
"Wah saya sangat terkejut mendapati Pak Mandala datang langsung ke perusahaan saya dan bukan mengutus perwakilan seperti biasanya. Tumben sekali?!" sindir Panca. Meski tadi Ia tak melihat langsung namun Ia tahu Jenaka dan Mandala sempat berbicara sebelum Ia datang.
Melihat dari sikap Jenaka yang terlihat biasa saja dan tidak terkejut, bisa dipastikan kalau ini bukan pertemuan pertama mereka. Kapan mereka bertemu? Pasti sabtu kemarin saat Jenaka tiba-tiba menghilang di depannya.
"Saya sedang berjalan-jalan Pak Panca. Bosan di kantor terus. Sekalian menghandle sendiri pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan. Bagaimanapun, Genta akan memimpin sendiri perusahaan orang tuanya kelak. Kalau saya tidak terjun langsung ke lapangan, bagaimana kelangsungan perusahaan saya nanti?" Mandala kalau masalah bersilat lidah tak akan kalah dengan Panca.
Panca mengangguk-angguk saja. Tak mau memperpanjang pembahasan tak penting. "Pak Mandala mau minum apa?" tawar Panca.
"Oh, tadi saya sudah disediakan. Kebetulan tertinggal di depan. Saya ambil dahulu."
"Tak perlu! Biar sekretaris saya yang ambilkan. Bagaimanapun Pak Mandala tamu disini." Panca lalu menelepon ext Jenaka, menyuruhnya membawa minuman Mandala ke dalam ruangannya.
"Permisi!" Jenaka membawakan minuman milik Mandala. Ia menaruhnya di depan Mandala.
Jenaka yang menunduk agak terkejut saat melihat dua tangan Mandala membentuk love. Ia berpura-pura tak melihatnya namun Mandala yang menahan senyum sedikit mengusiknya.
"Ada apa lagi, Jen?" tanya Panca yang tau ada sesuatu sampai Jenaka terkejut begitu.
"Oh... Enggak ada apa-apa. Saya permisi dulu, Pak!"
Jenaka keluar dari ruangan Panca dan mengipasi wajahnya yang panas. Pasti sudah memerah deh wajahnya. Ngapain juga coba Mandala kasih kode love pada dirinya? Ya ampun...
Jenaka kembali mengerjakan pekerjaannya, namun konsentrasinya hilang. Ia mengambil Hp dan membaca novel, namun lagi-lagi dirinya tidak fokus. Ia pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya.
Jenaka menatap wajahnya di cermin. Masih terlihat wajahnya bersemu merah, bukan karena blouse on tentunya.
Jenaka mengeringkan tangannya dan berjalan keluar kamar mandi. Kembali Ia terkejut saat mendapati Mandala berdiri di depan kamar mandi.
Mandala melipat kedua tangannya di dada. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok. Senyumnya terukir saat melihat Jenaka keluar dan terkejut saat melihatnya.
"Hi, Jen!" sapa Mandala.
"Iya... Hi!" jawab Jenaka malas.
"Makan siang yuk, Jen!" ajak Mandala.
"Maaf, waktu istirahat makan siang saya masih lama." tolak Jenaka.
__ADS_1
Jenaka pun melewati Mandala, namun lagi-lagi Mandala menarik tangannya. "Tapi aku mau makan siang sama kamu, Jen!"
"Ih... Aku enggak mau! Jangan maksa dong!"
"Aku enggak maksa Jen. Bener deh, aku mau makan siang sama kamu. Mau ya Jen?" pinta Mandala sungguh-sungguh.
Kalau dulu Mandala melakukan hal ini, tentu Jenaka akan luluh. Tapi kini? Jangan harap!
Jenaka menyunggingkan seulas senyum. "Enggak bisa, Kak! Udah ya, bye!" Jenaka melepaskan tangan Mandala dan pergi ke dalam. Meninggalkan Mandala seorang diri.
****
Mandala bersungut kesal sambil memukul stir mobilnya. Suasana hatinya buruk. Hari ini Ia ditolak Jenaka. Kesal sekesal kesalnya.
Kini Mandala tau apa yang Ia cari dalam hidupnya yang kelabu. Ya, Mandala akan mengejar cinta Jenaka.
"Lihat saja, Jen. Dulu, kamu yang mengejar cintaku. Tapi kini, biar aku yang mengejar cinta kamu, Jen. Lihat saja, aku akan membuat kamu bertekuk lutut Jen akan cintaku! Lihat saja nanti!" tekad Mandala.
****
"Ngapain sih Jen, Mandala terus ngikutin kamu?" tanya Panca. Ia tahu apa tujuan kedatangan Mandala. Pasti Jenaka.
"Siapa yang ngikutin aku sih Ca? Aku enggak ngerasa diikutin!" Jenaka asyik saja memakan makan siangnya.
"Ya Mandala lah! Tuh anak kenapa sampai datang langsung ke perusahaan kita coba? Biasanya juga nyuruh bawahannya langsung. Alasannya sibuk lah. Banyak meetinglah. Kayak aku enggak sibuk aja!" gerutu Panca.
"Jadi kamu tuh senang apa enggak sih sebenarnya Kak Mandala datang ke perusahaan? Tadi nanya, terus ngedumel. Enggak jelas deh!" sahut Jenaka.
"Ya kalau tujuannya ke kantor buat deketin kamu tentu saja aku enggak suka, Jen!"
"Kenapa? Aku kan single kece. Masalahnya dimana? Kalau ada yang mau deketin aku siapapun itu, terserah kan?"
"Jadi kamu senang dideketin sama Mandala?" tanya balik Panca. Terlihat sekali sorot matanya memancarkan kecemburuan.
"Ca, aku tuh dulu ngejar-ngejar banget Kak Mandala. Kalau sekarang Kak Mandala yang ngejar-ngejar aku, ya tentu rasanya senang banget. Nggak ada maksud apa-apa. Kamu tahu nggak rasanya kita dikejar-kejar sama seseorang ya udah kita idolain sejak lama? Ada satu kepuasan batin di dalam hatiku, Ca. Kaya' ini mimpi apa bukan ya?!"
"Kamu lupa Jen, apa yang udah Mandala lakukan sama kamu? Lupa kalau selama ini dia tuh banyak nyakitin kamu? Masa sih cuma karena dia menggoda dan kamu langsung tergoda gitu?"
__ADS_1
"Yang bilang aku tuh tergoda siapa ya, Ca? Aku enggak tergoda kok! Aku kan cuma bilang kalau aku senang. Kalau masalah tergoda sih aku belum kepikiran, Ca. Aku masih mau sendiri. Aku masih mau menikmati menjadi single yang bebas."
"Yakin kamu enggak akan tergoda? Udah deh Jen, kita nikah aja yuk biar kamu ada yang melindungi. Ibaratnya, saat kamu jadi istriku nanti aku tuh pakaian yang akan menutupi seluruh tubuh kamu. Melindungi kamu dari cowok lain yang berniat nggak baik. Itulah gunanya pernikahan. Kenapa sih kamu sampai sekarang nggak pernah menganggap aku ada?"
"Bukannya aku nggak pernah menganggap keberadaan kamu, Ca. Aku sayang kamu. Kamu baik sama aku. Cuma jujur saja, aku sulit membuka hati aku. Aku masih merasa pernikahan itu hal yang menyakitkan. Mungkin seiring berjalannya waktu, lukaku akan sembuh dan aku bersedia membangun rumah tangga lagi." Jenaka mencuci tangannya sampai bersih lalu mengajak Panca pulang.
"Balik yuk, Ca! Aku mau lanjutin baca novelnya!" ajak Jenaka.
"Dasar anak buah enggak tau diri! Untung aja atasannya baik huh!" Panca menyentil kening Jenaka dengan jarinya, membuat Jenaka mengaduh kesakitan.
"Awww! Sakit tau! Kalau aku tambah jenong kayak ikan louhan gimana?"
"Nanti aku usap-usap keningnya biar enggak bengkak. Diusap pakai cinta mau?" goda Panca.
"Preet! Makan tuh cinta! Udah ah aku mau balik ke kantor!" Jenaka dan Panca pun kembali ke kantor.
Saat memasuki kantor, banyak karyawan yang berbisik-bisik saat melihat kedatangan Jenaka. "Ada apa ya, Ca? Kok mereka ngeliatinnya kayak gitu?" bisik Jenaka.
"Entahlah, Jen. Aku juga enggak tau. Aku mau nanya sama sekretarisku eh dia sama bloonnya sama aku!"
"Nyindir nih?" tebak Jenaka.
"Enggak tuh! Makanya jadi orang jangan terlalu kebaperan!" Panca menekan tomblol lift ke ruangannya. Hanya ada Panca dan Jenaka dalam satu lift.
Kantor Mandala dan Panca memang beda. Di kantor Mandala, lift bisa barengan. Prinsip kantor Mandala adalah siapapun sama saja. Beda dengan kantor Panca. Lift untuk atasan dibuat sendiri.
Ting!
Lift pun berhenti di ruangan Panca. Saat pintu lift terbuka, Jenaka amat terkejut mendapati apa yang ada di dalam ruangan mereka.
Dengan hanya menebak Jenaka bisa tahu siapa yang mengirimnya. "Kak Mandala!!!" geram Jenaka dalam hati.
****
Hi... aku mau promo lagi... rajin ya aku promo? habis yg aku promisiin keren-keren sih. mampir juga ya
__ADS_1