Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Semua Karena Niat


__ADS_3

"Sebelum gue mulai menyukai Jenaka!" sebuah pengakuan meluncur dari mulut Mandala. Meski agak gengsi dan memiliki ego tinggi, Mandala akhirnya mengakui perasaan terdalamnya.


"Dulu, hanya ada Kinara dalam hidup gue. Lo sendiri udah tahu kan? Gue bahkan sampai rela melakukan poligami hanya demi melegalkan status pernikahan kita berdua. Gue bahkan berjanji akan segera menceraikan istri gue setelah pernikahan gue dan Kinara resmi dihadapan hukum,"


"Gue tahu, gue jahat. Bahkan di awal pernikahan gue dan Jenaka, gue masih menyetujui permintaan Kinara untuk menceraikan Jenaka. Bodohnya, Jenaka mendengar itu semua. Gue nggak tahu, seiring berjalannya waktu gue bahkan berusaha melupakan niat gue tersebut. Tapi ternyata, Jenaka mengetahui dan menyimpan semuanya sendirian. Tadi pagi, Jenaka mengatakan apa yang Ia ketahui. Jenaka keluar dari mobil gue dalam keadaan marah dan sangat sedih. Itu yang membuat gue sangat menyesal!"


Genta menatap Mandala dengan kesal. Ia tak menyangka saudara sepupunya tega merencanakan hal sejahat itu hanya demi ambisinya. Melihat penyesalan Mandala tak membuat Genta iba. Ia malah memikirkan keadaan Jenaka.


"Biar gue yang hubungin jenaka!" Genta lalu bangun dan meninggalkan ruangan Mandala sambil menutup pintu ruangan dengan kencang. Inilah kemarahan pertama Genta pada Mandala yang benar-benar Ia tunjukkan dengan kentara, bukan hanya sekedar sindiran.


****


Ternyata baik Genta maupun Mandala tak ada yang bisa menghubungi Jenaka. Hanya pesan dari Bu Yuli yang menyampaikan pada Genta kalau Jenaka ijin tidak masuk kerja karena sakit perut.


Mandala pulang kantor lebih cepat dari biasanya. Hatinya tak tenang memikirkan keberadaan Jenaka yang entah ada dimana.


"Jena belum pulang, Mal?" tanya Mandala begitu sampai rumah.


"Belum, Pak." jawaban Mala membuat hati Mandala mencelos.


"Dimana kamu, Jen?" beberapa kali Mandala bertanya pada dirinya sendiri. Dimana istri nakalnya tersebut. Mandala memeriksa pemakaian kartu kredit tambahan yang Ia miliki. Hanya ada transaksi yang Kinara lakukan, sedang Jenaka tak pernah memakai kartu Mandala sama sekali.


Mandala mondar-mandir tak tenang di ruang tamu. Begitu suara pagar depan rumah dibuka dan tak lama kemudian pintu rumah terbuka, hatinya sedikit tenang.


"Huft... Ya Allah, Jen... Kamu kemana?" tanya Mandala yang langsung memeluk Jenaka dengan erat.


"Aku habis main ke rumah teman." jawab Jenaka dengan santainya. Ia tak tahu suaminya hampir gila menantinya pulang ke rumah. Hp sengaja tidak Ia aktifkan. Ia ingin mencurahkan perasaannya pada Bu Sri. Semuanya. Kini Ia pulang dengan hati lega dan hilang semua rasa amarah dalam hatinya.


"Kamu tak bisa memaksa semua hati Mandala untuk kamu, Jen. Enggak bisa, karena sudah ada Kinara yang lebih dahulu menempatinya. Sekarang yang terpenting, ada nama kamu dalam hatinya Mandala. Pejuang cinta seperti kamu enggak boleh cengeng. Pejuang cinta kayak kamu harus tahan banting. Kamu enggak murahan, Jen. Karena yang kamu perjuangkan adalah suami dan rumah tangga kamu!" ucapan Bu Sri sudah terpatri dalam diri Jenaka. Memberinya semangat untuk terus membuat Mandala mencintainya.


Kini, melihat Mandala memeluknya dengan penuh kekhawatiran membuatnya semakin yakin kalau namanya sudah ada dalam hati Mandala meski hanya sedikit. Tak apa-apa daripada tidak sama sekali. Semangat Jen!


"Pokoknya besok-besok jangan pernah matiin Hp kamu lagi! Kasih kabar kalau mau pergi! Mau ke rumah teman kamu sekalipun pokoknya aku mau kamu tetap kasih aku kabar, oke?"


"Iya... iya..."

__ADS_1


Acara pelukan Mandala dan Jenaka terganggu kala terdengar suara deheman dari arah pintu.


"Ehem!"


Jenaka dan Mandala melepaskan pelukan mereka dan melihat siapa yang berdehem. Betapa terkejutnya mereka ternyata yang datang adalah Papi Prabu dan Mami Nina.


"Assalamualaikum!" sapa Mami Nina dengan nada riang. "Maaf mengganggu pengantin baru lagi mesra-mesraan!" goda Mami Nina.


"Waalaikumsalam. Papi, Mami!" Jenaka menghampiri kedua mertua diikuti Mandala. Mereka salim, Jenaka cipika cipiki dengan Mami Nina. Akrab sekali mereka.


"Kok enggak ngabarin kalau mau kesini?" tanya Mandala yang memeluk sayang Maminya.


"Niatnya mau kasih surprise. Terakhir kesini malah dapet berita kurang menyenangkan eh sekarang malah melihat kemesraan kalian yang lagi peluk-pelukan. Bikin Mami dan Papi iri aja deh!" ledek Mami Nina sambil tersenyum bahagia.


"Ih Mami, Jena kan jadi malu. Ayo duduk dulu, Mi. Kita makan malam bareng ya? Mami dan Papi nginep kan?" sambutan Jenaka begitu hangat. Pantas Mami Nina sangat menyukainya.


Mandala menatap kedekatan Jenaka dan Maminya. Natural tanpa dibuat-buat. Pantas Mami menyayanginya. Beda sekali saat Mami melihat Kinara. Terlihat sebal dan tak suka begitu amat kentara di wajahnya.


"Nginep dong. Mami dan Papi mau nginep dua hari. Boleh kan?"


Sementara itu, Jenaka langsung turun ke dapur. Ia melihat menu masakan Mala sangat tidak menggugah selera. Hanya ikan goreng dan sayur bayam.


Jenaka mencuci tangannya dan mulai memasak menu sederhana rumahan yang pasti menggugah selera siapapun. Ia membuat tumis oncom leunca, sambal terasi, ikan asin goreng dan tempe orek.


"Bu, yakin mau menghidangkan menu ini? Bukannya terlalu biasa aja? Bu Kinara berpesan kalau mertuanya datang, pesankan saja menu dari restoran yang sudah pasti kelezatannya." protes Mala. Sejak tadi apapun yang Jenaka lakukan selalu Mala anggap remeh. Jenaka sebal sebenarnya dengan orang suruhan Kinara ini. Ia nyonya rumah disini, bukan Kinara apalagi Mala!


"Kalau mereka enggak doyan, kita kasih security depan komplek aja, Mal!" jawab Jenaka dengan santainya.


Mala ogah-ogahan membantu Jenaka membuat Jenaka sendiri yang mengatur meja makan. Menata menu di meja makan serapi mungkin agar menarik minat mertuanya.


Bunda bilang, apapun yang dilakukan dengan ikhlas dari hati pasti akan sampai kepada yang dituju. Tidak semua hal dipandang dari nilai mahalnya. Ada juga yang dipandang dari ketulusan dan niatnya.


Suara obrolan terdengar dari tangga. Mandala datang bersama kedua orang tuanya menuju meja makan.


"Hmm... harum sekali. Kamu masak apa sih, Sayang?" tanya Mandala pada Jenaka.

__ADS_1


"Sayang? Enggak salah? Baru kali ini aku dipanggil Sayang sama Kak Mandala." batin Jenaka sambil melonjak kegirangan.


"Iya nih, wangi banget masakan kamu Jen. Apa itu? Wah tumis oncom? Ya ampun Mami kangen banget masakan rumahan kayak gini! Mami mau langsung makan pake tangan! Cuci tangan dulu ah!" Mami Nina begitu bersemangat dan mencuci tangannya di washtafel.


"Papi juga mau sama kayak Mami ah. Enak banget ada ikan asin dan sambalnya!" Papi Prabu tak kalah semangat.


Jenaka tersenyum sambil melihat ke arah Mala yang tertunduk malu.


"Ayo... ayo Mi, Pi. Kita makan malam bareng! Maaf kalo menunya seadanya ya Mi, Pi." ucap Jenaka.


"Seadanya apa? Bagi Papi dan Mami ini tuh menu mewah. Bosan kita berdua makan makanan hotel yang rasanya standar. Enakkan makanan kayak gini. Jadi inget masa kita susah dulu ya, Mi!" Papi meminta dukungan Mami Nina yang sedang asyik menikmati makanannya.


"Iya, Pi. Ih enak banget ini Jen masakan kamu! Ya ampun sambelnya pedes nagih! Mami mau nambah ah!" Mami Nina makan dengan lahapnya.


Jenaka tersenyum bahagia melihat masakannya bisa disukai orang lain, apalagi ini mertuanya sendiri. Pengusaha terkenal yang rendah hati dan menilai sesuatu dari ketulusan seseorang bukan dari materi saja. Pantas Ayah dan Bunda bersahabat dengan mereka, orang baik berteman dengan orang baik pula.


Mandala sejak tadi diam. Ia asyik dengan makanannya sendiri. Ia kepedesan dengan sambal buatan Jenaka namun malah makin lahap makannya. Jenaka hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.


****


Jenaka baru saja menunaikan sholat setelah sebelumnya mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Pintu kamarnya dibuka tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan Mandala. "Jen, malam ini kamu tidur di kamar aku ya!" perintah Mandala.


Jenaka melepas mukena dan melipatnya sampai rapi. Ia mengenakan baju tidur yang sopan hari ini. Nanti saja mengerjakan misi Bu Sri saat tak ada Papi dan Mami dirumah.


"Aku enggak mau, Kak." jawab Jenaka dengan santainya.


"Apa kata Mami dan Papi nanti kalau kita tidur terpisah, Jen?" tanya Mandala.


Jenaka tau perintah Mandala karena Mami dan Papinya ada di rumah ini. Bukan karena kemauan Mandala sendiri.


"Kalau Kak Mandala mau kita tidur satu kamar yaudah di kamar ini saja. Aku enggak mau tidur di kasur yang pernah Kak Mandala gunakan untuk meniduri Kinara." ucap Jenaka dengan tegas. "Take it or leave it? Terserah Kakak!"


****

__ADS_1


__ADS_2