
Jenaka bukannya tak tahu kalau selama ini Panca amat mencintainya. Panca yang selalu berada dalam garda terdepan untuk membelanya dalam setiap keadaan. Panca yang selalu mengikutinya kemanapun Ia pergi.
Jenaka tau, Jenaka sangat tau. Jenaka pun sayang dengan Panca. Namun hanya sayang terhadap teman, tidak lebih.
Saat tahu Panca ternyata orang kaya tidak membuat pandangan Jenaka berubah. Panca tetaplah Panca yang Ia sayang. Tanpa memandang fisik, tanpa memandang materi. Sebuah kasih sayang yang tulus dari seorang teman.
Sayang... bukan cinta....
Sayang, hanya sebatas teman tak lebih...
"Ca... Please...."
"Oke. Maaf, Jen. Gue cuma mau lo tau. Sampai kapanpun gue akan terus mencintai lo, Jen. Sampai kapanpun!"
Ini yang Jenaka suka dari Panca. Tau kapan harus berhenti memaksakan perasaannya. Jenaka tersenyum, "Gue lapar!"
Panca mau tak mau ikut tersenyum. Panca tau apa yang Jenaka takutkan sejak dulu. Jenaka takut menyakiti perasaan Panca dan akhirnya kehilangan Panca sebagai sahabat selamanya.
"Sama. Gue juga!" Mereka pun tertawa bersama. Itulah sahabat sebenarnya. Bertengkar, marah, nangis, pelukan dan berakhir dengan baikkan.
Pelayan yang awalnya ragu mau mengantarkan makanan karena melihat pertengkaran Jenaka dan Mandala kini mendatangi meja mereka dan menghidangkan pesanan yang dipesan.
"Nih buat lo, Jen. Gue enggak doyan!" Panca memisahkan sayuran miliknya untuk Jenaka.
"Heh! Enggak boleh ya pilih-pilih makanan! Ayo cepetan dimakan! Gue marah kalo makannya pilih-pilih!" omel Jenaka.
"Iya... iya... bawel lo enggak hilang-hilang dari dulu, Jen. Ampun deh gue mah! Nyesel gue cinta sama lo Jen!"
"Yaudah move on dong! Cari cewek lain!"
"Ogah! Gue tetep nungguin lo! Sampai kapanpun!"
****
Mandala sudah pulang kerja dan kini mondar-mandir tak jelas di kamarnya. Jenaka belum pulang sejak tadi pergi dengan Panca. Pergi kemanakah dia?
Mandala sudah berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor, tapi pikirannya tidak fokus. Hanya ada Jenaka dan Jenaka saja.
Suara dering telepon mengagetkannya. Mandala mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
__ADS_1
"Kamu dimana?"
"Aku? Aku di luar kota? Kamu lupa?" jawab seseorang dari seberang sana.
Mandala melihat ID penelepon. Kinara? Ia pikir Jenaka, huft....
"Maksud aku, kamu sekarang dimana? Di lokasi pemotretan atau di hotel?" lihai sekali Mandala berbohong.
"Hmm... Masih di lokasi. Kamu mau video call sama aku ya? Kangen ya sama aku? Nanti aja pas aku di kamar. Kita bisa video-"
"Sayang, aku matiin dulu ya. Aku sakit perut!" Mandala mematikan sambungan teleponnya karena melihat ada mobil warna kuning berhenti di depan rumahnya.
"Pasti itu Jenaka!" Mandala menuruni tangga dan menyambut kepulangan Jenaka dengan wajah betenya.
"Assalamualaikum!" ucap Jenaka saat masuk ke dalam rumah. "Ya Allah Kak Mandala! Ngagetin aja ih! Itu mata dan muka dikondisiin!"
Mandala melihat jam di Hp miliknya. "Makan malam dan baru pulang jam 10 malam? Makan malam apaan sampai selama ini? Steak batu? Atau seafood besi?" sindirnya sarkas.
"Ha... ha... ha... Kak Mandala lucu ih! Mana ada steak batu dan seafood besi? Gimana makannya coba? Enggak enak juga lah pastinya!" jawab Jenaka tanpa takut sedikitpun.
"Justru karena susah makannya makanya kamu lama pulangnya! Kemana aja jam segini baru pulang? Katanya Panca lagi enggak enak badan tadi! Dasar playboy cap kadal!" Jenaka tak mempan disindir, malah cengengesan dibilanginnya. Lebih baik ngomong terus terang aja dia mah.
"Udah terlalu malam, Jen. Kenapa enggak pulang lebih awal?" Mandala tidak pengaruh dengan becandaan Jenaka. Ia kesal, titik.
"Maaf, Kak. Aku kalau ngobrol sama Panca memang suka lupa waktu. Lain kali aku enggak pulang malam-malam lagi deh!" janji Jenaka.
"Enggak ada lain kali! Cukup sekali kalian jalan berduaan! Besok-besok enggak aku ijinin!"
"Kaya berani aja!" umpat Jenaka pelan namun telinga Mandala masih mendengarnya.
"Aku malam ini mau nginep di kamar kamu, Jen! Udah ah aku mau sholat dulu! Kamu mandi sana! Bau tau! Bau cowok lain, aku enggak suka!" Mandala berbalik badan dan meninggalkan Jenaka.
"Memangnya bau ya? Kayaknya enggak." Jenaka membaui dirinya sendiri. "Agak asem sih. Mandi ah."
****
Tok...tok...
"Aku masuk, Jen!" Mandala masuk ke dalam kamar Jenaka tanpa ijin. Ia terkejut dengan penampilan Jenaka.
__ADS_1
"Ngapain sih kamu mau tidur pake jaket hodie gitu? Takut aku apa-apain ya?"
"Yup! Kak Mandala benar! Aku takut diapa-apain sama Kak Mandala. Aku harus jadi belalang sembah betina yang siap memotek kepala Kak Mandala!"
"Ha...ha...ha... Beneran mau jadi belalang sembah betina?" tanya Mandala sambil naik ke tempat tidur Jenaka dan merebahkan tubuhnya disana.
"Beneran! Aku berani kok!"
"Heh kalo jadi belalang sembah betina tuh, memotek kepala belalang jantannya kalo udah kawin. Mau kamu aku kawinin dulu? Enggak apa-apa sih kalo habis itu kamu matahin kepala aku. Yang penting segel kamu udah aku lepas ha...ha...ha..."
Mandala tertawa puas menertawai Jenaka. Tidak Ia sangka, rasa kesalnya berubah menjadi tawa dengan ulah Jenaka yang selalu out of the box. Mau tidur pake jaket biar enggak diapa-apain. Ada-ada aja, Jenaka... Jenaka...
"Kamu enggak sekalian pake kantong tidur Jen? Kamu pegang tuh resletingnya jangan sampai terbuka!" ledek Mandala yang ditanggapi serius dengan Jenaka.
"Memangnya Kak Mandala punya? Pinjam dong!" pinta Jenaka dengan lugunya.
"Ha...ha...ha... Aku becanda, Jen. Becanda! Kamu masukkin hati pasti deh! Ah aku enggak jadi ngantuk nih jadinya! Gimana kalau kita main belalang sembah aja Jen? Kita mulai dari adegan kawinnya. Gimana? Mau enggak Jen dikawinin?" Mandala semakin semangat menggoda Jenaka. Kini Ia merasa jarak dirinya dan Jenaka mulai menipis. Sudah seperti dengan teman sendiri rasanya.
"Ogah! Udah ah aku mau tidur. Kalo Kak Mandala macem-macem aku tendang dari tempat tidur ya!"
"Oh... Jadi kawinnya pake adegan tendang-tendangan dulu nih? Atau mau rasain goyangan yang lebih nendang?" goda Mandala sambil terus menertawai Jenaka.
"Tau ah! Aku enggak mau denger! Aku masih lugu! Jangan kotori telingaku!"
"Nanti kamu bilang gini deh Jen, Kak Mandala pelan-pelan dong ah...uh...yes..." Mandala tak berhenti menggoda Jenaka.
"Kakak aku timpuk pake beban hidup aku ya! Beban hidup aku udah berat nih! Mau?"
"Ha...ha...ha... Makanya jangan kegayaan ngerayu aku terus. Giliran ditantangin malah kicep!"
"Bodo amat! Aku mau tidur!" Jenaka menutupi tubuhnya dengan selimut. Tak lupa memberi guling sebagai pembatas antara dirinya dan Mandala.
Tak lama Jenaka beneran tertidur lelap. Lelah seharian bekerja ditambah kebanyakan menguras hati membuatnya cepat tertidur.
Mandala yang masih terjaga. Bukan karena adik kecilnya. Ia sadar, Ia tak mau meminta hak sebelum kewajibannya mencintai Jenaka sudah Ia tunaikan. Jujur saja, beberapa hari ini Mandala merasa amat nyaman hidup bersama Jenaka.
Selimut yang menutupi wajah Jenaka sedikit tersingkap, memperlihatkan wajah menggemaskannya saat tidur. Mandala mendekatkan dirinya lalu mengecup pipi Jenaka. "Aku mulai mencintaimu, Jen. Beri aku waktu. Aku akan belajar mencintaimu sedikit demi sedikit."
Mandala merapihkan selimut Jenaka dan ikut tertidur di sampingnya.
__ADS_1
****