
Setelah mengobrol sebentar dengan Ayah, keluarga Melisa pun pamit pulang. Senyum puas di wajah mereka menandakan kedatangan mereka tak sia-sia.
Kini, Juna masih harus menghadapi Ayah dan Bunda yang duduk di depannya dengan segudang pertanyaan. Jenaka dan Mandala pamit duluan.
Jenaka mau menyiapkan makan malam untuk suaminya terlebih dahulu. Ayah dan yang lainnya akan menyusul.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Arjuna?" tanya Ayah.
"In sha Allah sudah, Yah."
"Bagus. Ayah suka dengan sikap tegas kamu. Lalu mengenai pernikahan kalian. Acara akad nikah kita adakan disini saja ya. Kita buat seperti pernikahan Jenaka dan Mandala kemarin. Sederhana namun kekeluargaan." putus Ayah.
"Juna setuju, Yah. Jujur saja Juna tak punya banyak tabungan. Hanya dua puluh juta saja. Belum untuk uang mahar dan seserahan. Semoga saja cukup ya Yah." Juna pun mengutarakan kegelisahannya.
"Cukup, kalau akad nikah biar Ayah yang biayai. Kamu cukup fokus memikirkan mahar biasanya perhiasan emas dan mengenai seserahan, itu kamu bicarakan saja dengan Melisa maunya apa."
"Iya, Yah."
"Udah malam, ayo kita makan dulu. Ayah sudah lapar nih." ajak Ayah.
"Ayo! Jenaka udah siapin. Kita makan saja. Pikirkan masalah pernikahan setelah kenyang saja!" ujar Bunda.
****
Sehabis sholat subuh, Juna berangkat kerja. Ia membawa beberapa helai pakaian dalam tas punggungnya.
Juna beserta rekan-rekannya sudah dalam bus hendak ke lokasi bencana banjir dan lahar panas. Ia sudah harus siap sedia ditugaskan seperti ini.
Juna menatap ke jendela. Ia akan menikah, Melisa akan menjadi istrinya sebentar lagi. Akankah Ia mampu?
Senyum di wajah Juna tersungging ketika Ia mengingat saat Ia menerima lamaran Melisa. Ya, lamaran Melisa. Bukan dirinya yang melamar.
Hp di saku celana Juna bergetar. Melisa mengirimkannya pesan.
"Assalamualaikum Juna. Kamu udah berangkat?" isi pesan dari Melisa.
Juna mengirimkan foto pemandangan dari jendela bus. "Waalaikumsalam. Sudah. Ini sudah di jalan."
Melisa terlihat sedang mengetikkan sesuatu setelah tanda centang biru yang artinya pesan telah dibaca.
__ADS_1
"Semoga selamat sampai tujuan, pekerjaan disana cepat selesai dan kamu kembali tanpa kekurangan satu apapun."
"Aamiin." jawab Juna singkat.
"Aku tunggu kamu pulang!"
"Ok."
Juna tersenyum memandangi layar ponsel miliknya. Semangat dalam dirinya terasa bertambah. Ia harus secepatnya menyelesaikan tugas dan kembali untuk Melisa. Akhirnya ada juga yang menunggunya pulang selain keluarganya.
****
Sementara itu Panca dan Jelita juga sedang mempersiapkan rencana pernikahan mereka. Kedua orang tua Panca sudah datang dari Amrik. Mereka tekejut saat Panca kembali mengabarkan kalau akan menikah dalam waktu dekat, lebih terkejut lagi saat tau kalau Panca akan menikahi Jelita bukan Jenaka yang selama ini mereka tau sebagai cinta sejati Panca.
Panca mengajak kedua orangtuanya datang untuk melamar Jelita. Hanya Panca, kedua orangtuanya dan pamannya yang bertindak sebagai perwakilan yang akan berbicara mewakili orang tua Panca.
Keluarga Jelita menyambut hangat kedatangan keluarga Panca. Mereka tak menyangka kalau nasib Jelita begitu beruntung bisa dipersunting oleh keluarga pengusaha kaya raya seperti Panca, pemilik Real Group.
Panca mengutarakan maksudnya untuk mempersunting Jelita dalam waktu dekat. Tak mau melalui masa pacaran seperti anak muda kebanyakan dan memilih taaruf.
Ibu Jelita setuju saja. Bahkan saat Panca meminta acara akad nikah diadakan hari sabtu besok, beliau pun mengiyakan.
****
"Sayang, Panca ngundang aku untuk hadir di acara akad nikahnya sabtu besok." beritahu Jenaka pada Mandala.
"Oh ya? Secepat itu?" Mandala terkejut dengan informasi yang Jenaka beritahukan.
"Iya, mereka kan memang maunya ta'aruf. Ya kurang lebih sama kayak Juna dan Melisa."
"Baguslah. Menghindari pacaran dan langsung menikah itu sah saja. Asalkan sudah siap menikah, bukan asal ta'aruf saja. Siap itu bisa dalam artian sudah bekerja sehingga bisa menafkahi keluarganya. Sudah dewasa dalam pemikiran dan mengontrol emosi, karena berumah tangga itu butuh banyak kesabaran, bukan hanya tenaga saja."
"Loh kok tenaga sih?" tanya Jenaka bingung.
"Iya dong. Butuh banyak tenaga buat menyenangkan hati pasangan. Kayak aku ini, sudah siap menyenangkan hati kamu." Mandala mengerling penuh arti.
"Iya... iya... Aku paham. Aku sholat isya dulu ya!"
"Siap, Sayang!"
__ADS_1
****
Melisa sudah janjian dengan Jenaka dan Mandala akan bertemu di rumah Panca. Mereka sebagai pengiring pengantin pria yang membantu membawakan barang-barang seserahan untuk Jelita.
Bunda dan Ayah pun tak ketinggalan. Panca yang sudah dianggap anak sendiri meski tak jadi menikahi Jenaka tetaplah harus dibantu saat mau menikah.
Keluarga Panca yang hanya sedikit jadi terlihat banyak berkat kehadiran keluarga Jenaka dan Melisa. Jangan lupakan Lily dan Lulu yang tak mau ketinggalan momen bahagia sahabat mereka.
Rumah Jelita sudah didekor untuk acara akad nikah. Panca juga akan mengadakan acara resepsi pernikahan di gedung nanti malam. Jadi setelah akad nikah, mereka akan langsung ke hotel tempat diadakannya acara.
Kenapa diadakan akad nikah di rumah Jelita? Karena permintaan Ibu Jelita yang ingin sekali saja di rumahnya diadakan acara akad nikah. Permintaannya pun diiyakan oleh Panca.
Jenaka menatap Panca yang terlihat begitu tegang di depan penghulu. Jelita sudah duduk di sampingnya mengenakan kebaya putih dengan jilbab warna senada. Cantik sekali, meski kebaya pernikahannya Jelita yang rancang sendiri dan Ibunya yang menjahitkannya. Benar-benar kompak sekali anak dan ibu.
"Kayaknya baru kemarin ya aku sama kamu berada di posisi Panca dan Jelita. Kini Panca menikah dan secepatnya Juna dan Melisa. Aku senang deh kita nikahnya deketan." ujar Jenaka seraya menyandarkan kepalanya di bahu Mandala.
"Ya, semoga saja kalau kita punya anak kelak akan seumuran ya. Kalau perlu anak-anak kita akan satu sekolah. Eh iya, kamu udah datang bulan belum?" tanya Mandala.
Jenaka menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku memang suka agak telat jadi enggak pernah perhatiin sih terakhir dapet kapan. Nanti aku lihat kalender di kamar ya. Aku catat disana.'"
"Memang enggak ada tanda-tandanya? Kayak mual atau pusing? Biasanya kan ibu hamil tuh suka ngidam juga."
"Hmm... Enggak ada tuh, Aku biasa aja, enggak ngerasa mual atau pusing. Eh liat Panca lagi! Aku mau lihat muka tegangnya dia saat ngucap ijab kabul. "
Mereka pun fokus pada Panca. Sempat sekali salah mengucap ijab kabul membuat wajah Panca semakin tegang saja.
"Tenang aja, Ca. Minum dulu." Mandala memberi saran agar Panca tidak terlalu gugup.
Setelah menenangkan diri dan menarik nafas panjang, Panca pun mengucap ijab kabul dan berhasil.
"Sah!" jawab semua yang hadir.
Panca kini bisa tersenyum dan bernafas lega. Ia kini sudah memperistri Jelita. Dalam hati Panca berdoa agar rumah tangganya senantiasa menjadi rumah tangga yang dirahmati kasih sayang dan selalu bersama sampai maut memisahkan.
"Selamat ya, Ca. Aku bahagia melihat kamu bahagia." ucap Jenaka dengan tulus. "Semoga kamu akan menjadi imam yang baik buat Jelita dan akan selalu menyayanginya dalam suka dan duka. Bahagia ya kalian selamanya."
"Makasih, Jen. Kamu memang sahabat terbaik aku. Aku senang bisa mengenal ka-"
Belum selesai Panca mengucapkan kata-katanya, Jenaka jatuh pingsan. Suasana bahagia pun berubah jadi suasana panik.
__ADS_1
****