Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Circle Pertemanan Baru-2


__ADS_3

Ternyata acara ngedate sehari dengan Panca tak berakhir sampai disitu saja. Acara mengobrol pindah ke kedai kopi tak jauh dari tempat pameran diadakan.


Jenaka beberapa kali mengambil nafas dalam. Menambah stok sabarnya.


Panca membawakan kopi kesukaan Jenaka. Bak anak kecil yang melihat permen setelah menghadapi ujian di sekolah, es kopi dengan banyak whipped cream adalah obat paling mujarab untuknya.


"Makasih, Ca!" ujar Jenaka sambil tersenyum senang.


"You're welcome, Darling!" balas Panca sambil tersenyum.


Melisa yang melihat Jenaka meminum minumannya dengan nikmat terlihat mengernyitkan keningnya. "Kamu enggak takut gendut, Jen? Whipped creamnya banyak banget. Belum kandungan gulanya. Kalorinya banyak banget itu! Harus berapa lama lari di atas treadmill untuk membakar lemaknya!" kritik Melisa dengan pedasnya.


Jenaka lagi dan lagi hanya membalas dengan senyuman sambil menaruh minuman kesukaannya di atas meja. Seleranya hilang sudah. Bahkan minum pun dikomentarin. Huft...


"Coba deh hot coffee dengan gula rendah kalori. Kopi itu kan paling nikmat saat rasa kopi dan aromanya bisa dinikmati. Bukan rasa gulanya yang terasa manis di lidah namun tak bagus untuk tubuh." ceramah Melisa semakin panjang saja.


"Jenaka memang kesukaannya ini, Mel. Dia udah dari dulu suka sekali dengan whipped cream. Beda selera dengan kamu yang kafein holic." akhirnya Panca membela Jenaka juga.


"Jangan begitu dong, Ca. Kalau kamu sayang sama Jenaka, ya kamu harus kasih tau mana yang baik buat kesehatannya dan mana yang tidak. Jangan karena nikmat sesaat lupa sama kesehatan yang utama." rupanya Melisa tidak semudah itu menyerah.


"Makasih infonya ya, Mel. Kamu bener, aku harus lebih memperhatikan kesehatan aku mulai sekarang." Jenaka yang akhirnya mengalah. Tak mau perdebatan semakin panjang. Ia menaruh es kopi kesukaannya lalu mengambil air mineral yang Panca juga beli. "Aku pilih air mineral aja, Mel. Jauh lebih bagus dari es kopi dan kopi low sugar yang kamu minum."


Jenaka lalu tersenyum. Lebih tepatnya senyum pembalasan. Diam saja rupanya malah makin ditindas, lebih baik membalasnya sesekali.


Jenaka lalu seperti disingkirkan dalam obrolan Panca dan teman-temannya. Tak masalah, Jenaka malah asyik dengan Hp miliknya.


Jenaka membaca novel kesukaannya sambil menunggu Panca mengobrol yang tak kunjung usai. Obrolan kelas atas yang tak cocok untuk Jenaka yang biasa makan mie goreng pake nasi.


Jenaka sebal karena Ia sedang datang bulan. Tak ada alasan baginya untuk ijin sholat, ketimbang mendengar obrolan yang kebanyakan pamernya dibanding faedahnya.


Akhirnya penantian Jenaka selesai saat Panca pamit duluan dengan alasan besok ada meeting pagi. Mereka pun pergi duluan.


Jenaka menghirup udara segar saat meninggalkan cafe. Enak sekali. Rasanya mumet dan tekanan batin diangkat dalam seketika.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Panca mengantarkan Jenaka sampai depan rumah sambil terus menceritakan tentang teman-teman kelas atasnya.


"Melisa itu IPKnya tinggi dan mendapat cumlaude. Perusahaan Papanya juga sangat besar. Lalu si.... kemudian si ...."


Jenaka mendengarkan sambil tersenyum saja. Tak tau mau menanggapi dengan cara apa lagi.


Jenaka menahan sesuatu, yakni perutnya yang lapar. Pagi tak sempat sarapan. Siang makan tak lahap karena habis dilamar dan bertemu Mami Nina. Lalu saat ngopi yang seharusnya agak kenyang saat minum es kopi dengan banyak whipped cream eh malah harus minum air mineral banyak-banyak.


"Kamu mau makan dulu enggak, Jen?" ajak Panca seakan tahu apa yang Jenaka pikirkan.


"Enggak usah, Ca." tolak Jenaka. "Aku ngantuk, langsung pulang aja ya."


"Kenapa? Kamu enggak suka jalan sama aku ya Jen? Membosankan ya? Teman-temanku asyik sebenarnya. Nanti deh kamu ikut kita. Minggu besok ada jadwal sepedahan. Cuma sekitaran Bunderan Senayan sampai Bundaran HI lalu nongkrong di cafe. Seru. Kamu mau ikut kan?" Panca sudah membuat rencana untuk minggu depan.


"Aku ikut? Pakai sepeda Uniteed boleh gabung memangnya? Ada tuh sepeda lipat punya Juna suka aku pakai juga buat keliling komplek." tanya Jenaka.


"Pakai sepeda aku aja, Jen. Aku ada sepeda lebih dari satu kok. Atau besok kita beli aja yang baru buat kamu?"


"Enggak usah, Ca. Pakai punya kamu aja. Toh aku jarang sepedahan kok." tolak Jenaka. Mubazir rasanya cuma karena mau sepedahan jadi beli yang baru. Jenaka juga enggak rela, uang yang seharusnya buat membayar cicilan mobilnya selama 5 bulan dipakai untuk membeli sepeda satu buah. Jenaka tak mau Panca membelikan untuknya. Ia merasa masih mampu, hanya saja membeli sepeda seharga 25 juta terasa tak worth it saja.


Jenaka kembali menolak Panca. "Enggak usah, Ca. Aku minjem. Paling sehari doang. Oke?"


Panca pun mengalah. "Yaudah. Kalau kamu mau sepeda yang baru bilang ya. Nanti aku belikan."


Jenaka mengangguk saja. Panca memang sebaik itu dengannya. Terlalu baik malah. Membuat Jenaka jadi tak enak sendiri.


****


Mandala sedang menghabiskan malamnya dengan menatap langit dari bangku di taman belakang rumahnya. Langit begitu cerah. Namun tidak dengan hatinya.


Mami Nina dan Papi Prabu sejak tadi kasak kusuk membicarakan anaknya yang terus murung dan malah memilih menatap langit malam di dekat kolam renang.


"Gimana, Pi. Apa enggak bisa kita buat Jenaka dan Mandala rujuk lagi?" desak Mami Nina.

__ADS_1


"Papi juga maunya Jenaka, Mi. Mami lihat saja, Mandalanya pasrah gitu. Masa sih Papi yang maju ke medan perang kalau pemeran utamanya memilih diam di tempat?" balas Papi Prabu.


"Ya Papi bujuk dong Ayahnya Jena."


"Ya ampun, Mi. Papi tuh lebih baik ngadepin klien dengan tender ratusan milyar deh daripada ngadepin Lukman. Serem, Mi. Mami lupa saat kita minta maaf karena akhirnya Jenaka dan Mandala bercerai? Lukman tuh kalo marah enggak nampol pake tangan tapi diam. Bikin Papi makin takut aja."


"Ah Papi mah cemen!" Mami Nina memanasi Papi Prabu.


"Yaudah Mami aja ngadepin Alya! Kayak berani aja!" balas Papi Prabu.


"Mami juga takut, Pi. Alya tuh lebih nyeremin kalo marah. Kalo Lukman diem, Alya tuh kayak iyain tapi tatapannya itu loh. Bikin Mami dilanda rasa bersalah seumur hidup!"


"Ah Mami aja takut! Udah biarkan saja Mandala dengan masalahnya. Lebih baik kita tidur!" Papi Prabu tak mau pusing dengan masalah anaknya. Lebih baik tidur aja.


****


Mandala masih malas masuk ke dalam rumah. Ia masih menikmati pemandangan indahnya langit malam. Pikirannya melayang saat Panca mengulurkan kotak berisi cincin pada Jenaka.


Mandala teringat saat dulu Ia melamar Jenaka. Menggunakan akting terbaiknya agar Jenaka mau ikut dengan rencana yang Ia dan Kinara buat. Jahat sekali memang.


Bolehkan kini Mandala menyesal? Bolehkah kini Mandala berharap akan ada lorong waktu yang membawanya kembali ke masa lalu agar Ia bisa merubah takdir buruk dirinya dan Jenaka?


"Ikhlas, Dala! Ikhlas! Kalo mau melihat Jenaka bahagia harus rela Ia dengan Panca. Kalau mau melihat Jenaka tersenyum, harus rela merestui Jenaka dan Panca meski hati terasa sangat sakit." batin Mandala.


Mandala membuka layar Hp miliknya. Foto pernikahannya dan Jenaka masih menjadi wallpaper yang Ia tatap kalau hatinya sedang galau atau saat Ia sedang mumet dengan pekerjaannya.


Jenaka terlihat cantik sekali dengan gaun pernikahannya. Senyum bahagia selalu tersenyungging di wajahnya. Jenaka saat itu tak tahu kalau Ia sedang membuka pintu neraka yang mencabik hatinya demikian kejam.


"Maaf, Jen... Maafkan aku tak bisa terus membuatmu tersenyum cantik seperti itu terus... Maafkan mantan suami bodohmu ini...."


****


Hi Semua...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan add favorit ya 🥰🥰🥰😍😍


__ADS_2