Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Mengenal Lebih Jauh Tentangmu


__ADS_3

"Istrinya Nak Mandala? Beneran? Wah kapan nikahnya? Kok enggak ngundang-ngundang Ibu, sih?" rupanya Ibu penjual ayam bakar amat dekat dengan Mandala sampai minta diundang dalam resepsi Mandala.


"Udah 3 bulan lebih, Bu. Maaf bukan enggak mau ngundang, yang ngatur acaranya Mami. Dala ikut aja, Bu." jawab Mandala.


"Ibu doain pernikahan kalian awet sampai maut memisahkan. Jodoh kalian panjang. Bahagia selalu menyertai rumah tangga kalian!" doa tulus dari Ibu penjual ayam bakar diaminkan oleh Mandala dan Jenaka.


"Aamiin!" jawab keduanya kompak.


"Nak Mandala pesan seperti biasa?"


"Iya, Bu. Buat Jenaka pesan seporsi aja. Jangan lupa pake es teh manis ya Bu!" pesan Mandala.


"Siap. Duduk dulu di dalam, Nak. Ibu buatin dulu!"


Mandala lalu mengajak Jenaka masuk ke dalam ruang tamu yang digunakan sebagai tempat makan para pembeli. Baru kali ini, Jenaka makan dimana pembeli makan di ruang tamu penjualnya. Unik sih. Mungkin karena keterbatasan lahan, letaknya saja di dalam gang yang hanya dilewati dua motor itu pun harus bergantian.


"Kenapa? Heran?" tanya Mandala. "Nyesel aku ngajaknya kesini bukan ke restoran mewah?"


"Kata siapa? Aku sih fine aja diajak ke tempat kayak gini. Cuma agak heran, Kak Mandala tau darimana tempat ini?" tanya Jenaka.


"Dari teman sejak aku SMA, Didi namanya."


"Didi? Satu SMA sama kita juga? Kok aku enggak kenal ya? Padahal semua yang akrab sama Kak Mandala aku tau loh!"


"Didi enggak satu sekolah sama aku. Dia teman tongkronganku. Dulu kalau aku latihan taekwondo bareng sama Didi dan anak-anak lainnya."


"Lalu apa hubungannya sama tau makan disini?"


"Sabar, Neng. Didi itu rumahnya deket sini. Tuh rumahnya!" Mandala menunjuk rumah di seberang bercat hijau. "Kalau main ke rumah Didi aku dan anak-anak selalu diajak makan ayam bakar disini, makanya aku udah dikenal sama Ibu yang jual."


"Oh... Terus kenapa enggak mampir? Enggak nyapa keluarganya Didi dulu gitu?" tanya Jenaka.

__ADS_1


Raut wajah Mandala berubah muram, seperti ada awan gelap yang menutupinya. Berubah dalam sekejap, dari ceria jadi murung pasti ada sebabnya kan?


"Didi... udah meninggal."


"Inalillahiwainailaihirojiun. Udah lama meninggalnya?"


Mandala mengangguk. "Saat aku masuk kuliah. Didi jadi korban tabrak lari. Tak ada yang menolongnya saat itu. Didi meninggal setelah dirawat selama seminggu di ruang ICU."


Jenaka memegang tangan Mandala. Menepuknya dengan lembut, memberinya dukungan meski tanpa kata. Ternyata Mandala menyimpan kisah sedih yang Ia sembunyikan dengan rapat.


"Kak Mandala mau mampir dulu enggak nanti sebelum pulang?"


Mandala menggeleng. "Keluarga Didi sudah pindah, Jen. Waktu itu mereka mengeluarkan biaya yang sangat besar sampai menjual rumah. Aku... enggak bisa bantu. Waktu itu aku kabur dari rumah karena Papi enggak setuju dengan Kinara. Aku enggak megang uang sama sekali, aku saja hanya mengandalkan Kinara untuk makan sehari-hari. Akhirnya aku kembali pulang ke rumah dan meminta Papi membayar biaya pengobatan Didi. Sayangnya semua sudah terlambat. Nyawa Didi tak tertolong,"


"Andai waktu itu aku tetap di rumah Papi, aku pasti bisa menggunakan kartu yang Papi berikan untuk menolong Didi dan memberikannya perawatan terbaik. Keluarga Didi sibuk mengumpulkan biaya untuk operasi Didi dan saat semua terkumpul, semua sudah terlambat. Itu salah satu penyesalan terbesar aku Jen dalam hidup." Mandala menghapus setitik air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Ingin rasanya Jenaka memeluk Mandala. Sayangnya mereka sedang di rumah orang. Tak sopan rasanya.


"Makasih, Jen!"


"Makanan datang!" Ibu penjual ayam bakar datang membawa pesanan Mandala.


"Makasih, Bu." ujar Mandala.


"Semoga suka ya, Neng!" senyum Ibu penjual ayam bakar pada Jenaka.


"Iya, Bu. Apa yang Kak Mandala suka, aku pasti suka!" balas Jenaka.


"Ih... Kalo pasangan suami istri baru nikah mah romantis! Ayo...ayo... dimakan!"


Mandala mengajak Jenaka mencuci tangan di washtafel yang terletak di ruang tamu. Sungguh rumah makan yang aneh sih. Serasa makan di rumah sendiri. Washtafel diletakkan di sudut ruang tamu agak pembeli bisa mudah mencuci tangan.

__ADS_1


Rumah makan ini lumayan rame. Di kursi luar sudah penuh oleh para karyawan yang ingin makan siang. Di bagian dalam juga mulai ramai tapi masih ada jarak karena makannya secara lesehan jadi tidak terlalu padat.


"Mm... Enak!" puji Jenaka.


"Bener kan enak? Apa aku bilang! Ini tuh salah satu ayam bakar ter-enak yang aku coba!" promosi Mandala.


"Pantes aja Kak Mandala sering kesini. Tapi kok Kak Mandala ngenalin aku sebagai istrinya Kak Mandala sih?" tanya Jenaka sambil tetap menikmati makan siangnya yang nikmat. Ayam bakar dengan sambal goreng pedas manis kesukaannya.


"Memang bener kan kamu istri aku? Salahnya dimana?" tanya balik Mandala.


"Bukan gitu, Kak. Memangnya Kak Mandala enggak pernah ngenalin Kinara gitu sama Ibunya?"


Mandala menggelengkan kepalanya. "Mana mau Kinara makan disini Jen? Aku pernah ngajak dia, pas sampai Indodesember dia enggak mau keluar mobil saat tahu kalau aku ngajak dia makan di dalam gang. Alasannya, males jalan jauh kalau pakai heels. Takut ketemu sama fansnya. Takut di dalam panas enggak ada AC. Banyaklah alasannya. Makanya tadi aku tanya dulu, kamu mau ikut enggak? Kamu bilang mau yaudah aku lanjutin!"


"Iyalah aku mau. Pertama, aku pakai sepatu flat shoes jadi gak masalah keluar masuk gang. Kedua, aku enggak terkenal, paling cuma teman-temannya Kak Genta aja yang jadi fans berat aku. Ketiga, walau enggak ada AC disini rumahnya adem dan ada kipas anginnya, aku enggak masalah. Bagiku, yang penting makanannya enak!" jawaban Jenaka membuat Mandala kembali tersenyum.


Lagi-lagi Mandala mendapat sosok seorang teman dalam diri Jenaka. Teman yang selama ini ada disisinya hanya teman bertopeng yang punya maksud terselubung padanya. Teman yang sudah lama menghindarinya karena memandang status sosial yang Ia miliki saat ini. Jenaka adalah teman yang sangat tulus padanya.


"Jen, aku tuh enggak nyesel tau nikahin kamu! Malah aku bersyukur. Meski aku masih membuat kamu menderita sampai sekarang, aku akan berusaha menjaga hati kamu. Ajari aku pelan-pelan ya Jen. Aku tahu aku tak bisa adil. Aku tahu aku hanya manusia biasa. Tapi aku mau mencoba untuk belajar, mengenal kamu dan mungkin lebih dari itu."


Jenaka menatap Mandala, Ia tahu suaminya tak berbohong. Ia tahu kalau dirinya berhasil menggerakkan hati Mandala meski sedikit namun Ia yakin akan bertambah banyak nantinya.


"Iya, Kak. Tapi Kak Mandala enggak romantis banget sih? Masa ngomong kayak gitu pas tangan aku belepotan sambel begini? Di tempat yang ramai orang gini juga lagi! Ah Kak Mandala harus belajar sama guru spiritual aku nih!" Jenaka meneruskan lagi makannya sampai habis tak tersisa. Enak sekali rasa ayam bakarnya, benar kata Mandala.


"Guru spiritual? Dukun? Paranormal? Cenayang?" Mandala mengikuti Jenaka yang hendak mencuci tangan.


"Hmm... Teman aku, Kak. Master Sri. Aslinya sih Bu Sri. Dia yang selama ini banyak support aku. Banyak kasih saran dan kritik. Bukan cenayang tapi banyak yang bisa dia prediksi dan benar jawabannya." ujar Jenaka seraya mencuci tangannya sampai bersih.


"Boleh aku bertemu guru spiritual kamu?"


****

__ADS_1


__ADS_2