Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Akhir Kerjasama


__ADS_3

"Beneran Jen aku ikut?" tanya Juna ragu-ragu.


"Bener dong. Emangnya kenapa? Bukannya kamu mau berenang?" Jenaka menyiapkan bahan-bahan untuk dibawa ke rumah Mandala. Bunda sudah tau dan membantu menyiapkan segala keperluan agar Jenaka bisa memasak kesukaan Mami Nina, sahabatnya.


"Malu, Jen. Ada keluarganya Mandala." ujar Juna sambil berbisik. Ayah masih ada di rumah, belum pergi ke pos hansip untuk bermain catur. Takut terdengar dan membuat Ayah marah.


"Udah tenang aja. Ada aku! Ayo kita berangkat!"


Sementara Jenaka berpamitan pada Ayah, Juna memasukkan barang-barang ke mobil. Semua agar Ayah tak tahu kalau kedua anaknya mau ke rumah Mandala.


Kedatangan Jenaka di rumah Mandala disambut hangat dengan Mami Nina dan Papi Prabu. Mami Nina memeluk Jenaka dengan sangat hangat, rasa kangen di dadanya bahkan membuatnya menangis haru.


"Mami kangen sama kamu, Jen. Padahal belum sampai setahun kita udah ketemu dan kamu suka memasak untuk Mami, tetap saja Mami maunya dekat kamu terus. Mami sudah dengar dari Mandala, kalian akan rujuk. Ya Allah Mami senang banget, Jen. Semoga kalian bisa kembali bersatu dan cepat kasih Mami dan Papi cucu ya, Nak." Mami Nina menatap Jenaka dengan penuh cinta.


"Aamiin, Mi. Doakan saja. Sampai lupa, kenalin Mi." Jenaka menarik lengan Juna agar mendekat. "Ini saudara kembar, Jena. Juna namanya. Mami Nina ini Juna. Juna ini Mami Nina, Maminya Kak Mandala tersayang."


Mami Nina dan Juna saling bersalaman. Papi sudah duluan Jenaka kenalkan pada Juna saat di depan rumah.


"Wah... Mami belum pernah ketemu. Mirip sekali dengan kamu, Jen. Ah andai cucu Mami nanti kembar pasti lucu deh!" Mami Nina sudah berkhayal jauh ternyata.


"Udah ah, Mi. Juna sama Mandala mau berenang dulu." Mandala mengajak Juna berenang, namun saat berjalan melewati Jenaka Ia membisikkan sesuatu. "Aku kangen sama kamu!"


Jenaka tersipu malu mendengar perkataan Mandala. Mami Nina ikut tersenyum melihatnya.


"Ayo kita masak, Jen! Kamu harus ajarin Mami ya!"


Jenaka dan Mami Nina dengan dibantu Mala memasak bersama sambil sesekali mengobrol. Mami Nina menceritakan kisah Mandala sewaktu kecil.


"Mandala tuh dulu judes banget. Tiap digodain sama teman-teman Mami, mukanya jutek banget. Enggak ada senyum sama sekali. Padahal teman-teman Mami tuh kece-kece loh!" tentu saja kece, Mami kan geng teman-temannya adalah geng sosialita. Glowing karena perawatan mahal bukan cuma pakai Killy saja kayak emak-emak low budget.


"Sampai sekarang juga masih jutek, Mi. Kalau banyak cewek yang ngerubutin pasti deh langsung memasang wajah jutek." Jenaka teringat saat sepedahan, Mandala dikerubuti cewek-cewek kece namun sikapnya tetap saja dingin dan agak jutek. "Mungkin itulah pesonanya Kak Mandala, Mi. Ganteng dan jutek. Kayak Tao Ming Tse."


"Tao Ming Tse apa? Eh orangnya dateng!" Mami menghentikan obrolan tentang Mandala.

__ADS_1


"Mana nih? Udah mateng belum?" tanya Mandala yang datang dengan handuk putih menutupi setengah tubuhnya. Sisanya tentu saja menampakkan perutnya yang sixpack dan ototnya yang...


Jenaka menggelengkan kepalanya. Mengusir setiap pikiran kotor di kepalanya jauh-jauh.


"Sayang, Juna jago banget renangnya. Aku tuh sampai susah ngebalapnya. Biasa lawan rekan satu profesinya. Ah aku kesal deh! Kalah telak aku!" Mandala terus berceloteh sementara Jenaka untuk menelan salivanya saja sulit.


Mami Nina tau apa yang Jenaka pikirkan. Memang Mandala itu suka enggak peka kalau dirinya sangat menggoda kaum hawa.


"Mandala, sana pakai baju dulu! Jena sekarang bukan istri kamu lagi. Jaga aurat kamu, Nak!" omel Mami Nina.


"Oh iya! Lupa! Aku mandi dulu! Jen, nanti Juna ke kamar tamu aja ya. Biar dia mandi disana aja." Mandala pun pergi meninggalkan Jenaka.


"Maafin Mandala ya, Jen. Kasihan duda satu itu! Cepetlah kalian rujuk!"


"Maunya sih begitu, Mi. Kak Mandala bilang masih harus menyelesaikan sesuatu dulu. Doakan saja ya Mi semoga kami bisa rujuk lagi!"


"Aamin. Tentu saja, Sayang. Mami akan mendoakan kalian selalu."


Jenaka masih berada di rumah Mandala. Menghabiskan weekendnya dengan Mami dan Mandala.


"Sayang, aku juga disuapin dong! Jangan Mami terus!" Mandala cemburu sejak tadi Jenaka menyuapi Mami buah potong saat menonton TV bersama.


"Biarin aja sih? Jenaka kan kangen sama Mami! Kapan lagi coba Mami disuapin sama anak perempuan satu-satunya Mami?" Mami tak mau kalah.


"Ish! Mandala jadi enggak bisa berduaan sama Jenaka nih gara-gara Mami! Padahal Juna udah pulang. Mandala kan bisa memadu kasih dan bermanja ria sama Jenaka! Mami sama Papi aja! Gangguin anak muda pacaran aja nih!" keluh Mandala.


"Enggak ada itu pacaran-pacaran! Halalin dulu Jena baru mau pacaran atau lebih boleh. Sekarang belum boleh!" omel Mami Nina.


"Jena kan kesini buat Mandala, Mi! Kenapa jadi Mami kuasain sih?"


"Ish! Sejak kapan kamu kayak anak kecil begitu? Gaya doang kalo dikerubutin cewek sok jutek, kalo Jena lebih perhatiin Mami kamu ngambek. Ah enggak macho!" ledek balik Mami Nina.


"Jen, kamu lebih baik sama aku deh!" Mandala merubah nada suaranya menjadi lebih berat dan terkesan amat berwibawa. "Kita jalan aja yuk, Jen!"

__ADS_1


"Eits! Enggak boleh! Kalian lagi backstreet! Kalau sampai ketahuan orang lain, bisa rusak rencana kamu! Sabar, nunggu 3 minggu lagi!" Mami Nina memperingatkan Mandala. Dengan terpaksa Mandala menurut dan mengalah pada Mami. Sabar Man...Sabar....


****


Minggu demi minggu berlalu. Mandala dan Jenaka masih menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang. Hanya agar kontrak kerja selesai tepat waktu.


Jenaka juga masih menjaga jarak dari Panca. Mengacuhkan setiap usaha yang Panca lakukan.


Panca sampai putus asa dibuatnya. Kata maaf selalu Ia ucapkan meski Jenaka bilang kalau Ia sudah memaafkannya namun hubungan mereka tak bisa diperbaiki lagi.


Panca juga sudah berusaha dengan segala cara. Meluluhkan hati Jenaka yang beku bak gunung es. Semua gagal. Panca bukanlah pemilik hati Jenaka.


Sampai akhirnya tiba waktu dimana Mandala datang ke perusahaan Panca untuk membahas kontrak kerjasama mereka. Mandala datang ditemani dengan Genta yang disambut dengan tatapan tak ramah oleh Panca.


Mandala melewati meja Jenaka dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Jenaka. Malu-malu Jenaka membalasnya dengan mengedipkan mata saat tak ada yang melihatnya.


"Lebay banget sih lo berdua!" sindir Genta yang ternyata memperhatikan tingkah absurd sepasang kekasih di depannya.


"Biarin sih, Ta. Sebentar lagi nih bakalan gue halalin!" bisik Mandala.


Panca baru saja selesai menerima tamu, kini Ia mempersilahkan Mandala dan Genta untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Dalam kerjasama antara Reel Group dan Prabu Group bisa dikatakan sangat berhasil. Keuntungan yang diperoleh keduanya terus meningkat. Maka dari itu, saya selaku pimpinan dari Reel Group akan memperpanjang kontrak kerjasama kita selama dua tahun kedepan." ujar Panca.


Panca yang sangat percaya diri karena merasa Mandala tak akan berkutik jika kerjasama mereka diperpanjang tak pernah menyangka kalau akan menelan kekecewaan.


"Saya turut senang dengan keputusan Bapak Panca yang hendak memperpanjang kontrak kerjasama diantara perusahaan kita. Namun dengan menyesal saya mewakili Prabu Group tidak akan memperpanjang kontrak kerjasama kita." ujar Mandala dengan penuh keyakinan.


Panca sangat terkejut dengan keputusan yang Mandala ucapkan. "Bukankah kerjasama kita saling menguntungkan? Kenapa tidak memperpanjangnya?"


"Mohon maaf sekali, namun perusahaan kami sudah bekerja sama dengan perusahaan lain. Dengan begini, maka kita tidak lagi terikat kontrak kerjasama. Terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Saya pamit dulu. Selamat siang!" Mandala pamit dan pergi meninggalkan Panca. Ia tak mau berdebat lebih panjang lagi. Urusan selesai, kini tinggal restu Ayahnya Jenaka.


****

__ADS_1


__ADS_2