir, aku akan berjuang secara terang-terangan. Dan aku minta bantuan Papi. Papi mau kan bantuin aku?"


"Hubungan kalian tuh rumit banget ya? Permasalahan yang kalian hadapi itu berat. Pertama-tama kamu harus menghadapi Panca Group. Mereka tuh bukan lawan yang mudah. Kamu tahu sendiri perusahaan mereka lebih besar daripada perusahaan Papi. Lalu kedua, ya Allah.... Mandala, Papi itu paling takut sama Ayahnya Jena. Gimana coba caranya meyakinkan Ayahnya Jena?!" Papi ikut pusing memikirkan masa depan anaknya.


"Ayolah Pi, bantuin Mandala kali ini. Memangnya Papi nggak mau punya menantu kayak Jena lagi?" rayu Mandala.


"Kamu sih, udah punya istri sebaik Jena malah kamu poligamiin! Udah gitu pakai kamu talak juga lagi! Kalau kamu nggak talak dia waktu itu, enggak akan serumit kayak gini. Kamu masih bisa hidup bahagia sama Jena. Sekarang gimana caranya Papi menghadapi Ayahnya Jena?"


"Ya Papi pikirin lah! Jarang-jarang kan Mandala minta tolong sama papi? Coba tanya sama Mami, punya ide nggak tuh? Jangan cuma bisanya minta Jena masakin aja buat dia! Pikirin juga dong masa depan Jena sama Mandala!" rengek Mandala.


"Dasar anak songong! Sudah nanti Papi dan Mami pikirin! Kamu yang mau rujuk, kenapa Papi dan Mami yang harus pusing?!"


"Ehem! Maaf nih kalo saya ganggu. Saya punya ide, gimana kalau Jena buat saya aja? Kalian enggak akan pusing kan?" Genta tau apa akibat pertanyaannya. Sebelum sebuah bantex dan sepatu melayang, Ia sudah kabur sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Si Curut ini ya! Om bilangin Papi kamu loh! Orang lagi serius malah dibecandain! Nanti Om mutasi kamu jadi bagian parkir motor biar tau rasa!"


Genta tak ada takutnya. Ia asyik menertawai Om dan sepupunya yang terlihat emosi.

__ADS_1


"Lumayan, ngilangin ngantuk dikit." gumam Genta.


****


"Kenapa kamu minta Papa dan Mama pulang lebih cepat, Ca? Kamu kan tau, Papa sibuk dengan perusahaan kakek kamu? Mama kamu juga sibuk merawat kakek kamu yang tingkahnya makin kayak anak kecil saja! Minta balon-lah, minta jalan-jalan naik stoller-lah! Papa dan Mama enggak bisa pulang lebih cepat lagi!" ujar Papanya Panca lewat sambungan telepon.


"Sebentar aja, Pa. Tolong lamarin Jenaka buat Panca!" rengek Panca bagaikan anak kecil yang meminta dibelikan balon.


"Kenapa sih kamu minta cepat-cepat? Memangnya kamu sudah menghamili Jena? Ayahnya Jena sudah minta anaknya kamu nikahin?" tanya Papanya Panca lagi.


"Enggak kayak gitu, Pa. Panca cuma mau secepatnya menikahi Jenaka! Papa kan tau betapa Panca sangat mencintai Jenaka?"


"Kamu yang jatuh cinta kenapa Papa dan Mama yang repot sih? Disini menikah tidak seribet disana! Harus datang dulu orang tuanya. Memang enggak bisa langsung ke KUA aja?"


"Ya enggak bisalah, Pa. Pokoknya aku minta banget, Papa dan Mama secepatnya datang ke Indonesia!"


"Iya. Akan Papa dan Mama usahakan."


Panca menutup sambungan teleponnya. Sejak Jenaka kembali dari istirahat makan siang dengan wajah sumringahnya, Panca merasa khawatir. Tidak biasanya Jenaka berwajah riang seperti itu.


Tak mau kalah start dibanding yang lain, Panca memutuskan untuk meminta orang tuanya datang lebih cepat lagi. Ia akan mempersunting Jenaka duluan. Ia tak mau kalah saing dengan yang lain.


****


"Jen, besok berangkat dan pulang kerja aku jemput ya. Aku mau sarapan masakan Bunda. Boleh kan?" pinta Panca disaat Jenaka sedang bersiap-siap hendak pulang kerja.


"Oh kalo kamu mau sarapan masakan Bunda, nanti aku bawakan aja. Aku bawa mobil sendiri jadi kamu enggak usah repot antar jemput aku." tolak Jenaka.


"Jen, aku mau memperbaiki hubungan kita. Tak bisakah kita kembali lagi seperti dulu?" Panca menatap Jenaka dengan penuh harap.


"Aku setuju kalau hubungan kita seperti dulu. Tapi dulu sekali ya Ca. Saat kita masih sahabatan. Kalau lebih dari itu, mohon maaf sekali aku enggak bisa." Jenaka memakai tas selempang miliknya. "Aku pulang dulu."

__ADS_1


Keesokan harinya Jenaka membawakan sarapan buatan Bunda untuk Panca. Ia tetap menolak ajakan Panca untuk diantar jemput.


Panca tak habis akal. Ia berusaha sekuat mungkin membuat hubungannya dengan Jenaka kembali lagi.


"Jen, weekend besok kita jalan-jalan yuk? Mau ke Singapura buat shopping enggak? Atau kamu mau ke Bali? Kita bisa ajak Lulu dan Lily, mereka pasti akan senang." bujuk Panca.


"Aku udah ada janji, Ca. Maaf." tolak Jenaka lagi.


"Sama siapa? Mandala?"


"Bukan. Sama Juna." jawab Jenaka dengan jujur.


"Kalau gitu aku boleh ikutan?" Panca kembali usaha.


"Maaf, Ca. Aku sama Juna udah buat janji dari minggu kemarin. Enggak ada yang ikut termasuk Ayah dan Bunda. Cuma kita berdua aja." Jenaka tak bilang kalau mereka mau ke rumah Mandala.


"Mau ngapain?"


"Ngapain kek. Bukan urusan kamu kan?" Jenaka mulai bersikap jutek.


"Yaudah malamnya aja. Kita nongkrong aja, ada cafe yang enak banget baru buka. Ajak Juna juga boleh. Gimana?"


"Kayaknya aku bakalan kecapekan deh kalau malamnya jalan lagi."


"Yaudah gini aja, hari minggunya aja. Kamu kan capek, gimana kalo kita ke tempat spa dan pijat aromathetapy. Ajak Ayah, Bunda dan Juna juga. Gimana?"


"Udah ah Ca, aku mules!" Jenaka pun meninggalkan Panca tanpa mengiyakan atau menolak ajakannya. Percuma. Ditolak juga akan tetap usaha. Lebih baik ditinggal aja deh.


Ternyata Panca tak berhenti juga. Esoknya Ia membawakan Jenaka buket bunga dan makan siang yang Ia pesan khusus untuk Jena. Tapi apa jawaban Jena?


"Bagi anak-anak yang lain aja ya, Ca. Maaf banget, aku lagi puasa senin kamis buat bayar utang puasa. Bunganya aja ya aku ambil buat ditaro di ruangan kamu. Ada vasnya juga kan?"

__ADS_1


Panca pun speechless. Entah dengan cara apa lagi membujuk Jenaka yang marah. Lagi-lagi benar kata Juna, kalau Jenaka udah marah bakalan serem. Hiyyy.... Tak ada kesempatan sama sekali!


****


__ADS_2