
Panca memendam kecurigaannya sejak Lulu dan Lily mengatakan kalau Jenaka sudah menikah dengan Mandala. Raut wajah Jenaka tidak menunjukkan kalau Ia bahagia.
Panca amat mengenal Jenaka. Sahabatnya yang selalu ceria dan suka membahagiakan orang di sekitarnya itu tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Kalau senang ya senang, begitu pun sebaliknya.
Yang Panca lihat dari Jenaka adalau raut kesedihan, raut putus asa dan raut kesepian. Jika memang Mandala dan Jenaka dijodohkan, kenapa Mandala masih menyimpan foto Kinara?
Figura berisi foto Kinara cepat-cepat Panca kembalikan. Hatinya merasa sakit mengetahui Jenaka dikhianati seperti itu.
"Maaf lama, Pak. Sudah saya pesankan dengan sekretaris saya." ujar Mandala yang baru datang dan kini duduk di kursi kebesaran miliknya.
"Oh tidak apa-apa Pak Mandala. Malah saya jadi tidak enak karena merepotkan Pak Mandala." pintar sekali Panca bersilat lidah.
"Sama sekali tidak merepotkan kok, Pak. Jadi Pak Panca ada apa ya kesini?" Mandala to the point saja. Tidak biasanya ada klien yang datang langsung, mereka yang biasanya mendatangi dan memberikan laporan. Mandala curiga dengan maksud kedatangan Panca.
"Hmm... Jenakanya mana ya Pak? Boleh tau Jenaka pada proyek ini ditempatkan di bagian apa?" tanya Panca.
"Jenaka? Mati gue! Jenaka belum dimasukkan dalam tim manapun. Hanya diikutsertakan dalam presentasi. Apa maksudnya coba ngungkit Jenaka? Apa Panca kesini karena Jenaka saja? Apa hanya alibi saja dia mau menanyakan proyek?" batin Mandala.
"Jenaka itu... Masuk dalam team audit. Jadi nanti Jenaka yang membantu mengecek biaya produksi dan biaya lainnya." secepat kilat Mandala memutar otaknya, alasannya harus logis. Yang Ia hadapi sekarang adalah CEO pemilik perusahaan besar.
"Oh... Baguslah. Jenaka itu bagus dalam hitung-hitungan. Sayangnya kurang bagus dalam hal lain." sindir Panca. "Boleh saya lihat sudah sejauh mana proyek kerjasama kita?"
"Boleh, tentu saja." Mandala lalu menelepon sekretarisnya untuk dibawakan berkas yang Ia butuhkan.
"Sejauh ini masih aman terkendala. Konsep restoran dan toko yang baru terlihat lebih menjual dan sangat mampu menarik minat para pembeli. Konsep membuat restoran sekaligus tempat piknik dan ada fasilitas rekreasi seperti membuat seluruh hiburan berada dalam satu lingkup...." Mandala menjelaskan kemajuan yang sudah dibuat anak buahnya.
Panca mendengarkan penjelasan Mandala dengan bosan. Ia sudah mendengar dari anak buahnya di kantor. Tujuan Ia datang kesini adalah mencari tahu tentang Mandala dan Jenaka.
"Sudah lumayan juga ya prospeknya." Panca melihat jam di tangannya. "Sampai tidak terasa saya sudah lama berada disini. Saya harus pulang. Terima kasih atas penjelasannya Pak Mandala. Oh iya, saya ijin akan mengajak Jenaka makan malam. Sejak saya di Jakarta belum pernah mengajak Jenaka makan malam. Jenaka tour guide yang bagus. Pak Mandala tak perlu khawatir, saya akan menunggu Jenaka pulang kantor jadi tak akan mengganggu waktu kerja Jenaka."
Mandala kehabisan alasan untuk menolak Panca. Tak mungkin melarang dengan alasan kalau Mandala suaminya Jenaka. Ini di kantor. Jangan mencampurkan urusan pribadi dan kantor.
"Hmm... Saya sih mengijinkan asal Jenaka juga setuju." akhirnya Mandala menyerahkannya pada Jenaka. Semoga saja Jenaka menolaknya.
__ADS_1
"Kebetulan Jenaka bilang terserah Pak Mandala. Berarti boleh kan ya? Saya tunggu Jenaka pulang kantor saja. Terima kasih semuanya Pak Mandala. Selamat sore!"
Panca melenggang pergi dari ruangan Mandala dengan senyum kemenangan di wajahnya. Berbeda dengan Mandala yang hanya bisa mengumpat kesal, dalam hati tentunya.
"Jen, kamu enggak bisa tolak Panca? Kenapa sih kamu iyain aja ajakan Panca?" tanya Mandala di teleponnya.
"Er... Panca? Memangnya ada Panca, Kak?" tanya Jenaka bingung.
"Loh? Bukannya tadi dia bilang katanya kamu boleh pergi kalau aku ijinin?" Mandala merasa dirinya sengaja dijebak oleh Panca.
"Sebentar deh Kak," Jenaka membuka pesan di Hp miliknya.
Jen, bilang aja gue minta lo temenin makan malam kalau Mandala tanya. Dia udah kasih ijin. Iyain aja Jen. Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting!- Panca.
"Eh ternyata Panca udah ngechat deh Kak. Aku tadi enggak konsen, banyak kerjaan. Katanya Kakak udah kasih ijin? Aku pulang bareng sama Panca kalo gitu ya! Kakak makan masakan Mala aja ya." Jenaka memilih bekerja sama dengan Panca.
"Eh tapi Jen tadi katanya-"
"Aku enggak konsen, Kak. Udah ya aku mau kerja dulu. Kerjaanku banyak sehabis makan siang kelamaan, Kak. Bye!" Jenaka menutup teleponnya.
****
Jenaka menyelesaikan kerjaannya secepat mungkin. Jam 5 teng Jenaka sudah berdiri di mesin absen. Ia bahkan menyerobot lift agar cepat sampai di basement.
Sesampainya di basement, Jenaka celingukan mencari mobil Panca. Jenaka langsung mengenali Lamborghini berwarna kuning milik Panca. Jenaka pun menghampirinya.
Jenaka melihat ke dalam mobil dimana Panca sedang tertidur lelap. Kasihan. Pasti Panca lama menunggu Jenaka sampai pulang kantor.
Tok...tok....
Jenaka mengetuk jendela mobil yang sedikit terbuka itu. Panca yang tertidur pun terbangun dengan agak kaget.
"Oh, Jena! Masuk, Jen!" Jenaka pun masuk ke dalam mobil Panca.
__ADS_1
"Maaf ya, Ca. Lo pasti nunggu gue lama ya? Sampai ketiduran gitu!"
"Iya. Lama banget gue nungguin lo. Makan siang lama, pulang kerja juga lama! Laper nih gue! Pokoknya lo traktir gue!" Panca meneguk air mineral miliknya lalu menyalakan mesin mobil dan pergi dari kantor Mandala.
"Traktir? Jangan mahal-mahal. Enggak punya duit gue! Lo pelit banget sih Ca! Duit udah banyak masih aja minta traktir sama gue!" gerutu Jenaka.
"Masa sih enggak punya duit? Lo kan udah jadi istri CEO, enggak dikasih nafkah?" sindir Panca.
"Nafkah sih dikasih. Tapi enggak sebanyak yang lo bayangin. Lagi juga uangnya enggak gue pake, Ca. Gue masih punya uang dari gaji gue kerja."
Kecurigaan Panca semakin banyak saja. Tidak mungkin CEO seperti Mandala tidak memberi uang bulanan yang besar untuk istrinya tercinta. Hanya ada dua kemungkinan, Mandala tidak mencintai Jenaka atau Mandala memang pelit.
"Mandala segitu pelitnya sama lo Jen? Lo mau pake kartu gue? Kalo lo mau belanja pake aja. Gue yang bayarin!" ujar Panca.
"Enggak usah, Ca. Lo kan tau kalo biaya hidup dan gaya hidup gue murah. Enggak terbiasa pake barang mahal!"
"Tuh tas yang lo pake mahal! Bohong banget lo!"
Jenaka menatap tas pemberian Mandala saat mereka nonton untuk yang pertama kali. "Oh... Ini pemberian Kak Mandala."
Panca membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung. "Sally Cafe? Mereka buka cabang disini juga?"
"Jangan nanya sama gue! Udah lama gue ninggalin Jakarta! Tadi gue sempet browsing sebentar katanya ada cafe yang kekinian banget. Terus makanannya enak, itu yang terpenting!"
Datang dengan mobil Panca sungguh menarik perhatian orang banyak. Mereka ingin tahu bagaimana rupa pemilik mobil, apakah ganteng atau hanya memakai mobil untuk menutupi kekurangan fisiknya?
Saat Panca keluar mobil, banyak cewek-cewek yang makin menatap kagum. Ganteng plus tajir, paket lengkap banget Panca. "Ayo, Jen! Laper nih gue!"
Jenaka mengikuti Panca dan masuk ke dalam restoran. Setelah memesan makanan, Panca yang sudah tak sabaran segera mengajukan pertanyaan pada Jenaka.
"Jawab jujur, Jen. Lo beneran istri Mandala atau Kinara yang jadi istrinya? Atau... Lo berdua istrinya Mandala?"
****
__ADS_1
Ayo kalian jawab jujur, habis ini kalian vote dan like Jenaka kan?