Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Ikhlas


__ADS_3

Panca tau...


Panca melihatnya...


Namun Panca bisa apa?


Saat Jenaka membalas kedipan mata Mandala. Ia melihat semuanya dari dalam ruangan.


Panca semakin yakin saat Mandala akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi hubungan kerjasama antar kedua perusahaan.


Kini apa yang harus Panca lakukan?


Apa kekuatannya kini? Mengancam Mandala dengan kontrak kerjasama tidak mungkin lagi. Mandala melakukan aksinya dalam senyap.


Seharusnya Panca tau, sejak pertama Jenaka sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka ada Mandala di belakangnya. Seharusnya Panca menyadari kalau selama ini hanya ada Mandala dalam hati Jenaka, namun Ia terlalu sombong mengakuinya. Masih bermimpi kalau Ia bisa merebut Jenaka.


Usahanya selama sebulan ini sia-sia belaka. Besok Jenaka akan resign dan berhenti dari perusahaannya. Ia bahkan kehilangan sekretaris terbaiknya di tempat kerja


Panca tetap di ruangannya. Merenung dan melamunkan nasibnya kelak. Sampai akhirnya Jenaka datang dan mengetuk pintu ruangan Panca.


"Permisi, kamu belum pulang, Ca?" tanya Jenaka.


"Belum. Kamu sendiri kenapa belum pulang Jen?" tanya balik Panca.


"Nungguin kamulah. Masa sih jadi anak buah enggak sopan banget, bosnya belum pulang eh anak buahnya udah pulang duluan?"


Seulas senyum tersungging di wajah Panca. "Besok kamu jadi resign, Jen?"


"Ya jadi dong. Udah ngajuin ke HRD masa dibatalin sih?" Jenaka memutuskan untuk duduk. Anggap saja sebagai perpisahan dengan atasan.


"Memangnya kamu udah dapet kerjaan baru? "


Jenaka menggelengkan kepalanya. "Belum."


"Belum dapat kerjaan sudah sombong mau resign. Nanti siapa yang akan bayar cicilan mobil kamu? Ayah?"


Panca seakan tahu apa yang Jenaka pikirkan.


"Teruslah bekerja sampai kamu dan Mandala menikah nanti."


Jenaka terkejut mendengar apa yang Panca katakan. Darimana Panca tahu?


"Enggak usah kaget kayak gitu, Jen. Aku tahu kalau kalian kembali berhubungan. Aku sudah curiga namun aku masih saja ingin berusaha mendapatkan kamu. Sebenarnya semua usaha aku akan sia-sia, aku tahu itu. Namun aku berharap peluang yang hanya 1 % saja akan berubah menjadi peluang 99%. Nyatanya? Nyangkut saja enggak di hati kamu, malah kamu jadi menjauhiku."


"Aku enggak menjauhi kamu kok, Ca." elak Jenaka.

__ADS_1


"Menolak semua ajakanku termasuk menjauhiku loh, Jen!" balas Panca.


"Iya sih. Tapi kan aku punya alasan sendiri." Jenaka kembali membela diri.


"Aku tahu apa alasan kamu. Pasti kamu beralasan kalau kamu mau menjaga hati aku agar aku enggak sakit hati kan?" tebak Panca.


"Darimana kamu tahu?"


"Jangan lupakan kalau aku ini pemuda cerdas, Jen! Aku tahu apa tujuan kamu melakukan semua ini namun aku tetap memaksakan keinginanku. Ya, akulah si pemuda cerdas namun bodoh. Aku buta dan tak melihat semuanya hanya karena obesesiku terhadapmu,"


"Kamu tahu Jen kenapa aku sangat terobesesi sama kamu?" tanya Panca. Tentu saja Jenaka menggeleng, karena memang Jenaka tak pernah tau apa alasannnya.


"Karena hanya kamulah satu-satunya yang baik sama aku saat kita di sekolah. Lulu dan Lily baik karena kamu yang mengajak mereka mengikuti jejakmu. Kamu membuatku memiliki impian, suatu hari nanti aku akan memiliki istri sebaik kamu. Lalu seperti yang kamu tahu, aku pindah ke Amrik. Disana aku mengenal Melisa dan ikut dalam perkumpulan mahasiswa asal Indonesia,"


"Kebanyakan anggota perkumpulanku adalah mahasiswa dengan orang tua yang berasal dari golongan menengah keatas. Aku pun mulai merubah pergaulanku dengan harapan saat aku kembali nanti aku akan terlihat keren di mata kamu. Ternyata aku terlambat. Kamu sudah menikah dengan Mandala, lelaki impianmu sejak dulu,"


"Aku hampir putus asa. Secercah harapan pun hadir saat kamu akhirnya bercerai. Aku bisa memiliki kamu. Ya setidaknya ada harapan meski sedikit. Lalu aku membuat kesalahan. Seperti kata Juna, aku kehilangan kesempatan karena ulahku sendiri. Bukannya menyadari kesalahanku, aku malah makin memaksa kamu. Jahat sekali ya aku?" Panca tak sanggup menatap mata Jenaka langsung.


"Kamu enggak jahat, Ca. Kamu tuh teman aku yang paling baik. Obsesi yang membuat kamu menjadi seperti itu." Jenaka meraih tangan Panca dan menggenggamnya, seperti saat mereka masih sahabatan dulu. "Maafin aku ya, Ca. Aku banyak menyakiti hati kamu. Aku sudah berusaha namun aku tetap enggak bisa membohongi diri aku sendiri. Semakin aku memberi kamu harapan, maka aku semakin menyakiti hati kamu dan aku enggak mau itu,"


"Kamu inget kenapa aku selalu membela kamu? Bukan karena kamu tak bisa membela diri kamu. Namun aku selalu membela siapapun sahabat aku yang disakiti oleh orang lain. Kamu tak perlu merubah pergaulan kamu hanya untuk ditemani. Cukup menjadi diri kamu sendiri saja sudah cukup."


Kini Panca berani mengangkat wajahnya. "Kalau aku menjadi diri aku sendiri, kamu masih mau temenan sama aku kan?"


Jenaka mengangguk. "Tentu saja."


"Hmm.... Bolehlah selama aku belum dapat pekerjaan." Jenaka mengalah. Selain Ia butuh uang untuk membayar tagihan, Ia juga kasihan dengan Panca.


"Masih mau menikah sama aku?" tanya Panca sambil tersenyum lebar.


"Yeh... Ini sih namanya ngelunjak! Udah ah aku mau pulang! Makin malam, makin macet!" Jena pun berdiri meninggalkan Panca yang menertawainya dengan puas.


"Bohong, Jen. Bohong. Hati-hati di jalan! Jangan mampir! Langsung pulang. Ingat, kamu masih harus bekerja disini, oke?"


"Oke." Jenaka melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Panca seoranbg diri.


Sepeninggal Jenaka, senyum di wajah Panca menghilang beganti menjadi kesedihan.


"Mungkin aku hanya bisa menjadi sahabat kamu, aku sudah kehilangan kamu sebagai kekasih. Aku enggak akan siap jika kehilangan kamu juga sebagai seorang teman, Jen."


****


Jenaka menceritakan tentang obrolannya dengan Panca pada Mandala lewat telepon.


"Aku jadi kasihan sama Panca deh. Biar bagaimanapun Panca yang selalu membantuku." ujar Jenaka.

__ADS_1


"Kasihan boleh saja, tapi tetap saja kamu harus membatasi diri. Aku enggak mau kamu terlalu dekat lagi dengan Panca. Your mine. Mengenai keputusan kamu yang ingin kembali bekerja dengan Panca, aku sebenarnya mau melarang namun apapun yang menurut kamu baik, lakukanlah. Tetaplah bekerja karena nanti saat kita menikah, kamu pasti akan lebih memilih di rumah saja."


"Memangnya kenapa?"


"Tentu saja karena aku akan membuat kamu capek seharian ha...ha...ha..."


Jenaka tersenyum. "Ayah yang menjadi ujian berat kita selanjutnya."


Tawa Mandala menghilang. "Ya, kamu benar. Aku pun tak tahu mau pakai cara apa meyakinkan Ayah kamu. Aku akan menyerahkan semua sama Allah, Dia-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Kita berusaha dan berdoa bersama ya."


"Tentu saja."


"Mulai besok aku akan menjemput kamu. Kita mulai dekati Ayah kamu ya."


"Kamu yakin?"


"Sangat yakin. Meski aku akan diusir sekalipun, aku akan memperjuangkan kamu."


"Aku yakin kita akan berhasil. "


"Tidurlah. Sudah malam. Love you baby."


"Love you more."


"Muach."


"Muach too."


"Kiss you more."


"Dream you always."


"Lalu kapan kita tidurnya nih?"


Mandala dan Jenaka tertawa bersama.


****


Matahari bersinar dengan malu-malu. Membuat manusia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.


Tidak demikian dengan pemuda tampan yang sudah menunggu di depan rumah sang pujaan hati. Sehabis sholat subuh, Ia langsung mandi dan berangkat ke rumah Jenaka.


Pintu rumah Jenaka masih tertutup. Mandala menunggu sampai ada yang membuka pintu dahulu baru turun dari mobil.


Ternyata Ayah yang membukakan pintu rumah pertama kali.

__ADS_1


Mandala berdoa dahulu sebelum turun. "Bismillahirahmanirahim!"


****


__ADS_2