
Bukan Jenaka kalau dicuekkin Mandala dan hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa. Jenaka menghampiri Mandala dan menyisi rambut Mandala.
Tanpa kata, Mandala mengambil sisir dari tangan Jenaka dan menyisir rambutnya sendiri. "Ih ngambek gitu! Marah kenapa sih? Semalam tuh aku keluar flek dan tadi pagi udah bersih lagi." pancing Jenaka lagi. Terpaksa berbohong agar kemarahan Mandala sedikit reda.
Raut wajah Mandala sedikit berubah saat Jenaka mengatakan sudah bersih, namun Ia menjaga gengsinya dan kembali fokus menyisir rambutnya.
"Yuk kita sarapan!" Jenaka menggamit lengan Mandala dan bergelayut manja. Kini Mandala tak menolaknya, meski masih gengsi dan tetap diam. Mereka berjalan berdua ke meja makan.
Jenaka menjalankan tugasnya, mengambilkan nasi dan lauk untuk Mandala lalu mengisi piringnya sendiri. "Kita jalan-jalan yuk, Kak! Aku cuma sekali jalan ke Mall sama Kakak. Waktu sebelum menikah, itu pun untuk membeli barang-barang seserahan. Kita nonton yuk, Kak!"
"Males!" jawab Mandala singkat.
"Tuh enggak adil deh! Katanya mau adil? Katanya mau bahagiain aku? Lupa sama janji-janjinya?" tagih Jenaka.
Mandala merasa tersindir dengan perkataan Jenaka. Ia tau kalau Ia belum menepati janjinya untuk berbuat adil dan membahagiakan Jenaka.
"Baiklah. Ayo kita jalan-jalan!" ujar Mandala pada akhirnya.
"Yey! Asyik! Makasih ya, Sayang!" tanpa pikir panjang, Jenaka maju dan mengecup pipi Mandala.
Deg...deg...deg...
Jantung Mandala kembali berdetak kencang. Ikan di sampingnya mencoba menggodanya lagi. Kini ikan tersebut asyik menikmati sarapan, tanpa memikirkan jantung sang kucing yang berdetak amat kencangnya.
****
Siang itu akhirnya Jenaka dan Mandala pergi berduaan ke Mall. Hal yang langka dan kesempatan yang tak boleh disia-siakan tentunya.
Bagaimana tidak langka, weekend adalah jatahnya Kinara. Cuma karena sebelumnya jatah Kinara sudah Ia ambil, jadilah weekend ini milik Jenaka.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Jenaka terus menggandeng tangan Mandala. Pokoknya gandeng terus jangan kasih lepas. Biar semua orang tau, Mandala adalah miliknya ha...ha...ha...
Wajah Jenaka berseri-seri. Rasa bangga bisa menggandeng idolanya dan memamerkan pada siapapun yang melihatnya. Sifat jumawanya keluar. Bolehlah sekali-kali pamer suami sendiri. Kebahagiaan kini Ia rasakan. Mandala dan weekend tenang tanpa Kinara. Inilah surga dunia sebenarnya.
Mandala memesan dua tiket nonton untuknya dan Jenaka. Sambil menunggu film diputar, Jenaka mengajak Mandala berkeliling Mall, keluar masuk toko.
"Bagus banget tasnya!" Jenaka menatap kagum pada etalase toko yang memajang koleksi tas terbaru sebuah merk ternama.
__ADS_1
Sadar Jenaka menginginkan tasnya meski tanpa bilang, Mandala pun mewujudkan keinginan Jenaka. Ia menarik Jenaka masuk ke dalam toko.
"Kamu mau yang mana, Jen?" tanya Mandala.
Jenaka bingung mau yang mana. Semuanya bagus, dan mahal pastinya. Jenaka suka melihat benda mahal, namun tak bermimpi memilikinya karena Ia tahu berapa kemampuannya. Jangan sampai karena memenuhi gaya hidup malah menyulitkan Ayah dan Bunda nantinya.
"Kakak aja deh yang pilihkan." jawab Jenaka.
Tak mau berdebat karena masalah tas, Mandala memilihkan sebuah tas yang menurutnya bagus. "Ini gimana?"
"Wah bisa kayak telepati loh, aku juga tadi mikirnya tas ini yang bagus! Kakak tau aja nih selera aku kayak gimana!" lagi-lagi Jenaka mengumbar kata manis. Boro-boro telepati, Jenaka sejak tadi sudah minder dengan harga barangnya. Kalau disuruh bayar sendiri, mau bayar pakai apa? Uang yang Mandala berikan mana cukup membelinya?
"Yaudah yang ini aja. Ada lagi enggak yang kamu mau beli?" tanya Mandala lagi.
"Lagi? Enggak salah? Itu aja harganya udah mahal eh ditawarin beli lagi?" batin Jenaka.
"Udah cukup, Kak. Itu aja dulu!" tolak Jenaka.
"Saya payment sekarang, nanti saya ambil ya!" Mandala tak mau ribet dengan belanjaan saat nonton nanti.
"Baik, Pak."
Selesai membayar Mandala mengajak Jenaka keluar toko. Langkah Jenaka terhenti di depan toko. "Kak, tasnya mahal banget. Uang aku kurang. Kemarin uang yang Kakak kasih udah aku pakai buat traktir teman aku dan Bunda 3 juta. Aku jadi ngutang dong sama Kakak gara-gara tas itu? Batalin aja ya Kak."
"Siapa yang nyuruh kamu bayar? Aku yang beliin! Baru enam puluh juta aja kamu udah ketakutan begitu! Makanya kartu kredit kamu dipakai, biar kamu puas belanjanya!"
"Hah? Malah disuruh beli lagi gitu maksudnya?" batin Jenaka.
"Tapi, Kak-"
"Mau kemana lagi? Sebelum filmnya diputar nih!" Mandala menyela ucapan Jenaka seperti biasa.
"Hmm... Mau beli... Eh enggak jadi deh!" Jenaka teringat pesan yang Bu Sri kirimkan tadi pagi sehabis Jenaka menceritakan kejadian semalam.
"Ajak Mandala jalan-jalan ke Mall. Lalu ajak ke toko pakaian da lam. Kamu beli lingerie, bra dan apapun yang berwarna merah atau motif leopard. Cari yang paling seksi. Inget, jangan beli yang kayak di film biru, yang standar aja. Bersikap seperti biasa saat beli dengan Bunda kamu! Pasang wajah polos dan biarkan Mandala bantu memilih!" pesan Bu Sri.
Next mission. Kalau Mamah Sri udah memberi misi, Jenaka harus bisa menyelesaikan misi yang dibuat Mamah Sri tentunya. Setiap petunjuk, tak Ia lewatkan sekalipun.
__ADS_1
"Mau beli apa?" tanya Mandala lagi. "Aku temenin!"
"Em... Beneran?"
"Iya. Mau beli apa sih? Bikin penasaran aja!" gerutu Mandala.
Jenaka menunjuk toko yang terletak di lantai atas. Toko berwarna hitam dengan tulisan pink tempat menjual aneka pakaian dalam.
Mandala mengiyakan saja, Mandala tak tahu akan diajak kemana oleh Jenaka. "Yaudah ayo! Nanti keburu mulai filmnya!"
Mereka pun menaiki eskalator menuju lantai 2. Mandala tercekat saat mengetahui kalau dirinya diajak ke toko pakaian dalam. Ia pikir tadi toko baju biasa eh ternyata...
"Ayo, Kak!" ajak Jenaka sambil menarik tangan Mandala. Mau tak mau Mandala mengikuti Jenaka. Sambil menunduk malu Mandala tetap mengikuti istrinya melangkah masuk ke dalam toko.
Jenaka mencari sesuai petuah Bu Sri. Warna merah menggoda Ia pilih. Sengaja memilih yang push up agar saat dikenakan belahan dadanya makin memikat Mandala. Motif macan totol-totol juga Ia beli. Agak geli sih saat membelinya, bukan selera Jenaka. Biasa beli motif renda atau polos malah beli yang agak menantang.
"Kak Mandala suka yang mana?"
Glek....
Ikan ini sengaja bertanya seperti itu. Bukan nanya mana yang lebih bagus tapi nanya mana yang Mandala suka. Lagi-lagi Jenaka menebar jebakan.
"Yang mana aja!" jawab Mandala acuh. Ia menyembunyikan wajahnya yang sejak tadi sudah menarik perhatian pelayan toko karena ketampanannya.
"Ih Kak Mandala kok gitu! Jena bingung nih dua-duanya bagus!"
Mandala menghirup nafas dalam, Ia harus memilih sebelum Jenaka semakin merengeknya dan semakin lama berada di toko ini. Mandala pun memilih.
Motif leopard kesannya nakal dan liar. Cocok jika Jenaka pakai. Warna merah juga bagus. Terlihat hot di aset Jenaka yang menantang untuk di....
Mandala menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya di siang bolong Ia membayangkan milik Jenaka.
"Beli aja dua-duanya!" Mandala mengambilnya dan langsung membayarnya di kasih.
"Tunggu dulu, Kak. Aku masih mau pilih yang lain!" cegah Jenaka.
"Nanti saja! Filmnya udah mau mulai!" Mandala membayar lalu mengajak Jenaka secepatnya keluar dari toko yang membuat pikirannya travelling kemana-mana.
__ADS_1
****