
Bagi sebagian orang, bermain Ludo mungkin terlihat seperti kekanak-kanakkan. Tapi, yang terjadi pada keluarga Mandala beda lagi, malah menciptakan suasana hangat yang sudah lama hilang diantara mereka.
Melihat keakraban yang tercipta antara Papi, Mami, Mandala dan Jenaka. Suasana canggung berubah menjadi tawa renyah serta saling meledek.
Contohnya Papi, saat Mandala mengocok dadu dan keluar enam, Ia mulai playing victim. "Wah curang nih! Pasti ngocoknya dipelanin makanya keluar angka enam!"
"Dipelanin gimana sih Pi? Takdir, Pi. Takdir!" balas Mandala.
"Pokoknya Papi enggak bakal kalah!" balas Papi lagi.
"Kita lihat aja nanti!"
Aksi Papi dan Mandala yang sering bertengkar meributkan siapa yang curang membuat Mami dan Jenaka tertawa dibuatnya. Mereka bak dua anak kecil yang berebut mainan saja. Tak ada yang mau mengalah.
"Ayo Kak, tiga lagi Kakak menang!" Jenaka menyemangati Mandala yang selangkah lagi berhasil memasukkan semua pionnya ke dalam rumah yang berada di bagian tengahnya.
"Doain ya Jen! Bismillah!" Mandala melempar dadu dan.... tiga. "Tiga Jen! Yey! Kita menang Sayang!" Mandala berjingkak kesenengan sambil memeluk Jenaka.
"Kita menang!" Mandala bahkan mengecup pipi Jenaka tanpa sungkan di depan kedua orang tuanya.
Tawa di wajah Jenaka pun menghilang berganti dengan wajah malu-malu. Baru kali ini Mandala mau mengungkapkan kemesraannya di depan umum.
Sama seperti Jenaka, Mami dan Papi juga tak menyangka Mandala ternyata mau memamerkan kemesraannya di depan publik. Rupanya rasa bahagia terlalu meluap dalam dirinya sampai tak sadar diri jika Ia sedang di depan kedua orangtuanya.
"Sesuai janji ya, Papi kabulin permintaan aku sama Jena!" tagih Mandala yang masih tertawa bahagia atas kemenangannya.
"Iya... iya... Papi kabulin! Mau apa?" Papi Prabu pasrah.
"Aku mau-" Mandala belum mengucapkan keinginannya sudah disalip oleh Jenaka.
"Honey moon, Pi! Jalan-jalan! Pokoknya semua serba eksklusif, yang paling mahal dan kelas VIP semua!" pinta Jenaka tanpa sungkan.
Mandala melongo tak mampu berkata-kata. Ide yang sudah Ia pikirkan, sudah mau diucapkan eh malah disalip oleh Jenaka. Mana permintaannya terlalu beresiko lagi!
"Jen!" Mandala hendak memprotes Jenaka namun Papi Prabu malah membuat keputusan.
"Papi setuju! Kamu belum honey moon ya sejak menikah?! Pilih saja kamu mau kemana?" Papi Prabu melirik ke arah Jenaka, Ia tau Jenaka merencanakan sesuatu dan Ia akan mendukung niatnya apapun itu.
"Asyik!!!!" Jenaka kini merangkul lengan Mandala sambil menggoyang-goyangkan tangannya. "Kita honey moon, Kak!" Jenaka tersenyum tanpa rasa bersalah.
Mandala terpaksa ikut tersenyum meski dalam hatinya merengut kesal. Jelas saja kesal, Mandala sebenarnya mau minta salah satu tender untuk perusahaan yang Ia pimpin eh malah Jenaka meminta hal receh seperti honey moon.
__ADS_1
Meminta honey moon saat ini bisa memicu pertengkaran dengan Kinara. Mandala tak mau ada keributan antara kedua istrinya.
Papi Prabu dan Mami Nina menahan tawanya melihat ulah Jenaka yang membuat Mandala tak bisa berkutik. Mereka semakin yakin menjodohkan Mandala dengan Jenaka adalah keputusan yang benar. Jenaka pasti yang terbaik buat Mandala.
***
"Jen, kenapa kamu minta honey moon? Itu sih murah bagi Papi! Aku tuh mau minta salah satu tender yang besar. Eh malah kamu minta honey moon! Kalo tender aku berhasil, aku bisa kasih kamu uang buat jalan-jalan sesuka kamu. Mau keliling dunia juga bisa!" ujar Mandala ketika Jenaka baru saja selesai mandi.
"Aku enggak butuh tender, Kak!" Jenaka asyik saja memakai body butter di kaki dan tangannya. Harum moringa menyebar di kamarnya. Wangi kesukaan Jenaka tentunya.
"Tapi kamu bisa jalan-jalan keliling dunia Jen kalo aku dapet tender besar. Ayo dong kamu revisi permintaan kamu. Bilang aja, minta tender untuk perusahaan biar bisa jalan-jalan ke luar negeri. Iya Jen ya..." bujuk Mandala.
Jenaka menarik nafas dalam. Menguasai dirinya dari menampol Mandala. Ia menaruh body butter di meja rias lalu menatap Mandala dengan tajam, tanpa senyum sama sekali di wajahnya.
"Aku mintanya honey moon, Kak. Bukan jalan-jalan ke luar negeri. Aku juga enggak minta honey moon keliling dunia. Masih di Indonesia saja. Aku mau ke Yogyakarta. Enggak perlu terlalu mewah." ujar Jenaka dengan penekanan di setiap perkataannya.
"Ya tapi kamu bisa dapet jalan-jalan yang lebih lagi, Jen. Papi loh ini yang menawarkan. Papi kalo udah berjanji akan menepati!" Mandala masih berusaha membujuk Jenaka.
"Tapi aku jalan-jalannya enggak sama Kakak. Aku enggak mau! Kalau honey moon kan pasti sama Kakak perginya!"
"Aku bisa temenin nanti!" Mandala masih tak mau mengalah. Tak mau kesempatan langka di depannya hilang begitu saja.
"Oh ya? Bukannya kalo dapet tender, Kakak akan tambah sibuk dan berujung aku malah akan pergi jalan-jalan sendiri?"
Jenaka menghela nafas kesal. Mengalah. Lagi-lagi harus mengalah. Mengalah demi ego Mandala.
Jenaka yakin, akan ada rencana Allah yang lebih indah lagi nantinya. Bismillah.
"Baiklah."
"Wah... Makasih Jena Sayang..." Mandala memeluk Jenaka, meluapkan kebahagiaan dalam hatinya. Jenaka hanya merengut kesal, menahan semuanya dalam hati tanpa perlu mengatakannya.
****
"Kamu serius Jen? Enggak nyesel?" tanya Papi saat Jenaka mengutarakan keinginannya mengganti dengan permintaan Mandala.
"Aku serius, Pi. Kak Mandala butuh tender besar untuk perusahaannya."
Papi Prabu tersenyum. Ia makin bangga dengan Jenaka. "Baiklah, Jen. Papi kabulkan permintaan kamu! Panggil suami kamu kesini!"
"Baik. Terima kasih banyak, Pi!"
__ADS_1
Jenaka memanggil Mandala untuk berbicara dengan Papinya. Jenaka hanya menatap Madala yang amat bahagia karena permintaannya dikabulkan.
"Terima kasih ya, Jen!" Mami Nina datang dan menepuk bahu Jenaka. Membuat Jenaka sedikit kaget.
"Mami?"
"Mami tadi menguping pembicaraan kamu dengan Papi. Bagaimana kamu mengalah demi keinginan Mandala. Kamu tahu Jen, sejak dulu Mandala selalu takut meminta sesuatu pada Papinya. Ia hanya meminta menikahi Kinara sekali dan menerima perjodohan kalian demi mewujudkan permintaannya,"
"Mandala itu tipikal orang yang gigih. Kalau punya keinginan sebisa mungkin akan mewujudkannya. Tapi jika menyangkut Papinya, Ia akan mundur. Melihat kamu memberinya kesempatan, membuktikan kamu bukanlah orang yang egois. Kamu mengutamakan kebahagiaan untuk Mandala. Kamu memang jodoh terbaik untuk Mandala. Mami doakan, pengorbanan kamu kali ini akan menjadi kebahagiaan untukmu kelak." Mami Nina memeluk menantu tersayangnya.
"Terima kasih, Jen. Kamu membuat keluarga kami semakin erat. Kamu membuat Mandala bisa tersenyum bahagia sambil mengobrol dengan Papinya seperti itu. Terima kasih banyak, Jenaka."
Jenaka balas memeluk Mami Nina. "Doakan Jenaka tetap kuat ya, Mi!"
"Tentu, Sayang. Mami selalu doakan kebahagiaan kamu."
****
Mami Nina dan Papi Prabu pulang keesokan harinya. Jenaka membuat Mami Nina dan Papi Prabu pulang dengan perasaan senang.
Mandala juga kembali ke kamarnya. Mereka tak lagi satu kamar. Namun ada sedikit perubahan dalam diri Mandala.
Tok...tok...tok...
Jenaka membuka pintu kamarnya. "Kenapa, Kak?"
"Ayo kita sholat berjamaah!" ajak Mandala yang disambut dengan senyum oleh Jenaka.
****
Rencana yang Bu Sri susun harus molor karena kedatangan Papi dan Mami. Jenaka harus melaksanakan rencana yang telah disusunnya sebelum Kinara pulang.
Mandala sudah di meja makan. Memakan roti bakar buatan Mala dengan wajah masam. Berharap sarapan dengan masakkan buatan Jenaka, namun Jenaka tidak masak. Jenaka bahkan turun ke meja makan agak telat.
"Pagi, Kak!" Jenaka yang baru turun mencium pipi suaminya yang bermuka masam tersebut.
Wajah masam Mandala semakin masam saja ketika melihat apa yang dikenakan Jenaka.
"Apa yang kamu pakai itu Jen?" matanya melotot, Mandala menaruh roti yang Ia makan. Hilang sudah keinginannya untuk sarapan.
****
__ADS_1
Hmm.... Jenaka mengenakan apa ya? Yuks like yang banyak kalau kalian penasaran 🥰