Jejak Cinta Jenaka

Jejak Cinta Jenaka
Membangun Kehangatan Keluarga


__ADS_3

"Kak, bangun!" Jenaka membangunkan Mandala yang tertidur dengan pulesnya. "Katanya enggak bisa tidur kalo enggak ada Kinara? Buktinya tidur pules banget sampai susah dibangunin!"


"Gerutu aja kamu, Jen! Masih pagi tau!" ujar Mandala dengan suara khas bangun tidurnya. Serak-serak seksi gimana gitu.


"Justru masih pagi, ayo bangun! Sholat subuh! Kakak jadi imamnya!" Jenaka menggoyangkan tubuh Mandala lagi. Pokoknya Mandala harus bangun bagaimanapun caranya.


"Males ah! Aku ngantuk!" tolak Mandala. Ia menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Udara pagi amat dingin terasa menusuk kulitnya. Mandala lebih memilih bergulung dengan selimut daripada membasahi tubuhnya dengan air wudhu.


"Yaudah aku tendang sampe Kakak jatuh dari tempat tidur nih! Aku kan bilang kalo mau tidur di kamar aku harus sholat dulu!" ancam Jenaka. Terbiasa membangunkan Juna dengan berbagai cara akan Ia terapkan kalau Mandala tak mau bangun juga.


"Iya...iya... Aku bangun!" sambil menggerutu Mandala masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil wudhu.


"Galak banget sih, aku mau ditendang dari tempat tidur! Lagi pules atau lagi sadar hobbynya nendang aku terus!" gerutu Mandala lagi setelah selesai wudhu. Masih belum puas rupanya Ia mengeluarkan unek-uneknya.


"Ih kapan aku begitu? Aku mah kalo tidur kalem wae! Tunggu aku, Kak! Aku ambil wudhu dulu!" Jenaka mengambil wudhu dan ikut sholat berjamaah dengan Mandala.


Jenaka merasa Ia dan Mandala semakin menjadi suami istri yang sebenarnya. Akankah ini selamanya atau hanya sementara sampai Kinara kembali nanti?


Jenaka salim pada Mandala, saat Mandala lengah Jenaka mengecup pipi Mandala. Godaan di waktu pagi.


"Pak Imam hebat! Udah rajin sholat!" Jenaka mengacungkan dua buah jempolnya, membuat Mandala tersenyum kecil.


"Aku lapar, Jen! Tolong buatin aku sarapan ya! Aku enggak mau sarapan buatan Mala!"


"Oh, tentu aja akan aku buatin. Kak Mandala mau apa? Nasi goreng, mie goreng, nasi uduk, nasi kuning atau roti bakar buatan Mala?" layaknya guru TK, Jenaka menyebutkan menu makanan pada Mandala.


"Nasi kuning sih maunya, tapi enggak mungkin."


"Loh? Kenapa enggak mungkin? Akan Jena buatin spesial buat Kakak. Kakak tidur lagi aja, nanti Jena bangunin kalau udah matang!"


"Kamu serius? Bikin nasi kuning tuh ribet, Jen!"


"Udah Kakak tidur aja. Nanti Jena bangunin!"


Demi mewujudkan keinginan suami tercinta, Jenaka rela memasak nasi kuning untuk menu sarapan pagi mereka. Jenaka membuat agak banyak karena ada Papi dan Mami yang menginap disini.


Jenaka mengikuti resep yang diajarkan Bunda. Menumis duo bawang dahulu sampai harum baru memasukkannya dalam rice cooker bersama santan instan dan rempah lain yang sudah Ia beli untuk stok memasak, tak lupa menambahkan kunyit bubuk. Simple sebenarnya cuma terkadang kita malas saja melakukannya.


Sebagai teman makannya, Jenaka menggoreng ayam yang sudah diungkep ditambah membuat mie goreng dan sambal kacang. Sarapan yang mewah dibanding yang lain. Satu lagi, Jenaka bahkan menggoreng kerupuk agar seperti nasi kuning beli di tukang jualan.

__ADS_1


Jenaka menatanya diatas meja makan. Menu yang amat menggugah selera di pagi hari. Harum nasi kuning mampu membuat seisi rumah berkumpul di meja makan tanpa disuruh.


"Wah sarapan apa yang kamu buat, Jen? Harum sekali!" Mami Nina yang datang pertama kali. "Nasi kuning? Kamu serius buat nasi kuning buat sarapan pagi kita?" Mami Nina tak percaya dengan apa yang dilakukan menantu kesayangannya tersebut. Rela ber-repot ria di dapur demi keluarganya. Benar-benar menantu idaman dan kesayangannya.


"Iya nih harum banget. Papi jadi lapar!" Papi Prabu yang baru datang ikut bergabung di meja makan.


"Aku panggilin Kak Mandala dulu ya Pi, Mi!" Jenaka baru berjalan selangkah sudah ada suara Mandala yang terdengar.


"Aku juga udah disini! Harum nasi kuning buatan kamu bikin perut aku kerucukan. Pokoknya aku mau makan yang banyak!" ujar Mandala yang langsung duduk di kursi makan.


"Siap! Kita makan sekarang ya!"


Mereka makan dengan lahap sambil mengobrol dengan akrabnya. Suasana rumah yang sepi berubah menjadi hangat.


Ada saja yang Jenaka jadikan bahan obrolan. Papi Prabu yang biasanya pendiam kini bahkan banyak bicara. Ia juga menceritakan pengalamannya saat memulai usaha dulu.


"Enggak ada sesuatu yang instan, Jen. Semua butuh usaha. Ibaratnya tuh kaki di kepala, kelapa di kaki. Semua Papi lakuin untuk kemajuan usaha Papi. Mami kamu yang jadi saksinya. Mami yang menemani Papi dari susah sampai sukses seperti sekarang." cerita Papi.


"Iya ih Jena kagum banget sama kisah Papi dan Mami. Benar-benar susah senang bersama. Kalah kisah Romeo dan Juliet ini mah kalo sampai dibuatkan filmnya!" puji Jenaka.


"Itulah yang namanya suami istri. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Saling kerjasama. Dulu Mami sudah kenyang hidup susah, sekarang Mami harus Papi bahagiain. Mami mah satu-satunya buat Papi. Enggak kayak anak Papi yang sok Don Juan itu! Belum mulai dari nol tapi udah sok mau punya istri dua!" sindir Papi.


Jenaka menatap Mandala dengan tatapan iba, Papi Prabu seperti memandang Mandala dengan sebelah mata. Mandala pun menatap Papinya bak angin lalu. Kenapa hubungan kekeluargaan mereka begitu kaku? Berbeda dengan apa yang ditampilkan saat mereka berkenalan dulu?


"Pi, habis makan kita main games yuk!" sebuah ide terlintas di benak Jenaka dengan tiba-tiba. Segala sesuatu yang membeku harus dicairkan. Salah satunya ya dengan cara bermain games.


"Boleh. Games apa?" Mami Nina yang bersemangat menjawabnya.


"Ikutin Jena aja deh pokoknya. Dijamin asyik!"


Mandala menatap Jena tajam. Ia tahu, pasti ada yang direncanakan istri nakalnya ini.


Mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Jenaka meminta semuanya duduk diatas lantai kayu.


Jenaka menaruh mainan ludo miliknya. Milik Genta sih sebenarnya, waktu jalan-jalan nitip Jenaka tapi lupa mengambilnya lagi.


"Kita main... ludo!"


Mami dan Papi saling berpandangan. Mandala hanya geleng-geleng kepala dengan ulah istrinya.

__ADS_1


"Papi mau pion warna apa?" tanya Jenaka seraya menaruh 4 buah pion ke dalam kotaknya masing-masing.


"Merah aja!"


"Mami hijau!" Mami Nina menjawab sebelum ditanya.


"Aku biru!" Mandala juga memilih sebelum ditanya Jenaka.


"Oke. Berarti aku kuning ya! Biar adil kita kocok dadu, siapa yang dapet angka paling besar dia yang dapat giliran duluan melempar dadunya. Hmm... Papi dulu!" Jenaka menyodorkan dadu dan dilempar oleh Papi. "Empat. Next, Mami!"


Mami Nina pun melempar dadunya. "Tiga. Next, Kak Mandala!"


Mandala melempar dadunya. "Lima. Aku ya sekarang."


"Yess! Enam. Berarti urutannya aku, Kak Mandala, Papi lalu Mami ya!" Jenaka hendak melempar dadu namun Papi Prabu mencegahnya.


"Enggak enak kalo enggak ada taruhannya, Jen!" celetuk Papi.


"Iya. Mami setuju! Biar lebih semangat Jen mainnya!"


Jenaka berpikir taruhan apa? Kalau taruhan uang, bayar darimana Ia?


Seakan bisa mengerti apa yang dipikirkan Jenaka, Mandala pun pasang badan sebagai suaminya. "Kita bagi dua tim. Aku sama Jena. Mami sama Papi. Kalau kita berdua menang, Papi dan Mami yang kabulin permintaan kami. Kalo Papi dan Mami menang, aku yang traktir. Gimana?"


Mandala menatap Papi dan Maminya dengan pandangan menantang. Kalo menang pasti akan minta sesuatu yang mahal pada Mami dan Papinya. Ide Jenaka bagus juga.


"Oke, deal!"


"Deal!"


****


Hi semua!


Makasih atas dukungannya selama ini. Jangan lupa tetap dukung Jenaka dengan like, komen dan add favorit ya, gratis tis tis tis 🥰


Yang mau tau update terbaru karya-karya aku, bisa mampir ke Fb aku : Mizzly dan IG aku: Mizzly_


maacih semua 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2