Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Sekarang


__ADS_3

Percakapan antara Melisa dan Juna terhenti saat makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang.


"Terima kasih, Mbak." ujar Juna dengan sopan pada pelayan restoran.


Melisa langsung meminum kelapa muda miliknya. Ia butuh minum untuk menenangkan dirinya.


Melisa sadar kemana arah percakapan Juna. Dengan kata-kata manis, Juna berusaha menolak Melisa. Tapi Melisa tak akan menyerah. Ia tak mau berpangku tangan tanpa usaha sama sekali.


"Kamu tau Mel, dulu aku punya mimpi. Aku mau membangun sebuah perusahaan games terkenal. Aku mengejar mimpiku, tapi Ayah selalu menganggap kalau apa yang aku kerjakan hanya membuang waktu dan sia-sia belaka. Berbeda dengan Jenaka yang begitu dia manjakan. Mau menjadi apapun Jena selalu didukung. Bahkan pernikahannya pun Ayah yang pilihkan,"


"Aku mengalah saat Ayah akhirnya mengirimku ke sekolah militer. Namun, aku masih berusaha melawan. Menunjukkan protesku dengan tidak berbicara dengan Ayah. Seperti yang kamu tahu, Ayah membelikanku PS dan I'm so happy saat itu. Saat aku memiliki PS, aku teringat mimpiku. Mimpiku seakan ditukar dengan PS dan itu yang membuatku semakin sedih,"


"Aku tak lagi marah sama Ayah. Aku terlalu takut menyakiti hati kedua orang tua yang amat menyayangiku. Aku menjalani pendidikanku dan menerima takdirku dengan ikhlas. Aku kehilangan mimpi dan mulai saat itu aku tak berani lagi bermimpi,"


"Aku hanya menghabiskan hidupku dengan menjalani aktifitas seperti biasa saja. Kerja, main games dan di rumah. Aku lupa apa itu mimpi, namun kamu datang dan berkata kamu menyukaiku. Kamu melamarku dan dengan terus terang kamu menunjukkan pada semua orang kalau aku adalah milikmu,"


"Aku jadi teringat dengan diriku yang dulu. Diriku yang penuh dengan mimpi. Diriku yang berambisi. Apa kamu yakin mau menggantungkan hidup kamu sama seorang pria yang mempertahankan mimpinya saja sudah gagal?"


Juna menatap Melisa yang matanya terlihat berkaca-kaca. Entah kalimatnya yang mana yang sudah membuatnya terluka.


"I love you. Mungkin di mata kamu aku hanyalah seorang gadis pemimpi. Namun asal kamu tahu, aku bukan gadis pemimpi yang hanya bisa mengejar mimpinya dalam tidur. Aku terbangun, aku sadar dan aku menggapi mimpiku,"


"Kamu bilang kalau aku sama dengan kamu? Kamu salah, Jun. Aku berbeda. Aku berusaha. Aku mengatakan perasaanku. Bukan seperti kamu yang membungkam cita-cita kamu dengan alasan berbakti pada kedua orang tua,"


"Jun, kamu memang pengecut. Kamu enggak berani bilang apa cita-cita kamu. Tapi kamu enggak usah khawatir, kamu boleh terus jadi pengecut, tapi aku akan tetap jadi Melisa yang pemberani! Kalau kamu menyerah dengan cita-cita kamu, aku yang akan mewujudkannya. Kamu lihat saja nanti." Melisa menyunggingkan senyum menantangnya. "Ayo kita makan nanti dingin."


Juna menurut, tak lagi membantah kata-kata Melisa yang tentu akan bisa dikembalikan lagi kepadanya.


Juna memakan ikan bakar yang sebenarnya enak namun karena suasana hatinya tidak baik jadi terasa biasa saja.


"Kamu besok masuk kerja shift pagi, siang atau malam?" tanya Melisa, tak mau membuat suasana makin tegang.


"Masih shift pagi."


"Jam 6 sore berarti udah di rumah kan?" tanya Melisa lagi.

__ADS_1


"I... Iya. Memangnya kenapa?" tanya Juna penasaran.


Melisa tersenyum. "Enggak apa-apa. Ayo habiskan. Kalau kurang kita pesan lagi."


****


"Sayang!" Jenaka masuk ke dalam ruangan Mandala sambil membawa koper berisi pakaian Mandala.


"Hei! Kamu kesini sama siapa? Juna mana? Tadi pagi bukannya kamu sama Juna dan Melisa ya?" Mandala membantu Jenaka membawa koper lalu memeluk istrinya dengan penuh cinta.


"Juna aku kasih kesempatan sama Melisa berdua aja. Biar mereka tambah dekat."


Mandala tersenyum. Dikecupnya kening istri tercintanya dengan penuh cinta. "Pengertian sekali sih kamu!"


"Iya dong. Kamu tau enggak tadi tuh Melisa sampai melamar Juna di dalam mobil. Gila enggak sih? Benar kata Juna, Melisa tuh pejuang cinta sejati kayak aku. Kok aku jahat ya kalau enggak membantu dia."


Mandala menarik tangan Jenaka dan duduk di kursinya. Jenaka tanpa sadar sudah duduk di atas pangkuan Mandala.


"Beneran? Wah berani sekali ya Melisa. Mirip kayak kamu yang dulu menggoda aku pakai handuk mandi. Mengoda aku dengan pamer choco chip dan membuat aku sampai menahan hasratku." Mandala mencubit hidung Jenaka dan membuat hidungnya memerah.


"Masih enggak mau ngaku nih? Nanti aku hukum!"


"Hukum apa? Pasti hukumannya begadang sampai pagi nyoba berbagai gaya ha....ha....ha...."


"Oh... Jadi kamu mikirnya kayak gitu ya? Hmm.... Padahal hukuman yang mau aku kasih tuh cuma mau nyuruh kamu masakkin aku cemilan berbentuk love. Tapi... tapi karena kamu memberi ide, bolehlah aku pikirkan. Gimana kalau hukumannya weekend besok? Kita nginep di hotel aja? Kamu bebas pilih deh mau di hotel mana!"


"Loh kok jadi aku yang kasih ide? Malang sekali nasibku!"


Sedang asyik bercanda dan bermanja ria, ruangan Mandala tiba-tiba dibuka.


"Ups.... Sorry!" Genta berbalik badan hendak keluar tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. "Kenapa gue yang harus minta maaf ya?"


Genta kembali berbalik badan lalu melipat kedua tangannya di dada. "Ngapain kalian siang-siang pangku-pangkuan di kantor? Bukan salah gue dong kalo melihat pemandangan tidak senonoh seperti ini? Seharusnya kalian yang minta maaf sama gue!"


"Kenapa lo jadi marah-marah sama kita berdua, Ta? Memangnya apa salah kita? Pasangan resmi, enggak masalah dong!" sahut Mandala.

__ADS_1


"Ya masalah lah! Jomblo kayak gue tuh kalau liat kayak gini bawaannya ngenes. Pengen kayak gitu juga. Pangku-pangkuan. Sayang-sayangan. Sayangnya, enggak ada yang dipangku." Genta menaruh berkas yang Mandala minta diatas meja.


"Kak Genta, sama Mina aja tuh! Kayaknya Mina masih single. Kak Genta deketin aja!" bisik Jenaka.


"Ini lagi bininya, nyuruh aja bisanya! Bantuin dong! Siapa yang dulu bantuin kalian saat di vila kalian ngebet pengen bobo bareng? Kalo bukan gue bisa digrebek kalian!"


"Ih itu mah kita enggak bobo bareng ya, Kak? Cuma ciuman hot aja." jawab Jenaka.


"Sst! Jangan dikasih tau, Sayang! Kasihan kalau dia mupeng gimana?" balas Mandala.


"Gue mupeng sama kalian? Enggaklah! Udah cepet tanda tangan! Gue tuh kasihan kalau waktu kalian diganggu. Ya maklum sih, kalau tinggal di rumah mertua mau mendesah aja enggak bebas. Mau teriak "Sayang... Yang kenceng dong! Sayang.... lagi! Sayang..... awww.... ahh.." Genta membalas Mandala dan Jenaka dengan telak.


"Ta! Gue timpuk ya!" Mandala cepat-cepat menandatangani berkas yang diberikan lalu memberikannya pada Genta. "Udah sana lo pergi! Nanti lo denger suara kita lagi enak-enak lagi disini!"


"Iya. Gue pergi. Kasihan gue sama pengantin baru yang enggak bebas mendesah, baru bilang ah.... udah ada yang ketuk pintu suruh kecilin suaranya ha...ha...ha..." Genta kabur saat Mandala hendak melempar pulpen ke arahnya.


Jenaka hanya tersenyum saja. Sudah lama Ia kangen suasana ramai karena ulah Genta yang lucu dan asyik.


"Jadi? Kamu mau bersuara bebas?" tanya Mandala.


"Maksudnya?"


"Menyuarakan isi hati agar lebih lega gitu."


"Hmm... Kayaknya aku tau nih ke arah mana pembicaraannya."


"Sekarang gimana?"


"Sekarang?" Jenaka melihat jam tangannya. "Jam 2 siang?"


Mandala mengangguk. "Kita ke hotel sekarang! Ayo!"


"Eh serius ini? Beneran sekarang?" Jenaka tak kuasa menolak saat Mandala menggandeng tangannya.


*****

__ADS_1


Kalian juga sekarang vote dan like aku ya 😊😊


__ADS_2