Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Katakan Cinta


__ADS_3

Jenaka cepat-cepat mengeringkan rambutnya. Ia tak mau memakai Jilbab dengan rambut yang basah.


Semua karena Mandala. Memang suaminya itu benar-benar tak bisa melihat situasi dan kondisi.


Jenaka sudah rapi dengan hijab dan tunik panjangnya. Namun apa daya, Mandala yang baru saja mandi melihatnya dengan pandangan berbeda.


"Kenapa kamu melihat aku kayak gitu? Enggak cocok ya bajunya? Kegedean atau agak norak?" Jenaka memutar tubuhnya di depan Mandala. Ia merasa jadi insecure, takut penampilannya terlihat tak cocok. Ia akan pergi dengan Melisa, jangan sampai terlihat begitu mengenaskan jika berjalan di samping Melisa nantinya.


"Aku lagi mikir sesuatu." Mandala berjalan mendekat. Aroma sabun sehabis mandi sampai tercium ke hidung Jenaka.


"Mikir apa?"


Mandala melewati Jenaka dan mengunci pintu kamar mereka. Ia mengulum senyum penuh arti.


"Kamu enggak mikir 'itu' kan?" tebak Jenaka.


"Itu apa? Enggak kok!" Mandala berjalan makin mendekati Jenaka.


"Lalu kenapa pintunya kamu kunci?" tanya Jenaka lagi.


"Biar enggak ada yang masuk."


"Memang mau ngapain?"


"Hmm... Aku... entah mengapa tiba-tiba punya khayalan."


"Khayalan? Khayalan apa?" Jenaka makin tak mengerti perkataan Mandala maksudnya apa.


"Iya. Khayalan. Bagaimana kalau meniduri wanita cantik bertunik dan berjilbab di depanku."


Kini Jenaka mengerti maksudnya apa. Sudah jam segini dan Mandala minta dilayani. Belum Ia harus mandi lagi, mengeringkan rambut dan memakai make up dan jilbab lagi.


"Nanti malam aja bisa enggak?" nego Jenaka.


"Maunya sekarang. Adik aku mau sekarang. Nih kamu lihat saja, sudah menantang."


Jenaka tersenyum malu. "Aku mau pergi, sebentar lagi Melisa datang."


"Mereka bisa menunggu. Adik aku yang tak bisa menunggu!"

__ADS_1


Tak perlu menunggu penolakan Jenaka lagi, Mandala pun maju dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada Jenaka.


Permainan hot pun dimainkan. Tak perlu waktu lama yang penting kebutuhan rohaninya terpenuhi. Maka setelah melakukan penyatuan dengan membuka semua baju yang Jenaka kenakan mereka pun mulai melebur bersama.


Mandala beberapa kali membungkam mulut Jenaka yang ingin mendesah kenikmatan dengan ciuman. Sampai akhirnya mereka selesai dan sama-sama merasa puas.


"Bercinta di waktu pagi memang paling nikmat. Ayo kita mandi!" tanpa merasa berdosa Mandala masuk ke kamar mandi.


Jenaka menatap keadaan kamarnya yang semula rapi, kini berantakan. Bajunya yang semula licin kini menjadi kusut. Tempat tidur yang sudah dirapihkan kini berantakan.


Mau langsung mandi, namun kaki Jenaka masih gemetaran. Mandala semakin hari semakin liar saja, Jenaka harus mengimbangi hasrat suaminya yang semakin membara setiap harinya.


Mandala kini tak peduli, meski mereka berada di rumah Ayah dan Bunda, tak seharipun Ia absen menyalurkan hasratnya. Alasan itu yang membuat Jenaka lebih memilih resign. Ia butuh istirahat lebih agar selalu segar saat suaminya meminta jatah.


Setelah kakinya bisa menopang tubuhnya tanpa gemetar lagi, Jenaka pun bergegas mandi. Merapihkan kembali kamarnya yang berantakan dan memakai kembali jilbab.


Jenaka mengantarkan Mandala sampai mobil suaminya menghilang di tikungan. Melambaikan tangan dengan senyum penuh cinta.


"Sebentar ya Mel, aku ambil tas dulu." Ia melihat Juna dan Melisa berwajah merah. Seperti sama-sama menahan malu.


"Iya, Jen. Santai aja!" jawab Melisa.


Jenaka tak lama kemudian tertidur. Ternyata bermain cepat namun on fire lebih menguras tenaganya daripada bermain slow.


"Jena tidur." ujar Melisa karena sejak tadi kaki Jenaka menendang belakang kursinya.


"Pasti rusuh deh. Kamu ditendang sama dia?" tanya Juna.


"Enggak apa-apa kok. Memang tidurnya rusuh ya?"


"Ya... Begitulah. Tapi kayaknya Kak Mandala udah berhasil jinakkin deh. Ini kekurangannya Jenaka. Keliatan baik, cantik, kalem eh kalau tidur keluar semua jurus silat yang dia punya."


"Ha...ha... ha... Kamu bisa aja! Tapi mereka pasangan yang cocok loh ternyata. Aku iri melihat Mandala sangat mencintai Jena. Kapan ya kamu begitu sama aku?" sindir Melisa.


"Uhukkk...uhuk...uhuk.." Juna sampai tersedak mendegar sindiran Melisa.


"Santai... Tenang. Ayo minum dulu." Melisa mengambilkan air mineral yang memang Ia sediakan di dashboard dan membukakannya untuk Juna minum.


"Makasih."

__ADS_1


"Aku suka sama kamu, Jun. Kamu mau enggak menikahi aku?"


"Uhuk...uhuk...uhuk..." batuk Juna semakin menjadi. Untung saja mereka berada di lampu merah yang lumayan lama berubah menjadi lampu hijau.


"Minum lagi!" Melisa memberikan lagi air minum untuk Juna.


"Kamu bikin aku kaget aja!"


"Cuma kaget kan? Bukan marah? Kalau hanya kaget, berarti kamu enggak marah sama perkataan aku. Bisa juga kamu senang dengan apa yang aku katakan?" Melisa mengulum senyumnya.


"Aku... Entahlah. Aku enggak yakin bisa membahagiakan kamu. Aku juga enggak yakin bisa menjadi the one buat kamu." Juna menginjak pedal gas dan mulai mengendarai mobil mengikuti arah MAP.


"Tapi aku yakin sama kamu. Kamu akan menjadi imam aku yang baik. Kamu saja sudah merubah aku lebih baik dalam waktu sebentar. Bagaimana kalau aku menghabiskan sisa hidup aku sama kamu?"


"Mel... Aku... Kita berbeda... "


"Apa yang membuat kita berbeda? Kita semua sama!"


"Banyak. Status kamu. Pekerjaan kita. Keluarga kita. Gaya hidup kita. Semua berbeda. Kita terlalu berbeda untuk disatukan!" Juna terdengar begitu putus asa.


"Semua itu tak ada hubungannya dengan kebahagiaan kita. Kalau kamu tak mau, aku bisa melepas semua yang aku punya. Aku hanya perlu kamu. Aku hanya ingin kamu." Melisa mencoba meyakinkan Juna.


Juna jujur saja sangat kaget. Pertama kali dalam hidupnya dilamar oleh seorang perempuan.


"Aku enggak meminta kamu untuk menjawab dalam waktu dekat, Jun. Perlu kamu ketahui, aku memang lama tinggal di Amrik. Banyak gaya hidup di sana yang aku adaptasi. Pergaulan di sana yang bebas tidak aku ikuti,"


"Namun bukan berarti aku menutup diri. Aku juga anak muda yang ikut kebiasaan di sana. Gaya hidup mereka aku ikuti. Tapi aku berani mengatakan kalau perilaku mereka yang se ks bebas tidak aku ikuti. Aku juga mewanti Panca karena biar bagaimanapun kami berasal dari kultur timur,"


"Aku menginginkan hubungan yang serius dan aku mendapatkannya dalam diri kamu. Aku selama ini menyukai Panca namun hanya sekedar suka sebagai teman. Saat aku bertemu kamu, aku mau lebih dari sekedar teman. Aku mau jadi apapun yang kamu mau. Aku mau jadi bagian hidup kamu."


Juna terdiam cukup lama. Ia memikirkan apa yang harus Ia katakan dengan sangat hati-hati. Tak mau salah berkata dan berakibat menyakiti hati orang lain.


"Jujur saja, Melisa cukup punya keberanian untuk mengutarakan isi hatinya." suara Jenaka memecah kesunyian diantara Juna dan Melisa.


"Kamu udah bangun Jen?" kompak Melisa dan Juna yang kaget bertanya pada Jenaka. Mereka menengok ke belakang dan melihat Jenaka sudah duduk tegak sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Udah. Kepalaku kejedot saat kamu ngerem tadi! Mana bisa tidur lagi coba?" Jenaka mengomeli Juna yang tidak konsen sejak mendengar pengakuan cinta Melisa. "Well, aku masih ragu sih sama kamu Mel. Tapi mengakui perasaan bahkan melamar seorang cowok pasti butuh keberanian yang cukup tinggi, dan kamu punya itu. Aku salut. Aku saja belum tentu bisa seperti itu. Ada yang bilang harga dirilah, tapi aku lihat kamu segitu sukanya sama Juna makanya kamu berani speak up."


Jenaka kini menatap Juna. Kakinya menendang belakang kursi Juna pelan, cukup membuat Juna menyadari kalau kini Jenaka berbicara serius dengannya. "Kamu pikirin tuh masa depan kalian! Kalau suka lanjut, kalau ragu tinggalkan!"

__ADS_1


****


__ADS_2