Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Perwakilan Prabu Group


__ADS_3

Selepas bertemu Jenaka kemarin, timbul semangat hidup dalam diri Mandala. Rasanya bertemu Jenaka sehari seperti memecut semangat dalam dirinya yang sempat padam.


Sayangnya, perkataan Genta membuatnya agak memberi batas. Kalau memang benar Jenaka adalah calon istri Panca, mengapa tak ada cincin yang melingkar di jari manisnya? Apa mungkin Genta salah paham.


Maka tanpa babibu, Mandala inisitif untuk datang ke Reel Group. Biasanya tugas luar ditugaskan pada Genta. Kini, Mandala yang turun tangan sendiri.


Laporan sudah Ia pegang. Tanpa membuat janji, Mandala pun pergi ke kantor Panca.


"Hallo Reel Group dengan Jenaka ada yang bisa dibantu?" Jenaka mengangkat telepon dari resepsionis di bawah.


"Pagi Bu Jenaka, ada perwakilan dari Prabu Group yang hendak bertemu dengan Bapak Panca."


"Suruh ke atas saja, Mbak." ujar Jenaka.


Jenaka pikir yang datang adalah Genta. Dengan santainya Jenaka membaca novel karangan Mizzly kesayangannya sambil mendengarkan musik.


Bekerja dengan Panca memberinya banyak kebebasan. Apalagi sekarang Panca sedang meeting di luar. Itu artinya bebas sebebas-bebasnya.


"Siang!" sapa Mandala.


Tubuh Jenaka seketika membeku. Bukan suara Genta yang Ia dengar. Reflek Jenaka melihat ke arah asal suara.


Benar saja yang dipikirkan Jenaka. CEO Prabu Group sendiri yang datang. Hampir saja Jenaka menjatuhkan Hp miliknya saking terkejut.


"Si-siang!" jawab Jenaka agak terbata.


"Hi Jenaka Sayang, apa kabar?" Mandala datang menghampirinya sambil tersenyum. "Aku bawain es kopi buat kamu nih. Yang buaanyak whipped creamnya, betul?"


Jenaka masih terdiam tanpa suara. Otaknya seakan membeku. Kenapa bisa Mandala ada disini?


"Hei! Kalau kamu enggak sadar aku cium nih!" goda Mandala.


Benar saja kesadaran Jenaka langsung pulih. "Apaan main cium-cium aja! Udah buat janji belum? Kok main datang aja sih tanpa buat janji!"


Mandala tersenyum. "Dasar sekretaris kurang ajar! Aku ini rekan bisnis Reel Group tau. Malah kamu omelin! Aku laporin sama Pak Panca nih!" ancam balik Mandala.


"Laporin aja! Memangnya aku takut!" ancam balik Jenaka.


"Wah udah berani ya. Sini maju, biar aku cium. Udah lama kamu enggak aku cium!" Mandala makin menggoda Jenaka dengan melambaikan tangannya seperti menyuruh Jenaka mendekat.


"Ciam cium aja. Enggak boleh! Dosa!" omel Jenaka.


"Ah iya! Lupa. Udah bukan mahram ya. Nyesel aku dulu enggak nyosor kamu terus, Jen!"


"Tau ah! Mau apa kesini?" tanya Jenaka dengan juteknya. Bisa diomelin Panca dia kalau ketahuan menyambut tamu dengan jutek seperti ini. Apalagi yang Ia sambut adalah CEO Prabu Group. Habis sudah.

__ADS_1


"Mau ketemu Panca, Cintaku."


"Apa sih cintaku-cintaku segala?! Ini di kantor tau!"


"Loh memangnya kenapa? Memang aku cinta sama kamu kok! Masalahnya dimana?" kembali kata-kata Jenaka diputarbalikkan oleh Mandala.


"Pancanya enggak ada! Silahkan duduk saja disana kalau mau menunggu!" Jenaka menunjuk sofa kosong tempat biasa tamu menunggu.


"Masih lama enggak?"


Jenaka mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Enggak bilang berapa lama perginya. Kalau enggak sabar pulang aja!"


Mandala tersenyum, "Kalau kamu jadi sekretarisku dan kamu jutek begitu bisa aku sekap di kamar loh Jen. Enggak aku kasih keluar sampai bunting!"


"Iyuh... Serem banget ancamannya! Untung aja aku jadi sekretarisnya Panca. Bebas mau ngapain. Bebas juga mau kayak gimana."


"Jen, aku mau susu cokelat hangat ya! Dingin! Di luar hujan! Kalau bisa pake chocochip sekalian!" goda Mandala. Pasti Jenaka tidak akan mengerti maksud Chocochip yang Mandala maksud itu apa.


"Ish... Suka-suka akulah mau nyediain apa. Baru kali ini loh ada tamu yang seenaknya kayak Bapak Mandala ini!" Jenaka pun berjalan menuju pantry kecil tempat tersedia berbagai minuman untuk disediakan.


Mandala melihat-lihat kantor Panca saingan cintanya. Kantornya bagus. Terlihat mewah dan begitu tenang. Apa karena ruangannya jauh dari karyawannya yang lain?


Mandala lalu duduk di sofa yang di sediakan. Ia menatap Jenaka yang hari ini mengenakan kemeja warna cream dengan rok warna senada. Menampilkan siluet tubuhnya yang aduhai.


"Ini. Silahkan diminum!" Jenaka menaruh susu hangat sesuai permintaan Mandala diatas meja.


Sebelum Jenaka pergi dan kembali ke mejanya, Mandala menarik tangan Jenaka. Mencegahnya untuk kembali ke tempatnya dan memaksanya untuk duduk.


"Kenapa lagi?" tanya Jenaka, lagi-lagi dengan nada jutek.


"Aku kangen kamu, Jen." aku Mandala.


"Terus? Udah kan? Aku balik lagi nih! Lagi seru baca novelnya!" Jenaka kembali hendak berdiri namun lagi-lagi Mandala mencengkram lengannya.


"Jangan pergi dulu. Kamu enggak kangen sama aku?"


"Enggak!" bohong Jenaka. Antara lidah dan hati tak singkron. Terlihat sekali kebohongan yang Jenaka ucapkan.


"Aku kangen sama kamu, Jen. Aku mau kamu kembali ke sisi aku lagi." pinta Mandala.


Jenaka menghela nafasnya. "Antara kita sudah selesai. Sudah tamat. Finish. Anggap saja tak pernah ada kisah diantara kita."


"Kamu sudah baca surat dari Kinara?" Mandala masih memegang tangan Jenaka. Tak rela melepaskan Jenaka pergi.


Jenaka menunduk. "Sudah."

__ADS_1


"Lalu? Apa tanggapan kamu?"


"Tanggapan apa?"


"Aku memang tidak membaca apa yang Kinara tulis. Namun, aku tahu kurang lebih apa isi surat yang Kinara tulis."


"Sok tahu!"


Mandala kembali tersenyum. Tampan sekali. Inilah yang Jenaka takutkan. Takut Mandala mulai mempesona dan membuatnya lemah akan pesonanya.


"Aku tahu. Karena di saat terakhirnya, Ia memintaku kembali padamu, Jen. Aku pastikan isi surat itu tak beda jauh." ujar Mandala dengan penuh keyakinan.


Jenaka terdiam. Bagaimana mungkin Mandala bisa tahu?


Jenaka menatap ke dalam mata Mandala. Begitupun sebaliknya. Mandala menatap mata Jenaka. Jarak mereka begitu dekat. Manik mata Jenaka begitu berkilau. Begitu memukau Mandala.


Jika saja mereka tidak mendengar suara lift berbunyi, mungkin saja Mandala sudah menarik Jenaka dan menciumnya dengan ganas. Melepas segala kerinduannya selama ini.


Mandala reflek melepas pegangannya. Agak tidak ikhlas rupanya melepas Jenaka, dalam hati Mandala bertekad jika Ia suatu hari nanti mendapatkan kembali hati Jenaka, tak akan Ia biarkan Jenaka lepas lagi.


"Ada yang mencariku enggak, Jen?" tanya Panca yang baru saja datang.


"Ehem!" Jenaka berdehem dan berjalan menghampiri Panca yang sedang memeriksa daftar tamu yang mencarinya. Rupanya Panca tidak melihat kehadiran Mandala disana. "Ada perwakilan dari Prabu Group, Pak."


"Pak Genta lagi? Mana?" Panca mengedarkan pandangannya dan melihat Mandala sedang menunggunya di sofa.


"Selamat siang, Pak Panca! Belum lama saya datang, untung Pak Panca sudah kembali. Ada yang mau saya diskusikan dengan Pak Panca." Mandala tersenyum lebar. Pintar sekali dia menyembunyikan semuanya.


Panca menatap Jenaka dan Mandala bergantian. Seperti ada yang disembunyikan oleh kedua orang di depannya tersebut.


"Baiklah. Bisa kita bicarakan di dalam ruangan saya!" Panca pun berjalan duluan ke dalam ruangannya.


Mandala tersenyum pada Jenaka. "I love you!" bisiknya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jenaka.


Mandala menyusul langkah Panca masuk ke dalam ruangannya. Tinggallah Jenaka yang duduk di kursinya dengan lemas.


"Ya Allah... Ini kenapa jantungku jedug-jedug kenceng begini? Ih Kak Mandala mah sarap! Ngapain coba pake bisik-bisik bilang I love you segala! Ya Allah.. Gimana ini? Kalau jantungnya copot gimana?" batin Jenaka.


******


Hi Semua... aku mau promosiin lagi nih novel author lain yang keren. Mampir ya



__ADS_1


__ADS_2