Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Kerjasama Para Pengusaha Muda


__ADS_3

Pesta perkumpulan para pengusaha berlangsung dengan mewah. Semua berdandan sesuai dengan kelas mereka. Seakan pamer barang branded.


Dalam hati Jenaka mengucap syukur dengan niat Panca mengganti dress yang dikenakannya. Kalau Ia memakai yang tadi Ia gunakan, makin terlihat mencolok karena Ia pergi bersama Panca yang rupanya banyak dikenal disini.


Jujur saja Jenaka merasa kepercayaan dirinya terkikis. Ia merasa kalau disini bukan tempatnya. Baju bagus yang Ia kenakan rasanya tak sesuai dengan realita hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana saja.


Jenaka pun menundukkan wajahnya, namun Panca memintanya mengangkat wajah. Ia melihat dua orang yang amat dikenalnya, Papi Prabu dan Mandala tentunya. Rasanya tak enak jika tidak melempar senyum pada orang yang kita kenal.


Papi Prabu sedang memperkenalkan Mandala pada seluruh rekan bisnisnya. Mandala terlihat berjabat tangan dengan Richard Kusumadewa, anak tertua dari pemilik Kusumadewa Group. Mereka terlihat sedang akrab bercakap-cakap.


Datanglah Agdio Permana Putra, putra tunggal dari Bapak Putra Laksana pemilik perusahaan kelapa sawit terbesar. Terlihat Richard sangat akrab dengan Dio, bahkan menularkan keakrabannya pada Mandala yang baru mereka kenal.


"Bukannya itu Panca dari Reel Group?" tunjuk Richard yang melihat Panca datang bersama Jenaka.


Kini semuanya melihat ke arah yang Richard tunjuk, termasuk Mandala. Ia menatap penuh damba pada mantan istrinya yang terlihat sangat memukau hari ini.


"Weits ada Mandala Wangi! Apa kabar, Men!" Leo yang baru datang langsung menyapa Mandala. Membuyarkan tatapannya terhadap Jenaka.


"Baik, alhamdulilah." jawab Mandala. Ia kenal Leo dan lumayan akrab. Usia mereka yang tak terpaut jauh memudahkan mereka merajut kerjasama sekaligus berteman.


"Liat apaan sih?" Leo melihat arah tatapan kakaknya Richard dan Dio yang masih melihat ke arah Panca. "Wait! Itu bukannya bini lo, Dal?" Leo tau karena Ia merupakan salah satu undangan dalam pesta pernikahan Mandala dan Jenaka waktu itu.


Kini gantian, Richard dan Dio yang melihat ke arah Mandala. Untung saja Papi Prabu sudah pergi dan meninggalkan tiga orang pengusaha muda itu mengobrol sendiri.


"Serius? Itu bini lo dan digandeng sama Panca? Lo kena sikat rekan bisnis lo apa gimana sih?" tanya Richard dengan cueknya.


"Ditikung Men?" tanya Dio.


"Butuh bantuan enggak?" tanya Leo.


Mandala tersenyum. "Mantan. Kita berdua udah cerai."


"Ah bokis! Muka lo masih cinta gitu!" celetuk Richard.


"Rujuk lah! Kayak gue sama Maya!" sahut Leo.


"Enggak ada niat perjuangin? Gue aja ngegantung rumah tangganya tapi akhirnya bisa kembali lagi." ujar Dio.


"Kalau gue, awalnya enggak cinta eh sekarang doi cinta banget sama gue. Selain karena pesona Babang Icad yang sakti mandraguna juga karena cinta dari Babang Icad yang bikin candu!" pamer Richard.

__ADS_1


"Cat, ah elah! Jangan pamer! Nih kita lagi mau bantuin Mandala. Kasihan dia!" omel Leo. "Masih cinta kan lo sama mantan bini lo?" tanya Leo pada Mandala.


"Justru sebenarnya mantan istri gue adalah first love gue. Sayangnya gue terlalu buta untuk mengenalinya. Kini saat dia pergi, penyesalan gue makin besar. Seribu kata andai ada dalam kepala gue. Tapi gue bisa apa? Dia memilih bersama Panca." aku Mandala. Entah mengapa Ia bisa langsung akrab dan curhat dengan ketiga cowok di depannya.


"Muka mantan lo aja keliatan terpaksa gitu. Masih ada kesempatan. Kejarlah! Biar kita bantuin!" celetuk Richard.


"Caranya?" tanya Mandala. Ia mulai tertarik mendengar kata kesempatan. Hal yang sudah Ia kubur sejak lama.


"Tuh di balkon samping agak sepi kalo lo mau ngobrol berdua. Gue maju, Leo dan Dio bantu gue alihin perhatian Panca. Lo bawa mantan lo ke balkon aja!" Richard dengan cepat mengatur strategi. Kelihatan sekali jiwa pengusaha dalam dirinya. Maklum, keturunan Kusumadewa gitu. Biasa berpikir cepat dan taktis.


"Oke. Ayo!" Leo mengajak Dio agak menjaga jarak dahulu dari Richard. Sementara Richard sudah maju ke depan tanpa keraguan sedikit pun.


Richard mengajak Panca berkenalan. Terlihat sekali Richard jago dalam berkomunikasi. Richard mengajak Panca menuju tempat yang ditunjuk.


Mandala maju saat melihat tangan kanan Richard memberi kode. Dengan santai dan tenang Ia mendekat. Sayangnya, Melisa lebih dahulu mendekat.


Mandala mengurungkan niatnya maju. Melihat dulu apa yang Melisa lakukan.


"Aku tebak dress yang kamu kenakan adalah pilihan Panca. Benar kan?" tebak Melisa.


"Ya begitulah. Aku mana ngerti tentang style kayak gini. Maklum, aku biasa ke kondangan. Bukan ke pesta pengusaha kayak gini." aku Jenaka.


"Berarti lo beruntung dong dapetin Panca. Bisa membuat strata sosial lo naik?!" sindir Melisa.


Mandala yang mendengarnya pun ikut tersenyum. Jenaka kalau memang pintar membalikkan perkataan orang. Sayang, Ia terlalu banyak mengalah. Padahal bisa saja Jenaka menang.


Melisa mengambil dua gelas minuman yang Jenaka yakin adalah minuman beralkohol. "Kita bersulang dulu!" Melisa memberikan minumannya pada Jenaka.


"Maaf aku-" belum selesai Jenaka bicara, Mandala sudah menyerobot jawabannya.


"Jenaka enggak minum-minuman beralkohol." jawab Mandala yang mengambil minuman yang Melisa berikan, bukan untuk diminum melainkan diberikan kembali pada pelayan.


"Kayaknya kamu kenal banget sama Jenaka?" selidik Melisa.


"Jelas aja kenal. Aku satu SMA sama Jenaka. Dan Jenaka ini adalah salah satu pendukungku kalau lagi tanding basket. Iya kan Jen?" Mandala tersenyum sambil menatap Jenaka dengan lekat.


"Iya. Kak Mandala tuh terkenal jago basket dan taekwondo. Aku sampai suka teriak-teriak kalau Kak Mandala lagi tanding. Seru banget soalnya." Jenaka tau kalau Mandala menatapnya untuk memberi kode. Mengusir Melisa dengan halus.


"Kamu inget enggak Jen saat aku main basket terus temanku kepeleset dan akhirnya dibatalin nunggu besok karena temanku..." Mandala mengarang cerita. Jenaka berakting pura-pura antusias dengan cerita.

__ADS_1


Merasa dicuekkin, Melisa pun pergi ke teman-temannya yang lain. Mandala dan Jenaka berhasil mengusir Melisa.


Mandala melirik ke arah Leo dan Dio. Leo memberi kode pada Mandala kalau Panca aman. Mandala bisa mengajak Jenaka ke balkon untuk berbicara.


"Kesana yuk, Jen!" ajak Mandala.


Merasa tak ada teman lagi selain Mandala, Jenaka pun nurut. Ia mengikuti Mandala yang berjalan ke balkon. Mandala menutup pintu yang ke arah balkon agar tak ada yang mengganggu percakapannya dengan Jenaka.


Benar yang Richard bilang, suasana di balkon cocok untuk tempat bicara. Sepi dan pemandangan luarnya juga bagus.


Mandala kembali menatap Jenaka dengan lekat. Membuat Jenaka merasa agak malu dibuatnya. "Kamu cantik banget Jen." puji Mandala.


"Makasih." jawab Jenaka.


"Tapi sayang, gaunnya terlalu terbuka. Bukan kamu banget. Aku sih suka-suka aja ngeliat kamu terbuka." Mandala mengu lum senyumnya, sengaja menggoda Jenaka.


"Aku juga kurang suka. Dingin. Tapi mau gimana lagi. Aku enggak mau malu-maluin Panca di acara ini."


Mandala melepas jas miliknya dan menyampirkannya di bahu terbuka Jenaka. "Kamu enggak pernah malu-maluin, Jen. Kamu istimewa karena apa adanya. Jangan pernah merasa rendah hati begitu. Yakinlah di mata aku, kamu tetap istimewa!"


"Mulai deh gombal lagi!"


Mandala mendekat dan menarik pinggang Jenaka. Membiarkan tubuh mereka berdekatan.


Debaran jantung Jenaka bertalu dengan kencangnya. Mandala amat dekat dengannya. Jenaka bahkan bisa melihat mata Mandala dari dekat.


"Aku enggak mau kamu dibawa sama Panca ke Amrik. Jujur saja, aku melepaskan kamu agar kamu bahagia. Tapi saat Juna bilang kamu beberapa kali menangis, aku enggak mau melepas kamu lagi." Mandala menarik Jenaka semakin dekat dengannya.


"Kamu tak perlu berjuang. Kamu tak perlu lagi merasa terluka. Biar aku yang maju. Biar aku yang menanggung semua. Hanya agar kamu tetap di sisi aku!"


****


Surprise... Ada Richard, Leo dan Dio disini.... Yey...


Yang belum tau:


Richard : Delima


Leo : Cinta Setelah Perceraian

__ADS_1


Dio : Namaku Ayu.


Semua cogan di novelku yang lain. Jangan lupa mampir ya 😘😘😘😘


__ADS_2