
Proyek kerjasama antara Prabu Group dan Reel Group yang bernilai fantastis tak lepas dari campur tangan Jenaka. Jika bukan Jenaka yang merelakan kesempatan berbulan madu dan menukarnya dengan keinginan Mandala, belum tentu Mandala mendapatkan tender besar tersebut.
Satu lagi, presentasi Jenaka yang menentukan segalanya. Panca langsung yakin bekerja sama saat tahu Jenaka bekerja di Prabu Group dan apa yang dipresentasikan oleh Jenaka sangat meyakinkannya yang berjiwa pengusaha sejati. Tau mana yang berprospek cuan dan mana yang malah merugikan perusahaan.
Kini saat tau kalau CEO Reel Group mengincar Jenaka yang berprospek bagus dan kompeten, Mandala semakin posesif saja. Pulang kerja Jenaka harus bersama Mandala. Sudah dipesan sebelumnya kalau mulai sekarang Ia harus pulang bareng Mandala.
Mandala tak mau istri nakalnya sampai janjian dengan Panca di luar jam kerja. Sepanjang perjalanan pulang, Mandala memperhatikan Jenaka.
Jenaka asyik dengan Hp miliknya. Sesekali tertawa dan tak jarang merengut kesal. Sebenarnya Mandala bukan tipikal orang yang ingin tahu isi Hp orang lain. Punya Kinara saja tak pernah Ia periksa. Ia menghargai privasi orang lain, termasuk istrinya sendiri.
Kini, rasa ingin tahu mulai menguasainya. Siapa yang sedang chat dengan Jenaka? Apa yang Jenaka bicarakan sampai tertawa seperti itu?
"Kenapa kamu ketawa-tawa Jen? Lagi chat sama siapa?" Mandala tak peduli jika dibilang ikut campur. Apa yang Jenaka lakukan mengusik rasa penasarannya. Jika tidak dijawab, maka rasa penasaran itu akan semakin besar nantinya dan mungkin Ia akan memeriksa sendiri Hp milik Jenaka.
"Oh... Aku lagi ngobrol sama Panca, Kak." jawab Jenaka dengan jujur tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp yang Ia pegang.
"Panca? Pak Panca klien kita?!" ternyata memang sudah seharusnya Ia penasaran. Jenaka sejak tadi chat dengan laki-laki lain. Di sampingnya pula. Berani sekali!
"Panca aja manggilnya Kak kalau di luar urusan kantor. Aku lagi ngobrol sama Panca tentang perubahan wajah kota Jakarta selama Ia pergi. Panca ngajak aku jalan sekalian reuni ke SMA kita dulu. Katanya kangen sama aku, eh maksudnya kangen sama mie ayam kantin deng."
"Enggak boleh!" larang Mandala.
"Kenapa enggak boleh Kak? Aku perginya enggak berdua aja kok. Aku pergi sama Lulu dan Lily. Kita kan ngobrolnya di group chat yang baru kita buat. Semuanya mau pergi, masa sih aku enggak ikut?"
"Aku bilang enggak boleh!"
"Aku bilang nih ya sama Panca kalau aku dilarang sama Kak Mandala buat pergi?!" Jenaka mulai mengancam Mandala. Membuat Mandala tak bisa berkutik.
Kerjasama mereka baru saja berlangsung. Jangan karena masalah pribadi berpengaruh pada perusahaan. Dengan terpaksa Mandala mengalah.
"Baiklah. Kapan kamu mau pergi?"
"Besok lah! Kalo mau makan mie ayam kan harus cuti. Jadi besok aku cuti. Mau makan mie ayam di SMA-ku yey!" Jenaka sangat senang membayangkan reuni kecil-kecilan yang akan Ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya.
"Yaudah! Tapi inget ya, sebelum aku pulang kerja kamu udah harus pulang!"
__ADS_1
"Iya!"
"Terus kamu juga harus masakkin aku nasi tumpeng beserta lauknya!"
Jenaka mengernyitkan keningnya. "Jangan macem-macem deh, Kak!"
"Siapa bilang aku macem-macem? Kalau kamu pulangnya sore atau hampir maghrib, enggak akan sempet kamu bikin nasi tumpeng kan? Makanya kamu harus pulang siang biar kamu sempet masakkin aku nasi tumpeng!"
"Oke! Kalau inget ya ha...ha...ha..."
****
Jenaka, Lulu dan Lily menunggu Panca menjemput mereka di depan rumah orang tua Jenaka. Bunda ikut-ikutan menunggu Panca yang sudah Ia anggap anak sendiri. Bunda juga kangen dengan Panca.
"Assalamualaikum!" Panca datang mengendarai mobil BMW serie terbaru. Semuanya memandang takjub tak percaya. Panca yang dulu terlihat culun dan penyendiri ternyata adalah anak orang kaya. Ganteng pula!
"Waalaikumsalam!" jawab semuanya kompak.
"Widih gila Panca! Gokil! Beda banget lo, Men!" Lulu menyalami Panca yang disambut senyum lepas Panca. Sudah lama Ia tak tersenyum lepas seperti saat bersama sahabat-sahabatnya tersebut.
"Masa sih? Biasa aja kali!" Panca menyalami Lily yang masih terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
"Ya Allah Panca, kamu ganteng banget! Banyak berubah kamu sekarang!" puji Bunda sambil memutar-mutar badan Panca seakan tak percaya laki-laki di depannya adalah Panca yang suka numpang makan di rumahnya dulu.
"Memang dari dulu ganteng, Bunda. Cuma Panca dulu umpetin aja! Takut Jenaka terpesona ha...ha...ha..."
"Ah Jena mah enggak bakalan terpesona, Ca. Dia tuh udah cinta mati sama Mandala. Tak akan terganti!" sahut Lulu.
"Sudah... Sudah. Ayo Panca sarapan dulu! Bunda buatin nasi goreng buat kamu!" Bunda menarik Panca masuk ke dalam rumah Jenaka.
"Juna mana Jen?" tanya Panca sambil menikmati sarapannya. Di sampingnya Lulu dan Lily yang sedang lahap memakan nasi goreng buatan Bunda yang rasanya tak perlu diragukan lagi.
"Juna lagi ditugasin di luar kota, Ca. Katanya sih udah mau selesai. Terakhir dia video call mukanya item banget. Udah enggak mirip gue sama sekali!" jawab Jenaka.
"Wah keren ya! Tuh anak disekolahin di asrama jadi lupa main games dong? Ah gue enggak ada temennya nanti!"
__ADS_1
"Tenang aja. Juna mah tidak ada kata 'tidak' untuk games. Kalian bisa mabar nanti!"
"Lo beneran udah jadi pengusaha, Ca?" tanya Lily yang kini sudah bisa mengeluarkan suaranya.
"Masih belajar, Ly. Gue udah pegang dikit, disuruh bokap. Soalnya bokap keteteran kalo harus handle semua sendiri." Panca mengusap perutnya yang kekenyangan karena masakan Bunda. "Kenyang banget. Mie ayam masih bisa enggak nih?"
"Bisa dong! Kan masih lama! Nanti nasinya turun kita hajar mie ayam!" sahut Lulu.
"Yaudah yuk kita cus!"
Mereka berempat pun pergi ke SMA tempat pertama kali mereka saling kenal. Setelah minta ijin pada guru piket, mereka lalu berkeliling sekolah.
Panca yang membawa kamera kerennya memfoto Jenaka, Lulu dan Lily yang asyik mencari spot terbaik untuk berfoto.
"Eh itu kelas kita dulu! Lo duduk di pojok, gue di belakang lo! Lulu di depan dan Lily di samping lo. Kalo kita nyontek gampang ngopernya." Panca masih ingat saja kenangan masa SMAnya.
"Ha...ha...ha... Terus Lulu ketahuan buka kertas jawaban dari lo, dia dihukum lari keliling lapangan." Jenaka menambahkan.
"Gara-gara Lily tuh, kasih contekkannya gugup banget, malah bikin guru kita jadi curiga!" omel Lulu pada Lily.
"Terus aja gue disalahin! Emang lo aja oon enggak bisa nyontek!" balas Lily tak mau kalah.
"Hush! Udah ayo kita ke lapangan basket!" Jenaka menengahi. Semua lalu mengikuti langkah Jenaka yang duduk di tepi lapangan basket.
"Ini tempat favorit gue buat liatian Kak Mandala main basket." Jenaka mengenang kisah masa sekolahnya. "Lo berdua suka banget ngomelin gue kalo gue lagi semangatin Kak Mandala!" tunjuknya pada Lulu dan Lily.
"Habisnya lo norak! Teriak-teriakkan terus kayak diliat aja sama Kak Mandala." sahut Lulu.
"Tapi sekarang lo udah satu kantor sama Mandala kan Jen. Udah seneng dong ketemu sama idola lo terus? Kemarin aja pas presentasi didampingin sama Mandala." Panca berniat menggoda Jenaka namun celetukan Lily membuat senyum di wajahnya menghilang.
"Bukan satu kantor lagi dia sekarang, Ca. Udah satu kamar malah! Enggak ada yang nyangka nasib Jenaka berubah 180⁰. Dari fans berat eh sekarang malah jadi istri sah." ujar Lily.
"Istri? Maksudnya?" tanya Panca.
"Loh memangnya lo enggak tau?" tanya Lily yang dijawab Panca dengan menggelengkan kepalanya. "Jenaka tuh istri sahnya Mandala. Mereka sekarang sepasang suami istri yang sah!"
__ADS_1
Deg....
****