
Jenaka pikir insiden kantor penuh buket bunga adalah insiden terakhir yang membuatnya menjadi topik pembicaraan satu kantor. Ternyata tidak.
Saat Jenaka sedang membuat jadwal Panca dan merapihkan file, telepon mulai berdering. Ditutup satu, berbunyi lagi yang lain. Ditutup lagi, telepon lagi yang lain.
Semua dari resepsionis di lantai bawah. Semuanya sama. Isinya, "Maaf Bu Jenaka, ada paket untuk Bu Jenaka. Saya suruh ke atas langsung atau di bawah saja ya Bu?"
"Naik saja ke atas." jawab Jenaka.
Lalu resepsionis bawah menelepon lagi. Baru ditutup menelepon lagi. Ketiga resepsionis di bawah bergantian meneleponnya.
"Iya. Dengan Jenaka. Suruh saja semua paket ke atas!" ujar Jenaka dengan jengkel. Kenapa enggak sekalian sih kasih taunya?
Lalu satu persatu paket datang untuk Jenaka. Dimulai dari buket cokelat. Lalu cake. Disusul dengan aneka permen.
Baru saja Jenaka duduk di kursinya, sudah datang lagi paket untuknya. Pizza, sate ayam, aneka roti, nasi tumpeng berukuran besar. Jenaka sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Ada apa lagi ini, Jen?" tanya Panca yang heran dengan banyaknya paket untuk Jenaka. Panca menduga kalau pengirimnya adalah Mandala. Namun, Jenaka menyembunyikannya.
Kalau Panca tau, Ia akan bilang dengan Juna dan akhirnya Ayah akan tahu. Jenaka akan kembali disidang.
"Ini... Aku menang hadiah, Ca. Itung-itung syukuran. Aku taruh di ruang meeting aja ya. Nanti kita makan rame-rame." kilah Jenaka.
"Hadiah apa? Kamu ikut lomba apa? Jangan bohong deh Jen!" Panca tidak semudah itu mempercayai perkataan Jenaka. Ia tidak bodoh.
"Yaudah kalau kamu pikir aku bohong!" Jenaka pura-pura merajuk dan pergi ke toilet. Ini adalah senjata Jenaka. Panca paling lemah melihatnya merajuk.
Di dalam toilet, Jenaka menelepon Mandala.
"Iya, Sayang. Suka sama hadiah pemberian dariku?" tanya Mandala saat menerima telepon dari Jenaka.
"Sayang... sayang! Kak Mandala udah buat aku disidang sama Ayah dan buat aku jadi bahan gunjingan satu kantor! Kak Mandala maunya apa sih?" omel Jenaka.
"Aku mau jalan sama kamu, Jen. Apa sesulit itu menyanggupi permintaanku?" pinta Mandala agak memelas.
"Aku enggak bisa, Kak. Untuk ijin keluar saja aku harus ada yang menemani."
Mandala tersenyum. Berarti sejak awal Jenaka mau diajak jalan, hanya pengawalnya banyak yang harus Mandala hadapi.
"Aku yang minta ijin sama keluarga kamu. Gimana? Boleh?"
__ADS_1
Waduh...
Mandala datang dan meminta ijin sama saja dengan memancing perang. Lebih menakutkan nantinya.
"Jangan! Please... Kak Mandala jangan buat aku terlibat masalah lebih banyak lagi."
"Enggak dong, Sayang. Aku malah mau hindarin kamu dari masalah."
"Hindarin apaan? Ini aja aku harus beralasan menang hadiah! Panca enggak bodoh! Dia enggak semudah itu percaya sama kebohongan aku!" gerutu Jenaka.
"Itu urusanku! Akan kubuat kebohongan kamu menjadi kenyataan dalam sekejap. Jadi gimana? Kapan kita jalan?" Mandala kembali ke topik awal. Mengajak Jenaka jalan.
"Enggak mau ah!" tolak Jenaka.
"Yaudah kalau kamu enggak mau. Aku sih orangnya enggak suka maksa dan tidak suka mengancam. Aku sukanya kasih hadiah. Kemarin bunga, hari ini makanan, bagaimana kalau besok hewan-hewan lucu buat kamu pelihara di rumah. Kayak kucing, kelinci dan burung?"
Muka Jenaka memucat mendengar perkataan Mandala. "Ya Allah, Kak. Jangan gila deh! Kak Mandala mau membuat kantorku jadi kebun binatang? Please, Kak. Jangan ya... Please..."
Mandala tersenyum menang. Memang kalau punya uang kita bisa berbuat sesuka hati ha...ha...ha...
"Bilang dulu, Kak Mandala maukah Kakak jalan denganku?" ujar Mandala sambil senyum-senyum sendiri.
"Mau enggak? Kalau enggak aku kirim hadiah nih! Aku mah orangnya baik. Baik banget malah." kembali Mandala mengeluarkan ancaman yang membuat Jenaka takut.
"Oke. Baiklah. Kita jalan!" Jenaka mengalah.
"Enggak gitu bilangnya, Jen. Bilang seperti yang aku minta tadi."
"Yaelah, Kak. Aku batalin nih!" Jenaka mengancam Mandala seperti Ia mengancam Panca. Berharap usahanya akan berhasil.
"Yaudah batalin aja. Maka aku besok bisa mengirim hadiah buat kamu. Kamu suka pelihara reptil enggak Jen?"
Ya Allah... reptil... Jenaka paling geli sama reptil. Ular.... katak... ih...
"Kak Mandala, maukah pergi jalan denganku?" akhirnya Jenaka mengalah. Ia terjebak dengan strategi yang Mandala buat untuknya.
"Mau dong, Jenaka Sayang. Apa sih yang enggak buat Jenaka? Sabtu aja ya Sayang perginya. Soalnya kalau hari kerja aku sibuk."
"Ih kok kesannya jadi kayak aku yang ngemis-ngemis minta jalan sama Kak Mandala ya?" keluh Jenaka.
__ADS_1
"Enggak dong. Tetap aku yang ngemis cinta kamu. Sampai ketemu hari sabtu ya. Kamu tentuin kita ketemuannya dimana-"
"Tunggu dulu, Kak. Ini kekacauan yang Kak Mandala buat gimana?"
"Tenang saja. Kamu iyain aja dan akting yang bagus ya. See you soon, Baby. Luv you."
Mandala memutuskan sambungan teleponnya. Jenaka hanya bisa diam. Ia sendiri bingung menyelesaikan masalah yang Mandala buat untuknya.
"Siang, Bu Jenaka. Ada perwakilan dari Sigap Radio yang hendak bertemu dengan Bu Jenaka." beritahu resepsionis di bawah sekitar dua jam setelah Mandala memutuskan teleponnya.
"Sigap Radio? Mau apa ya? Suruh naik ke atas saja deh." Jenaka kembali bertanya-tanya. Rencana apa lagi yang Mandala buat.
Jenaka pun menyambut kedatangan perwakilan dari Sigap Radio. Betapa terkejutnya Jenaka saat melihat perwakilan tersebut membawa banner besar berisi wajahnya terpampang disana.
THE WINNER IS JENAKA PUTRI
Wow!
Jenaka tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. Mudah sekali Mandala memutarbalikkan sebuah fakta.
Jenaka menurut saja saat diminta berfoto di depan banner dan aneka makanan yang masih ada di ruang meeting. Ruangan meeting mulai ramai didatangi para karyawan yang ingin tahu apa yang sudah terjadi. Termasuk Panca.
"Ada apa ini?" tanya Panca pada salah satu karyawannya.
"Itu Pak, Jenaka. Menang lomba yang diselenggarakan oleh Sigap Radio. Sekarang Jenaka lagi diwawancarai setelah di foto-foto, Pak. Hoki banget Jenaka."
"Hoki gimana?" tanya Panca lagi.
"Iya hoki, Pak. Kemarin dapat kiriman bunga dari pacarnya. Sekarang dapat kiriman makanan karena menang lomba. Kapan saya beruntung kayak Jenaka ya Pak?"
Panca memperhatikan saat Jenaka diwawancarai. Wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Senyumnya pun terkesan dipaksakan.
Panca tak sebodoh itu. Ia membuka profil Sigap Radio. Mencari deretan pemimpin Sigap Radio lalu mencari lebih dalam siapa pemegang saham atau siapa yang pernah bekerjasama dengan Sigap Radio.
Panca hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sudah Ia duga, siapa aktor dibalik pengiriman banyak makanan hari ini. Tentu orang yang sama dengan yang mengirim bucket bunga kemarin.
Panca hanya berdiri di depan memperhatikan saat Jenaka mempersilahkan karyawan lain menikmati makanan hasil 'kemenangannya' .
"Ca! Sini!" ujar Jenaka tanpa suara. Hanya bahasa bibir dengan tangan memanggilnya untuk mendekat.
__ADS_1
Tanpa senyum, Panca pergi dan kembali ke ruangannya. "Ini belum berakhir, Ca. Belum ada yang tersenyum sampai benar-benar keluar sebagai pemenangnya!"