Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Tatapan Tajam


__ADS_3

"Jena! Tolong ayam bakarnya dijagain dong! Kalo gosong enggak enak nanti dimakannya!" omel Bunda menghentikan aksi kejar-kejaran Jenaka dan Mandala.


"Iya, Bun!" Jenaka kembali mengurusi ayam bakar.


"Tuh kan! Agak gosong nih! Kak Mandala sih rese!" omel Jenaka sambil mengangkat ayam bakar yang agak gosong tersebut ke piring.


"Udah sini aku makan yang gosongnya. Biar enggak ada yang tau." bisik Mandala seraya mengambil bagian ayam bakar yang agak gosong.


"Ih jangan! Pahit tau!" larang Jenaka.


"Tenang saja. Aku makannya sambil ngeliat kamu. Kamu tuh kayak mecin. Buat aku ketagihan dan candu." Mandala tak mengindahkan larangan Jenaka dan memakan ayam bakar yang agak gosong.


"Gurih dong aku? Kayak pernah makan aja?"


"Icip sih pernah. Baru icip aja aku udah tau betapa gurihnya kamu."


"Ih mesum banget!"


Jenaka dan Mandala tertawa bersama seakan dunia milik berdua. Tanpa mereka sadari sejak tadi Papi Prabu dan Ayah Lukman memperhatikan.


"Kamu lihat? Bukankah itu senyum bahagia?" tanya Papi Prabu pada Ayah. Ayah diam dan hanya melihat Jenaka dan Mandala dari ruang tamu.


"Kamu tau Man, apa yang paling orang tua inginkan di dunia ini? Bukan harta benda, melainkan kesehatan. Agar apa? Agar bisa melihat anak-anaknya bahagia. Apa lagi yang membahagiakan orang tua selain anaknya bahagia?" ujar Papi Prabu.


"Lalu kegagalan mereka di masa lalu dilupakan begitu saja?" sindir Ayah Lukman.


"Kamu tau Man, apa kebahagiaan dalam hidup ini? Istighfar untuk masa lalu, usaha untuk hari ini dan berdoa untuk masa depan )*. Mereka pernah melakukan kesalahan dan aku yakin mereka sudah mendapat pelajaran atas kegagalan mereka. Tugas kita hanya mengarahkan, bukan menghalangi kebahagiaan mereka." Papi Prabu menasehati Ayah Lukman dengan bijak sekali.


Dalam hati Ayah Lukman membenarkan perkataan Papi Prabu. Kembali dilihatnya Jenaka dan Mandala sedang bercanda. Senyum di wajah Jenaka amat lepas.


Ayah Lukman terus memperhatikan interaksi keduanya. Mandala yang memandang Jenaka dengan penuh cinta, amat berbeda sekali dengan Mandala yang dulu.


Saat Mandala menginap dulu saat masih menikah dengan Jenaka, tatapan Mandala terhadap Jenaka biasa saja. Lalu saat menginap kedua kalinya mulai terlihat ada rasa yang mulai tumbuh. Kini rasa itu semakin dalam, semua terpancar dari tatapan matanya.


Mandala menatap Jenaka seakan Jenaka adalah pusat dunianya. Bagaikan planet yang mengeliling matahari sebagai pusatnya. Itulah arti Jenaka di mata Mandala.


Kembali Ayah teringat perkataan Juna, baik dirinya maupun Juna tak bisa selamanya menjaga dan melindungi Jenaka selamanya. Lalu siapa yang akan melindungi Jenaka saat dirinya sudah meninggalkan dunia ini?

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu enggak mau kita menjadi besan kembali? Lihatlah Nina, bagaimana Ia amat menyayangi Jenaka. Selalu ingin di Jakarta hanya agar bisa menyicipi masakan Jenaka. Betapa dekatnya mereka berdua. Kamu tau sendiri, Nina tipikal pemilih. Tak sembarangan didekati siapapun. Tapi dengan Jenaka, Ia langsung dekat."


Kini Ayah melihat Mami Nina yang bergabung dengan Jenaka dan Mandala. Mengomeli Mandala yang memakan ayam agak gosong, seperti layaknya seorang ibu yang amat melindungi anaknya.


Ayah Lukman kembali teringat dengan cerita temannya di kantor. Temannya bilang kalau istri anaknya sangat protect dan akhirnya mereka anak dan menantu tak akur. Ayah tak mau anaknya punya mertua kejam. Jenaka beruntung jika memiliki Mami Nina yang amat menyayanginya laksana anak kandungnya sendiri.


Ayah Lukman terdiam. Ia kini bimbang. Jujur aja, apa yang Papi Prabu katakan terlalu benar untuk Ia tolak.


"Mandala, tolong bantu Bunda angkat piring boleh? Juna nanti angkat air mineral." pinta Bunda. "Jena kalau sudah selesai bakar ayamnya, kita makan dulu. Nanti baru bakar jagung dan sosisnya setelah makan. Kamu bantuin Bunda!"


"Iya, Bun!" ucap Jenaka dan Mandala kompak.


Jenaka menggelar karpet untuk makan bersama. Mandala mengangkat piring dan air mineral sekalian. Juna sedang menerima telepon jadi Mandala yang lakukan.


Makanan siap, waktunya makan bersama. Ayam bakar, sayur asem buatan Bunda, aneka lauk dan sambal terlihat amat lezat terhidang diatas karpet.


"Wah... Aku udah lama banget enggak makan lesehan begini. Aku kangen!" Mami Nina terlihat begitu bahagia akan acara makan bersama begini.


"Nanti kita buat lagi ya!" ujar Bunda. "Makan yang banyak, Nin. Nambah juga. Pokoknya makan sampai puas."


"Nanti sehabis Mandala nikahin Jena kita bikin kayak gini lagi ya? Nanti aku bantuin kamu masak kayak tadi. Gimana?" sindir Mami Nina.


"Memangnya kapan Mandala mau nikahin Jena lagi?" Bunda ikut bekerja sama dengan Mami Nina.


Kini semua orang menatap Ayah. Jenaka, Mandala, Papi Prabu, Mami Nina, Bunda dan Juna.


Semua menatap Ayah dengan sorot mata bak puppy eyes. Semua kompak menyerang sisi manusiawi Ayah.


Ayah menghela nafas dalam. Tak nyaman rasanya disidang oleh orang satu ruangan.


Papi Prabu menyikut lengan Ayah. "Jawab!"


Ayah kini balas menatap Mandala. Lalu Ayah melihat Bunda, meminta persetujuan Bunda.


Bunda mengangguk, meyakinkan Ayah kalau merestui Jenaka dan Mandala adalah keputusan yang paling tepat.


Ayah kini menatap Juna. Juna tersenyum dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.

__ADS_1


Jangan ditanya tatapan Mami Nina dan Papi Prabu yang penuh harap! Ayah menatap Jenaka dengan lekat.


Ayah teringat saat Jenaka dulu minta dibelikan boneka barbie. Tatapannya kali ini lebih penuh harap. Dulu, Jenaka berjanji akan merawat boneka barbie yang dibelikan. Benar saja, sampai sekarang boneka itu tetap ada dan utuh. Dijaga sepenuh hati.


Apakah kali ini Jenaka akan menjaga rumah tangganya? Tidak semudah itu meminta diceraikan seperti dulu?


"Kapan Mandala akan menikahi Jenaka lagi? Tak perlu pakai pesta mewah. Cukup akad nikah saja!" Ayah akhirnya membuat keputusan yang membahagiakan semua orang.


"Yes!" Mandala berseru kegirangan. "Alhamdulillah."


Bunda dan Mami Nina saling berpelukan. "Nina, ini sambelnya kena pipi aku!" protes Bunda.


"Nanti aku beliin skincare mahal yang ada DNA Salmonnya buat kamu! Yang penting kita besanan lagi!" ujar Mami Nina yang tak melepaskan pelukan Bunda.


Jenaka memeluk Juna seraya menangis haru. "Alhamdulillah. Makasih ya Jun..."


Juna menepuk punggung Jenaka dengan sayang. Dalam hati Juna berharap kalau kebahagiaan ini akan selamanya. Jangan sampai Jenaka tersakiti lagi.


Papi Prabu tersenyum dan meneput bahu Ayah. "Makasih, Har. Kita besanan lagi ya! Nanti kita gantian jagain cucu! Kita rebutan cucu aja. Biar anak-anak kita bahagia!"


Ayah Lukman tersenyum sedikit. Rupanya keputusan yang Ia ambil membawa bahagia buat orang banyak.


"Saya mengijinkan kalian rujuk dengan syarat...."


Semua kini terdiam kaku. Ayah punya syarat? Syarat apa?


"Sehabis menikah, Mandala dan Jenaka akan tinggal di rumah ini dulu selama 6 bulan!" Ayah tersenyum jahil. "Itung-itung MOM alias Masa Orientasi Menikah. Tujuannya agar pernikahan mereka berada dalam pantauan. Jangan sampai terulang lagi kesalahan yang sama!"


"Sebulan aja gimana, Man?" nego Papi mewakili Mandala.


"Enam bulan. Kalau enggak mau yasudah!"


Mandala mengangguk pada Papinya. Tak apalah enam bulan, asal tetap menikahi Jenaka.


"Baiklah. Enam bulan. Tapi besok akad nikahnya?!" tantang Mandala balik.


"Terserah!" jawab Ayah.

__ADS_1


***


)* kata-kata inspiratif diambil dari belakang truk sayur dan buah. Terima kasih pelajaran hidupnya 🙏


__ADS_2